Kamis, 21 Januari 2021

CURHATAN PENYITAS COVID 19 : Aku terpapar meski di rumah saja (Bagian 1)

 

22 November 2020

Aku merasa tubuhku mengigil, hanya mengigil saja tidak panas. cek suhu normal 35-36 derajat celsius sore hari nya aku menstruasi, deras, banyak darah yang keluar. kepalaku sakit dan oleng, aku kehilangan konsentrasi, sore itu seharusnya adalah aktivitasku bertemu maya dengan teman-teman lingkaranku.


Aku sedikit gelisah, tidak bisa tidur, dan cemas. kurebahkan tubuhku dalam kondisi mengigil dan kepalaku yang sakit entah bagaimana aku tertidur alhamdulillah nyenyak.


Ku buka mata sudah lewat magrib, suami tidak membangunkan karena ia tau aku sedang menstruasi dan memberi waktu istirahat. Ku lihat lampu dan mataku terasa sakit sebab pancaran cahayanya yang begitu terang, lantas meminta suami mematikannya dan mengganti dengan cahaya yang lebih redup. aku sangat-sangat sensitif hari itu dengan apa yang aku rasakan juga kondisi bawaan menstruasi yang hormonnya naik turun. hehe


selama hampir seminggu aku menstruasi  aku juga merasakan di dalam kepala seperti terasa bergoyang goyang, tidak bisa fokus, aku kehilangan konsentrasi dan merasa sangat kelelahan saat itu aku berpikir oh mungkin kah Hb rendah?


Ku minum obat penambah darah yang sebelumnya diresepkan dokter karena riwayat anemia.


Hari berselang tidak ada perubahan, sakit kepala nya menetap. Jelang sore hari hingga malam tubuhku terasa mengigil hingga selimut yang membalut tubuh mungilku tak ada beda rasanya, aku gemetar melalui malam dalam perasaan gelisah, tidak bisa tidur, dan terbangun karena menggigil, anehnya tidak panas, suhu tubuhku normal dan tubuhku terasa sakit.

 

Senin, 7 Desember 2020


Karena tidak ada perubahan hari itu aku kemudian ke dokter umum, aku merasa sakit kepala yang tidak biasa dibandingkan sakit kepala sebelumnya, rasanya berdenyut-denyut dan nyeri sangat yang tertekan di dalam otakku, menyerupai ketegangan kepala namun hanya pada titik tertentu dan berpindah.

Aku merasa seperti orang mabuk, tapi migran dan oleng. Entahlah bagaimana menjelaskannya seperti itulah yang aku rasakan. Mataku terasa pegal, dan sedikit tertarik, dan aku mengetahui saat itu bahwa aku sensitif terhadap cahaya dan suara. Suara anak-anak yang tiba-tiba menggelegar, aku sangat sensitif suasana hatiku juga sensitif.

Kujelaskan semua keluhan yang aku rasanya kemudian diresepkan obat vertigo dan migran oleh dokter juga obat yang lainnya, alhamdulillah wa syukurillah setelah minum obat tersebut keadaanku membaik namun  sesaat saja jika tidak minum rasa sakit dan olengnya sangat terasa meski dalam posisi tiduran.

Disela-sela konsultasi dengan dokter umum beliau menjelaskan jika kondisi tidak juga membaik dalam 3 hari kedepan bahkan setelah meminum obat yang diresepkan aku harus segera dirujuk ke dokter neurolog (ahli saraf) untuk memastikan keadaan dalam kepalaku.

 

 

Rabu, 9 Desember 2020

Tenggorokanku terasa sakit saat menelan, 3 hari berikutnya suaraku parau, cepat sekali  perubahannya dan aku masih berpikir biasa saja karena riwayat alergiku yang sering kambuh jika pergantian cuaca, ah. Aku memang seperti itu lebih mudah terserang flu karena alergiku yang sering kambuh. Berbeda dengan suamiku. Jarang sekali sakit. Dalam setahun pernah hanya sesekali sakit mata oleh sebab debu selama berkendaraan.

Aku merasa sangat kelelahan. Aktivitasku masih seperti biasa, pagi sampai siang hari menemani waktu belajar daring anak-anak, dengan 4 anak yang super luar biasa aktifnya wajar jika aku merasa sangat kelelahan dan mudah lelah.

 

Kamis, 10 Desember 2020

Aku mulai batuk kering, terus berlanjut sampai mengeluarkan dahak dan tidak kunjung membaik meskipun sudah minum obat batuk, obat alergi, tidurku tidak cukup nyaman apalagi nyenyak karena harus terbangun dan terjaga oleh sebab batuk yang tidak tertahan, aku bangun untuk minum air menghilangkan rasa gatal di tenggorokan

Hidungku tersumbat, aku merasakan flu. Lengkaplah sudah yang aku rasakan saat itu, aku terserang radang. Aku memutuskan melanjutkan minum obat yang ada dalam stok kotak obatku. Beginilah reaksi mereka yang memiliki alergi harus punya stok obat alergi yang siap setiap waktu jika kondisi membuat alergi mereka kambuh.

Bagaimana bisa sudah mencoba menghindari pencetusnya tapi masih tetap kambuh? Aku pun berpikir begitu, selama musim pandemi aku hampir tidak pernah minum dingin, yang kuminum air mineral biasa bahkan hangat, jarang makan gorengan meski beberapa menu lauk di rumah kami kami tetap saja ada yang digoreng. Aku memang lebih rentan terserang flu daripada umumnya.

 

Kamis, 10 Desember 2020

Setelah aktifitas Pelantikan Gugus Pramuka di Sekolah, suami pulang ke rumah hanya sebentar untuk bergegas kembali karena harus mengirimkan pesanan untuk Agen kami di Madiun, Gudang Pelabuhan yang semenjak Rabu, 9 Desember ditetapkan Libur Nasional Pilkada Serentak maka hari itu penuh dengan banyaknya kiriman juga kerumunan orang yang antri mengirim paket termasuk suami.

Disanalah ia mengabarkan dan mengirim vidio suasanya keramaian dan antrian yang panjang, tentu informasi tersebut menggambarkan bahwa ia akan lebih lama disana dan telat sampai ke rumah. Saat itu saya mulai khawatir karena suami hanya menggunakan masker scuba tanpa protokol kesehatan yang ketat juga berlama-lama dalam kondisi demikian. Bismillah, baik-baik saja, “Ucapku lirih

 

Jumat, 11 Desember 2020

Malam harinya tubuh suami menggigil suhu nya panas 37,8  tidak berani memeluk meski biasanya suhu tubuhnya akan mereda saat ia di peluk istri, entahlah aku memahaminya bagian dari metode kanguru yang sering kami lakukan semenjak putri kembar kami lahir dengan berat 2 kilo yang mengharuskan setiap saat menempel dengan tubuh orangtuanya untuk menstabilkan kondisi mereka.  kuberikan obat penurun panas dan ia tertidur pulas. Ia memang seperti itu, cepat tidur dan jarang gelisah. Sepertinya ia akan baik-baik saja setelah minum obat. Aku pun tidak begitu mencemaskannya.

 

Minggu, 13 Desember 2020

Suami mengeluhkan badan nyeri rasanya seperti ada beban yang berat, pegel-pegel. Aku cek kolesterol, asam urat dan gula dengan alat yang kami punya di rumah dan hasilnya menunjukkan asam urat suami tinggi 8,5 menjelang malam suhu tubuhnya tidak normal, panas nya tidak juga mereda meski sudah minum obat penurun panas. Dia demam.

Oh, mungkin pegel karena asam uratnya,” pikirku saat itu

 

Senin, 14 Desember 2020

Aku ternyata harus kembali lagi ke dokter umum untuk mengecek gejala yang aku rasakan selama ini, tepat seminggu lalu datang kesini mengeluhkan sakit kepala yang aku rasanya. Dokter sudah tau, jika aku datang pasti akan lama berkonsultasi aku menceritakan kondisiku begini dan begitu, kenapa merasakan ini dan itu, dan harus bagaimana agar aku bisa cepat pulih. Aku berpikir bagaiman agar bisa pulih karena harus mengurus segela keperluan rumah tangga juga usaha yang kami kelolah.

Mungkin hanya aku pasien yang bawel dan perlu edukasi yang jelas agar hatiku merasa puas mendapat jawaban yang tepat. Hehee

Kali ini aku datang dengan keluhan yang berbeda, aku kesulitan menelan dan suaraku sudah parau bukan sekedar serak tapi hampir aku kehilangan suara dalam waktu singkat. Sesuatu yang tidak biasa aku rasakan sebelumnya dan aku sangat penasaran.

Masih dengan dokter yang sama, Ia menanyakan bagaimana sakit kepala yang aku rasanya sebelumnya? Apakah saat ini masih di rasakan? Apakah perlu di rujuk ke dokter syaraf? Aku katakan padanya, alhamdulillah kondisi sakit kepalaku mulai membaik meski kadang kambuhan.

Dengan keluhanku hari ini ia memberi jawaban ini hanya radang aku pun di berikan obat radang. Hatiku tenang. Tidak pernah berpikir sebelumnya ini adalah bagian dari Gejala yang dikhawatirkan banyak orang.

Malam hari nya anakku si kember membuat kehebohan. mengeluhkan kondisi Abinya yang tidak biasa karena tidak bisa menyium bau Pup Zaif meski jarak terdekat sekalipun. Bagaimana dengan panas nya? Alhamdulillah malam itu suhu tubuh suami normal hanya merasakan badan yang pegal dan sakit.

 

Selasa, 15 Desember 2020

Pagi itu aku mengkonfirmasi keluhan anak kami, mengecek kembali dan mengetes langsung apakah benar indra penciumannya hilang? Aku berikan minyak telon ku oleskan ke hidungnya. Bagaimana baunya? Tanyaku padanya

“Gak wangi apa-apa? Jawabnya

“Masa sih? Coba tutup satu lobang hidungnya kemudian cium aroma minyak ini dengan lubang hidung yang lain,” tanyaku lagi penasaran

“Iya, gak bau apa-apa?

 

Aku menghela nafas yang dalam. Aku sudah menduga ini tidak biasa, ia terpapar virus corona. Demam, dan pagi itu kehilangan indra penciumannya. Kuambil handphone ku atur jadwal untuk swab antingen tanpa persetujuan darinya. Aku cemas, dengan keadaanku pada hari itu juga mengalami radang, aku rentan, aku lebih mudah terpapar jika kondisiku tidak juga menunjukkan adanya perubahan.

Ku jadwalkan di Laboratorium Klinik di Pasar Minggu jam-8 pagi untuk swab antingen, ku pesan tiketnya, transfer dan klik selesai.

Aku sampaikan padanya aku sudah mengatur jadwal yang mengharuskan suami untuk swab. Ia menolak, ia mengira sakitnya biasa saja. Sampai kondisi aku tidak ingin berdebat, dengan hati terpaksa (sepertinya) suami harus mengikuti keinginan istrinya untuk swab antingen.

Jam8 pagi hari itu ia sudah tiba di Laboratorium kurang lebih 3 jam menunggu antrian juga menunggu petugas swab nya datang. Hasilnya dikabarkan akan keluar sore itu juga.

Sesampainya di rumah karena sudah waktu makan siang dan sholat, ia bergegas ke dapur dan makan. Yang ku ingat disuapinya Zaif kecil dari mangkok sayur yang ia sudah makan. Aku terkaget.

Sore itu yang ditunggu pun tiba, aku mengecek dari aplikasi pesananku terkait hasil Swab Antingen suami. Hatiku berdegup kencang, aku tidak panik dengan sangat yakin hasil mengatakan bahwa suami bergejala.

Ku buka aplikasinya, perlahan kulihat. Disana tertera keterangan POSITIF mohon segera melakukan konsultasi dengan dokter online kami.

 




(Bersambung)


0 komentar:

Posting Komentar

Followers

Republika Online

dakwatuna.com

 
Catatan Bunda Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template