Kamis, 02 September 2010

Dari Sini Semangat 'Itu' Bermula


Kutulis dengan cahaya cinta, sebagai do’a menyambut karya kebanggaan jiwa..
semoga kau temui kedamaian disetiap menyusuri catatan kecil ini..

Berawal dari sebuah buku yang sangat ingin saya baca akhir-akhir ini dan sengaja saya pinjam dari seorang ukhti sholihah (jazakillah atas pinjamannya..), buku yang belum sempat saya beli padahal sudah terbit 3 tahun lalu.. (skala prioritas)

Entah apa yang menarik minat saya untuk menyelami, memahami semua yang tertulis di buku kecil itu.. “Cinta Di Rumah Hasan Al Banna”

Adik-adik adalah karunia dari Allah yg luar biasa, kenikmatan yang tak terhingga.. mereka saksi yang ikut mewarnai terjalnya perjalanan hidup saya dan keluarga..mereka yang juga setia mendengarkan cerita saya, kami secara bergantian bercerita.. tentang apa saja.. aktivitas kami, semangat kami, harapan kami, cita dan impian kami.. selalu kami tuangkan dalam kebersamaan..

Di rumah kecil 'itu'-lah segalanya bermula… sebuah peradaban yang ingin kami bangun, kami ciptakan, semoga ikut merangkai batu-bata bangunan dakwah..(amiin..amiin...amiin)


Lembar-lembar hari berikutnya banyak kisah yang kami uraikan… berawal dari lontaran kecil kalimat-kalimat emas yang terucap dari lisan adik-adik dari situlah harapan bermula..

“Ingin bisa kuliah di Malang, rindu kampung halaman itu,” begitu ujarnya..

Ah, saya tahu saya paham.. bagaimana kerinduannya untuk bisa kuliah dan kembali lagi ke kampung itu… Malang-Jawa Timur.. sebuah kota yang selalu disebut-sebut 'mereka' dalam setiap nostalgianya.

“Sejak kapan rindu ke kampung itu, De? Tanya saya penasaran padanya

“Tahun lalu saat kita bersama menoreh cerita perjalanan disana, dari situlah rindu itu bermula.”
“Apa yang sudah kau usahakan untuk mencapai harapanmu itu,De? Kini ikhtiarlah, biar Allah yang menentukan apa yang terbaik untukmu..untuk masa depanmu..untuk agamamu..apapun hasilnya nanti serahkan semua pd Allah, dan yakinkan dalam hati itulah yang terbaik untukmu,”

Entah apa yang membuat semangat saya berada disuhu tertinggi, kala saya melihat semangat kalian adik-adik yang saya sayangi karena Allah melontarkan kalimat-demi-kalimat pembakar semangat. di lembar kertas putih itu… kalian ukir sejarah hidup kalian. Masa depan kalian… sungguh itu yang membuat saya kian bersemangat. Karena kita didik bukan menjadi apa yang kita mau, tapi dididik untuk mengisi 'kekosongan pos-pos' yang ada dengan kuda persiapan yang kita tambatkan....

Teringat kembali penggalan harapan yang sampai kini masih tertambat kuat dihati!!..


> Hafalan setiap hari harus terus di tambah… SEMANGAT RAIH PRESTASI BERGELAR HAFIDZAH… <





> Ngabdi di Pedalaman, PERSIAPKAN SEGALANYA MULAI SAAT INI < > MUMPUNG MASIH MUDA, STUDY LANJUT TERUS < > S2 di Luar Jakarta/Luar Negeri…. amiin..amiin..amiin < SO??

Apa yang saya tunggu???

Rencana Allah, setelah itu rencana kita…

dan….

dari sini……

semua semangat itu bermula….
disetiap lembaran hidupku ingin kutorehkan dengan tinta prestasi terbaik dihadapanMu, ya Rabb...mudahkan langkah ini, ridhoi ikhtiar ini..... sejumput harap & cita yg masih terbentang kulabuhkan padaMu.....



Kutulis dengan cahaya cinta, sebagai do’a menyambut karya kebanggaan jiwa..
semoga kau temui kedamaian disetiap menyusuri catatan kecil ini..

Berawal dari sebuah buku yang sangat ingin saya baca akhir-akhir ini dan sengaja saya pinjam dari seorang ukhti sholihah (jazakillah atas pinjamannya..), buku yang belum sempat saya beli padahal sudah terbit 3 tahun lalu.. (skala prioritas)

Entah apa yang menarik minat saya untuk menyelami, memahami semua yang tertulis di buku kecil itu.. “Cinta Di Rumah Hasan Al Banna”

Adik-adik adalah karunia dari Allah yg luar biasa, kenikmatan yang tak terhingga.. mereka saksi yang ikut mewarnai terjalnya perjalanan hidup saya dan keluarga..mereka yang juga setia mendengarkan cerita saya, kami secara bergantian bercerita.. tentang apa saja.. aktivitas kami, semangat kami, harapan kami, cita dan impian kami.. selalu kami tuangkan dalam kebersamaan..

Di rumah kecil 'itu'-lah segalanya bermula… sebuah peradaban yang ingin kami bangun, kami ciptakan, semoga ikut merangkai batu-bata bangunan dakwah..(amiin..amiin...amiin)


Lembar-lembar hari berikutnya banyak kisah yang kami uraikan… berawal dari lontaran kecil kalimat-kalimat emas yang terucap dari lisan adik-adik dari situlah harapan bermula..

“Ingin bisa kuliah di Malang, rindu kampung halaman itu,” begitu ujarnya..

Ah, saya tahu saya paham.. bagaimana kerinduannya untuk bisa kuliah dan kembali lagi ke kampung itu… Malang-Jawa Timur.. sebuah kota yang selalu disebut-sebut 'mereka' dalam setiap nostalgianya.

“Sejak kapan rindu ke kampung itu, De? Tanya saya penasaran padanya

“Tahun lalu saat kita bersama menoreh cerita perjalanan disana, dari situlah rindu itu bermula.”
“Apa yang sudah kau usahakan untuk mencapai harapanmu itu,De? Kini ikhtiarlah, biar Allah yang menentukan apa yang terbaik untukmu..untuk masa depanmu..untuk agamamu..apapun hasilnya nanti serahkan semua pd Allah, dan yakinkan dalam hati itulah yang terbaik untukmu,”

Entah apa yang membuat semangat saya berada disuhu tertinggi, kala saya melihat semangat kalian adik-adik yang saya sayangi karena Allah melontarkan kalimat-demi-kalimat pembakar semangat. di lembar kertas putih itu… kalian ukir sejarah hidup kalian. Masa depan kalian… sungguh itu yang membuat saya kian bersemangat. Karena kita didik bukan menjadi apa yang kita mau, tapi dididik untuk mengisi 'kekosongan pos-pos' yang ada dengan kuda persiapan yang kita tambatkan....

Teringat kembali penggalan harapan yang sampai kini masih tertambat kuat dihati!!..


> Hafalan setiap hari harus terus di tambah… SEMANGAT RAIH PRESTASI BERGELAR HAFIDZAH… <





> Ngabdi di Pedalaman, PERSIAPKAN SEGALANYA MULAI SAAT INI < > MUMPUNG MASIH MUDA, STUDY LANJUT TERUS < > S2 di Luar Jakarta/Luar Negeri…. amiin..amiin..amiin < SO??

Apa yang saya tunggu???

Rencana Allah, setelah itu rencana kita…

dan….

dari sini……

semua semangat itu bermula….
disetiap lembaran hidupku ingin kutorehkan dengan tinta prestasi terbaik dihadapanMu, ya Rabb...mudahkan langkah ini, ridhoi ikhtiar ini..... sejumput harap & cita yg masih terbentang kulabuhkan padaMu.....


Gemuruh Ketidakpastian


Kepadamu kukirimkan salam sejahtera para penghuni surga. Salam yang sejuknya melebihi embun pagi, salam hangat sehangat sinar dipagi hari.

Untukmu..ukhti Solehah calon bidadari surga



Di setiap gelombang yang merambat dalam ketidakpastian, apa yang menjadi penentram kecuali keyakinan? dalam rentang waktu yang panjang, semua bergemuruh yang membasahi cukup hilangkan dengan ketenangan.

Siapa yang membuatmu merasa ada? akan hadir semangatnya? dorongannya? langkah kakinya? siapa sejak dulu kau tunggu di senja itu?

Rahasia dariNya-lah sebagai penentu atas ketidakyakinanmu selama rentang waktu. Entah ia yang kau suka, tak suka, biarlah selalu tersimpan dan tetap terjaga, meski kau merasa semua seolah masih samar.

Tidak ada kesempurnaan atas makhluk, yang ada kita hanya berusaha menjadi sempurna dihadapanNya. Teruslah bercahaya agar setiap sudut titik yang buram terlihat bercahaya kembali. Peganglah erat kembali cahaya itu, agar kau menemukan 'kesegaran' melewati hidup yang baru.

Pijakanmu masih jauh, masih panjang...bersama potongan asa harap dan segala mimpi yang masih tercipta biarlah Allah lukiskan dicatatan terindahNya.

Tak perlu kau berkata, karena tiap potongan kata yang kau keluarkan dari isi hati dan pikiranmu Allah tahu. Sebab kebersamaan tidaklah lebih layaknya seorang musafir.

Apa yang kau ketahui tentang ikhlas? Sebab ikhlas tak pernah menuntut balasan, tak pernah mengingat kebaikan yang telah dilakukan.

Biarlah kesejukan itu kembali kau rasai, lembut mengaliri relung-relung hatimu...karena keyakinan yang selalu kau tanam padaNya.. Dia akan gantikan sesuatu yang lebih baik daripadanya.



Untuk ukhti sholehah calon bidadari surga...


Tidak ada pengorbanan yang sia-sia saat kau berjalan di jalan dakwah, lelahmu, kerja keras, resahmu akan menjadi mahar yang menghantarkanmu menuju surgaNya..


Persiapkanlah, ukh.. persiapkanlah..
dengan sebaik-baik bekal yang kau miliki... dengan segala kesabaran yang kau tanam..
di kemudian hari buah itu akan kau rasai manis pada akhirnya..
jika tidak di dunia.. Surga telah menanti 'pengorbananmu' dalam menjaganya, menjaga keistiqomahan yang sesungguhnya tidaklah mudah.


Dalam lautan dzikrullah -
Untuk kalian yang berjuang di dunia berharap pertemuan kembali di JannahNya



Kepadamu kukirimkan salam sejahtera para penghuni surga. Salam yang sejuknya melebihi embun pagi, salam hangat sehangat sinar dipagi hari.

Untukmu..ukhti Solehah calon bidadari surga



Di setiap gelombang yang merambat dalam ketidakpastian, apa yang menjadi penentram kecuali keyakinan? dalam rentang waktu yang panjang, semua bergemuruh yang membasahi cukup hilangkan dengan ketenangan.

Siapa yang membuatmu merasa ada? akan hadir semangatnya? dorongannya? langkah kakinya? siapa sejak dulu kau tunggu di senja itu?

Rahasia dariNya-lah sebagai penentu atas ketidakyakinanmu selama rentang waktu. Entah ia yang kau suka, tak suka, biarlah selalu tersimpan dan tetap terjaga, meski kau merasa semua seolah masih samar.

Tidak ada kesempurnaan atas makhluk, yang ada kita hanya berusaha menjadi sempurna dihadapanNya. Teruslah bercahaya agar setiap sudut titik yang buram terlihat bercahaya kembali. Peganglah erat kembali cahaya itu, agar kau menemukan 'kesegaran' melewati hidup yang baru.

Pijakanmu masih jauh, masih panjang...bersama potongan asa harap dan segala mimpi yang masih tercipta biarlah Allah lukiskan dicatatan terindahNya.

Tak perlu kau berkata, karena tiap potongan kata yang kau keluarkan dari isi hati dan pikiranmu Allah tahu. Sebab kebersamaan tidaklah lebih layaknya seorang musafir.

Apa yang kau ketahui tentang ikhlas? Sebab ikhlas tak pernah menuntut balasan, tak pernah mengingat kebaikan yang telah dilakukan.

Biarlah kesejukan itu kembali kau rasai, lembut mengaliri relung-relung hatimu...karena keyakinan yang selalu kau tanam padaNya.. Dia akan gantikan sesuatu yang lebih baik daripadanya.



Untuk ukhti sholehah calon bidadari surga...


Tidak ada pengorbanan yang sia-sia saat kau berjalan di jalan dakwah, lelahmu, kerja keras, resahmu akan menjadi mahar yang menghantarkanmu menuju surgaNya..


Persiapkanlah, ukh.. persiapkanlah..
dengan sebaik-baik bekal yang kau miliki... dengan segala kesabaran yang kau tanam..
di kemudian hari buah itu akan kau rasai manis pada akhirnya..
jika tidak di dunia.. Surga telah menanti 'pengorbananmu' dalam menjaganya, menjaga keistiqomahan yang sesungguhnya tidaklah mudah.


Dalam lautan dzikrullah -
Untuk kalian yang berjuang di dunia berharap pertemuan kembali di JannahNya


Bertemu, Di Telaga Kerinduan


Entah, kenapa tiba-tiba saja bulir-bulir bening ini berjatuhan....tak ada yang membuncah bagi seorang hamba selain rindu ingin lebih dekat dengan Tuhan-Nya.. Ada deburan yang menghantam jiwa, luapan kerinduan yang membutuhkan muara...

Saya faham rasa apa yang kini berkecambuk dihati.. teringat masa-masa saat semangat menjaga ayat-ayat cintaNya begitu menggelora. tapi kini? Allah.....Allah......Allah.....

Saya ingin berjumpa di telaga kerinduan, orang-orang yang memendam rindu untuk tetap menjaga ayat-ayat cintaMu.. orang-orang yang hatinya terjaga, suci dan Engkau lembutkan...

“Penghafal qur’an” kata itu terus membayangi saya, setiap detik, menit, jam, bahkan setiap harinya selalu terpikir “apa bisa saya menjadi seorang hafidzah? Apa saya pantas menjadi seorang hafidzah? Bukankah Allah sendiri yang telah memilihkan kepada siapa saja Alqur’an itu di pelihara?

Bukankah Allah sendiri yang telah memuliakan mereka dengan hafalan yang mereka miliki? Lantas bagaimana dengan saya? Pertanyaan-pertanyaan itu menyeruak dalam benak saya, bahkan yang saya rasakan sebuah kerinduan dan kesedihan yang teramat sangat ketika kembali di ingatkan akan pengharapan yang sungguh sangat saya inginkan..

Ya, kerinduan yang teramat sangat saya rasakan. Kerinduaan akan kenikmatan yang saya rasakan ketika saya berinteraksi dengan al-qur’an, kerinduan akan janji Allah bahwa Allah akan memuliakan orang-orang yang menghafal qur’an, Allah akan menjaga mereka, Allah yang akan memelihara hafalan mereka. Kerinduan yang tidak bisa tergambarkan dan tak terdefinisikan hanya dengan sebuah ungkapan atau kata yang saya goreskan.

Tak ada yang lebih membuat resah hati seorang hamba saat ia jauh dari Yang Di CintaiNya, Allah.. Allah....

di setiap perjuangan dan langkah yang kutempuh..hadirkan ikhlas, agar ikhtiarku menjadi mahar terbaik yang dapat kupersembahkan dihadapanMu..


Entah, kenapa tiba-tiba saja bulir-bulir bening ini berjatuhan....tak ada yang membuncah bagi seorang hamba selain rindu ingin lebih dekat dengan Tuhan-Nya.. Ada deburan yang menghantam jiwa, luapan kerinduan yang membutuhkan muara...

Saya faham rasa apa yang kini berkecambuk dihati.. teringat masa-masa saat semangat menjaga ayat-ayat cintaNya begitu menggelora. tapi kini? Allah.....Allah......Allah.....

Saya ingin berjumpa di telaga kerinduan, orang-orang yang memendam rindu untuk tetap menjaga ayat-ayat cintaMu.. orang-orang yang hatinya terjaga, suci dan Engkau lembutkan...

“Penghafal qur’an” kata itu terus membayangi saya, setiap detik, menit, jam, bahkan setiap harinya selalu terpikir “apa bisa saya menjadi seorang hafidzah? Apa saya pantas menjadi seorang hafidzah? Bukankah Allah sendiri yang telah memilihkan kepada siapa saja Alqur’an itu di pelihara?

Bukankah Allah sendiri yang telah memuliakan mereka dengan hafalan yang mereka miliki? Lantas bagaimana dengan saya? Pertanyaan-pertanyaan itu menyeruak dalam benak saya, bahkan yang saya rasakan sebuah kerinduan dan kesedihan yang teramat sangat ketika kembali di ingatkan akan pengharapan yang sungguh sangat saya inginkan..

Ya, kerinduan yang teramat sangat saya rasakan. Kerinduaan akan kenikmatan yang saya rasakan ketika saya berinteraksi dengan al-qur’an, kerinduan akan janji Allah bahwa Allah akan memuliakan orang-orang yang menghafal qur’an, Allah akan menjaga mereka, Allah yang akan memelihara hafalan mereka. Kerinduan yang tidak bisa tergambarkan dan tak terdefinisikan hanya dengan sebuah ungkapan atau kata yang saya goreskan.

Tak ada yang lebih membuat resah hati seorang hamba saat ia jauh dari Yang Di CintaiNya, Allah.. Allah....

di setiap perjuangan dan langkah yang kutempuh..hadirkan ikhlas, agar ikhtiarku menjadi mahar terbaik yang dapat kupersembahkan dihadapanMu..

Followers

Republika Online

dakwatuna.com

 
Catatan Bunda Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template