Senin, 25 Oktober 2010

Bertemu Dalam Restu

Pagi itu, langit jakarta tampak begitu cerah tapi tidak dengan cuaca di sudut negara lain, Emirat Arabi tepatnya.. saat itu adalah musim semi..

"izinkan aku berbagi denganmu, ukhti" begitu katanya yang tiba-tiba mengawali pembicaraan.

Entah darimana sapaan itu bermula... tapi aku dapat merasa, buliran airmata yang jatuh tak mampu tertahan... hati yang begitu ringkih untuk menyampaikan..

"Silahkan ukhti...bila itu jauh membuat hatimu tenang. Sampaikan saja" Jawabku sambil menunggu respon darinya.

"Ukhti....berusaha menerima dan bersyukur atas ketetepanNya ternyata tidak mudah.

Tidak semudah yang ku bayangkan, tidak semudah saat ku menulisnya, munguatkan azzam untuk selalu Ridho dengan Garisnya.

saat kita harus menghadapinya dan mencoba menerimanya salahkah kita kalau masih saja ada tangis dan sakit di hati...apakah itu salah satu tanda karena sebenarnya hati ini blm ikhlas akan ketetapanNya?." tanyanya dengan nada sendu.


Aku masih menerka-nerka, apa yang telah terjadi dengan saudariku... berusaha menerima dan bersyukur atas ketetapanNya? tentang apa?


Perempuan itu,ukh....

sudah seminggu ini hilang rasa makannya, begitu banyak air mata yang ia keluarkan..seharusnya ia bersyukur karena Rabbnya telah mengabulkan doanya, menjawab sebuah doa dan kegelisahan hatinya, sebuah doa yang ia pinta selama ini..tapi lihatlah perempuan itu masih terseok seeeok untuk mencoba menerima ini semua

Entah semenjak kapan rasa itu tiba hadir dalam hati ini,perhatian dan sapaanya yang sering hadir menorehkan sebuah harapan di hati,sejumput doa tlah ku pinta ke Rabbku, kalau memang dia pemilik tulang rusuk ini smoga Allah memberikan kemudahan dan cara sesuai dengan peraturannya. kalau memang dia bukan orangnya, ku pinta smoga Ia segera memberikan jawabnya, sungguh tidak enak memendam ini semua.

Hingga pagi itu Allah tlah memberikan jawabnya, saat ku tahu ia akan datang menghitbah seseorang..kecewa dan sakit ini mungkin tidak akan separah ini.andai ku tahu dari awal Engkau tahu ukhti siapa akhwat yang akan ia khitbah itu?adikku ukh ia akan mengkhitbah adikku..

Sudah semenjak lama memang selalu ku bilang kepada adek, dan orang tua, kalau adek mau menikah duluan monggo tidak apa2.kalau orang tua masih susah menerima ini aku akan membantu memberikan pengertian ke orang tua

Dan sekarang ku harus berusaha tersenyum dan bahagia di hadapan mereka, mendorong mereka untuk terus maju, mencoba mengasih pengertian ke orang tua untuk bisa menirima niat baik mereka, sementara di sisi hatiku yang lain ku terluka ....dan ternyata tidak mudah ukh, ku mohon doanya.


Aku terdiam, dalam penghayatan yang dalam... sungguh bisa merasakan apa yang Ia rasakan tentang harapannya, penantiannya, perasaan terdalamnya. Jika kau berada diposisi ukhti itu apa yang akan kau lakukan?


Lamat-lamat bukan sekedar menahan haru dalam tangis kecil untuk kisah yang terurai. Tapi aku, bisa apa? cukup menjadi pendengar yang baik saat ia membutuhkan teman untuk sekedar meluapkan apa yang dirasa, menghilangkan getir-getir kelu dalam jiwa adalah lebih tepat.


Masih dalam diam yang panjang. Belum ada kata yang mampu kusampaikan padanya. apakah kata itu berisi penyemangat, atau malah sebaliknya?


(sambil mendengar nasyid Nur Kasih-Inteam sepertinya pas)

Bagaikan permata di celahan kaca

Kerdipnya sulit tuk dibedakan

Kepada Mu Tuhan ku pasrah harapan

Moga tak tersalah pilihan

Nur kasih Mu mendamai di kalbu

Jernih setulus tadahan doaku

Rahmati daku dan permintaanku

Untuk bertemu di dalam restu

Karuniakan daku serikandi

Penyejuk di mata penawar di hati

Di dunia dialah penyeri Di syurga menanti dia bidadari

Kekasih sejati teman yang berbudi

Kasihnya bukan keterpaksaan

Bukan jua karena keduniaan/( dunia )

Mekar hidup disiram nur kasih

Ya Allah kurniakanlah kami isteri

Dan anak yang soleh

Sebagai penyejuk mata......

(Mekar hidup ini disirami nur kasih)

Di tangan-Mu Tuhanku sandar impian

Penentu jodoh pertemuan

Seandai dirinya tercipta untukku

Rela ku menjadi miliknya

(Mekar disiram nur kasih)


Setelah sujud terakhir shalat malam yang panjang, tunduk. Ada tetesan tak berbunyi bergulir di atas pipi. Kesunyian itu tiba-tiba datang lagi tanpa meminta izin lebih dahulu.

Rindu dia pada yang belum diketahui namanya. Dia yang akan menggenapkan setengah dien bersama-sama. Dia yang akan dihormati, senyumi, cemberuti, dan dilembuti. Dia yang sepanjang perjalanannya akan kau temani. Hatinya menjerit pelan.."Di mana engkau pangeranku?"


Allah, aku tahu betapa ridho dirinya tunduk pada perintahMU, perintah menundukkan pandangan, perintah mengulurkan jilbab, perintah terus memperbaiki diri dari hari ke hari. Menanti janjiMu ádalah aliran air tersegar yang tak akan putus.

"...Dan wanita2 yang baik ádalah untuk laki2 yang baik dan laki2 yang baik ádalah untuk wanita2 yang baik pula"

(An Nuur:26)


Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. Al Baqarah 2:216)


Aku merasakan kata-kata mutiara itu meluncur deras dari bibirnya. Tak ada kesedihan ataupun kekecewaan di sana, melainkan ketegaran!. Setiap keinginan dan perbuatannya hanya dilandasi untuk mengharap keridhaan Allah, begitu pula dalam menghadapi setiap persoalan,kini ia tak banyak berkeluh kesah melainkan senantiasa tabah dan berusaha menemukan rahasia dibalik cobaan Allah!


Saudariku yang dicintai Allah...

Jangan pernah lelah muliakan dirimu. Bukan untuk dia. Juga bukan untuk dirimu sendiri. Tapi semata hanya untuk Rabb-Mu. Sungguh, itu bagian dari tarbiyah dengan cara yang berbeda. Dan Mahabenar Allah, lelaki mulia itu akan datang atas nama kemuliaan pernikahan. Tanpa kau perlu teriaki, dia telah mendengar dengan kesediaan tertinggi akan seruan lembut Tuhan-Nya, yang disampaikan kepada hamba terkasih dan utusan-Nya..




(Dedicated to Ukhti Fillah di bumi para Nabi, semoga jihadmu mendapat pahala tertinggi di sisiNya..)


Di bumi kota Tanggerang

26 Oktober 2010

diantara tumpukan kertas dan kerjaan yang masih berserakan

semoga sedikit ini terselip hikmah untuk kalian semua yang membaca...

Pagi itu, langit jakarta tampak begitu cerah tapi tidak dengan cuaca di sudut negara lain, Emirat Arabi tepatnya.. saat itu adalah musim semi..

"izinkan aku berbagi denganmu, ukhti" begitu katanya yang tiba-tiba mengawali pembicaraan.

Entah darimana sapaan itu bermula... tapi aku dapat merasa, buliran airmata yang jatuh tak mampu tertahan... hati yang begitu ringkih untuk menyampaikan..

"Silahkan ukhti...bila itu jauh membuat hatimu tenang. Sampaikan saja" Jawabku sambil menunggu respon darinya.

"Ukhti....berusaha menerima dan bersyukur atas ketetepanNya ternyata tidak mudah.

Tidak semudah yang ku bayangkan, tidak semudah saat ku menulisnya, munguatkan azzam untuk selalu Ridho dengan Garisnya.

saat kita harus menghadapinya dan mencoba menerimanya salahkah kita kalau masih saja ada tangis dan sakit di hati...apakah itu salah satu tanda karena sebenarnya hati ini blm ikhlas akan ketetapanNya?." tanyanya dengan nada sendu.


Aku masih menerka-nerka, apa yang telah terjadi dengan saudariku... berusaha menerima dan bersyukur atas ketetapanNya? tentang apa?


Perempuan itu,ukh....

sudah seminggu ini hilang rasa makannya, begitu banyak air mata yang ia keluarkan..seharusnya ia bersyukur karena Rabbnya telah mengabulkan doanya, menjawab sebuah doa dan kegelisahan hatinya, sebuah doa yang ia pinta selama ini..tapi lihatlah perempuan itu masih terseok seeeok untuk mencoba menerima ini semua

Entah semenjak kapan rasa itu tiba hadir dalam hati ini,perhatian dan sapaanya yang sering hadir menorehkan sebuah harapan di hati,sejumput doa tlah ku pinta ke Rabbku, kalau memang dia pemilik tulang rusuk ini smoga Allah memberikan kemudahan dan cara sesuai dengan peraturannya. kalau memang dia bukan orangnya, ku pinta smoga Ia segera memberikan jawabnya, sungguh tidak enak memendam ini semua.

Hingga pagi itu Allah tlah memberikan jawabnya, saat ku tahu ia akan datang menghitbah seseorang..kecewa dan sakit ini mungkin tidak akan separah ini.andai ku tahu dari awal Engkau tahu ukhti siapa akhwat yang akan ia khitbah itu?adikku ukh ia akan mengkhitbah adikku..

Sudah semenjak lama memang selalu ku bilang kepada adek, dan orang tua, kalau adek mau menikah duluan monggo tidak apa2.kalau orang tua masih susah menerima ini aku akan membantu memberikan pengertian ke orang tua

Dan sekarang ku harus berusaha tersenyum dan bahagia di hadapan mereka, mendorong mereka untuk terus maju, mencoba mengasih pengertian ke orang tua untuk bisa menirima niat baik mereka, sementara di sisi hatiku yang lain ku terluka ....dan ternyata tidak mudah ukh, ku mohon doanya.


Aku terdiam, dalam penghayatan yang dalam... sungguh bisa merasakan apa yang Ia rasakan tentang harapannya, penantiannya, perasaan terdalamnya. Jika kau berada diposisi ukhti itu apa yang akan kau lakukan?


Lamat-lamat bukan sekedar menahan haru dalam tangis kecil untuk kisah yang terurai. Tapi aku, bisa apa? cukup menjadi pendengar yang baik saat ia membutuhkan teman untuk sekedar meluapkan apa yang dirasa, menghilangkan getir-getir kelu dalam jiwa adalah lebih tepat.


Masih dalam diam yang panjang. Belum ada kata yang mampu kusampaikan padanya. apakah kata itu berisi penyemangat, atau malah sebaliknya?


(sambil mendengar nasyid Nur Kasih-Inteam sepertinya pas)

Bagaikan permata di celahan kaca

Kerdipnya sulit tuk dibedakan

Kepada Mu Tuhan ku pasrah harapan

Moga tak tersalah pilihan

Nur kasih Mu mendamai di kalbu

Jernih setulus tadahan doaku

Rahmati daku dan permintaanku

Untuk bertemu di dalam restu

Karuniakan daku serikandi

Penyejuk di mata penawar di hati

Di dunia dialah penyeri Di syurga menanti dia bidadari

Kekasih sejati teman yang berbudi

Kasihnya bukan keterpaksaan

Bukan jua karena keduniaan/( dunia )

Mekar hidup disiram nur kasih

Ya Allah kurniakanlah kami isteri

Dan anak yang soleh

Sebagai penyejuk mata......

(Mekar hidup ini disirami nur kasih)

Di tangan-Mu Tuhanku sandar impian

Penentu jodoh pertemuan

Seandai dirinya tercipta untukku

Rela ku menjadi miliknya

(Mekar disiram nur kasih)


Setelah sujud terakhir shalat malam yang panjang, tunduk. Ada tetesan tak berbunyi bergulir di atas pipi. Kesunyian itu tiba-tiba datang lagi tanpa meminta izin lebih dahulu.

Rindu dia pada yang belum diketahui namanya. Dia yang akan menggenapkan setengah dien bersama-sama. Dia yang akan dihormati, senyumi, cemberuti, dan dilembuti. Dia yang sepanjang perjalanannya akan kau temani. Hatinya menjerit pelan.."Di mana engkau pangeranku?"


Allah, aku tahu betapa ridho dirinya tunduk pada perintahMU, perintah menundukkan pandangan, perintah mengulurkan jilbab, perintah terus memperbaiki diri dari hari ke hari. Menanti janjiMu ádalah aliran air tersegar yang tak akan putus.

"...Dan wanita2 yang baik ádalah untuk laki2 yang baik dan laki2 yang baik ádalah untuk wanita2 yang baik pula"

(An Nuur:26)


Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. Al Baqarah 2:216)


Aku merasakan kata-kata mutiara itu meluncur deras dari bibirnya. Tak ada kesedihan ataupun kekecewaan di sana, melainkan ketegaran!. Setiap keinginan dan perbuatannya hanya dilandasi untuk mengharap keridhaan Allah, begitu pula dalam menghadapi setiap persoalan,kini ia tak banyak berkeluh kesah melainkan senantiasa tabah dan berusaha menemukan rahasia dibalik cobaan Allah!


Saudariku yang dicintai Allah...

Jangan pernah lelah muliakan dirimu. Bukan untuk dia. Juga bukan untuk dirimu sendiri. Tapi semata hanya untuk Rabb-Mu. Sungguh, itu bagian dari tarbiyah dengan cara yang berbeda. Dan Mahabenar Allah, lelaki mulia itu akan datang atas nama kemuliaan pernikahan. Tanpa kau perlu teriaki, dia telah mendengar dengan kesediaan tertinggi akan seruan lembut Tuhan-Nya, yang disampaikan kepada hamba terkasih dan utusan-Nya..




(Dedicated to Ukhti Fillah di bumi para Nabi, semoga jihadmu mendapat pahala tertinggi di sisiNya..)


Di bumi kota Tanggerang

26 Oktober 2010

diantara tumpukan kertas dan kerjaan yang masih berserakan

semoga sedikit ini terselip hikmah untuk kalian semua yang membaca...

Kamis, 21 Oktober 2010

Jangan Mau Jadi Muslimah 'Pengeluh'

Pernahkah kita menghitung berapa kali kita mengeluh dalam satu hari, mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi. Kalau dibuat daftarnya bisa jadi sepanjang hari kita lebih banyak mengeluh mulai dari hal-hal sepele di rumah sampai hal-hal yang berat di tempat kerja atau dilingkungan.

Adalah hal yang wajar jika sesekali kita mengeluh, karena sudah fitrahnya manusia itu suka berkeluh kesah teringat pada penggalan arti dalam Surat Al-Ma'arij : 19-21

"Sesungguhnya manusia itu diciptakan dengan sifat suka mengeluh. Apabila ditimpa musibah dia mengeluh dan apabila ditimpa kesenangan berupa harta ia jadi kikir."

Jalanan macet kita ngeluh.. di Jakarta mana ada sih yang nggak macet? Tugas di kantor bertambah, kita mengeluh, belum lagi hal-hal lain yang sebenarnya sepele kita keluhkan juga. Seolah semua hal jadi bahan keluhan.

Semua hal yang kita keluhkan hanyalah sebatas urusan dunia, karena ketidakpuasan kita terhadap hal-hal yang bersifat dunia. Kita memang sudah terbiasa banyak mengeluh, hingga terlupa bahwa mensyukuri nikmatNya yang tidak terhitung jauh lebih penting daripada mengeluhkan hal-hal yang luput dan sudah terlewati dari perjalanan hidup kita.

Sejenak saya merasakan muhasabah yang panjang diakhir malam, ternyata sujud panjang dan mengucap syukur jauh lebih nikmat daripada mengeluhkan apa yang kurang dalam diri kita.

Jika ada kegundahan hati.. coba sampaikan pada si Pemilik hati, karena hanya Dia-lah Yang Maha Mengetahui segala sesuatu yang ada dalam hati kita, termasuk kegundahan dalam jiwa kita.

"Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya," (QS Yusuf;86).

Sudah berapa lama kita lewati malam-malam panjang bersamaNya untuk mengeluhkan semua kesusahan dan kesedihan hati kita? Mungkin tidak lebih lama saat kita mengeluhkannya bersama manusia... Astaghfirullah hal adzim..

Dan hari ini Allah menegur saya dengan cara yang indah... lewat sentuhan dan kiriman hadiah nasihat dari saudari saya

"Barang siapa yang bangun di pagi hari dan hanya dunia yang dipikirkannya. sehingga seolah-lah ia tak melihat hak Allah dalam dirinya maka Allah akan menanamkan 4 penyakit :

1. Kebingungan yang tiada putus-putusnya

2. Kesibukan yang tiada pernah ada ujungnya

3. Kebutuhan yang tidak pernah terpenuhi

4. Khayalan yang tidak berujung.

(HR. Imam Thabrani)

From : Ukhti Fillah di Klaten

-Hanya sedikit teguran untuk diri, semoga bisa saling mengingatkan-

Pernahkah kita menghitung berapa kali kita mengeluh dalam satu hari, mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi. Kalau dibuat daftarnya bisa jadi sepanjang hari kita lebih banyak mengeluh mulai dari hal-hal sepele di rumah sampai hal-hal yang berat di tempat kerja atau dilingkungan.

Adalah hal yang wajar jika sesekali kita mengeluh, karena sudah fitrahnya manusia itu suka berkeluh kesah teringat pada penggalan arti dalam Surat Al-Ma'arij : 19-21

"Sesungguhnya manusia itu diciptakan dengan sifat suka mengeluh. Apabila ditimpa musibah dia mengeluh dan apabila ditimpa kesenangan berupa harta ia jadi kikir."

Jalanan macet kita ngeluh.. di Jakarta mana ada sih yang nggak macet? Tugas di kantor bertambah, kita mengeluh, belum lagi hal-hal lain yang sebenarnya sepele kita keluhkan juga. Seolah semua hal jadi bahan keluhan.

Semua hal yang kita keluhkan hanyalah sebatas urusan dunia, karena ketidakpuasan kita terhadap hal-hal yang bersifat dunia. Kita memang sudah terbiasa banyak mengeluh, hingga terlupa bahwa mensyukuri nikmatNya yang tidak terhitung jauh lebih penting daripada mengeluhkan hal-hal yang luput dan sudah terlewati dari perjalanan hidup kita.

Sejenak saya merasakan muhasabah yang panjang diakhir malam, ternyata sujud panjang dan mengucap syukur jauh lebih nikmat daripada mengeluhkan apa yang kurang dalam diri kita.

Jika ada kegundahan hati.. coba sampaikan pada si Pemilik hati, karena hanya Dia-lah Yang Maha Mengetahui segala sesuatu yang ada dalam hati kita, termasuk kegundahan dalam jiwa kita.

"Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya," (QS Yusuf;86).

Sudah berapa lama kita lewati malam-malam panjang bersamaNya untuk mengeluhkan semua kesusahan dan kesedihan hati kita? Mungkin tidak lebih lama saat kita mengeluhkannya bersama manusia... Astaghfirullah hal adzim..

Dan hari ini Allah menegur saya dengan cara yang indah... lewat sentuhan dan kiriman hadiah nasihat dari saudari saya

"Barang siapa yang bangun di pagi hari dan hanya dunia yang dipikirkannya. sehingga seolah-lah ia tak melihat hak Allah dalam dirinya maka Allah akan menanamkan 4 penyakit :

1. Kebingungan yang tiada putus-putusnya

2. Kesibukan yang tiada pernah ada ujungnya

3. Kebutuhan yang tidak pernah terpenuhi

4. Khayalan yang tidak berujung.

(HR. Imam Thabrani)

From : Ukhti Fillah di Klaten

-Hanya sedikit teguran untuk diri, semoga bisa saling mengingatkan-

Jumat, 08 Oktober 2010

Dalam Mihrab Cinta [Sebuah Resensi Karya]

Sukses dengan film Ketika Cinta Bertasbih (KCB) 1 & 2, Sinemart kembali filmkan novel karya Habiburrahman El Shirazy, Dalam Mihrab Cinta. Buat temen2 yang belum punya dan baca bukunya, saya buatkan resensinya. Semoga bermanfaat untuk menambah khasanah sastra kita!


Tema cerita cinta penggugah jiwa kembali diangkat oleh Habiburrahman El Shirazy. Novelet “Dalam Mihrab Cinta” (DMC) ini menambah deretan panjang novel “pembangun jiwa” yang telah ditulisnya yaitu ''"Ayat-ayat Cinta, Pudarnya Pesona Cleopatra, dan Ketika Cinta Bertasbih (1)''''. Karya-karya lainnya yang berupa kisah-kisah islami berjudul “''Ketika Cinta Berbuah Surga dan Di Atas Sajadah Cinta''''.


Novel Ayat-Ayat Cinta berhasil melambungkan namanya sebagai icon penulis novel-novel islami paling digemari. Dari novelnya ini, penulis yang dikenal dengan panggilan Kang Abik berhasil mendapatkan berbagai penghargaan bergengsi seperti, Pena Award 2005, The Most Favorite Book and Writer 2005, dan IBF Award 6. Novel Ketika Cinta Bertasbih (1) kembali menyajarkan beliau sebagai penulis buku-buku best seller. Belum genap sebulan novel ini beredar telah terjual 30.000 eksemplar. Akankah kumpulan novelet ini mendulang sukses juga?

Seperti disebutkan dalam pengantarnya, buku DMC ini sebenarnya siap diluncurkan bersamaan dengan Dwilogi Ketika Cinta Bertasbih (1). Namun karena pertimbangan tertentu (marketing) Republika merilis novelet ini pada bulan Juni 2001 (cetakan pertama) atau beberapa bulan setelah novel Ketika Cinta Bertasbih (1) meluncur di pasaran.

Buku ini pada dasarnya berisi 3 novelet dengan judul, tokoh dan setting yang berbeda. Ketiga novelet ini ialah : “Takbir Cinta Zahrana”, “Dalam Mihrab Cinta” dan “Mahkota Cinta”. Novelet pertama mengisahkan pergulatan Zahrana, seorang dosen universitas swasta di Semarang, dalam menemukan pasangan hidupnya. Zahrana digambarkan mewakili perempuan yang telat menikah karena lebih mementingkan karir akademiknya. Keteguhan dan ketegarannya diuji, walaupun usia sudah tidak muda lagi, namun Ia tidak serta merta menerima pinangan atasannya yang kaya, punya jabatan, namun buruk akhlaknya. Penolakan ini membawa terror demi terror bagi Zahrana dan mencapai puncaknya ketika calon suaminya Rahmad terbunuh satu hari sebelum pernikahannya berlangsung. Disinilah keteguhan iman Zahrana diuji bahwa Allah Maha Mengetahui takdir jodohnya, sehingga ia dipertemukan dengan jodoh yang tidak diduga-duga sebelumnya.



Novelet kedua “Dalam Mihrab Cinta” adalah ringkasan atau petikan dari roman “Dalam Mihrab Cinta” yang akan diterbitkan kemudian. Kang Abik ingin memperkenalkan sekilas tentang tokoh dan setting Roman Dalam Mihrab Cinta dalam bentuk novelet. Meskipun demikian, novelet ini tetap menyajikan cerita utuh yaitu tentang perjalanan seorang santri Syamsul yang difitnah, dikeluarkan dari pondok pesantren Al Furqon. Sisi kelam kehidupan Syamsul mendominasi awal-awal cerita, buah dari rasa dizalimi oleh sahabat yang semula dipercayainya, ditambah hukuman dari pesantren dan tekanan dari keluarganya. Syamsul yang bercita-cita ingin menjadi da’i akhirnya berhasil bangkit dan menjalani hidup sebagai seorang guru ngaji. Keinginan untuk kembali ke jalan yang lurus, sebersit keinginan membalas ke-zaliman bekas sahabatnya, menumbuhkan tekad untuk bangkit dan semangat pembuktian diri luar biasa, sehingga ia bisa menemukan kembali jalan kesholehan dan menjadi da’i yang terkenal.


Novelet ketiga berjudul “Mahkota Cinta”, diangkat dari hasil riset kecil tentang kehidupan mahasiswa pasca sarjana Indonesia yang menempuh studi di Malaysia, khususnya di Universiti Malaya. Jika dua novelet pertama mengambil tempat di kota-kota Indonesia, novelet ini mengambarkan perjalanan anak muda “Zul” yang merantau di Kualalumpur Malaysia. Kehidupan TKW dan mahasiswa Indonesia dengan menarik disajikan oleh Kang Abik. Kita seolah-olah diajak bertamasya ke luar negeri, melihat kehidupan kualalumpur dan Universiti Malaya melalui novel ini. Cerita yang ketiga ini merupakan yang terpanjang dinarasikan oleh Kang Abik. Lebih dari separuh tebal buku, diperuntukkan untuk mengupas tuntas kehidupan dan perjuangan Ahmad Zul menjadi mahasiswa sambil bekerja di Malaysia. Jika ada hal yang mengganggu adalah detail umur tokoh utama dalam cerita yaitu Zul dan Mbak Mari yang pada awalnya digambarkan sebagai adik dan kakak (umur Zul ditaksir 22 tahun oleh Mbak Mari, sedangkan Mbak Mari masuk 27 tahun atau ditaksir berumur di atas 30-an lebih oleh Zul), namun pada akhir cerita berbalik ternyata umur Mbak Mari yang mempunyai nama lain Agustina Siti Mariana Maulida, 28 tahun sedangkan Zul berumur 30 tahun.


Tema cinta dan dakwah tetap menjadi ruh dari tiga novelet di atas. Dengan apik Kang Abik mengajak pembaca menikmati gejolak rasa masing-masing tokoh, sambil digugah untuk selalu menjadikan Islam sebagai tuntunan hidup dalam mencari pasangan dan kehidupan yang lebih luasa.


Berbeda dengan tokoh di Ayat-Ayat Cinta yang digambarkan sangat sempurna

dan matang secara ghirah dan ilmu agama, tokoh-tokoh dalam novelet-novelet di atas digambarkan sebagai “orang biasa” yang mengalami pasang-surut iman dan akhirnya menemukan jatidirinya kembali sebagai seorang muslim yang taat.


Namun demikian, dari sisi “ending” ada satu kesamaan dari novel-novel Kang Abik. Dia tidak ingin membuat pembaca kecewa, sehingga setelah pergulatan yang berat, sang tokoh akhirnya menemukan cintanya dan berakhir bahagia.


Bagi penggemar novel-novel Islami, buku ini layak baca dan perlu dibaca. Selamat menikmati. (Shita)

Sukses dengan film Ketika Cinta Bertasbih (KCB) 1 & 2, Sinemart kembali filmkan novel karya Habiburrahman El Shirazy, Dalam Mihrab Cinta. Buat temen2 yang belum punya dan baca bukunya, saya buatkan resensinya. Semoga bermanfaat untuk menambah khasanah sastra kita!


Tema cerita cinta penggugah jiwa kembali diangkat oleh Habiburrahman El Shirazy. Novelet “Dalam Mihrab Cinta” (DMC) ini menambah deretan panjang novel “pembangun jiwa” yang telah ditulisnya yaitu ''"Ayat-ayat Cinta, Pudarnya Pesona Cleopatra, dan Ketika Cinta Bertasbih (1)''''. Karya-karya lainnya yang berupa kisah-kisah islami berjudul “''Ketika Cinta Berbuah Surga dan Di Atas Sajadah Cinta''''.


Novel Ayat-Ayat Cinta berhasil melambungkan namanya sebagai icon penulis novel-novel islami paling digemari. Dari novelnya ini, penulis yang dikenal dengan panggilan Kang Abik berhasil mendapatkan berbagai penghargaan bergengsi seperti, Pena Award 2005, The Most Favorite Book and Writer 2005, dan IBF Award 6. Novel Ketika Cinta Bertasbih (1) kembali menyajarkan beliau sebagai penulis buku-buku best seller. Belum genap sebulan novel ini beredar telah terjual 30.000 eksemplar. Akankah kumpulan novelet ini mendulang sukses juga?

Seperti disebutkan dalam pengantarnya, buku DMC ini sebenarnya siap diluncurkan bersamaan dengan Dwilogi Ketika Cinta Bertasbih (1). Namun karena pertimbangan tertentu (marketing) Republika merilis novelet ini pada bulan Juni 2001 (cetakan pertama) atau beberapa bulan setelah novel Ketika Cinta Bertasbih (1) meluncur di pasaran.

Buku ini pada dasarnya berisi 3 novelet dengan judul, tokoh dan setting yang berbeda. Ketiga novelet ini ialah : “Takbir Cinta Zahrana”, “Dalam Mihrab Cinta” dan “Mahkota Cinta”. Novelet pertama mengisahkan pergulatan Zahrana, seorang dosen universitas swasta di Semarang, dalam menemukan pasangan hidupnya. Zahrana digambarkan mewakili perempuan yang telat menikah karena lebih mementingkan karir akademiknya. Keteguhan dan ketegarannya diuji, walaupun usia sudah tidak muda lagi, namun Ia tidak serta merta menerima pinangan atasannya yang kaya, punya jabatan, namun buruk akhlaknya. Penolakan ini membawa terror demi terror bagi Zahrana dan mencapai puncaknya ketika calon suaminya Rahmad terbunuh satu hari sebelum pernikahannya berlangsung. Disinilah keteguhan iman Zahrana diuji bahwa Allah Maha Mengetahui takdir jodohnya, sehingga ia dipertemukan dengan jodoh yang tidak diduga-duga sebelumnya.



Novelet kedua “Dalam Mihrab Cinta” adalah ringkasan atau petikan dari roman “Dalam Mihrab Cinta” yang akan diterbitkan kemudian. Kang Abik ingin memperkenalkan sekilas tentang tokoh dan setting Roman Dalam Mihrab Cinta dalam bentuk novelet. Meskipun demikian, novelet ini tetap menyajikan cerita utuh yaitu tentang perjalanan seorang santri Syamsul yang difitnah, dikeluarkan dari pondok pesantren Al Furqon. Sisi kelam kehidupan Syamsul mendominasi awal-awal cerita, buah dari rasa dizalimi oleh sahabat yang semula dipercayainya, ditambah hukuman dari pesantren dan tekanan dari keluarganya. Syamsul yang bercita-cita ingin menjadi da’i akhirnya berhasil bangkit dan menjalani hidup sebagai seorang guru ngaji. Keinginan untuk kembali ke jalan yang lurus, sebersit keinginan membalas ke-zaliman bekas sahabatnya, menumbuhkan tekad untuk bangkit dan semangat pembuktian diri luar biasa, sehingga ia bisa menemukan kembali jalan kesholehan dan menjadi da’i yang terkenal.


Novelet ketiga berjudul “Mahkota Cinta”, diangkat dari hasil riset kecil tentang kehidupan mahasiswa pasca sarjana Indonesia yang menempuh studi di Malaysia, khususnya di Universiti Malaya. Jika dua novelet pertama mengambil tempat di kota-kota Indonesia, novelet ini mengambarkan perjalanan anak muda “Zul” yang merantau di Kualalumpur Malaysia. Kehidupan TKW dan mahasiswa Indonesia dengan menarik disajikan oleh Kang Abik. Kita seolah-olah diajak bertamasya ke luar negeri, melihat kehidupan kualalumpur dan Universiti Malaya melalui novel ini. Cerita yang ketiga ini merupakan yang terpanjang dinarasikan oleh Kang Abik. Lebih dari separuh tebal buku, diperuntukkan untuk mengupas tuntas kehidupan dan perjuangan Ahmad Zul menjadi mahasiswa sambil bekerja di Malaysia. Jika ada hal yang mengganggu adalah detail umur tokoh utama dalam cerita yaitu Zul dan Mbak Mari yang pada awalnya digambarkan sebagai adik dan kakak (umur Zul ditaksir 22 tahun oleh Mbak Mari, sedangkan Mbak Mari masuk 27 tahun atau ditaksir berumur di atas 30-an lebih oleh Zul), namun pada akhir cerita berbalik ternyata umur Mbak Mari yang mempunyai nama lain Agustina Siti Mariana Maulida, 28 tahun sedangkan Zul berumur 30 tahun.


Tema cinta dan dakwah tetap menjadi ruh dari tiga novelet di atas. Dengan apik Kang Abik mengajak pembaca menikmati gejolak rasa masing-masing tokoh, sambil digugah untuk selalu menjadikan Islam sebagai tuntunan hidup dalam mencari pasangan dan kehidupan yang lebih luasa.


Berbeda dengan tokoh di Ayat-Ayat Cinta yang digambarkan sangat sempurna

dan matang secara ghirah dan ilmu agama, tokoh-tokoh dalam novelet-novelet di atas digambarkan sebagai “orang biasa” yang mengalami pasang-surut iman dan akhirnya menemukan jatidirinya kembali sebagai seorang muslim yang taat.


Namun demikian, dari sisi “ending” ada satu kesamaan dari novel-novel Kang Abik. Dia tidak ingin membuat pembaca kecewa, sehingga setelah pergulatan yang berat, sang tokoh akhirnya menemukan cintanya dan berakhir bahagia.


Bagi penggemar novel-novel Islami, buku ini layak baca dan perlu dibaca. Selamat menikmati. (Shita)

Sedikit Diantara Banyaknya Peran Ayah Dalam Keluarga

Sebuah survei di Amerika menyebut, kini peran ayah dalam keluarga meningkat. Berbagai kajian para psikolog menyatakan, ayah kini mengambil peranan sangat besar dalam aktivitas rumah tangga maupun dalam proses mendidik anak. Para pria juga mengambil cuti saat “menjadi ayah” karena ingin memberikan waktu lebih besar bagi bayinya.


Peran ayah dalam keluarga yang dimaksud di sini adalah aktif dalam membentuk perkembangan emosi anak, menanamkan nilai-nilai hidup, dan kepercayaan dalam keluarga.


Berbagai riset tentang perkembangan anak menunjukkan, pengaruh seorang ayah dimulai sejak usia yang sangat dini. Misalnya ditemukan, bayi laki-laki berusia lima bulan yang banyak menghabiskan waktu dengan ayahnya, menjadi jauh lebih nyaman berada di antara orang-orang asing dewasa. Bayi ini lebih banyak mengoceh dan menunjukkan kerelaan untuk digendong dibandingkan dengan bayi yang ayahnya kurang terlibat.


Terlepas dari itu, di sini peranan ibu tetaplah penting. Namun dalam riset ini juga ditemukan, kualitas hubungan dengan ibu bukan merupakan peramal yang sama kuat mengenai keberhasilan atau kegagalan anak dibanding dengan kualitas hubungan anak dengan para ayah. Kedekatan seorang ayah setelah kelahiran bayinya juga biasanya berkelanjutan hingga masa kanak-kanak, remaja dan dewasa. Dari pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa peran aktif ayah dalam mendidik anak ternyata menimbulkan perbedaan yang besar bagi anak-anak dan bisa menentukan masa depan mereka.


Sebagaimana diketahui, tantangan pergaulan remaja sekarang jauh berbeda dengan dulu. Narkoba, tawuran, gang motor yang kriminal, pornografi dan pornoaksi adalah bentuk kenakalan remaja yang sudah menunggu di pintu sekolah anak-anak. Bahkan mungkin sudah berada di dalam rumah. Levant (dalam Adelia, 2006) menyatakan bahwa pria punya kemampuan mengenali dan menanggapi emosi anak-anaknya secara konstruktif dibanding wanita. Sehingga, dengan besarnya tantangan kenakalan yang akan dihadapi anak atau remaja nanti, maka tidak bisa tidak, peranan ayah dalam mendidik anak mutlak dilaksanakan.


Di Indonesia, memang begitu banyak buku maupun artikel dari majalah bertemakan “ayah” diminati pasangan muda, terutama prianya. Namun, sejauh mana perkembangan peranan para ayah ini, belum diketahui karena minimnya penelitian tentang keayahan di Indonesia. Sebaliknya, banyak orang tua, terutama Ayah yang hanya menuntut prestasi pada remajanya, tanpa mempedulikan permasalahan-permasalahan yang dihadapi para remajanya dalam mewujudkan keinginan orang tuanya.


Banyak Ayah yang memukul, memarahi dan melakukan kekerasan pada anak nya karena mendapat nilai jelek. Orang tua berpikir bahwa dengan dimarahi maka remajanya akan menjadi baik. Sayangnya orang tua yang suka marah dan apalagi memukul, justru akan membuat para remajanya tidak betah di rumah. Santrock (1995) memberikan penjelasan, ketika remaja tidak betah dengan kondisi rumah (sikap orang tua yang selalu mencelah bukan memotivasi) maka selanjutnya remaja akan mencari kelompok di luar rumah yang dapat menerima dirinya. Dari kelompok tersebut kemudian sering muncul perilaku-perilaku yang melanggar aturan (kenakalan remaja), seperti berkelahi, mencuri, membolos dan perilaku-perilaku negatif lainnya.


Bagaimana menurutmu???



Sebuah survei di Amerika menyebut, kini peran ayah dalam keluarga meningkat. Berbagai kajian para psikolog menyatakan, ayah kini mengambil peranan sangat besar dalam aktivitas rumah tangga maupun dalam proses mendidik anak. Para pria juga mengambil cuti saat “menjadi ayah” karena ingin memberikan waktu lebih besar bagi bayinya.


Peran ayah dalam keluarga yang dimaksud di sini adalah aktif dalam membentuk perkembangan emosi anak, menanamkan nilai-nilai hidup, dan kepercayaan dalam keluarga.


Berbagai riset tentang perkembangan anak menunjukkan, pengaruh seorang ayah dimulai sejak usia yang sangat dini. Misalnya ditemukan, bayi laki-laki berusia lima bulan yang banyak menghabiskan waktu dengan ayahnya, menjadi jauh lebih nyaman berada di antara orang-orang asing dewasa. Bayi ini lebih banyak mengoceh dan menunjukkan kerelaan untuk digendong dibandingkan dengan bayi yang ayahnya kurang terlibat.


Terlepas dari itu, di sini peranan ibu tetaplah penting. Namun dalam riset ini juga ditemukan, kualitas hubungan dengan ibu bukan merupakan peramal yang sama kuat mengenai keberhasilan atau kegagalan anak dibanding dengan kualitas hubungan anak dengan para ayah. Kedekatan seorang ayah setelah kelahiran bayinya juga biasanya berkelanjutan hingga masa kanak-kanak, remaja dan dewasa. Dari pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa peran aktif ayah dalam mendidik anak ternyata menimbulkan perbedaan yang besar bagi anak-anak dan bisa menentukan masa depan mereka.


Sebagaimana diketahui, tantangan pergaulan remaja sekarang jauh berbeda dengan dulu. Narkoba, tawuran, gang motor yang kriminal, pornografi dan pornoaksi adalah bentuk kenakalan remaja yang sudah menunggu di pintu sekolah anak-anak. Bahkan mungkin sudah berada di dalam rumah. Levant (dalam Adelia, 2006) menyatakan bahwa pria punya kemampuan mengenali dan menanggapi emosi anak-anaknya secara konstruktif dibanding wanita. Sehingga, dengan besarnya tantangan kenakalan yang akan dihadapi anak atau remaja nanti, maka tidak bisa tidak, peranan ayah dalam mendidik anak mutlak dilaksanakan.


Di Indonesia, memang begitu banyak buku maupun artikel dari majalah bertemakan “ayah” diminati pasangan muda, terutama prianya. Namun, sejauh mana perkembangan peranan para ayah ini, belum diketahui karena minimnya penelitian tentang keayahan di Indonesia. Sebaliknya, banyak orang tua, terutama Ayah yang hanya menuntut prestasi pada remajanya, tanpa mempedulikan permasalahan-permasalahan yang dihadapi para remajanya dalam mewujudkan keinginan orang tuanya.


Banyak Ayah yang memukul, memarahi dan melakukan kekerasan pada anak nya karena mendapat nilai jelek. Orang tua berpikir bahwa dengan dimarahi maka remajanya akan menjadi baik. Sayangnya orang tua yang suka marah dan apalagi memukul, justru akan membuat para remajanya tidak betah di rumah. Santrock (1995) memberikan penjelasan, ketika remaja tidak betah dengan kondisi rumah (sikap orang tua yang selalu mencelah bukan memotivasi) maka selanjutnya remaja akan mencari kelompok di luar rumah yang dapat menerima dirinya. Dari kelompok tersebut kemudian sering muncul perilaku-perilaku yang melanggar aturan (kenakalan remaja), seperti berkelahi, mencuri, membolos dan perilaku-perilaku negatif lainnya.


Bagaimana menurutmu???



Calon Bintang Penghafal Qur'an

Bermula dari pengumuman yang tertera di sudut masjid yang membuka kesempatan program tahsin-tahfiz for kids, saya pun tertarik untuk ikut mendaftarkan adik bungsu saya my lovely litle sis Habibah Ummi Asykary

"Kamu mau jadi seperti ustazah qonita, De? Si penghafal qur'an itu? (hhehe, teringat film KCB dimana pemeran Ustazah Qonita dalam cerita sebagai Hafizoh, biasanya anak-anak lebih senang melihat contoh konkretnya)

"Jadi aku ngafalin qur'an gitu, Ka? Tanyanya polos

"Iya, menghafal qur'an tapi sebelum menghafal kamu belajar dulu.."

"Oooh, kan tiap hari aku udah belajar qur'an di bimbel, Ka. Trus di sekolah juga di suruh hapalin surat-surat pendek." Ucapnya kemudian

"Hmm, iya benar sayang.. tapi belajar tahsin-tahfiz ini beda..gimana mau ndak? Kalau mau coba tanya sama kakak di bimbel untuk Les tahsin-tahfiz buka hari apa aja, trus bayar berapa. nanti kakak daftarin deh.. Okeh??" ajakku sedikit memaksa

Beberapa hari kemudian setelah perbincangan itu, usai pulang kantor

"Tadi aku sudah tanya tentang les taksin itu, ka.. (bibah bilang tahsin malah taksin.hehee)

"Oh, iya... terus gimana? apa kata kakaknya? "

Setelah bibah menjelaskan hari apa aja dia harus les tahsin, lengkap dengan uang pembayarannya.

"Kalau waktunya bentrok dengan les di bimbel lebih baik kamu fokus les tahsin aja, Bah. Jadi gimana kamu mau ndak?

"Aku mau jadi calon aja deh, Ka!", ungkapnya

"Hah?! Calon? Maksudnya calon apa, bah?" tanyaku makin penasaran dengan jawabannya

"Iya, kalau ustadzah qonita itu kan udah hafizoh ya, ka? nah aku calon hafizoh aja deh. jadi aku gapapa dong kalau engga ikut les tahsin-tahfiz. hahahaaa", jawabnya sambil tertawa lepas

"Gleeeekkkkk! sambil ikut tersenyum lepas

Awalnya saya agak bingung dengan jawaban Bibah. Tapi rupanya saya paham maksudnya.

Hohoooo..., ternyata maksud dia itu intinya kalau dia sebenarnya belum ingin untuk ikut les tahsin-tahfiz jadi jawaban itu hanya sebagai celetukan kecil aja. Ternyata oh ternyata cara jitu saya kurang ampuh biar si bungsu familiar dengan alqur'an.

Saudara/iku adakah yang ingin berbagi cerita atau sharing pengalaman bagaimana cara jitu yg sering kalian gunakan biar si "kecil" familiar dengan alqur'an, mau belajar alqur'an apalagi sampai tahap senang menghafal alqur'an. ^_^




Bermula dari pengumuman yang tertera di sudut masjid yang membuka kesempatan program tahsin-tahfiz for kids, saya pun tertarik untuk ikut mendaftarkan adik bungsu saya my lovely litle sis Habibah Ummi Asykary

"Kamu mau jadi seperti ustazah qonita, De? Si penghafal qur'an itu? (hhehe, teringat film KCB dimana pemeran Ustazah Qonita dalam cerita sebagai Hafizoh, biasanya anak-anak lebih senang melihat contoh konkretnya)

"Jadi aku ngafalin qur'an gitu, Ka? Tanyanya polos

"Iya, menghafal qur'an tapi sebelum menghafal kamu belajar dulu.."

"Oooh, kan tiap hari aku udah belajar qur'an di bimbel, Ka. Trus di sekolah juga di suruh hapalin surat-surat pendek." Ucapnya kemudian

"Hmm, iya benar sayang.. tapi belajar tahsin-tahfiz ini beda..gimana mau ndak? Kalau mau coba tanya sama kakak di bimbel untuk Les tahsin-tahfiz buka hari apa aja, trus bayar berapa. nanti kakak daftarin deh.. Okeh??" ajakku sedikit memaksa

Beberapa hari kemudian setelah perbincangan itu, usai pulang kantor

"Tadi aku sudah tanya tentang les taksin itu, ka.. (bibah bilang tahsin malah taksin.hehee)

"Oh, iya... terus gimana? apa kata kakaknya? "

Setelah bibah menjelaskan hari apa aja dia harus les tahsin, lengkap dengan uang pembayarannya.

"Kalau waktunya bentrok dengan les di bimbel lebih baik kamu fokus les tahsin aja, Bah. Jadi gimana kamu mau ndak?

"Aku mau jadi calon aja deh, Ka!", ungkapnya

"Hah?! Calon? Maksudnya calon apa, bah?" tanyaku makin penasaran dengan jawabannya

"Iya, kalau ustadzah qonita itu kan udah hafizoh ya, ka? nah aku calon hafizoh aja deh. jadi aku gapapa dong kalau engga ikut les tahsin-tahfiz. hahahaaa", jawabnya sambil tertawa lepas

"Gleeeekkkkk! sambil ikut tersenyum lepas

Awalnya saya agak bingung dengan jawaban Bibah. Tapi rupanya saya paham maksudnya.

Hohoooo..., ternyata maksud dia itu intinya kalau dia sebenarnya belum ingin untuk ikut les tahsin-tahfiz jadi jawaban itu hanya sebagai celetukan kecil aja. Ternyata oh ternyata cara jitu saya kurang ampuh biar si bungsu familiar dengan alqur'an.

Saudara/iku adakah yang ingin berbagi cerita atau sharing pengalaman bagaimana cara jitu yg sering kalian gunakan biar si "kecil" familiar dengan alqur'an, mau belajar alqur'an apalagi sampai tahap senang menghafal alqur'an. ^_^




Rabu, 06 Oktober 2010

Aku Ingin Berjalan Diatas RencanaMu


Jika kita menanam sesuatu, tentunya kita harus merawatnya dan memanjakan tanaman kita dengan menyiraminya,tentunya dalam menyiram tanaman itu ada metodenya,kita tidak bisa menyiram tanaman dengan terus-menerus tanpa memperdulikan kadar airnya,tentunya tanaman itu akan mati,karena unsur-unsur penting ditanah akan hanyut terbawa air dan tanaman itu tidak bisa mendapatkan makanan yang baik bagi pertumbuhannya.


Begitu juga dengan Allah dalam mengabulkan do’a Kita,Dia punya metode tersendiri,memang benar setiap pengabulan doa merupakan penyubur keimanan kita,tapi jika setiap do’a selalu dikabulkan tanpa memerdulikan kadar keimanan seseorang ,tentu ada hamba yang hatinya akan mati,kenapa? karena dia akan berfikir tanpa iman saja Allah akan mengabulkan Do’a kita,maka buat apa dia beriman dan melakukan perintah Allah.


Begitulah manusia kalau setiap permohonanya atau keinginan manusia dapat dengan muda terwujud,justru itu bisa mematikan hatinya.karena hatinya akan terlena lalu lupa bahwa Allahlah yang mengabulkan keinginannyan itu.Padahal ada keinginan yang tidak terpenuhi bisa mengingatkan kita bahwa Allahlah yang maha berkuasa atas segala kehendakNYA dan Maha berkehendak atas segala kekuasaaNYA.


Dengan demikian, kita kan selalu mengingat dosa kita memohon ampunaNYA,dan berdo’a mengharap kebahagiaNYA.inilah unsur-unsur penting bagi keimanan kita.


Tentu Allah TIDAK AKAN PERNAH INGKAR JANJI, bagi orang-orang yang sabar dalam berdo’a ,dengan tetap meyakini bahwa rencana Allah pasti sangat indah dan keindahan itu tidak bisa disamai dengan keindahan rencana buatan manusia yang bisa benar dan juga salah.



Yaa Allah aku memohon cintaMU,dan Cinta Orang yang mencintaiMu,dan cinta terhadap amalan yang akan mendekatkanku Ke CintaMU.




Dusun Jatipadang, Jakarta
Sudut Ibukota, Penuh Harapan....

Oktober, 2010




Jika kita menanam sesuatu, tentunya kita harus merawatnya dan memanjakan tanaman kita dengan menyiraminya,tentunya dalam menyiram tanaman itu ada metodenya,kita tidak bisa menyiram tanaman dengan terus-menerus tanpa memperdulikan kadar airnya,tentunya tanaman itu akan mati,karena unsur-unsur penting ditanah akan hanyut terbawa air dan tanaman itu tidak bisa mendapatkan makanan yang baik bagi pertumbuhannya.


Begitu juga dengan Allah dalam mengabulkan do’a Kita,Dia punya metode tersendiri,memang benar setiap pengabulan doa merupakan penyubur keimanan kita,tapi jika setiap do’a selalu dikabulkan tanpa memerdulikan kadar keimanan seseorang ,tentu ada hamba yang hatinya akan mati,kenapa? karena dia akan berfikir tanpa iman saja Allah akan mengabulkan Do’a kita,maka buat apa dia beriman dan melakukan perintah Allah.


Begitulah manusia kalau setiap permohonanya atau keinginan manusia dapat dengan muda terwujud,justru itu bisa mematikan hatinya.karena hatinya akan terlena lalu lupa bahwa Allahlah yang mengabulkan keinginannyan itu.Padahal ada keinginan yang tidak terpenuhi bisa mengingatkan kita bahwa Allahlah yang maha berkuasa atas segala kehendakNYA dan Maha berkehendak atas segala kekuasaaNYA.


Dengan demikian, kita kan selalu mengingat dosa kita memohon ampunaNYA,dan berdo’a mengharap kebahagiaNYA.inilah unsur-unsur penting bagi keimanan kita.


Tentu Allah TIDAK AKAN PERNAH INGKAR JANJI, bagi orang-orang yang sabar dalam berdo’a ,dengan tetap meyakini bahwa rencana Allah pasti sangat indah dan keindahan itu tidak bisa disamai dengan keindahan rencana buatan manusia yang bisa benar dan juga salah.



Yaa Allah aku memohon cintaMU,dan Cinta Orang yang mencintaiMu,dan cinta terhadap amalan yang akan mendekatkanku Ke CintaMU.




Dusun Jatipadang, Jakarta
Sudut Ibukota, Penuh Harapan....

Oktober, 2010



Prasangka-Prasangka..., Aah Positif Saja!


Perjalanan hidup saya tidak mulus. Bahkan sangat berliku. Mungkin kalian pernah merasakan hal seperti itu bukan? Bahkan saya takjub sendiri dengan berbagai persoalan yang menghimpit, saya masih bisa bertahan hingga sekarang.


Persoalan bukan saya menyangkut diri sendiri, tapi dari berbagai hal lainnya, mulai dari persoalan pekerjaan, persoalan keluarga, hingga persoalan remeh temeh yang datang tak diundang. Jika saya berhasil mencatatkan seluruh persoalan hidup saya, mungkin tidak cukup dengan novel setebal 500 halaman. So complicated!


Bersyukur, atas setiap persoalan yang saya alami, saya tidak pernah fokus pada persoalan itu, saya selalu fokus pada solusi memecahkan persoalan. Ya, sebagai manusia saya juga merasa berat dengan berbagai persoalan itu, bahkan tak jarang saya menangis. Tapi, setelah itu saya kembali tegar berdiri dan kembali pada PRASANGKA POSITIF.


Saya menyakini prasangka positif akan membantu saya untuk menjemput apa yang saya prasangkakan. Ketika saya sedang berada pada sebuah tekanan atasan, prasangka positif saya adalah saat itu atasan sedang memiliki masalah pribadi dan semuanya akan baik?baik saja. Ketika dengan sengaja ada yang menghina saya, maka prasangka positif saya adalah bahwa mungkin dia sedang marah, sehingga tidak tahu bahwa yang dia katakan menyakiti saya. Ketika saya menemukan keganjilan pada orang lain, maka prasangka positif saya adalah setiap orang memiliki keunikan tersendiri. Ketika keluarga kami ditimpa badai kesulitan, maka prasangka positif saya adalah keadaan ini tidak akan bertahan lama karena kami selalu mengusahakan untuk hidup yang lebih baik.


Sejujurnya, pernah juga saya menyadari bahwa prasangka negatif begitu kuatnya dalam pikiran, misalnya ketika saya sedang dipojokkan, saya diadudombakan, dan berbagai hal lainnya yang membuat prasangka positif saya dikalahkan oleh rasa sakit hati. Saya juga syukuri hal itu, ketika prasangka buruk datang maka artinya saya harus belajar sekuat tenaga untuk mengalihkannya pada prasangka positif, dan ini bukan persoalan gampang. Tapi, saya tidak mau kalah pada prasangka negatif karena bisa prasangka negatif ternyata hanya membuat diri semakin sakit dan tertekan.


Kembali, saya mengingat pada berbagai kemenangan yang saya peroleh karena prasangka positif. Prasangka positif mengantarkan kita pada kenyataan terbaik yang kita inginkan. Lantas, bagaimana mengolah prasangka negatif menjadi prasangka positif?

1. Jangan biarkan diri Anda tersiksa Semua orang ingin bahagia dan sumber kebahagiaan itu ternyata dari diri Anda sendiri. Jangan biarkan Anda tidak bahagia hanya karena kerikil?kerikil di depan Anda, jika Anda terlalu berprasangka buruk pada setiap hal sudah pasti Anda tidak akan bahagia. Banyak keluhan yang akhirnya keluar dari mulut Anda, dan sudah bisa dibayangkan betapa tersiksanya hati Anda. Apakah itu yang Anda inginkan? Tentu tidak bukan? Kalau begitu mulailah berprasangka positif pada setiap hal karena artinya Anda melepaskan diri dari siksaan hati.

2. Kuatkan keyakinan diri, Kuatkan keyakinan diri Anda bahwa hidup Anda, langkah Anda, dan siapapun Anda berguna. Anda memiliki kewajiban untuk menghargai setiap inci tubuh Anda, menghargai setiap pemikiran diri, dan menghargai setiap argumentasi yang diberikan pada Anda dengan penuh keyakinan bahwa itulah yang terbaik. Ketika Anda mendapatkan hentakan yang menyurutkan semangat, kembalilah melangkah dengan keyakinan diri. Dengan kekuatan keyakinan diri maka prasangka positif akan berjalan beriringan. Ketika ada yang menghina Anda maka prasangka positif Anda adalah dia tidak tahu siapa Anda.

3. Tingkatkan percaya diri, Kerapkali prasangka negatif hadir karena Anda kurang percaya diri. Misalnya, Anda kurang percaya diri dengan salah satu bagian tubuh Anda, ketika ada yang memperhatikan Anda, Anda langsung berprasangka negatif bahwa orang itu sedang melecehkan bagian tubuh Anda dan tentu ini akan mengusik Anda. Padahal? Jika prasangka positif Anda yang muncul Anda bisa menyimpulkan bahwa tidak ada masalah dengan Anda, bahkan mungkin orang itu merasa Anda istimewa dan dengan prasangka positif Anda tetap merasa nyaman.

4. Teruslah Belajar, Jangan berhenti belajar mengasah prasangka. Mulailah menata rasangka?prasangka negative menjadi prasangka?prasangka positif yang membuat hidup Anda lebih baik.



Manfaat Prasangka Positif

1. Berserinya wajah Anda, Orang yang memiliki prasangka positif akan selalu tampil dengan senyum. Wajahnya selalu memikat siapa saja. Mungkin saja dia tidak cantik atau tampan tapi wajahnya yang berseri sungguh sedap dipandang.

2. Nyamannya Hati Anda, Kalau prasangka positif sudah sedemikian kentalnya dalam pikiran Anda maka bisa dipastikan kenyamanan hidup jadi milik Anda. Anda tidak akan terganggu dengan remeh temeh persoalan dalam hidup Anda, Anda sangat menikmati hidup Anda apapun adanya. Sungguh nyaman hati Anda!

3. Memperluas Shilaturahmi, Prasangka?prasangka positif menghadirkan banyak sahabat di samping Anda, mereka nyaman berada di dekat Anda, bahkan mereka akan terkontaminasi aura positif Anda. Kenyamanan orang di dekat Anda akan menarik mereka untuk setia pada Anda bahkan mereka tidak canggung mengenalkan Anda pada sahabat mereka. Sudah pasti, shilaturahmi Anda akan sedemikian luasnya.

4. Tercapainya keinginan Anda, Prasangka positif akan membawa Anda pada kenyataan yang Anda inginkan. Allah akan mengabulkan setiap prasangka umatNya, jika prasangka Anda buruk maka buruk pula hasilnya, jika prasangka Anda baik, maka kebaikan yang dicapai.


Nah, selamat berprasangka positif dan dapatkan hasil yang luar biasa untuk Anda yang luar biasa!



Ciputat, Tanggerang
Oktober 2010

Perjalanan hidup saya tidak mulus. Bahkan sangat berliku. Mungkin kalian pernah merasakan hal seperti itu bukan? Bahkan saya takjub sendiri dengan berbagai persoalan yang menghimpit, saya masih bisa bertahan hingga sekarang.


Persoalan bukan saya menyangkut diri sendiri, tapi dari berbagai hal lainnya, mulai dari persoalan pekerjaan, persoalan keluarga, hingga persoalan remeh temeh yang datang tak diundang. Jika saya berhasil mencatatkan seluruh persoalan hidup saya, mungkin tidak cukup dengan novel setebal 500 halaman. So complicated!


Bersyukur, atas setiap persoalan yang saya alami, saya tidak pernah fokus pada persoalan itu, saya selalu fokus pada solusi memecahkan persoalan. Ya, sebagai manusia saya juga merasa berat dengan berbagai persoalan itu, bahkan tak jarang saya menangis. Tapi, setelah itu saya kembali tegar berdiri dan kembali pada PRASANGKA POSITIF.


Saya menyakini prasangka positif akan membantu saya untuk menjemput apa yang saya prasangkakan. Ketika saya sedang berada pada sebuah tekanan atasan, prasangka positif saya adalah saat itu atasan sedang memiliki masalah pribadi dan semuanya akan baik?baik saja. Ketika dengan sengaja ada yang menghina saya, maka prasangka positif saya adalah bahwa mungkin dia sedang marah, sehingga tidak tahu bahwa yang dia katakan menyakiti saya. Ketika saya menemukan keganjilan pada orang lain, maka prasangka positif saya adalah setiap orang memiliki keunikan tersendiri. Ketika keluarga kami ditimpa badai kesulitan, maka prasangka positif saya adalah keadaan ini tidak akan bertahan lama karena kami selalu mengusahakan untuk hidup yang lebih baik.


Sejujurnya, pernah juga saya menyadari bahwa prasangka negatif begitu kuatnya dalam pikiran, misalnya ketika saya sedang dipojokkan, saya diadudombakan, dan berbagai hal lainnya yang membuat prasangka positif saya dikalahkan oleh rasa sakit hati. Saya juga syukuri hal itu, ketika prasangka buruk datang maka artinya saya harus belajar sekuat tenaga untuk mengalihkannya pada prasangka positif, dan ini bukan persoalan gampang. Tapi, saya tidak mau kalah pada prasangka negatif karena bisa prasangka negatif ternyata hanya membuat diri semakin sakit dan tertekan.


Kembali, saya mengingat pada berbagai kemenangan yang saya peroleh karena prasangka positif. Prasangka positif mengantarkan kita pada kenyataan terbaik yang kita inginkan. Lantas, bagaimana mengolah prasangka negatif menjadi prasangka positif?

1. Jangan biarkan diri Anda tersiksa Semua orang ingin bahagia dan sumber kebahagiaan itu ternyata dari diri Anda sendiri. Jangan biarkan Anda tidak bahagia hanya karena kerikil?kerikil di depan Anda, jika Anda terlalu berprasangka buruk pada setiap hal sudah pasti Anda tidak akan bahagia. Banyak keluhan yang akhirnya keluar dari mulut Anda, dan sudah bisa dibayangkan betapa tersiksanya hati Anda. Apakah itu yang Anda inginkan? Tentu tidak bukan? Kalau begitu mulailah berprasangka positif pada setiap hal karena artinya Anda melepaskan diri dari siksaan hati.

2. Kuatkan keyakinan diri, Kuatkan keyakinan diri Anda bahwa hidup Anda, langkah Anda, dan siapapun Anda berguna. Anda memiliki kewajiban untuk menghargai setiap inci tubuh Anda, menghargai setiap pemikiran diri, dan menghargai setiap argumentasi yang diberikan pada Anda dengan penuh keyakinan bahwa itulah yang terbaik. Ketika Anda mendapatkan hentakan yang menyurutkan semangat, kembalilah melangkah dengan keyakinan diri. Dengan kekuatan keyakinan diri maka prasangka positif akan berjalan beriringan. Ketika ada yang menghina Anda maka prasangka positif Anda adalah dia tidak tahu siapa Anda.

3. Tingkatkan percaya diri, Kerapkali prasangka negatif hadir karena Anda kurang percaya diri. Misalnya, Anda kurang percaya diri dengan salah satu bagian tubuh Anda, ketika ada yang memperhatikan Anda, Anda langsung berprasangka negatif bahwa orang itu sedang melecehkan bagian tubuh Anda dan tentu ini akan mengusik Anda. Padahal? Jika prasangka positif Anda yang muncul Anda bisa menyimpulkan bahwa tidak ada masalah dengan Anda, bahkan mungkin orang itu merasa Anda istimewa dan dengan prasangka positif Anda tetap merasa nyaman.

4. Teruslah Belajar, Jangan berhenti belajar mengasah prasangka. Mulailah menata rasangka?prasangka negative menjadi prasangka?prasangka positif yang membuat hidup Anda lebih baik.



Manfaat Prasangka Positif

1. Berserinya wajah Anda, Orang yang memiliki prasangka positif akan selalu tampil dengan senyum. Wajahnya selalu memikat siapa saja. Mungkin saja dia tidak cantik atau tampan tapi wajahnya yang berseri sungguh sedap dipandang.

2. Nyamannya Hati Anda, Kalau prasangka positif sudah sedemikian kentalnya dalam pikiran Anda maka bisa dipastikan kenyamanan hidup jadi milik Anda. Anda tidak akan terganggu dengan remeh temeh persoalan dalam hidup Anda, Anda sangat menikmati hidup Anda apapun adanya. Sungguh nyaman hati Anda!

3. Memperluas Shilaturahmi, Prasangka?prasangka positif menghadirkan banyak sahabat di samping Anda, mereka nyaman berada di dekat Anda, bahkan mereka akan terkontaminasi aura positif Anda. Kenyamanan orang di dekat Anda akan menarik mereka untuk setia pada Anda bahkan mereka tidak canggung mengenalkan Anda pada sahabat mereka. Sudah pasti, shilaturahmi Anda akan sedemikian luasnya.

4. Tercapainya keinginan Anda, Prasangka positif akan membawa Anda pada kenyataan yang Anda inginkan. Allah akan mengabulkan setiap prasangka umatNya, jika prasangka Anda buruk maka buruk pula hasilnya, jika prasangka Anda baik, maka kebaikan yang dicapai.


Nah, selamat berprasangka positif dan dapatkan hasil yang luar biasa untuk Anda yang luar biasa!



Ciputat, Tanggerang
Oktober 2010

Gibah itu Indah???


“Gibah itu indah, ngawur kamu”, sentak Inas kuat-kuat kepadaku, ketika puisi yang berjudul gibah itu indah terpampang di mading kampus. Mau tahu puisinya seperti apa?

***

Gibah itu indah.

Gibah itu indah, bisa membuat hubungan kita dengan kawan-kawan menjadi dekat.

Gibah itu indah, karena dilakukan berjama’ah dan atas dasar suka sama suka,

***

Gibah itu indah, karena dengannya sudah tidak ada lagi rahasia diantara kita, dan kita semua menjadi manusia yang sama dan tidak ada kasta. Karena keuntungan dari bergibah adalah semua rahasia bukan menjadi rahasia lagi dan semua rahasia menjadi milik umum. Bukankah hal itu bagus, sehingga masyarakat yang tidak memiliki apa-apa paling tidak punya satu hal yang mereka miliki yaitu berita dari hasil pergibahan sesama wartawan, orang kaya, orang kota, tukang becak, guru dan pengajar.

Semua serentak mengetahui ketika seorang pejabat ketahuan minum teh poci bersama seorang artis dangdut yang berdandan menor, dan gibah itu indah ketika si pejabat melepaskan perintah untuk melakukan penembakan kepada sang wanita, karena sudah tidak tahan lagi dengan pemberitaan buruk mengenai dirinya yang didengar dimana-mana. Hasil dari pergibahan nasional, mengakibatkan rating sebuah infotainment ditelevisi swasta meningkat tajam, mendatangkan banyak iklan dan rejeki bagi banyak orang, dengan caranya yang kejam.

Gibah itu indah sayang, namun berujung neraka. Kita tidak mengetahui kapan pertama kali dilakukan, bila kita mengetahui maka dapat kita peringati, dan berkomitmen untuk tidak menjadi anggota masyarakat yang hidup dengan gibah.

Alkisah, Aisyah, istri Rasul beserta kawannya berpapasan dengan rombongan yang akan pergi ke suatu tempat. Ketika berpapasan Aisyah sedikit bergunjing dengan dirinya sendiri didalam hati ketika melihat wanita yang bertubuh gemuk, Aisyah berkata, ”gemuk betul tubuhnya”, dan ketika melihat tubuh yang kurus pikirnya, ”kurus betul tubuhnya”. Dan ketika hal itu diketahui oleh Rasululloh, maka Aisyah diminta untuk membuka mulutnya. Ketika aisyah membuka mulutnya, maka tiba-tiba keluarlah darah kental hitam dari mulut Aisyah yang mulia.

Subhanallah, iri rasanya melihat bagaimana Allah menjaga Aisyah. Jika Aisyah melakukan perbuatan yang menurut kita hanya dosa kecil saja, ternyata sudah dihukum oleh ALLOH di dunia. Dan darah hitam yang kental itu menunjukkan bahwa perbuatan Aisyah dalam bergibah itu, walaupun hanya terlintas dipikiran saja, telah dihukum oleh ALLOH.

Bagi kita sebagai sesama wanita, gibah itu merupakan hal yang menyenangkan dan terlihat indah karena mampu membuat kita mungkin memiliki banyak teman karena begitu banyak informasi, berita dan cerita dari kita untuk teman-teman kita. Hal itu semua tanpa kita sadari mampu mempererat ukhuwah, namun sebetulnya gibah itu merupakan sebuah dosa besar yang tidak terlihat langsung korbannya, tapi dampaknya luar biasa. Dan hal itu lagi-lagi ditunjukkan oleh Allah dalam Al Quran Surat Al Hujurat ayat 11 yang berbunyi

”Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok), dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain, (karena) boleh jadi perempuan (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barang siapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim”. (QS.49:11).

Astaghfirullohaladzhiim, yaa Roob, dalam siangmu yang terik ini, hamba memohon kepadamu, untuk menjadi bagian dari hamba-Mu yang mampu menjaga lidahnya untuk selalu berkata baik dan tidak berkata-kata yang membawanya ke neraka.


Gibah itu indah....

mempererat ukhuwah

tapi

dibelakangnya terdapat sengsara berujung neraka!!!!

Berminatkah???!!!




“Gibah itu indah, ngawur kamu”, sentak Inas kuat-kuat kepadaku, ketika puisi yang berjudul gibah itu indah terpampang di mading kampus. Mau tahu puisinya seperti apa?

***

Gibah itu indah.

Gibah itu indah, bisa membuat hubungan kita dengan kawan-kawan menjadi dekat.

Gibah itu indah, karena dilakukan berjama’ah dan atas dasar suka sama suka,

***

Gibah itu indah, karena dengannya sudah tidak ada lagi rahasia diantara kita, dan kita semua menjadi manusia yang sama dan tidak ada kasta. Karena keuntungan dari bergibah adalah semua rahasia bukan menjadi rahasia lagi dan semua rahasia menjadi milik umum. Bukankah hal itu bagus, sehingga masyarakat yang tidak memiliki apa-apa paling tidak punya satu hal yang mereka miliki yaitu berita dari hasil pergibahan sesama wartawan, orang kaya, orang kota, tukang becak, guru dan pengajar.

Semua serentak mengetahui ketika seorang pejabat ketahuan minum teh poci bersama seorang artis dangdut yang berdandan menor, dan gibah itu indah ketika si pejabat melepaskan perintah untuk melakukan penembakan kepada sang wanita, karena sudah tidak tahan lagi dengan pemberitaan buruk mengenai dirinya yang didengar dimana-mana. Hasil dari pergibahan nasional, mengakibatkan rating sebuah infotainment ditelevisi swasta meningkat tajam, mendatangkan banyak iklan dan rejeki bagi banyak orang, dengan caranya yang kejam.

Gibah itu indah sayang, namun berujung neraka. Kita tidak mengetahui kapan pertama kali dilakukan, bila kita mengetahui maka dapat kita peringati, dan berkomitmen untuk tidak menjadi anggota masyarakat yang hidup dengan gibah.

Alkisah, Aisyah, istri Rasul beserta kawannya berpapasan dengan rombongan yang akan pergi ke suatu tempat. Ketika berpapasan Aisyah sedikit bergunjing dengan dirinya sendiri didalam hati ketika melihat wanita yang bertubuh gemuk, Aisyah berkata, ”gemuk betul tubuhnya”, dan ketika melihat tubuh yang kurus pikirnya, ”kurus betul tubuhnya”. Dan ketika hal itu diketahui oleh Rasululloh, maka Aisyah diminta untuk membuka mulutnya. Ketika aisyah membuka mulutnya, maka tiba-tiba keluarlah darah kental hitam dari mulut Aisyah yang mulia.

Subhanallah, iri rasanya melihat bagaimana Allah menjaga Aisyah. Jika Aisyah melakukan perbuatan yang menurut kita hanya dosa kecil saja, ternyata sudah dihukum oleh ALLOH di dunia. Dan darah hitam yang kental itu menunjukkan bahwa perbuatan Aisyah dalam bergibah itu, walaupun hanya terlintas dipikiran saja, telah dihukum oleh ALLOH.

Bagi kita sebagai sesama wanita, gibah itu merupakan hal yang menyenangkan dan terlihat indah karena mampu membuat kita mungkin memiliki banyak teman karena begitu banyak informasi, berita dan cerita dari kita untuk teman-teman kita. Hal itu semua tanpa kita sadari mampu mempererat ukhuwah, namun sebetulnya gibah itu merupakan sebuah dosa besar yang tidak terlihat langsung korbannya, tapi dampaknya luar biasa. Dan hal itu lagi-lagi ditunjukkan oleh Allah dalam Al Quran Surat Al Hujurat ayat 11 yang berbunyi

”Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok), dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain, (karena) boleh jadi perempuan (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barang siapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim”. (QS.49:11).

Astaghfirullohaladzhiim, yaa Roob, dalam siangmu yang terik ini, hamba memohon kepadamu, untuk menjadi bagian dari hamba-Mu yang mampu menjaga lidahnya untuk selalu berkata baik dan tidak berkata-kata yang membawanya ke neraka.


Gibah itu indah....

mempererat ukhuwah

tapi

dibelakangnya terdapat sengsara berujung neraka!!!!

Berminatkah???!!!



Menuju Perubahan, Sudah Siapkah?!


Entah mengapa saya sedang ingin menulis tentang perubahan. Mungkin karena saya sedang senang bereksperimen,




learning by doing dalam psikologi pendidikan. Mungkin juga karena diam-diam saya senang mengamati orang-orang di sekeliling saya yang berubah dari tahun ke tahun, menjadi lebih arif, lebih sabar, lebih baik dari saat pertama kali saya bertemu dengannya. Dari sini saya mencoba menggali, apa sebenarnya rahasia dari perubahan.


Pertama
, ilmu dan pemahaman yang terus bertambah. Ilmu yang datang dari ketelatenan dan keseriusan dalam mengkaji nilai-nilai Islam. Di antara berbagai kesibukan yang dijalani, sekolah, bekerja, aktivitas organisasi, dan lain sebagainya, agenda ta'lim tetap terselip dan tak pernah terlewat untuk diikuti.

Meskipun hanya mengkaji di antara teman-teman yang ilmunya mungkin tidak berbeda jauh, tetapi selalu ada saja ilmu baru yang bisa diambil di sela-sela merenungi mata air ilmu Al-Qur'an dan hadits ini. Tentu saja sesekali perlu bantuan dari ustadz yang memiliki kapasitas pemahaman Islam yang lebih mendalam.

Kedua, berinteraksi dengan masyarakat. Ilmu dan pemahaman keislaman yang didapat, tidak akan mungkin bisa terasa pengaruhnya tanpa bergaul intens dengan masyarakat. Bergaul, berinteraksi, take and give saling memberi manfaat dari interaksi itu, membuat apa yang didapat di majelis-majelis ilmu menemukan ruang aplikasinya. Sejauh mana ilmu itu sudah meresap di dalam diri? Sejauh mana nilai-nilai persaudaraan, saling menghargai perbedaan, menjaga akhlak yang tadinya berada dalam tataran teori, bisa keluar, terlatih, dan menjadi akhlak yang menyatu dalam keseharian?


Di awal mungkin gagal, berjarak dan terasa canggung bergaul. Namun lama kelamaan menjadi luwes, dan akhirnya terasa nyaman membawa diri tanpa harus melepas jati diri. Dari masyarakat juga ilmu-ilmu kehidupan bisa didapat. Saling berbagi pengalaman, saling bercerita tentang tips-tips mengatasi kesulitan, membuka diri menyerap ilmu-ilmu itu membuat seseorang menjadi lebih "kaya" dan lebih bijak.


Ketiga, adakalanya perubahan itu harus diawali dengan berpindah dari lingkungan lama ke lingkungan baru. Ketika lingkungan lama tidak terlalu mendukung perubahan kita untuk menjadi lebih baik, maka perlu berpindah dulu, mencari teman-teman yang baik, mencari komunitas yang baik.

Orang-orang baik akan mendukung perubahan seseorang menjadi lebih baik. Kalau sulit menemukan komunitas seperti itu, minimal bersama-sama dengan orang yang juga sedang belajar menjadi lebih baik. Merantau, tinggal sendiri di tempat yang jauh, sering menjadi ujung tombak perubahan menjadi lebih baik. Karena merantau membuat orang lebih paham kerasnya kehidupan. Untuk bisa survive, perlu kesabaran menjalani perbedaan bahasa, tingkah laku, dan adat yang berbeda di tempat yang baru.

Keempat, Seringkali perubahan seseorang berawal dari takdir yang tidak menyenangkan. Bangkrut, gagal mencapai suatu tujuan, gagal dalam pertemanan, dan hal-hal yang tidak menyenangkan lainnya mendorong seseorang mencari solusi keluar dari masalah yang dihadapinya. Solusi yang yang sering dipakai adalah mengubah sikap, tingkah laku, dan kebiasaan, dari negatif menjadi positif. Sifat malas belajar, diubah menjadi rajin dan tekun. Sifat meledak-ledak, pemarah, dan sangat sensitif diubah menjadi lebih sabar dan positive thinking.


Kelima,
perubahan status bisa juga menjadi pencetus perubahan seseorang. Dari sendiri, menikah, dan punya anak, di setiap fase butuh keterampilan tersendiri agar bisa smooth dalam menjalaninya. Keterampilan komunikasi dan berusaha membentuk tim kehidupan, tak bisa dilakukan kalau tidak memangkas sifat-sifat egois yang masih dimiliki. Bagaimana menjaga hubungan dengan pasangan, dengan keluarga sendiri dan keluarga pasangan, serta dengan anak-anak, perlu kemampuan komunikasi yang diperbaiki terus menerus. Mau tidak mau setiap orang harus berubah ketika perubahan status terjadi.


Itulah beberapa hal yang menunjang perubahan karakter seseorang. Bukan sesuatu yang mudah, dan tidak pula bisa terjadi dalam waktu singkat. Tapi bila ada semangat untuk selalu berubah menjadi lebih baik dari waktu ke waktu, disertai do'a kepada Allah agar melimpahi kebaikan dalam hidup ini, insya Allah, jalan-jalan perubahan itu selalu terbentang di hadapan kita.


Yuk, Berubah...



Markaz Pribadi
Ciputat-Tanggerang
Oktober, 2010


Entah mengapa saya sedang ingin menulis tentang perubahan. Mungkin karena saya sedang senang bereksperimen,




learning by doing dalam psikologi pendidikan. Mungkin juga karena diam-diam saya senang mengamati orang-orang di sekeliling saya yang berubah dari tahun ke tahun, menjadi lebih arif, lebih sabar, lebih baik dari saat pertama kali saya bertemu dengannya. Dari sini saya mencoba menggali, apa sebenarnya rahasia dari perubahan.


Pertama
, ilmu dan pemahaman yang terus bertambah. Ilmu yang datang dari ketelatenan dan keseriusan dalam mengkaji nilai-nilai Islam. Di antara berbagai kesibukan yang dijalani, sekolah, bekerja, aktivitas organisasi, dan lain sebagainya, agenda ta'lim tetap terselip dan tak pernah terlewat untuk diikuti.

Meskipun hanya mengkaji di antara teman-teman yang ilmunya mungkin tidak berbeda jauh, tetapi selalu ada saja ilmu baru yang bisa diambil di sela-sela merenungi mata air ilmu Al-Qur'an dan hadits ini. Tentu saja sesekali perlu bantuan dari ustadz yang memiliki kapasitas pemahaman Islam yang lebih mendalam.

Kedua, berinteraksi dengan masyarakat. Ilmu dan pemahaman keislaman yang didapat, tidak akan mungkin bisa terasa pengaruhnya tanpa bergaul intens dengan masyarakat. Bergaul, berinteraksi, take and give saling memberi manfaat dari interaksi itu, membuat apa yang didapat di majelis-majelis ilmu menemukan ruang aplikasinya. Sejauh mana ilmu itu sudah meresap di dalam diri? Sejauh mana nilai-nilai persaudaraan, saling menghargai perbedaan, menjaga akhlak yang tadinya berada dalam tataran teori, bisa keluar, terlatih, dan menjadi akhlak yang menyatu dalam keseharian?


Di awal mungkin gagal, berjarak dan terasa canggung bergaul. Namun lama kelamaan menjadi luwes, dan akhirnya terasa nyaman membawa diri tanpa harus melepas jati diri. Dari masyarakat juga ilmu-ilmu kehidupan bisa didapat. Saling berbagi pengalaman, saling bercerita tentang tips-tips mengatasi kesulitan, membuka diri menyerap ilmu-ilmu itu membuat seseorang menjadi lebih "kaya" dan lebih bijak.


Ketiga, adakalanya perubahan itu harus diawali dengan berpindah dari lingkungan lama ke lingkungan baru. Ketika lingkungan lama tidak terlalu mendukung perubahan kita untuk menjadi lebih baik, maka perlu berpindah dulu, mencari teman-teman yang baik, mencari komunitas yang baik.

Orang-orang baik akan mendukung perubahan seseorang menjadi lebih baik. Kalau sulit menemukan komunitas seperti itu, minimal bersama-sama dengan orang yang juga sedang belajar menjadi lebih baik. Merantau, tinggal sendiri di tempat yang jauh, sering menjadi ujung tombak perubahan menjadi lebih baik. Karena merantau membuat orang lebih paham kerasnya kehidupan. Untuk bisa survive, perlu kesabaran menjalani perbedaan bahasa, tingkah laku, dan adat yang berbeda di tempat yang baru.

Keempat, Seringkali perubahan seseorang berawal dari takdir yang tidak menyenangkan. Bangkrut, gagal mencapai suatu tujuan, gagal dalam pertemanan, dan hal-hal yang tidak menyenangkan lainnya mendorong seseorang mencari solusi keluar dari masalah yang dihadapinya. Solusi yang yang sering dipakai adalah mengubah sikap, tingkah laku, dan kebiasaan, dari negatif menjadi positif. Sifat malas belajar, diubah menjadi rajin dan tekun. Sifat meledak-ledak, pemarah, dan sangat sensitif diubah menjadi lebih sabar dan positive thinking.


Kelima,
perubahan status bisa juga menjadi pencetus perubahan seseorang. Dari sendiri, menikah, dan punya anak, di setiap fase butuh keterampilan tersendiri agar bisa smooth dalam menjalaninya. Keterampilan komunikasi dan berusaha membentuk tim kehidupan, tak bisa dilakukan kalau tidak memangkas sifat-sifat egois yang masih dimiliki. Bagaimana menjaga hubungan dengan pasangan, dengan keluarga sendiri dan keluarga pasangan, serta dengan anak-anak, perlu kemampuan komunikasi yang diperbaiki terus menerus. Mau tidak mau setiap orang harus berubah ketika perubahan status terjadi.


Itulah beberapa hal yang menunjang perubahan karakter seseorang. Bukan sesuatu yang mudah, dan tidak pula bisa terjadi dalam waktu singkat. Tapi bila ada semangat untuk selalu berubah menjadi lebih baik dari waktu ke waktu, disertai do'a kepada Allah agar melimpahi kebaikan dalam hidup ini, insya Allah, jalan-jalan perubahan itu selalu terbentang di hadapan kita.


Yuk, Berubah...



Markaz Pribadi
Ciputat-Tanggerang
Oktober, 2010

Followers

Republika Online

dakwatuna.com

 
Catatan Bunda Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template