Selasa, 28 September 2010

Kuncup Peradaban Yang Mulai Mekar


Bismillah....

Menjadi murabbi??


Menjadi murabbi tidak semulus apa yang diharapkan. Manakala hati mencoba melakukan intropeksi. Merawat, memelihara, menjaga, menyentuh mereka dengan hati memang perlu ketelatenan. Menjaga kuncup yang mulai mekar butuh ketelatenan ekstra, ekstra sabar, ekstra ikhlas, ekstra tsiqoh,dll.

Kembali teringat dengan seorang bayi mungil dirumah...
Dimana sang ummi merawat anaknya dengan penuh kasih sayang, dengan penuh kecintaan, kehangatan, sentuhan ruhiyah berkolaborasi dengan kedekatannya pada Allah yang akan tetap menjaga anak-anaknya.

Maka saya katakan begitulah sosok murabbi. Ada keresahan menyelimuti hatinya saat anak-anaknya sedang mengalami ujian, Berharap agar Allah tetap menjaga hati, ruhiyah anak-anaknya..

Kini hanya menanti...
melihat kuncupnya terkembang dan mulai mekar...
untuk "anak-anakku'' yang mulai tumbuh dewasa....
semoga kelak kalian akan mengharumi peradaban ini dengan segenap potensi kalian.




Bismillah....

Menjadi murabbi??


Menjadi murabbi tidak semulus apa yang diharapkan. Manakala hati mencoba melakukan intropeksi. Merawat, memelihara, menjaga, menyentuh mereka dengan hati memang perlu ketelatenan. Menjaga kuncup yang mulai mekar butuh ketelatenan ekstra, ekstra sabar, ekstra ikhlas, ekstra tsiqoh,dll.

Kembali teringat dengan seorang bayi mungil dirumah...
Dimana sang ummi merawat anaknya dengan penuh kasih sayang, dengan penuh kecintaan, kehangatan, sentuhan ruhiyah berkolaborasi dengan kedekatannya pada Allah yang akan tetap menjaga anak-anaknya.

Maka saya katakan begitulah sosok murabbi. Ada keresahan menyelimuti hatinya saat anak-anaknya sedang mengalami ujian, Berharap agar Allah tetap menjaga hati, ruhiyah anak-anaknya..

Kini hanya menanti...
melihat kuncupnya terkembang dan mulai mekar...
untuk "anak-anakku'' yang mulai tumbuh dewasa....
semoga kelak kalian akan mengharumi peradaban ini dengan segenap potensi kalian.



My Special Books Collection (Recomended) Aisyah: The True Beauty


"Namanya adalah Aisyah yang diberi julukan as-Shiddiq ‘perempuan yang benar dan lurus’ dan masih banyak lagi julukan yang disematkan kepada sosok wanita cerdas nan mulia ini. Akan tetapi, Rasulullah lebih sering memanggilnya dengan Bintush-Shiddiq ‘putri dari laki-laki yang benar dan lurus (Abu Bakar)’.

Aisyah kecil adalah seorang anak yang cerdas. Tanda-tanda kecerdasannya itu terlihat dari perbuatan dan perkataannnya seolah-olah menandakan masa depan yang cemerlang dan akan melahirkan prestasi-prestasi besar. Akan tetapi, Aisyah kecil tetaplah seorang bocah yang tidak lepas dari dorongan naluriyah sebagai seorang bocah yang gemar bermain bersama teman-teman sepermainannya. Mainan yang disukai Aisyah adalah boneka dan ayunan. Suatu hari Rasulullah mendatangai Aisyah yang sedang asyik bermain boneka, di antara boneka-boneka itu ada boneka yang mempunyai sayap di kedua sisinya. Melihat boneka itu, Rasuulullah bertanya, “Apa ini, wahai Aisyah?”

“Kuda,” jawab Aisyah.

“Adakah kuda yang mempunyai dua sayap,” tanya Rasulullah kemudian.

“Bukankah kuda Sulaiman memiliki banyak sayap,” jawab Aisyah. Rasulullah tertawa mendengar jawaban Aisyah. Dari jawaban Aisyah tersebut terlihat akan kecerdasan, kepolosan, dan pengetahuannya yang luas tentang pengetahuan. Aisyah kecil bukanlah sosok yang biasa. Dia mampu mengingat dengan baik apa yang terjadi masa kecilnya, termasuk hadits-hadits yang didengarnya dari Rasulullah. Ia mampu memahami hadits-hadits itu, meriwayatkannya, menyimpulkan, dan memberi penjelasan tentang detail-detail hukum fiqih yang terkandung di dalamnya.

-----

Khadijah binti Khuwailid merupakan istri pertama Rasulullah. Beliau adalah wanita pertama yang beriman memeluk islam dan kemudian menjadi pendamping terbaik Rasulullah di kala suka dan duka. Ketika penentangan kaum kafir terhadap dakwah Islam, Rasulullah sangat membutuhkan motivasi, hiburan, dan kekuatan, Khadijahlah yang selalu siap memberikan segalanya. Oleh karena itu, ketika Khadijah berpulang ke rahmatullah, Rasulullah merasakan duka yang amat mendalam. Hal itu membuat para sahabat merisaukan kondisi Rasulullah yang tenggelam dalam duka. Suatu hari, Kaulah binti Hakim (istri Utsman bin Mazh`un) mendatangi Rasulullah dan bertanya, “Wahai Rasulullah, tidakkah engkau ingin menikah lagi?”

“Dengan siapa?” tanya Rasulullah.

“Perempuan seperti apa yang ingin engkau nikahi, gadis atau janda?” tanyanya.

Rasulullah balik bertanya, “Siapa yang gadis dan siapa pula yang janda?”

“Jika engkau menghendaki seorang janda, maka menikahlah dengan Saudah binti Zam`ah. Jika engkau mengingini seorang gadis, maka menikahlah dengan putri dari orang yang paling engkau cintai, Aisyah binti Abu Bakar,” jelasnya.

“Kalau begitu sampaikanlah kepadanya,” kata Rasulullah. Maka, Kaulah pun berangkat menuju kediaman Abu Bakar untuk menyampaikan sebuah berita.

Dalam beberapa hadits, dikisahkan bahwa Rasulullah pernah bermimpi didatangi oleh malaikat yang membawa secarik kertas kain sutra. Rasulullah bertanya, “kain apakah ini?”

Malaikat pun menjawab, “Inilah istrimu?”

Maka, Rasulullah membuka kain itu dan ternyata gambar Aisyah tercetak di dalamnya. Bukhari meriwayatkan kisah itu sebagai berikut. Rasulullah bersabda kepada Aisyah,“Sebelum menikahimu, aku pernah melihatmu dua kali di dalam mimipi. Aku melihat malaikat membawa secarik kain yang terbuat dari sutra. Kukatakan kepadanya, ‘Singkapkanlah.’ Malaikat itu pun menyingkapkannya. Dan ternyata, kain itu memuat gambarmu. Lalu kukatakan, ‘Jika ini merupakan ketentuan Allah, maka Dia pasti akan membuatnya terjadi.’ Pada kesempatan lain, aku kembali melihatnya datang membawa secarik kain yang terbuat dari sutra. Maka, kukatakan ‘Singkaplah’. Dan ternyata itu memuat gambarmu. Lalu aku berkata, ‘Jika itu merupakan ketentuan Allah, maka Dia pasti akan membuatnya terjadi.’” (HR Bukhari, Muslim, dan Ahmad)

Akhirnya, Aisyah pun dinikahkan dengan Rasulullah. Ketika itu, Aisyah adalah seorang gadis cilik yang masih kenakak-kanakan dan berusia enam tahun. Dalam sebuah hadits, Asiyah menuturkan, “Rasulullah menikahiku ketika aku berusia enam tahun. Dan kami mulai hidup bersama ketika usiaku Sembilan tahun. Kami tiba di Madinah. Suatu hari, ketika aku sedang asyik bermain ayunan bersama teman-temanku, ibuku tiba-tiba datang dan berseru agar aku mendatanginya. Aku tidak tahu apa yang dia inginkan dariku. Ia lalu menggandeng tanganku hingga ke depan pintu rumah sampai aku terngah-engah. Setelah itu, aku menenangkan diri hingg napasku normal kembali. Ketika aku memasuki rumah, banyak perempuan Anshar telah berkumpul di sana. Mereka berkata kepadaku, ‘Semoga engkau memperoleh kebaikan, berkah, dan nasib yang baik.’ Ibuku pun menyerahkanku kepada mereka untuk mencuci rambutku dan merias wajahku. Tiba-tiba, aku dikejutkan oleh masuknya Rasulullah ke dalam kamarku pagi itu. Lalu para perempuan tadi menyerahkan diriku kepada baliau.” (HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Darimi)

----

(Paling suka dengan kutipan pembahasan ini)

Tidak ada waktu atau jam pelajaran tertentu bagi Aisyah untuk belajar kepada Rasulullah. Ia tinggal bersama Rasulullah dan memiliki kesempatan untuk menemani beliau sepanjang siang dan malam. Selain itu, majelis-majelis ilmu dan dakwah selalu diadakan di Masjid Nabawi setiap hari, sementara kamar Asiyah berdempetan dengan masjid.

Setiap kali ada persoalan yang tidak dia pahami selalu ditanyakannya kepada Rasulullah di rumah, namun dalam beberapa kesempatan Aisyah berusaha mendekat ke masjid agar ia dapat menyimak dengan jelas pelajaran yang disampaikan Rasulullah. Sehari dalam seminggu, Rasulullah juga menyempatkan diri untuk mengajar kaum perempuan. Dengan begitu, Aisyah memiliki kesempatan untuk mempelajari sunnah-sunnah Rasulullah tentang berbagai ilmu pengetahuan.

Aisyah juga dikenal sebagai seseorang yang memiliki rasa ingin tahu yang mendalam sehingga ia terkenal sebagai sosok seorang wanita yang suka mengajukan pertanyaan dan tidak pernah merasa puas sebelum persoalan terselesaikan. Ia melacak setiap hal hingga ke bagian-bagian yang paling mendalam dan mendetail.

Rumah yang ditempati Rasulullah bersama Aisyah bukanlah istana yang besar dan megah, namun lebih tepat dikatakan sebagai kamar-kamar dan ruangan-ruangan kecil di perkampungan bani Najjar di sekeliling Masjid nabawi. Kediaman Rasulullah merupakan sumber cahaya ilahi dan mata air kenabian. Tetapi, dia tidak memiliki lentera duniawi. Rumah Rasulullah tidak memiliki lampu penerang. Aisyah mengisahkan, “Pernah selama empat puluh malam pada masa Rasulullah, rumah beliau tidak diterangi oleh lentera atau apa pun yang sejenisnya.” (HR Thayalisi dan Ishaq bin Rahawaih)

Pada awalnya, Aisyah hanya tinggal berdua bersama Rasulullah. Lalu Asiyah membeli seorang budak perempuan bernama Barirah dengan syarat agar perwalian budak itu berada di tangannya. Saat itu, istri Rasulullah hanyalah Saudah dan Aisyah. Maka, beliau selalu tinggal di rumah Aisyah sekali setiap dua malam, bergantian dengan Saudah. Ketika rasulullah akhirnya memiliki banyak istri, Saudah telah semakin tua. Ia pun meyerahkan hari gilirannya untuk diambil oleh Aisyah. Maka dalam Sembilan hari, Rasulullah tinggal bersama Aisyah selama dua hari—hari gilirannya sendiri ditambah hari giliran Saudah. (HR Bukhari, Muslim, dan Abu Dawud)

Rasulullah bersama istri-istrinya tidak terlalu memedulikan kenyamanan rumah mereka dan tidak membutuhkan kenikmatan lahiriyah. Sangat jarang api dinyalakan di rumah Rasulullah.

---

Aisyah adalah salah seorang yang paling dicintai oleh Rasulullah. Para sahabat mengetahui dan mengakui hal tersebut. Jika mereka ingin memberikan sesuatu kepada Rasulullah, maka mereka akan memilih hari ketika beliau sedang bersama Aisyah. Rasa cinta Rasulullah kepada Aisyah membuat istri-istri beliau yang lain cemburu—sesuatu yang wajar dalam kehidupan berumah tangga. Suatu hari mereka mengutus Fatimah untuk menemui Rasulullah dan mengadukan kecemburuan mereka. Memenuhi permintaan itu, Fatimah menemui Rasulullah dan berkata, “Istri-istri ayah meminta ayah untuk berbuat adil dalam urusan Aisyah.”

“Wahai Fatimah, putriku, tidakkah engkau mencintai apa yang kucintai?” ujar Rasulullah.

Maka Fatimah pun kembali menemui para istri Rasulullah dan menyampaikan apa yang disampaikan oleh ayahnya. Ketika mereka meminta Fatimah untuk sekali lagi menyampaikan tuntunan mereka tentang Aisyah, Fatimah pun menolak. (HR Bukhari)Meski dilanda rasa cemburu, istri-istri Rasulullah yang lain mengakui bahwa Aisyah layak memperoleh cinta beliau. Mereka sadar bahwa pengetahuan Aisyah tentang rahasia-rahasia Nabi jauh lebih kuat dan lebih mendalam dibandingkan dengan pengetahuan mereka.

Aisyah tidak hanya mencintai Rasulullah, dia juga selalu merindukan dan mengagumi beliau sepenuh hati. Cinta Aisyah kepada Rasulullah adalah cinta seorang perempuan muslim kepada Nabinya, cinta seorang istri kepada suaminya, serta cinta seorang perempuan kepada seorang laki-laki. Aisyah juga layaknya wanita biasa yang kadang dipenuhi rasa cemburu yang hebat kepada istri-istri Rasulullah yang lain dalam memperebutkan cinta dan perhatian Rasulullah. Sebuah perasaan yang timbul dari naluri kewanitannya. Allah telah menjadikan kehidupan Rasulullah sebagai teladan sempurna bagi semua seluruh umat manusia. Beliau adalah suami terbaik yang selalu bersikap lemah lembut kepada istri dan keluarganya. Beliau tidak pernah bersikap keras kepada mereka. Ketika salah seorang dari istrinya marah, beliau justru berusaha meredakan kemarahannya.

Kala itu adalah tahun kesebelah hijriah. Usia Aisyah memasuki usia kedelapan belas. Ia sangat menikmati kehidupan berumah tangga bersama Rasulullah dalam suasana cinta, kasih sayang, dan kesetiaan di sepanjang waktu dan kesempatan. Suatu hari di bulan Shafar, tahun kesebelas Hijriah, Rasulullah mendatangi Aisyah dan mengeluhkan rasa sakit di kepalanya. Semakin lama, semakin berat rasa sakit yang diderita Rasulullah. Akan tetapi, beliau tetap berkeliling menunaikan giliran kunjungan terhadap istri-istri beliau. Ketika rasa sakit itu tak tertahankan, Rasulullah selalu bertanya dimana beliau tinggal hari ini dan di mana beliau akan tinggal esok hari, seakan-akan beliau tidak sabar menunggu giliran untuk bersama Aisyah. Oleh karena itu, istri-istri beliau mengizinkan Rasulullah untuk dirawat di mana pun beliau suka. Kemudian beliau memilih dirawat di rumah Aisyah hingga akhirnya beliau wafat di tempat Aisyah (HR Bukhari dan Muslim)

Ulasan yang lengkap dan mendalam tentang sosok Aisyah dikupas tuntas dalam buku Aisyah; The True Beauty karya Sulaiman an-Nadawi yang telah diterjemahkan dan diterbitkan oleh Penerbit Pena Pundi Aksara. Penulisnya menuliskan kisah kehidupan Aisyah dengan apik dan cermat dalam menggambarkan sosok Aisyah dengan memasukkan hadits-hadits yang menguatkan. Sulaiman an-Nadawi adalah seorang ulama yang dilahirkan di India dan masih memiliki garis keturunan dengan Ali bin Abu Thalib, baik dari pihak ayah maupun ibunya. Selain mendalami ilmu hadits, dia juga mendalami ilmu kalam, tafsir, fiqih, dan sejarah.

Cakupan dari isi buku, yaitu membahas tentang masa kecil Aisyah, serba-serbi pernikahan Aisyah dengan Rasulullah, kehidupan rumah tangga Aisyah selama mendampingi Rasulullah, hikmah yang didapat Aisyah dari poligami sang suami, Aisyah sepeninggal Rasulullah, karakter dan keistimewaan Aisyah, penguasaan Aisyah atas ilmu-ilmu yang terkandung dalam Al-Qur`an, hadits, dan syariat, Aisyah sebagai salah satu sumber ilmu, Jasa Aisyah kepada kaum perempuan.

Untuk kesekian kalinya saya merasa harus berterimakasih untuk terbitan buku-buku ber'mutu' dan ber'kualitas seperti ini


"Namanya adalah Aisyah yang diberi julukan as-Shiddiq ‘perempuan yang benar dan lurus’ dan masih banyak lagi julukan yang disematkan kepada sosok wanita cerdas nan mulia ini. Akan tetapi, Rasulullah lebih sering memanggilnya dengan Bintush-Shiddiq ‘putri dari laki-laki yang benar dan lurus (Abu Bakar)’.

Aisyah kecil adalah seorang anak yang cerdas. Tanda-tanda kecerdasannya itu terlihat dari perbuatan dan perkataannnya seolah-olah menandakan masa depan yang cemerlang dan akan melahirkan prestasi-prestasi besar. Akan tetapi, Aisyah kecil tetaplah seorang bocah yang tidak lepas dari dorongan naluriyah sebagai seorang bocah yang gemar bermain bersama teman-teman sepermainannya. Mainan yang disukai Aisyah adalah boneka dan ayunan. Suatu hari Rasulullah mendatangai Aisyah yang sedang asyik bermain boneka, di antara boneka-boneka itu ada boneka yang mempunyai sayap di kedua sisinya. Melihat boneka itu, Rasuulullah bertanya, “Apa ini, wahai Aisyah?”

“Kuda,” jawab Aisyah.

“Adakah kuda yang mempunyai dua sayap,” tanya Rasulullah kemudian.

“Bukankah kuda Sulaiman memiliki banyak sayap,” jawab Aisyah. Rasulullah tertawa mendengar jawaban Aisyah. Dari jawaban Aisyah tersebut terlihat akan kecerdasan, kepolosan, dan pengetahuannya yang luas tentang pengetahuan. Aisyah kecil bukanlah sosok yang biasa. Dia mampu mengingat dengan baik apa yang terjadi masa kecilnya, termasuk hadits-hadits yang didengarnya dari Rasulullah. Ia mampu memahami hadits-hadits itu, meriwayatkannya, menyimpulkan, dan memberi penjelasan tentang detail-detail hukum fiqih yang terkandung di dalamnya.

-----

Khadijah binti Khuwailid merupakan istri pertama Rasulullah. Beliau adalah wanita pertama yang beriman memeluk islam dan kemudian menjadi pendamping terbaik Rasulullah di kala suka dan duka. Ketika penentangan kaum kafir terhadap dakwah Islam, Rasulullah sangat membutuhkan motivasi, hiburan, dan kekuatan, Khadijahlah yang selalu siap memberikan segalanya. Oleh karena itu, ketika Khadijah berpulang ke rahmatullah, Rasulullah merasakan duka yang amat mendalam. Hal itu membuat para sahabat merisaukan kondisi Rasulullah yang tenggelam dalam duka. Suatu hari, Kaulah binti Hakim (istri Utsman bin Mazh`un) mendatangi Rasulullah dan bertanya, “Wahai Rasulullah, tidakkah engkau ingin menikah lagi?”

“Dengan siapa?” tanya Rasulullah.

“Perempuan seperti apa yang ingin engkau nikahi, gadis atau janda?” tanyanya.

Rasulullah balik bertanya, “Siapa yang gadis dan siapa pula yang janda?”

“Jika engkau menghendaki seorang janda, maka menikahlah dengan Saudah binti Zam`ah. Jika engkau mengingini seorang gadis, maka menikahlah dengan putri dari orang yang paling engkau cintai, Aisyah binti Abu Bakar,” jelasnya.

“Kalau begitu sampaikanlah kepadanya,” kata Rasulullah. Maka, Kaulah pun berangkat menuju kediaman Abu Bakar untuk menyampaikan sebuah berita.

Dalam beberapa hadits, dikisahkan bahwa Rasulullah pernah bermimpi didatangi oleh malaikat yang membawa secarik kertas kain sutra. Rasulullah bertanya, “kain apakah ini?”

Malaikat pun menjawab, “Inilah istrimu?”

Maka, Rasulullah membuka kain itu dan ternyata gambar Aisyah tercetak di dalamnya. Bukhari meriwayatkan kisah itu sebagai berikut. Rasulullah bersabda kepada Aisyah,“Sebelum menikahimu, aku pernah melihatmu dua kali di dalam mimipi. Aku melihat malaikat membawa secarik kain yang terbuat dari sutra. Kukatakan kepadanya, ‘Singkapkanlah.’ Malaikat itu pun menyingkapkannya. Dan ternyata, kain itu memuat gambarmu. Lalu kukatakan, ‘Jika ini merupakan ketentuan Allah, maka Dia pasti akan membuatnya terjadi.’ Pada kesempatan lain, aku kembali melihatnya datang membawa secarik kain yang terbuat dari sutra. Maka, kukatakan ‘Singkaplah’. Dan ternyata itu memuat gambarmu. Lalu aku berkata, ‘Jika itu merupakan ketentuan Allah, maka Dia pasti akan membuatnya terjadi.’” (HR Bukhari, Muslim, dan Ahmad)

Akhirnya, Aisyah pun dinikahkan dengan Rasulullah. Ketika itu, Aisyah adalah seorang gadis cilik yang masih kenakak-kanakan dan berusia enam tahun. Dalam sebuah hadits, Asiyah menuturkan, “Rasulullah menikahiku ketika aku berusia enam tahun. Dan kami mulai hidup bersama ketika usiaku Sembilan tahun. Kami tiba di Madinah. Suatu hari, ketika aku sedang asyik bermain ayunan bersama teman-temanku, ibuku tiba-tiba datang dan berseru agar aku mendatanginya. Aku tidak tahu apa yang dia inginkan dariku. Ia lalu menggandeng tanganku hingga ke depan pintu rumah sampai aku terngah-engah. Setelah itu, aku menenangkan diri hingg napasku normal kembali. Ketika aku memasuki rumah, banyak perempuan Anshar telah berkumpul di sana. Mereka berkata kepadaku, ‘Semoga engkau memperoleh kebaikan, berkah, dan nasib yang baik.’ Ibuku pun menyerahkanku kepada mereka untuk mencuci rambutku dan merias wajahku. Tiba-tiba, aku dikejutkan oleh masuknya Rasulullah ke dalam kamarku pagi itu. Lalu para perempuan tadi menyerahkan diriku kepada baliau.” (HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Darimi)

----

(Paling suka dengan kutipan pembahasan ini)

Tidak ada waktu atau jam pelajaran tertentu bagi Aisyah untuk belajar kepada Rasulullah. Ia tinggal bersama Rasulullah dan memiliki kesempatan untuk menemani beliau sepanjang siang dan malam. Selain itu, majelis-majelis ilmu dan dakwah selalu diadakan di Masjid Nabawi setiap hari, sementara kamar Asiyah berdempetan dengan masjid.

Setiap kali ada persoalan yang tidak dia pahami selalu ditanyakannya kepada Rasulullah di rumah, namun dalam beberapa kesempatan Aisyah berusaha mendekat ke masjid agar ia dapat menyimak dengan jelas pelajaran yang disampaikan Rasulullah. Sehari dalam seminggu, Rasulullah juga menyempatkan diri untuk mengajar kaum perempuan. Dengan begitu, Aisyah memiliki kesempatan untuk mempelajari sunnah-sunnah Rasulullah tentang berbagai ilmu pengetahuan.

Aisyah juga dikenal sebagai seseorang yang memiliki rasa ingin tahu yang mendalam sehingga ia terkenal sebagai sosok seorang wanita yang suka mengajukan pertanyaan dan tidak pernah merasa puas sebelum persoalan terselesaikan. Ia melacak setiap hal hingga ke bagian-bagian yang paling mendalam dan mendetail.

Rumah yang ditempati Rasulullah bersama Aisyah bukanlah istana yang besar dan megah, namun lebih tepat dikatakan sebagai kamar-kamar dan ruangan-ruangan kecil di perkampungan bani Najjar di sekeliling Masjid nabawi. Kediaman Rasulullah merupakan sumber cahaya ilahi dan mata air kenabian. Tetapi, dia tidak memiliki lentera duniawi. Rumah Rasulullah tidak memiliki lampu penerang. Aisyah mengisahkan, “Pernah selama empat puluh malam pada masa Rasulullah, rumah beliau tidak diterangi oleh lentera atau apa pun yang sejenisnya.” (HR Thayalisi dan Ishaq bin Rahawaih)

Pada awalnya, Aisyah hanya tinggal berdua bersama Rasulullah. Lalu Asiyah membeli seorang budak perempuan bernama Barirah dengan syarat agar perwalian budak itu berada di tangannya. Saat itu, istri Rasulullah hanyalah Saudah dan Aisyah. Maka, beliau selalu tinggal di rumah Aisyah sekali setiap dua malam, bergantian dengan Saudah. Ketika rasulullah akhirnya memiliki banyak istri, Saudah telah semakin tua. Ia pun meyerahkan hari gilirannya untuk diambil oleh Aisyah. Maka dalam Sembilan hari, Rasulullah tinggal bersama Aisyah selama dua hari—hari gilirannya sendiri ditambah hari giliran Saudah. (HR Bukhari, Muslim, dan Abu Dawud)

Rasulullah bersama istri-istrinya tidak terlalu memedulikan kenyamanan rumah mereka dan tidak membutuhkan kenikmatan lahiriyah. Sangat jarang api dinyalakan di rumah Rasulullah.

---

Aisyah adalah salah seorang yang paling dicintai oleh Rasulullah. Para sahabat mengetahui dan mengakui hal tersebut. Jika mereka ingin memberikan sesuatu kepada Rasulullah, maka mereka akan memilih hari ketika beliau sedang bersama Aisyah. Rasa cinta Rasulullah kepada Aisyah membuat istri-istri beliau yang lain cemburu—sesuatu yang wajar dalam kehidupan berumah tangga. Suatu hari mereka mengutus Fatimah untuk menemui Rasulullah dan mengadukan kecemburuan mereka. Memenuhi permintaan itu, Fatimah menemui Rasulullah dan berkata, “Istri-istri ayah meminta ayah untuk berbuat adil dalam urusan Aisyah.”

“Wahai Fatimah, putriku, tidakkah engkau mencintai apa yang kucintai?” ujar Rasulullah.

Maka Fatimah pun kembali menemui para istri Rasulullah dan menyampaikan apa yang disampaikan oleh ayahnya. Ketika mereka meminta Fatimah untuk sekali lagi menyampaikan tuntunan mereka tentang Aisyah, Fatimah pun menolak. (HR Bukhari)Meski dilanda rasa cemburu, istri-istri Rasulullah yang lain mengakui bahwa Aisyah layak memperoleh cinta beliau. Mereka sadar bahwa pengetahuan Aisyah tentang rahasia-rahasia Nabi jauh lebih kuat dan lebih mendalam dibandingkan dengan pengetahuan mereka.

Aisyah tidak hanya mencintai Rasulullah, dia juga selalu merindukan dan mengagumi beliau sepenuh hati. Cinta Aisyah kepada Rasulullah adalah cinta seorang perempuan muslim kepada Nabinya, cinta seorang istri kepada suaminya, serta cinta seorang perempuan kepada seorang laki-laki. Aisyah juga layaknya wanita biasa yang kadang dipenuhi rasa cemburu yang hebat kepada istri-istri Rasulullah yang lain dalam memperebutkan cinta dan perhatian Rasulullah. Sebuah perasaan yang timbul dari naluri kewanitannya. Allah telah menjadikan kehidupan Rasulullah sebagai teladan sempurna bagi semua seluruh umat manusia. Beliau adalah suami terbaik yang selalu bersikap lemah lembut kepada istri dan keluarganya. Beliau tidak pernah bersikap keras kepada mereka. Ketika salah seorang dari istrinya marah, beliau justru berusaha meredakan kemarahannya.

Kala itu adalah tahun kesebelah hijriah. Usia Aisyah memasuki usia kedelapan belas. Ia sangat menikmati kehidupan berumah tangga bersama Rasulullah dalam suasana cinta, kasih sayang, dan kesetiaan di sepanjang waktu dan kesempatan. Suatu hari di bulan Shafar, tahun kesebelas Hijriah, Rasulullah mendatangi Aisyah dan mengeluhkan rasa sakit di kepalanya. Semakin lama, semakin berat rasa sakit yang diderita Rasulullah. Akan tetapi, beliau tetap berkeliling menunaikan giliran kunjungan terhadap istri-istri beliau. Ketika rasa sakit itu tak tertahankan, Rasulullah selalu bertanya dimana beliau tinggal hari ini dan di mana beliau akan tinggal esok hari, seakan-akan beliau tidak sabar menunggu giliran untuk bersama Aisyah. Oleh karena itu, istri-istri beliau mengizinkan Rasulullah untuk dirawat di mana pun beliau suka. Kemudian beliau memilih dirawat di rumah Aisyah hingga akhirnya beliau wafat di tempat Aisyah (HR Bukhari dan Muslim)

Ulasan yang lengkap dan mendalam tentang sosok Aisyah dikupas tuntas dalam buku Aisyah; The True Beauty karya Sulaiman an-Nadawi yang telah diterjemahkan dan diterbitkan oleh Penerbit Pena Pundi Aksara. Penulisnya menuliskan kisah kehidupan Aisyah dengan apik dan cermat dalam menggambarkan sosok Aisyah dengan memasukkan hadits-hadits yang menguatkan. Sulaiman an-Nadawi adalah seorang ulama yang dilahirkan di India dan masih memiliki garis keturunan dengan Ali bin Abu Thalib, baik dari pihak ayah maupun ibunya. Selain mendalami ilmu hadits, dia juga mendalami ilmu kalam, tafsir, fiqih, dan sejarah.

Cakupan dari isi buku, yaitu membahas tentang masa kecil Aisyah, serba-serbi pernikahan Aisyah dengan Rasulullah, kehidupan rumah tangga Aisyah selama mendampingi Rasulullah, hikmah yang didapat Aisyah dari poligami sang suami, Aisyah sepeninggal Rasulullah, karakter dan keistimewaan Aisyah, penguasaan Aisyah atas ilmu-ilmu yang terkandung dalam Al-Qur`an, hadits, dan syariat, Aisyah sebagai salah satu sumber ilmu, Jasa Aisyah kepada kaum perempuan.

Untuk kesekian kalinya saya merasa harus berterimakasih untuk terbitan buku-buku ber'mutu' dan ber'kualitas seperti ini

Jumat, 24 September 2010

Aku Akan Rindu


aku kira,
aku akan merindukan..
pada sesuatu,
pada logika yang tidak terjelaskan.



aku kira,
aku akan kehilangan.
maka aku akan rindu..

pada sajak-sajak perjuangan,kah?
pada desahan militansi,kah?
pada denyutan thumuhat tak berbatas,kah?

ya..
aku kira aku akan rindu.
rindu....
rindu.......
rindu pada ukhuwah di senja itu

aku kira,
aku akan merindukan..
pada sesuatu,
pada logika yang tidak terjelaskan.



aku kira,
aku akan kehilangan.
maka aku akan rindu..

pada sajak-sajak perjuangan,kah?
pada desahan militansi,kah?
pada denyutan thumuhat tak berbatas,kah?

ya..
aku kira aku akan rindu.
rindu....
rindu.......
rindu pada ukhuwah di senja itu

Sabtu, 18 September 2010

1000 Semangat Dalam Dirimu


Begitu deras seperti air hujan yang turun dari langit, debu-debu keras tak henti menampar-nampar wajah yang mulai sayu, perlahan-lahan ada mulai rontok seperti daun kering yang berjatuhan. Ingin merintih dengan aktivitas yang datang meninju bertubi-tubi. Lelah, payah bahkan kadang kala membutuhkan nafas panjang untuk terus bertahan. Adalah jalannya, mau tidak mau, suka tidak suka, harus melewati itu semua.


Upaya bertahan-mempertahakan adalah bagian dari konsistensi kita terhadapnya. Tidak perlu menimbang-nimbang seberapa banyak pengorbanan, seberapa keras perjuangan,seberapa lama penantian...karena kau tau ada 1000 semangat berkumpul dalam dirimu, Duhai para pejuang!


Semua ada masanya, ada kadarnya,
Jangan kau lahirkan dari rahim tarbiyahmu orang-orang yang hanya memiliki mental-mental kerupuk yang layu hanya dengan sekali tiupan kecil.


Siapapun takkan pernah bisa bertahan, mengarungi jalan dakwah ini.. mengarungi jalan perjuangan kecuali dengan kesabaran..



Begitu deras seperti air hujan yang turun dari langit, debu-debu keras tak henti menampar-nampar wajah yang mulai sayu, perlahan-lahan ada mulai rontok seperti daun kering yang berjatuhan. Ingin merintih dengan aktivitas yang datang meninju bertubi-tubi. Lelah, payah bahkan kadang kala membutuhkan nafas panjang untuk terus bertahan. Adalah jalannya, mau tidak mau, suka tidak suka, harus melewati itu semua.


Upaya bertahan-mempertahakan adalah bagian dari konsistensi kita terhadapnya. Tidak perlu menimbang-nimbang seberapa banyak pengorbanan, seberapa keras perjuangan,seberapa lama penantian...karena kau tau ada 1000 semangat berkumpul dalam dirimu, Duhai para pejuang!


Semua ada masanya, ada kadarnya,
Jangan kau lahirkan dari rahim tarbiyahmu orang-orang yang hanya memiliki mental-mental kerupuk yang layu hanya dengan sekali tiupan kecil.


Siapapun takkan pernah bisa bertahan, mengarungi jalan dakwah ini.. mengarungi jalan perjuangan kecuali dengan kesabaran..


Senin, 13 September 2010

Delete All....!!


Awalnya dapat pesan masuk yang hendak saya baca, tapi rupanya saya salah tekan keypad.. jadilah semua pesan masuk yang ada di inbox terhapus. :(


"Astaghfirullah, salah tekan! Mana ada nomer tmn2 yg belom sempat saya save, alamat harus tanya ulang lg deh," gerutu saya



Masih agak shock, blm bisa terima kalau semua pesan itu terhapus. Disana ada pesan dari bibi yang tinggalnya jauh disebrang pulau, belum lama ini dia memberitahukan nomer barunya agar mudah silaturahim dan bisa dihubungi plus ucapan selamat idul fitri. Hampir 2 tahun ini saya sudah losscontact dengannya, mudah-mudahan dia masih menyimpan nomer saya agar dikemudian hari mudah dihubungi. Tidak hanya itu banyak nomer baru dari adik-adik sy, saudari-saudari saya, teman kantor, rekan bisnis yang belum sempat saya save?


Saya beristighfar sebanyak-banyaknya. Oh, mungkin ada dari pesan itu yang tidak layak untuk saya simpan, atau memang inbox sudah penuh jadi secara otomatis jika memori sudah melampui kapasitas akan terhapus secara otomatis. Wallahu'alam

Emm, akhirnya saya coba klasifikasikan mengingat kembali kira-kira pesan yang terhapus itu berisi apa aja yah?

-Ada banyak agenda meeting yang belum saya save dan masukkan dalam schedule
- Followup project bisnis dari rekanan perusahaan, alamat contact baru (harus cari kemana contact itu? *berlebihan*)hee
- janji-janji yang belum saya tunaikan (yang ini termasuk hutang yang harus dibayar loh! karena wajib hukumnya!)
- tausyiah penyemangat dari saudara/i terbaik saya. (kalau yang ini sekedar pengingat agar tetap semangat)
- agenda rapat, intruksi, dll deh pokoknya semua sy anggap penting!



Hikmahnya : (Penting untuk diperhatikan!)

kadangkala hp jg perlu di upgrade, di bersihkan dari virus-virus kotor yang mungkin seringkali hinggap. Wallahu'alam


dan ternyata susah juga nih buat ikhlas, padahal cuma pesan yang terhapus saja. hikss... :(

13 Septembe 2010/10.56 p.m



Awalnya dapat pesan masuk yang hendak saya baca, tapi rupanya saya salah tekan keypad.. jadilah semua pesan masuk yang ada di inbox terhapus. :(


"Astaghfirullah, salah tekan! Mana ada nomer tmn2 yg belom sempat saya save, alamat harus tanya ulang lg deh," gerutu saya



Masih agak shock, blm bisa terima kalau semua pesan itu terhapus. Disana ada pesan dari bibi yang tinggalnya jauh disebrang pulau, belum lama ini dia memberitahukan nomer barunya agar mudah silaturahim dan bisa dihubungi plus ucapan selamat idul fitri. Hampir 2 tahun ini saya sudah losscontact dengannya, mudah-mudahan dia masih menyimpan nomer saya agar dikemudian hari mudah dihubungi. Tidak hanya itu banyak nomer baru dari adik-adik sy, saudari-saudari saya, teman kantor, rekan bisnis yang belum sempat saya save?


Saya beristighfar sebanyak-banyaknya. Oh, mungkin ada dari pesan itu yang tidak layak untuk saya simpan, atau memang inbox sudah penuh jadi secara otomatis jika memori sudah melampui kapasitas akan terhapus secara otomatis. Wallahu'alam

Emm, akhirnya saya coba klasifikasikan mengingat kembali kira-kira pesan yang terhapus itu berisi apa aja yah?

-Ada banyak agenda meeting yang belum saya save dan masukkan dalam schedule
- Followup project bisnis dari rekanan perusahaan, alamat contact baru (harus cari kemana contact itu? *berlebihan*)hee
- janji-janji yang belum saya tunaikan (yang ini termasuk hutang yang harus dibayar loh! karena wajib hukumnya!)
- tausyiah penyemangat dari saudara/i terbaik saya. (kalau yang ini sekedar pengingat agar tetap semangat)
- agenda rapat, intruksi, dll deh pokoknya semua sy anggap penting!



Hikmahnya : (Penting untuk diperhatikan!)

kadangkala hp jg perlu di upgrade, di bersihkan dari virus-virus kotor yang mungkin seringkali hinggap. Wallahu'alam


dan ternyata susah juga nih buat ikhlas, padahal cuma pesan yang terhapus saja. hikss... :(

13 Septembe 2010/10.56 p.m


Silaturahim Itu......

Silaturahim dengan keluarga besar bukanlah moment yang hanya ada pada saat hari raya Idul Fitri saja, kita harus menjaga baik hubungan silaturahim dengan manusia, orang-orang terdekat.

Begitupula yang saya rasakan pada tahun ini. Kalau dulu (beberapa tahun lalu) yang biasa agak malas untuk silaturahim, saat ini dan untuk tahun-tahun berikutnya semua harus dibiasakan. Mengenal lebih dekat saudara-saudara saya. dan sepertinya silaturahim itu sangat indah!


Berinteraksilah dengan lingkungan sekitar

Setiap daerah memiliki kultur yang berbeda dan semua tentu sangat menjunjung tinggi silaturahim. Setahun lalu saat ayah meminta saya untuk mengenal saudara yang berdomisili di daerah lain, saat itu saat hanya mengerutkan kening. "Memang harus ya, Yah?heee. Mungkin karena saya orangnya pendiam, jadi agak sungkan untuk berinteraksi dengan oranglain, harus ngomong apa nanti dengan mereka? mungkin lebih tepatnya orang yang sedikit cuek dan malas kumpul di acara keluarga.

"Biar kamu kenal, oh...ternyata punya sodara juga di Malang-Jawa Timur," Ujarnya

Apa yang membuat saya harus silaturahim ke Malang?" itu yang menjadi dasar pertimbangan saya

"Disana dekat dengan gunung bromo-semeru-tengger, setahu ayah belakang rumah itu kawasan gunung taman nasional, ada tempat wisata yang indah, udaranya sejuk-dingin pokoknya ndak nyesel deh klo liburan sekalian silaturahim disana,"

Rupanya ayah memberikan jawaban yang membuat saya tidak bisa berkata tidak untuk menerima tawarannya. Oke, aku ikut silaturahim ke Malang!" jawab saya dengan bersemangat.


Sampai disana, saya harus menyesuaikan dengan kultur yang ada-bahasa, adat-kebiasaan, terlebih makanan! ada yang lucu waktu silaturahim kerumah saudara di malang mereka tertawa lepas, bercerita dengan bahasa jawa (logat khas jawa timur). saya terdiam, terpojokkan. Hemmm..., rupanya saat di malang saya harus memiliki kamus bahasa jawa nih biar ngerti, biar paham! ndak pernah ngerti apa yang mereka bicarakan, kalau mereka tertawa saya paling hanya bisa senyum getir, ndak jarang juga saya minta di-translate-kan oleh bule yang ngerti bahasa Jawa.

"Itu maksudnya kamu disuruh makan, kalau kurang jangan sungkan nambah." Jawabnya dengan bahasa yang sudah diterjemahkan. heeee...nah klo sudah diterjemahkan saya baru paham.


Entah sejak kapan saya mulai mengurangi intensitas berinteraksi dengan lingkungan, tepatnya mungkin waktu menjelang ujian akhir (8 tahun lalu) waktu duduk di bangku MTS. mereka memang tidak pernah melarang saya untuk saling mengenal teman-teman, berinteraksi dengan teman-teman, ikut bermain dengan teman-teman, mungkin karena saya yang agak males.


Dan, Kini..............................
semua telah berubah.......................
saya harus bisa menikmati silaturahim, dan menjaga baik silaturahim dengan sanak keluarga...........
inilah satu dari sekian banyak proses pendewasaan yang harus saya lalui sebelum pada akhirnya saya benar-benar bisa menikmatinya dengan indah!



4 Syawal 1431h/13 September 2010
- Menikmati silaturahim-
Silaturahim dengan keluarga besar bukanlah moment yang hanya ada pada saat hari raya Idul Fitri saja, kita harus menjaga baik hubungan silaturahim dengan manusia, orang-orang terdekat.

Begitupula yang saya rasakan pada tahun ini. Kalau dulu (beberapa tahun lalu) yang biasa agak malas untuk silaturahim, saat ini dan untuk tahun-tahun berikutnya semua harus dibiasakan. Mengenal lebih dekat saudara-saudara saya. dan sepertinya silaturahim itu sangat indah!


Berinteraksilah dengan lingkungan sekitar

Setiap daerah memiliki kultur yang berbeda dan semua tentu sangat menjunjung tinggi silaturahim. Setahun lalu saat ayah meminta saya untuk mengenal saudara yang berdomisili di daerah lain, saat itu saat hanya mengerutkan kening. "Memang harus ya, Yah?heee. Mungkin karena saya orangnya pendiam, jadi agak sungkan untuk berinteraksi dengan oranglain, harus ngomong apa nanti dengan mereka? mungkin lebih tepatnya orang yang sedikit cuek dan malas kumpul di acara keluarga.

"Biar kamu kenal, oh...ternyata punya sodara juga di Malang-Jawa Timur," Ujarnya

Apa yang membuat saya harus silaturahim ke Malang?" itu yang menjadi dasar pertimbangan saya

"Disana dekat dengan gunung bromo-semeru-tengger, setahu ayah belakang rumah itu kawasan gunung taman nasional, ada tempat wisata yang indah, udaranya sejuk-dingin pokoknya ndak nyesel deh klo liburan sekalian silaturahim disana,"

Rupanya ayah memberikan jawaban yang membuat saya tidak bisa berkata tidak untuk menerima tawarannya. Oke, aku ikut silaturahim ke Malang!" jawab saya dengan bersemangat.


Sampai disana, saya harus menyesuaikan dengan kultur yang ada-bahasa, adat-kebiasaan, terlebih makanan! ada yang lucu waktu silaturahim kerumah saudara di malang mereka tertawa lepas, bercerita dengan bahasa jawa (logat khas jawa timur). saya terdiam, terpojokkan. Hemmm..., rupanya saat di malang saya harus memiliki kamus bahasa jawa nih biar ngerti, biar paham! ndak pernah ngerti apa yang mereka bicarakan, kalau mereka tertawa saya paling hanya bisa senyum getir, ndak jarang juga saya minta di-translate-kan oleh bule yang ngerti bahasa Jawa.

"Itu maksudnya kamu disuruh makan, kalau kurang jangan sungkan nambah." Jawabnya dengan bahasa yang sudah diterjemahkan. heeee...nah klo sudah diterjemahkan saya baru paham.


Entah sejak kapan saya mulai mengurangi intensitas berinteraksi dengan lingkungan, tepatnya mungkin waktu menjelang ujian akhir (8 tahun lalu) waktu duduk di bangku MTS. mereka memang tidak pernah melarang saya untuk saling mengenal teman-teman, berinteraksi dengan teman-teman, ikut bermain dengan teman-teman, mungkin karena saya yang agak males.


Dan, Kini..............................
semua telah berubah.......................
saya harus bisa menikmati silaturahim, dan menjaga baik silaturahim dengan sanak keluarga...........
inilah satu dari sekian banyak proses pendewasaan yang harus saya lalui sebelum pada akhirnya saya benar-benar bisa menikmatinya dengan indah!



4 Syawal 1431h/13 September 2010
- Menikmati silaturahim-

Minggu, 12 September 2010

Tawakal Saja, Biar Allah Yang Menyegerakannya

Ada serumput bahagia menghempas jiwa, ada kesejukan mengalir tenang membasahi hati dalam raga, ada bias-bias cahaya yang terus memancar terang untuk memapah tiap langkah agar dapat berjalan.

Sejenak merenung, ada banyak permohonan yang hampir tak pernah putus terpanjatkan kepadaNya, namun...hingga sekarang belum juga terwujud.

Ada banyak permintaan yang terucap kepadaNya, namun hingga detik ini belum juga terpenuhi.


Mungkin, saya pernah merasakan lidah yang hampir kelu karena terus bermunajat namun belum juga terijabah, atau kelelahan batin yang begitu meletihkan karena do'a yang hampir selalu terucapkan, namun belum juga terjawab.

Sungguh, tiap-tiap bait dalam do'a yang terucapkan bagi saya itu adalah energi yang membentuk ketahanan kita dalam menghadapi ujian hidup. Ia adalah senjata, karena dengannya kita mendapat bantuan dari yang Maha Kuat.

Ya...kekuatan iman kita justru akan semakin tampak tatkala kita berupaya sekuat tenaga dan terus menerus memanjatkan do'a, namun kita belum juga merasakan perubahan.

Kembali teringat akan sebuah kutipan kata yang begitu membekas dan mengena dihati "Iman seorang mukmin akan tampak di saat ia menghadapi ujian. Di saat ia tetap totalitas dalam berdo'a tapi ia belum juga melihat pengaruh apapun dari do'anya. Ketika, ia tetap tidak merubah keingan dan harapannya, meski sebab-sebab berputus asa semakin kuat. Itu semua dilakukan karena ia yakin bahwa hanya Allah saja yang paling tahu apa yang lebih maslahat untuk dirinya."

Hampir sama kondisinya dengan orang yang menaiki gunung tinggi. Ia dianjurkan untuk tidak telalu sering melemparkan pandangannya ke atas gunung yang harus ia daki, karena bisa memunculkan ketidakpercayaan diri dan membebani langkahnya untuk terus mendaki. Tapi, ketika ia turun dari tempat yang tinggi, ia juga dianjurkan untuk tidak terlalu sering melihat jauh ke bawah. Karena jauhnya daratan yang ia lihat bisa menimbulkan kelemahan pada jiwa.

Adalah suatu kefitrahan bila kita merasa resah atas tiap bait-bait do'a yang belum terjawab. Tawakal saja...bila kita tak pernah berhenti berdo'a, dalam tiap kesunyian kita terus menghiba dengan penuh harap dan cemas dalam do'a.

Bukankah orang-orang yang memohon dan menginginkan do'anya segera terkabul, cepat terwujud adalah bukti dari kelemahan iman?


"Sesungguhnya Allah tidak pernah mengabulkan do'a dari hati yang lalai."



Akhirnya kita masih memilki sumber kegembiraan sejati yaitu do'a yang membuat keimanan kita semakin hari semakin kuat.


Maka sekarang tawakal saja...biar Allah yang menyegerakannya, menyegerakan kita dalam kebaikan yang menghantarkan kita menuju keridho'anNya.

Wallahu'alam Bish Showwab..
Ada serumput bahagia menghempas jiwa, ada kesejukan mengalir tenang membasahi hati dalam raga, ada bias-bias cahaya yang terus memancar terang untuk memapah tiap langkah agar dapat berjalan.

Sejenak merenung, ada banyak permohonan yang hampir tak pernah putus terpanjatkan kepadaNya, namun...hingga sekarang belum juga terwujud.

Ada banyak permintaan yang terucap kepadaNya, namun hingga detik ini belum juga terpenuhi.


Mungkin, saya pernah merasakan lidah yang hampir kelu karena terus bermunajat namun belum juga terijabah, atau kelelahan batin yang begitu meletihkan karena do'a yang hampir selalu terucapkan, namun belum juga terjawab.

Sungguh, tiap-tiap bait dalam do'a yang terucapkan bagi saya itu adalah energi yang membentuk ketahanan kita dalam menghadapi ujian hidup. Ia adalah senjata, karena dengannya kita mendapat bantuan dari yang Maha Kuat.

Ya...kekuatan iman kita justru akan semakin tampak tatkala kita berupaya sekuat tenaga dan terus menerus memanjatkan do'a, namun kita belum juga merasakan perubahan.

Kembali teringat akan sebuah kutipan kata yang begitu membekas dan mengena dihati "Iman seorang mukmin akan tampak di saat ia menghadapi ujian. Di saat ia tetap totalitas dalam berdo'a tapi ia belum juga melihat pengaruh apapun dari do'anya. Ketika, ia tetap tidak merubah keingan dan harapannya, meski sebab-sebab berputus asa semakin kuat. Itu semua dilakukan karena ia yakin bahwa hanya Allah saja yang paling tahu apa yang lebih maslahat untuk dirinya."

Hampir sama kondisinya dengan orang yang menaiki gunung tinggi. Ia dianjurkan untuk tidak telalu sering melemparkan pandangannya ke atas gunung yang harus ia daki, karena bisa memunculkan ketidakpercayaan diri dan membebani langkahnya untuk terus mendaki. Tapi, ketika ia turun dari tempat yang tinggi, ia juga dianjurkan untuk tidak terlalu sering melihat jauh ke bawah. Karena jauhnya daratan yang ia lihat bisa menimbulkan kelemahan pada jiwa.

Adalah suatu kefitrahan bila kita merasa resah atas tiap bait-bait do'a yang belum terjawab. Tawakal saja...bila kita tak pernah berhenti berdo'a, dalam tiap kesunyian kita terus menghiba dengan penuh harap dan cemas dalam do'a.

Bukankah orang-orang yang memohon dan menginginkan do'anya segera terkabul, cepat terwujud adalah bukti dari kelemahan iman?


"Sesungguhnya Allah tidak pernah mengabulkan do'a dari hati yang lalai."



Akhirnya kita masih memilki sumber kegembiraan sejati yaitu do'a yang membuat keimanan kita semakin hari semakin kuat.


Maka sekarang tawakal saja...biar Allah yang menyegerakannya, menyegerakan kita dalam kebaikan yang menghantarkan kita menuju keridho'anNya.

Wallahu'alam Bish Showwab..

Disetiap Gerak, Romentisme Masa Lalu


Bismillahirrahmanirrahiim.... untuk kalian saudara/i di Jalan Allah


Ketika langit gerak harus selalu dimulai dari atmosfir wacana, tapi "TSABAT" kan kami Rabb untuk terus langkahkan kaki ini...." (Al-Akh)


Tak terasa memasuki tahun ke-4 menginjakkan kaki di kampus Tarbiyah, kampus peradaban. Saat saya menuliskan notes ini jujur saja ada perasaan rindu membuncah kala teringat awal-awal Allah mempertemukan saya dengan kalian.. saudara/i yang selalu berjuang di Jalan Allah.


Entah sudah berapa lama saya tidak 'menjenguk' kampus tercinta..??


Darimana datangnya saya tidak tahu pasti, kini saya merasakan seolah ada yang membakar semangat saya untuk terus berjuang tatkala melihat semangat yang kalian tulis di setiap status-stasus kalian. Setiap torehan kata yang kalian tulis benar-benar melempar saya ke zaman ketika nuansa harakah dan heroisme pergerakan membakar jiwa muda saya (emang sekarang udah tua yah?) hehe..


Ah, saya ingin katakan saya rindu pada kalian saudara/i yang selalu berjuang di Jalan Allah.. saya rindu 'masa-masa itu'... rindu masa dimana keikhlasan dan pergerakan menjadi nafas yang mengaliri setiap amalan-amalan kita.

Ah......kemana masa-masa itu?? setelah lama saya menghilang dari 'peredaran' ingin rasanya saya katakan Saya rindu pada kalian saudara/i saya di Jalan Allah.. dalam kondisi seperti ini saya teringat akan kata-kata seorang al-akh
"Sejatinya ukhuwah itu mampu membangkitkan semangat untuk selalu berfastabiqulkhairat".

Sejumput ayat cintaNya mampu menggerakkan seluruh sendi pergerakan. Setiap katanya mampu menggetarkan seluruh bulu roma jiwa juangnya.. semuanya kini bersimbul indah pada rasa seindah mahabbah, dengan segenap kelengkapan definisi yang meluap dari sekedar rasa cinta.


Saya tidaklah lebih lama dari kalian berada diantara lintasan panjang dakwah kampus tercinta, terus terang pemahaman ini baru terasa manisnya ketika saya berada jauh dari kalian lingkaran amal para cucu-cucu mushollah (red:dakwah)


"Allahumma innaka ta'lamu annahaadzihil quluuba qadijtama'at 'alaa mahabbatika 'ini ternyata buka hanya sekedar bait manis dalam buaian kata-kata.... didalamnya ada sebuah tujuan besar yang dibingkai dalam sebuah perasaan yang meluap-luap.


Ukhuwah, Babnya memang selalu menarik untuk membicarakannya. dia merupakan kolaborasi antara ruh dan tali aqidah. Rasa pesatuan itu bukanlah hal yang bisa direkayasa dan dibuat buat, tapi ia lahir dari rasa cinta kepada Sang Penggenggam jiwa, kecintaaan yang lahir dari segenap amalan-amalah hati dan ruh. Kecintaaan itu benar adanya bukan dalam batas nalar saja yang biasanya muncul dari bacaan-bacaan atau perkataan para astatidz atau muwajih dalam daurah-daurah yang diikuti.


Saudaraku...benar apa yang pernah disampaikan Imam Syahid Hasan Albanna "sungguh arena medan amal berbeda dengan arena angan-angan, Arena amal bukanlah arena kata-kata. Medan jihad berbeda dengan medan amal biasa. Orang mudah berangan-angan, tapi tak semua angan mampu diungkapkan dengan kata. Banyak orang yang mampu berkata-kata tapi sedikit yang mampu menerjemahkannya dalam amal..."


Maka itulah yang kini saya rasakan, Medan jihad sangat berbeda dengan medan amal biasa.



Sesungguhnya Engkau tahu
bahwa hati ini telah berpadu
berhimpun dalam naungan cinta-Mu
bertemu dalam ketaatan
bersatu dalam perjuangan
menegakkan syariat dalam kehidupan

Kuatkanlah ikatannya
kekalkanlah cintanya
tunjukilah jalan-jalannya
terangilah dengan cahaya-Mu
yang tiada pernah padam
Ya Rabbi bimbinglah kami

Lapangkanlah dada kami
dengan karunia iman
dan indahnya tawakal pada-Mu
hidupkan dengan ma'rifat-Mu
matikan dalam syahid di jalan-Mu
Engkaulah pelindung dan pembela (Rabitah:Izziz)





Bismillahirrahmanirrahiim.... untuk kalian saudara/i di Jalan Allah


Ketika langit gerak harus selalu dimulai dari atmosfir wacana, tapi "TSABAT" kan kami Rabb untuk terus langkahkan kaki ini...." (Al-Akh)


Tak terasa memasuki tahun ke-4 menginjakkan kaki di kampus Tarbiyah, kampus peradaban. Saat saya menuliskan notes ini jujur saja ada perasaan rindu membuncah kala teringat awal-awal Allah mempertemukan saya dengan kalian.. saudara/i yang selalu berjuang di Jalan Allah.


Entah sudah berapa lama saya tidak 'menjenguk' kampus tercinta..??


Darimana datangnya saya tidak tahu pasti, kini saya merasakan seolah ada yang membakar semangat saya untuk terus berjuang tatkala melihat semangat yang kalian tulis di setiap status-stasus kalian. Setiap torehan kata yang kalian tulis benar-benar melempar saya ke zaman ketika nuansa harakah dan heroisme pergerakan membakar jiwa muda saya (emang sekarang udah tua yah?) hehe..


Ah, saya ingin katakan saya rindu pada kalian saudara/i yang selalu berjuang di Jalan Allah.. saya rindu 'masa-masa itu'... rindu masa dimana keikhlasan dan pergerakan menjadi nafas yang mengaliri setiap amalan-amalan kita.

Ah......kemana masa-masa itu?? setelah lama saya menghilang dari 'peredaran' ingin rasanya saya katakan Saya rindu pada kalian saudara/i saya di Jalan Allah.. dalam kondisi seperti ini saya teringat akan kata-kata seorang al-akh
"Sejatinya ukhuwah itu mampu membangkitkan semangat untuk selalu berfastabiqulkhairat".

Sejumput ayat cintaNya mampu menggerakkan seluruh sendi pergerakan. Setiap katanya mampu menggetarkan seluruh bulu roma jiwa juangnya.. semuanya kini bersimbul indah pada rasa seindah mahabbah, dengan segenap kelengkapan definisi yang meluap dari sekedar rasa cinta.


Saya tidaklah lebih lama dari kalian berada diantara lintasan panjang dakwah kampus tercinta, terus terang pemahaman ini baru terasa manisnya ketika saya berada jauh dari kalian lingkaran amal para cucu-cucu mushollah (red:dakwah)


"Allahumma innaka ta'lamu annahaadzihil quluuba qadijtama'at 'alaa mahabbatika 'ini ternyata buka hanya sekedar bait manis dalam buaian kata-kata.... didalamnya ada sebuah tujuan besar yang dibingkai dalam sebuah perasaan yang meluap-luap.


Ukhuwah, Babnya memang selalu menarik untuk membicarakannya. dia merupakan kolaborasi antara ruh dan tali aqidah. Rasa pesatuan itu bukanlah hal yang bisa direkayasa dan dibuat buat, tapi ia lahir dari rasa cinta kepada Sang Penggenggam jiwa, kecintaaan yang lahir dari segenap amalan-amalah hati dan ruh. Kecintaaan itu benar adanya bukan dalam batas nalar saja yang biasanya muncul dari bacaan-bacaan atau perkataan para astatidz atau muwajih dalam daurah-daurah yang diikuti.


Saudaraku...benar apa yang pernah disampaikan Imam Syahid Hasan Albanna "sungguh arena medan amal berbeda dengan arena angan-angan, Arena amal bukanlah arena kata-kata. Medan jihad berbeda dengan medan amal biasa. Orang mudah berangan-angan, tapi tak semua angan mampu diungkapkan dengan kata. Banyak orang yang mampu berkata-kata tapi sedikit yang mampu menerjemahkannya dalam amal..."


Maka itulah yang kini saya rasakan, Medan jihad sangat berbeda dengan medan amal biasa.



Sesungguhnya Engkau tahu
bahwa hati ini telah berpadu
berhimpun dalam naungan cinta-Mu
bertemu dalam ketaatan
bersatu dalam perjuangan
menegakkan syariat dalam kehidupan

Kuatkanlah ikatannya
kekalkanlah cintanya
tunjukilah jalan-jalannya
terangilah dengan cahaya-Mu
yang tiada pernah padam
Ya Rabbi bimbinglah kami

Lapangkanlah dada kami
dengan karunia iman
dan indahnya tawakal pada-Mu
hidupkan dengan ma'rifat-Mu
matikan dalam syahid di jalan-Mu
Engkaulah pelindung dan pembela (Rabitah:Izziz)




Tentang Cinta, Dalam Rumah Kecil Kita

Hemm,,susahnya untuk seorang yang hobby nulis ndak bisa ada ide sedikit, tambah bumbu pengalaman sedikit di racik. jadi deh satu tulisan....,,


Ini tentang rumah kita, rumah tempat kita merentas cita, melukiskan mimpi-mimpi besar kita, dek!

Setelah silaturahim seharian rasa lelah yang mengumpul tak membuat saya kehilangan semangat untuk terus-menerus mempersiapkan diri...... menghadapi tantangan yang lebih besar.


"Dari rumah kecil kita semua itu bermula, Dek! cita-cita para penghafal qur'an yang ingin kuciptakan...ahh! bukan sebatas harapan saja yang kuinginkan, Dek! ya..,, kita akan mulai bersama...membangun rumah kecil kita...satu bongkahan batu peradaban yang hendak kita susun bersama.

Kau melihat orang-orang disekitarmu bukan??

untuk satu perubahan generasi yang lebih baik, bersemangatlah adik-adik yang kucintai karena Allah...

Semoga semangat ini.....bisa tersampaikan padamu dan mengaliri sendi dan nadimu..hingga semua melebur dalam cinta nan bercahaya di rumah kecil kita!




Jatipadang, 1 Syawal 1431H/10 September 2010

12.44 a.m

- dalam naungan cinta baiti jannati -

Hemm,,susahnya untuk seorang yang hobby nulis ndak bisa ada ide sedikit, tambah bumbu pengalaman sedikit di racik. jadi deh satu tulisan....,,


Ini tentang rumah kita, rumah tempat kita merentas cita, melukiskan mimpi-mimpi besar kita, dek!

Setelah silaturahim seharian rasa lelah yang mengumpul tak membuat saya kehilangan semangat untuk terus-menerus mempersiapkan diri...... menghadapi tantangan yang lebih besar.


"Dari rumah kecil kita semua itu bermula, Dek! cita-cita para penghafal qur'an yang ingin kuciptakan...ahh! bukan sebatas harapan saja yang kuinginkan, Dek! ya..,, kita akan mulai bersama...membangun rumah kecil kita...satu bongkahan batu peradaban yang hendak kita susun bersama.

Kau melihat orang-orang disekitarmu bukan??

untuk satu perubahan generasi yang lebih baik, bersemangatlah adik-adik yang kucintai karena Allah...

Semoga semangat ini.....bisa tersampaikan padamu dan mengaliri sendi dan nadimu..hingga semua melebur dalam cinta nan bercahaya di rumah kecil kita!




Jatipadang, 1 Syawal 1431H/10 September 2010

12.44 a.m

- dalam naungan cinta baiti jannati -

Jumat, 10 September 2010

Kristalisasi Pengalaman


Kristalisasi pengalaman, hohoooo....!
aku mulai kalimat pembuka ini sambil mengerutkan kening. Pasalnya ada banyak hal yang ingin terluapkan, ada banyak yg menggelayuti pikiran dan ingin segera di tulis...dan kali ini mentok, mengawalinya.

Kristalisasi Pengalaman,, hohoooo...!!
mau bergaya sok-sok analis tapi ide tipis, mau bergaya sastra tapi jadi puitis dan sok-sok romantis...! haduh!! maklum lagi bingung mau nulis apa yg hendak di tulis,, jadi yah gini...cuma numpang untuk sok eksis alias sedikit narsis..hahaa! ups!

Ya Allah......,, faghriflana Ya Ghofur....Ya Kariim


@ Jatipadang/1 Syawal 1431h/ 10 September 2010
pukul 00.31 mid night

Kristalisasi pengalaman, hohoooo....!
aku mulai kalimat pembuka ini sambil mengerutkan kening. Pasalnya ada banyak hal yang ingin terluapkan, ada banyak yg menggelayuti pikiran dan ingin segera di tulis...dan kali ini mentok, mengawalinya.

Kristalisasi Pengalaman,, hohoooo...!!
mau bergaya sok-sok analis tapi ide tipis, mau bergaya sastra tapi jadi puitis dan sok-sok romantis...! haduh!! maklum lagi bingung mau nulis apa yg hendak di tulis,, jadi yah gini...cuma numpang untuk sok eksis alias sedikit narsis..hahaa! ups!

Ya Allah......,, faghriflana Ya Ghofur....Ya Kariim


@ Jatipadang/1 Syawal 1431h/ 10 September 2010
pukul 00.31 mid night

Rabu, 08 September 2010

Ikhwan (Please) Don't Cry


Satu hari saya mendapati my litle brother (adikku) disudut kamarnya matanya sudah sembab oleh genangan air, kumpulan kristal yang sontak membuat hatinya bersedih. saya tanya sebab apa ia menangis. (Care tingkat tinggi)hehee


"Emang kalalu lakilaki itu gak boleh nangis y,ka?ucapnya polos. "Ya, ndak gitu..secara umum lakilaki memang lebih kuat dariperempuan makanya (mungkin) dia jarang nangis kali yah atau jarang terlihat nangis dihadapan oranglain,"begitulah jawaban yg saya luncurkan padanya.


Tak lama, sambil merekam kembali perbincangan tempo hari dengan my litle brotherku itu..saya jadi tertarik untuk menuliskan notes ini. Maaf-maaf yah bukan bermaksud apapun, selain maksud untuk menebarkan kebaikan, menyalurkan hobi terpendam, dan menumpahkan segala yang ada dalam pikiran dalam goresan kata! mudah-mudahan bermanfaat, sangat senang bila teman-teman bisa berbagi, berdiskusi kalau ada pendapat yang berbeda dari apa yang saya tuliskan dalam catatan ini.


Boys don't cry. Emmm...secara gramatikal saya lebih suka mengartikan bahwa ini adalah formula empiris yang menyatakan bahwa tidak ada laki-laki yang menangis. Jadi bukan diartikan bahwa lakilaki itu memang ndak boleh menangis. Namun, tentu saja yang saya maksudkan dalam kalimat ini adalah lakilaki dalam tanda kutip. Jadi mohon maaf jika salah menduga, karena yang saya maksud dalam kalimat ini adalah lakilaki pada umumnya.


Boys don’t cry. Dengan demikian kita akan mengetahui bahwa lakilaki yang menangis tidak bisa digolongkan dalam lakilaki dengan tanda kutip.


Mengapa lakilaki dengan tanda kutip tidak menangis? Itu adalah pertanyaan yang begitu menghantui saya beberapa hari setelah my litle brotherku nangis.heee


Ada banyak hal yang menjadikannya begitu misterius bagi saya. Apakah didalamnya terdapat kekuatan yang tidak lebih kuat dari kekuatan persaudaraan? Hingga tak mau cerita sebab apa hatinya sedih? Apakah di dalamnya, dimana ada kekuatan cinta, mampu mengalahkan gejolak jiwa yang begitu menderu di selasela kekuatan angin yang menerpa membadai?


Setidaknya lakilaki dengan tanda kutip berbeda dengan perempuan. Kaum perempuan biasa melampiaskan emosinya dalam airmata yang tertumpah ruah membanjir dari sebilik bening bola matanya. Sementara lakilaki dengan kesan kuat jarang mengekspresikan apa yang terjadi di dalam dirinya. (bener ndak yahh?!)


Gejolak yang menderu di dalam dadanya serasa air tenang menghanyutkan jika dipandang dari luar tubuhnya. Kita tidak bisa melihat api membara yang menguapkan emosi dan mengembun di bola matanya. Lakilaki dengan tanda kutip memang istimewa.

Ikhwan nangis,melancolis, menurut anda??? (sejurus dengan judul notes yang saya tulis kali ini)



@8.25 am

Jatipadang


Satu hari saya mendapati my litle brother (adikku) disudut kamarnya matanya sudah sembab oleh genangan air, kumpulan kristal yang sontak membuat hatinya bersedih. saya tanya sebab apa ia menangis. (Care tingkat tinggi)hehee


"Emang kalalu lakilaki itu gak boleh nangis y,ka?ucapnya polos. "Ya, ndak gitu..secara umum lakilaki memang lebih kuat dariperempuan makanya (mungkin) dia jarang nangis kali yah atau jarang terlihat nangis dihadapan oranglain,"begitulah jawaban yg saya luncurkan padanya.


Tak lama, sambil merekam kembali perbincangan tempo hari dengan my litle brotherku itu..saya jadi tertarik untuk menuliskan notes ini. Maaf-maaf yah bukan bermaksud apapun, selain maksud untuk menebarkan kebaikan, menyalurkan hobi terpendam, dan menumpahkan segala yang ada dalam pikiran dalam goresan kata! mudah-mudahan bermanfaat, sangat senang bila teman-teman bisa berbagi, berdiskusi kalau ada pendapat yang berbeda dari apa yang saya tuliskan dalam catatan ini.


Boys don't cry. Emmm...secara gramatikal saya lebih suka mengartikan bahwa ini adalah formula empiris yang menyatakan bahwa tidak ada laki-laki yang menangis. Jadi bukan diartikan bahwa lakilaki itu memang ndak boleh menangis. Namun, tentu saja yang saya maksudkan dalam kalimat ini adalah lakilaki dalam tanda kutip. Jadi mohon maaf jika salah menduga, karena yang saya maksud dalam kalimat ini adalah lakilaki pada umumnya.


Boys don’t cry. Dengan demikian kita akan mengetahui bahwa lakilaki yang menangis tidak bisa digolongkan dalam lakilaki dengan tanda kutip.


Mengapa lakilaki dengan tanda kutip tidak menangis? Itu adalah pertanyaan yang begitu menghantui saya beberapa hari setelah my litle brotherku nangis.heee


Ada banyak hal yang menjadikannya begitu misterius bagi saya. Apakah didalamnya terdapat kekuatan yang tidak lebih kuat dari kekuatan persaudaraan? Hingga tak mau cerita sebab apa hatinya sedih? Apakah di dalamnya, dimana ada kekuatan cinta, mampu mengalahkan gejolak jiwa yang begitu menderu di selasela kekuatan angin yang menerpa membadai?


Setidaknya lakilaki dengan tanda kutip berbeda dengan perempuan. Kaum perempuan biasa melampiaskan emosinya dalam airmata yang tertumpah ruah membanjir dari sebilik bening bola matanya. Sementara lakilaki dengan kesan kuat jarang mengekspresikan apa yang terjadi di dalam dirinya. (bener ndak yahh?!)


Gejolak yang menderu di dalam dadanya serasa air tenang menghanyutkan jika dipandang dari luar tubuhnya. Kita tidak bisa melihat api membara yang menguapkan emosi dan mengembun di bola matanya. Lakilaki dengan tanda kutip memang istimewa.

Ikhwan nangis,melancolis, menurut anda??? (sejurus dengan judul notes yang saya tulis kali ini)



@8.25 am

Jatipadang

Kubiarkan KetetapanMu yang bekerja


“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”
(Ar Ra’d: 11)


Ketika ada kesempatan, walaupun sekecil apapun ambil kesempatan itu. Kita tidak tahu apa yang dimaui takdir dari kita.

Dan kita hanya diberi pilihan untuk mengambil kesempatan itu dan mengikhtiarkannya atau melewatkannya berlalu bersama waktu.

Seringkali ketika kita mengambil sebuah kesempatan terakhir, orangorang di sekitar kita akan berpikir bahwa itu adalah bunuh diri dan sebuah penyiksaan diri. Padahal sejatinya tidak demikian. Apa yang kita lakukan itu adalah sebuah bentuk perjuangan seperti perjuanganperjuangan yang lainnya.



Adakalanya orangorang di sekitar kita sayangi akan merasa sakit atas perjuangan yang kita lakukan itu. Mereka melihat dengan perspektif mereka dan tidak berada di dalam perspektif yang sama dengan kita. Dan ini pun sebenarnya lagilagi merupakan pilihan. Jika kita siap untuk menyakiti mereka, maka lakukanlah perjuangan itu tanpa ragu. Namun, saya sendiri lebih memilih tidak melakukannya karena saya tidak bisa menyakiti orangorang yang saya sayangi dan saya cintai. (hayah!)

Setelah berjuang maksimal, saatnya kita membiarkan takdir bekerja untuk kita. Tidak usah terobsesi pada hasil. Biarkan takdir bekerja menurut kadar dan ukurannya. Apa pun hasilnya adalah ketetapan yang tidak bisa ditawartawar lagi. Kita tinggal menerima dengan kebesaran jiwa dan kekuatan hati,


Imam Ja’far Ash Shadiq mengungkapkan,
"Bahwasanya Allah menghendaki sesuatu untuk kita, dan Dia juga menghendaki sesuatu dari kita. Maka, apaapa yang dikehendakiNya untuk kita, Dia sembunyikan dari kita. Dan apaapa yang dikehendakiNya dari kita, Ia perlihatkan kepada kita. Lalu, mengapa kita menyibukkan diri kita dengan apaapa yang dikehendakiNya untuk kita dan meninggalkan apaapa yang dikehendaki Tuhan dari kita? Mengapa kita menyibukkan diri dengan soalsoal bathiniyah dan melalaikan soalsoal zhahiriyah?”



Begitulah misteri takdir. Begitu kita selesai melakukan segala ikhtiar, biarkan takdir bekerja menuntun langkah kita dan membukakan tabir misterinya.




Jatipadang, pukul 1.59 a.m
29 Ramadhan 1431H/9 September 2010
Markaz Pribadiku
--menjelang sahur--

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”
(Ar Ra’d: 11)


Ketika ada kesempatan, walaupun sekecil apapun ambil kesempatan itu. Kita tidak tahu apa yang dimaui takdir dari kita.

Dan kita hanya diberi pilihan untuk mengambil kesempatan itu dan mengikhtiarkannya atau melewatkannya berlalu bersama waktu.

Seringkali ketika kita mengambil sebuah kesempatan terakhir, orangorang di sekitar kita akan berpikir bahwa itu adalah bunuh diri dan sebuah penyiksaan diri. Padahal sejatinya tidak demikian. Apa yang kita lakukan itu adalah sebuah bentuk perjuangan seperti perjuanganperjuangan yang lainnya.



Adakalanya orangorang di sekitar kita sayangi akan merasa sakit atas perjuangan yang kita lakukan itu. Mereka melihat dengan perspektif mereka dan tidak berada di dalam perspektif yang sama dengan kita. Dan ini pun sebenarnya lagilagi merupakan pilihan. Jika kita siap untuk menyakiti mereka, maka lakukanlah perjuangan itu tanpa ragu. Namun, saya sendiri lebih memilih tidak melakukannya karena saya tidak bisa menyakiti orangorang yang saya sayangi dan saya cintai. (hayah!)

Setelah berjuang maksimal, saatnya kita membiarkan takdir bekerja untuk kita. Tidak usah terobsesi pada hasil. Biarkan takdir bekerja menurut kadar dan ukurannya. Apa pun hasilnya adalah ketetapan yang tidak bisa ditawartawar lagi. Kita tinggal menerima dengan kebesaran jiwa dan kekuatan hati,


Imam Ja’far Ash Shadiq mengungkapkan,
"Bahwasanya Allah menghendaki sesuatu untuk kita, dan Dia juga menghendaki sesuatu dari kita. Maka, apaapa yang dikehendakiNya untuk kita, Dia sembunyikan dari kita. Dan apaapa yang dikehendakiNya dari kita, Ia perlihatkan kepada kita. Lalu, mengapa kita menyibukkan diri kita dengan apaapa yang dikehendakiNya untuk kita dan meninggalkan apaapa yang dikehendaki Tuhan dari kita? Mengapa kita menyibukkan diri dengan soalsoal bathiniyah dan melalaikan soalsoal zhahiriyah?”



Begitulah misteri takdir. Begitu kita selesai melakukan segala ikhtiar, biarkan takdir bekerja menuntun langkah kita dan membukakan tabir misterinya.




Jatipadang, pukul 1.59 a.m
29 Ramadhan 1431H/9 September 2010
Markaz Pribadiku
--menjelang sahur--

Selasa, 07 September 2010

Lebaran Di Setiap Masa, Pasti Tak Akan Sama

Idul Fitri tinggal menghitung hari. Ada yang terasa hilang-jauh dilubuk hati. Menjelang Idul Fitri tahun ini rasanya kok biasa banget, tidak seperti lebaran beberapa tahun lalu, saat saya masih culun.hee

Lebaran versi saya remaja, masa anak-anak : baju baru, sepatu baru, harus ada ketupat, opor ayam, kue biji ketapang, dodol, emm..ndak lupa angpau dari kakak, om, bule, pa'le, bude, tercinta. Merasakan lezatnya kue nastar, manisan sungguh sangat-sangat menghibur. Rasanya seperti dapat hadiah luar biasa karena pool puasa.

Dan, Kini...........................


Sejak beberapa tahun lalu, semua berubah. Kalau saat ini adik-adik, ponakan sibuk minta beliin baju, sepatu, jalan dari satu mall ke mall yang lain. Dari dulu sampai sekarang saya paling males berlama-lama ke pasar, atau sekedar ke mall. Tapi klo berlama-lama ke toko buku hayoooo, saya pantengin sampe selesai satu buku saya rampungkan membacanya.


Lebaran adalah saat-saat yang indah, saat-saat mempertemukan raga yang terpisah. Rumah yang sehari-hari terasa sepi saat lebaran tak ubahnya seperti pasar. Rameh, riweh, ada isang-tangis disana, haru-biru, kangen, rindu..semua terlepaskan begitu saja saat menatap satu persatu wajah orang-orang tercinta, ya..keluarga dekat kita.

Tetangga, teman, sahabat, saudara-saudari saya sibuk mempersiapkan bekal perjalanan, sibuk packing untuk mudik. Saya hanya senyum-senyum aja saat mereka bertanya "Libur idul fitri mudik ke mana?", "Ke Pasming, Jatipadang dan sekitarnya." Jawab saya. Hampir saya tidak pernah menemukan kata, tidak bisa mengekspresikan perasaan kala teman2 menceritakan kisah perjalanan mudiknya. Bagi saya mudik ndak mudik toh sama saja wong keluarga besar saya, orang-orang terdekat kumpul di sini semua.heee


Kadang saya merasa bersyukur alhamdulillah Allah masih berikan kesempatan waktu lebih untuk sering-sering silaturahim dengan keluarga terdekat, sanak family karena memang rumah mereka hanya berkisah dari satu gang ke gang yang lain sejauh-jauhnya paling hanya beda kecamatan. Entah, akankan ini berbeda pada tahun-tahun berikutnya?? Saat kesempatan waktu-jarak tidak bisa lebih lama bersama mereka? Wallahu'alam


Dua hari sebelum lebaran, semua serasa punya hajatan. Semua sibuk dengan aktivitas masing-masing. Ada yang bikin kue-ada yang cari daun pandan untuk buat ketupat, ada yang ngolah masakan-opor ayam, rendang, ketupat, semur, hmm...mantap deh! nggak ketinggalan sibuk shooping belanja baju dan acsessorisnya.

Saya paham bagaimana rasanya untuk kalian yang tidak bisa pulang menemui sanak saudara, bersua dengan orangtua, adik-kakak tercinta. Ya...pasti ada rasa kehilangan, kebersamaan waktu kecil itu. Semua telah berubah, mereka memiliki kehidupan sendiri-sendiri. Mungkin ada yang bisa menikmati kebersamaan itu dengan kehidupan yang baru. Namun bagaimana dengan kalian? dengan bapak/ibu yang merindukan kalian?

Apakah mereka telah siap dengan kehilangan-tepatnya hilangnya kebersamaan itu bersama kalian? Tak lagi mendengar canda-tawa kalian, keriuhan kalian. Kemudian saya pun bertanya dalam hati, apakan suatu saat nanti jika itu terjadi pada saya, sudah siapkah? jika satu persatu sibuk dengan kehidupan baru 'mereka', sibuk dengan aktivitas mereka.apakah semua masih akan sama? tentu tidak!

"Kunjungilah keluargamu, sapalah ia dan tanyakan kabarnya walau hanya sesekali saja."

Dari kalian saya belajar tentang kesyukuran, ketegaran, ketabahan, semangat juang yang tak pernah padam hanya untuk mengais setoreh harapan, cita dan peradaban.... satu demi satu diantara kalian pasti akan kembali ke kampung halaman. Semakin sibuk dengan dunia yang baru, dan semakin tersadar bahwa memang semua tak mungkin sama. Karena semua ada masanya.

Bukan begitu??

@Jatipadang, Markaz Pribadi

7 September 2010/28 Ramadhan 1431H

Dedicated To Saudara/iku yang tengah merindukan pertemuan dengan sanak family-nya....

Idul Fitri tinggal menghitung hari. Ada yang terasa hilang-jauh dilubuk hati. Menjelang Idul Fitri tahun ini rasanya kok biasa banget, tidak seperti lebaran beberapa tahun lalu, saat saya masih culun.hee

Lebaran versi saya remaja, masa anak-anak : baju baru, sepatu baru, harus ada ketupat, opor ayam, kue biji ketapang, dodol, emm..ndak lupa angpau dari kakak, om, bule, pa'le, bude, tercinta. Merasakan lezatnya kue nastar, manisan sungguh sangat-sangat menghibur. Rasanya seperti dapat hadiah luar biasa karena pool puasa.

Dan, Kini...........................


Sejak beberapa tahun lalu, semua berubah. Kalau saat ini adik-adik, ponakan sibuk minta beliin baju, sepatu, jalan dari satu mall ke mall yang lain. Dari dulu sampai sekarang saya paling males berlama-lama ke pasar, atau sekedar ke mall. Tapi klo berlama-lama ke toko buku hayoooo, saya pantengin sampe selesai satu buku saya rampungkan membacanya.


Lebaran adalah saat-saat yang indah, saat-saat mempertemukan raga yang terpisah. Rumah yang sehari-hari terasa sepi saat lebaran tak ubahnya seperti pasar. Rameh, riweh, ada isang-tangis disana, haru-biru, kangen, rindu..semua terlepaskan begitu saja saat menatap satu persatu wajah orang-orang tercinta, ya..keluarga dekat kita.

Tetangga, teman, sahabat, saudara-saudari saya sibuk mempersiapkan bekal perjalanan, sibuk packing untuk mudik. Saya hanya senyum-senyum aja saat mereka bertanya "Libur idul fitri mudik ke mana?", "Ke Pasming, Jatipadang dan sekitarnya." Jawab saya. Hampir saya tidak pernah menemukan kata, tidak bisa mengekspresikan perasaan kala teman2 menceritakan kisah perjalanan mudiknya. Bagi saya mudik ndak mudik toh sama saja wong keluarga besar saya, orang-orang terdekat kumpul di sini semua.heee


Kadang saya merasa bersyukur alhamdulillah Allah masih berikan kesempatan waktu lebih untuk sering-sering silaturahim dengan keluarga terdekat, sanak family karena memang rumah mereka hanya berkisah dari satu gang ke gang yang lain sejauh-jauhnya paling hanya beda kecamatan. Entah, akankan ini berbeda pada tahun-tahun berikutnya?? Saat kesempatan waktu-jarak tidak bisa lebih lama bersama mereka? Wallahu'alam


Dua hari sebelum lebaran, semua serasa punya hajatan. Semua sibuk dengan aktivitas masing-masing. Ada yang bikin kue-ada yang cari daun pandan untuk buat ketupat, ada yang ngolah masakan-opor ayam, rendang, ketupat, semur, hmm...mantap deh! nggak ketinggalan sibuk shooping belanja baju dan acsessorisnya.

Saya paham bagaimana rasanya untuk kalian yang tidak bisa pulang menemui sanak saudara, bersua dengan orangtua, adik-kakak tercinta. Ya...pasti ada rasa kehilangan, kebersamaan waktu kecil itu. Semua telah berubah, mereka memiliki kehidupan sendiri-sendiri. Mungkin ada yang bisa menikmati kebersamaan itu dengan kehidupan yang baru. Namun bagaimana dengan kalian? dengan bapak/ibu yang merindukan kalian?

Apakah mereka telah siap dengan kehilangan-tepatnya hilangnya kebersamaan itu bersama kalian? Tak lagi mendengar canda-tawa kalian, keriuhan kalian. Kemudian saya pun bertanya dalam hati, apakan suatu saat nanti jika itu terjadi pada saya, sudah siapkah? jika satu persatu sibuk dengan kehidupan baru 'mereka', sibuk dengan aktivitas mereka.apakah semua masih akan sama? tentu tidak!

"Kunjungilah keluargamu, sapalah ia dan tanyakan kabarnya walau hanya sesekali saja."

Dari kalian saya belajar tentang kesyukuran, ketegaran, ketabahan, semangat juang yang tak pernah padam hanya untuk mengais setoreh harapan, cita dan peradaban.... satu demi satu diantara kalian pasti akan kembali ke kampung halaman. Semakin sibuk dengan dunia yang baru, dan semakin tersadar bahwa memang semua tak mungkin sama. Karena semua ada masanya.

Bukan begitu??

@Jatipadang, Markaz Pribadi

7 September 2010/28 Ramadhan 1431H

Dedicated To Saudara/iku yang tengah merindukan pertemuan dengan sanak family-nya....

Minggu, 05 September 2010

Assalamu'alaikum Cinta


Assalamu'alaikum Cinta... Begitulah sapaannya padaku, sosok muslimah luar biasa tangguh, militan, dewasa, tapi...romantis! (menurut pandanganku) ya, dia tidak hanya menjadi kakak bagiku, kadang bisa menjadi sahabat, guru, emba. pokoknya mantep deh. heee

Aku masih ingat awal pertemuanku dengannya hampir berjam-jam lebih kami saling bercerita waktu itu kalau tidak salah kami memulainya dengan menceritakan tentang kami, keluarga, hobi..emm..apalagi yah?banyak deh. sampai akhirnya Allah mentakdirkan ia menjadi 'pembimbingku' di masa-masa 'itu'.


Karakternya tegas, kadang juga agak saklek dan sangat idealis. Dalam beberapa hal aku merasa klik berdiskusi dengannya, tapi tak jarang juga ada komunikasi yang tidak lancar antara aku dengannya.



Kami sama-sama suka sastra, itu baru kuketahui sejak aku bercerita padanya mengenai jadwal lomba ilmiah yang akan aku ikut beberapa tahun lalu, saat itu waktunya bentrok dengan janjian kumpul di basecamp 'kita'. dan baru ia ketahui kalau aku lolos menjadi finalis dan harus mewakili fakultasku untuk road to universitas alias masih seleksi lomba tingkat universitas.

"Assalamu'alaikum cinta...,
doaku selalu ada untukmu, moga jadi peneliti dan penulis yang sukses yah...tapi, jangan lupa jaga kesehatan. ingat kewajiban kita lebih banyak dari waktu yang tersedia". pesannya.

Banyak pesan darinya sampai kini masih kuingat salah satunya waktu itu aku belum punya blog apalagi aktif nulis diblog, dia kemudian menyarankan untuk menuliskan segala pengalamanku yang 'ilmiah' itu (heee...dia menyebutnya tulisanku selalu ilmiah) masa sih?? wong aku juga ndak nyadar! :P

Oke, kembali lagi..muslimah itu menyarankan padaku untuk menuliskan pengalamanku, kisah perjalananku di blog. katanya selain jadi therapi, menulis juga menenangkan pikiran. moso iya? awalnya aku tidak percaya, aku memang bukan orang yang bisa meluapkan apa yang menjadi uneg-unegku, kekesalanku, senang-sedih, suka-duka, apalagi layaknya menceritakan kisah sehari-hari mungkin tepatnya blog itu sama dengan diary tapi dalam bentuk dunia maya!!



Emm, terlalu banyak resiko (pikirku saat itu), setelah ia coba yakinkan akhirnya aku buat itu blog (lupa namanya karena jarang dibuka lagi), tahun terus berganti, kesenanganku dalam menulis semakin terasa karena setiap hari ada saja tulisan yang aku buat, aku juga mulai punya banyak teman yang juga punya hobi sama, mereka suka menulis juga.



Aku tidak pernah lupa, setiap untaian lirih doa yang kau ucapkan untuk 'adik-adikmu'
mungkin tidak saat ini, tapi nanti di kemudian hari...satu persatu do'amu akan terjawab olehNya...aku yakin itu!

Kau hanya menjadi bagian diantara batu-bata peradaban yang hendak ku susun
karena kau telah itu membangun, membantu mengkokohkannya..
jazakallah khoiran jazza atas segala buah pikiran, do'a tulus yang kau ucapkan walau aku tak tahu tapi Allah mendengar...Allah Maha Mengetahui.
Semoga kau dan keluarga tetap dalam penjagaanNya....

Dedicated to my sister yang kini sedang menempuh kehidupan diantara para penghafal qur'an di taman-taman itu...semoga kelak aku juga menyusulmu,ka!


@ Dusun Jatipadang
Markaz Pribadiku- Jakarta Selatan
(ternyata masih di Jakarta nih..) heee
- menjelang idul fitri-

Assalamu'alaikum Cinta... Begitulah sapaannya padaku, sosok muslimah luar biasa tangguh, militan, dewasa, tapi...romantis! (menurut pandanganku) ya, dia tidak hanya menjadi kakak bagiku, kadang bisa menjadi sahabat, guru, emba. pokoknya mantep deh. heee

Aku masih ingat awal pertemuanku dengannya hampir berjam-jam lebih kami saling bercerita waktu itu kalau tidak salah kami memulainya dengan menceritakan tentang kami, keluarga, hobi..emm..apalagi yah?banyak deh. sampai akhirnya Allah mentakdirkan ia menjadi 'pembimbingku' di masa-masa 'itu'.


Karakternya tegas, kadang juga agak saklek dan sangat idealis. Dalam beberapa hal aku merasa klik berdiskusi dengannya, tapi tak jarang juga ada komunikasi yang tidak lancar antara aku dengannya.



Kami sama-sama suka sastra, itu baru kuketahui sejak aku bercerita padanya mengenai jadwal lomba ilmiah yang akan aku ikut beberapa tahun lalu, saat itu waktunya bentrok dengan janjian kumpul di basecamp 'kita'. dan baru ia ketahui kalau aku lolos menjadi finalis dan harus mewakili fakultasku untuk road to universitas alias masih seleksi lomba tingkat universitas.

"Assalamu'alaikum cinta...,
doaku selalu ada untukmu, moga jadi peneliti dan penulis yang sukses yah...tapi, jangan lupa jaga kesehatan. ingat kewajiban kita lebih banyak dari waktu yang tersedia". pesannya.

Banyak pesan darinya sampai kini masih kuingat salah satunya waktu itu aku belum punya blog apalagi aktif nulis diblog, dia kemudian menyarankan untuk menuliskan segala pengalamanku yang 'ilmiah' itu (heee...dia menyebutnya tulisanku selalu ilmiah) masa sih?? wong aku juga ndak nyadar! :P

Oke, kembali lagi..muslimah itu menyarankan padaku untuk menuliskan pengalamanku, kisah perjalananku di blog. katanya selain jadi therapi, menulis juga menenangkan pikiran. moso iya? awalnya aku tidak percaya, aku memang bukan orang yang bisa meluapkan apa yang menjadi uneg-unegku, kekesalanku, senang-sedih, suka-duka, apalagi layaknya menceritakan kisah sehari-hari mungkin tepatnya blog itu sama dengan diary tapi dalam bentuk dunia maya!!



Emm, terlalu banyak resiko (pikirku saat itu), setelah ia coba yakinkan akhirnya aku buat itu blog (lupa namanya karena jarang dibuka lagi), tahun terus berganti, kesenanganku dalam menulis semakin terasa karena setiap hari ada saja tulisan yang aku buat, aku juga mulai punya banyak teman yang juga punya hobi sama, mereka suka menulis juga.



Aku tidak pernah lupa, setiap untaian lirih doa yang kau ucapkan untuk 'adik-adikmu'
mungkin tidak saat ini, tapi nanti di kemudian hari...satu persatu do'amu akan terjawab olehNya...aku yakin itu!

Kau hanya menjadi bagian diantara batu-bata peradaban yang hendak ku susun
karena kau telah itu membangun, membantu mengkokohkannya..
jazakallah khoiran jazza atas segala buah pikiran, do'a tulus yang kau ucapkan walau aku tak tahu tapi Allah mendengar...Allah Maha Mengetahui.
Semoga kau dan keluarga tetap dalam penjagaanNya....

Dedicated to my sister yang kini sedang menempuh kehidupan diantara para penghafal qur'an di taman-taman itu...semoga kelak aku juga menyusulmu,ka!


@ Dusun Jatipadang
Markaz Pribadiku- Jakarta Selatan
(ternyata masih di Jakarta nih..) heee
- menjelang idul fitri-

Pertemuanku Di Detik Terakhir Denganmu, Ramadhan


Dari Ummul Mukminin, Aisyah ra., menceritakan tentang kondisi Nabi SAW ketika memasuki sepuluh hari terakhir Ramadhan: “Jika memasuki sepuluh hari terakhir Ramadhan, Beliau mengencangkan ikat pinggang, menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya.”





Sabtu 4 September 2010 bertepatan dengan malam ke dua puluh empat Ramadhan untuk seorang mukmin berlomba-lomba meraih malam lailatul qodar salah satunya dengan i'tikaf, tidak terkecuali dengan saya. Saya kemudian merencanakan i'tikaf bersama ukhti fillah, seperti biasa ditahun-tahun sebelumnya jika banyak diantara saudara/i saya yang sedang sibuk membeli baju baru, membuat kue pada malam sepuluh hari terakhir saya lebih memilih untuk i'tikaf itu pun jika orangtua mengizinkan.


Alhamdulillah sabtu pagi setelah meminta izin akhirnya saya diizinkan untuk i'tikaf tapi dengan syarat baru bisa berangkat i'tikaf setelah menyelesaikan pekerjaan rumah antaralain membuatkan makanan untuk anggota sekeluarga yang sedang berpuasa. Ba'da Asyar tepatnya saya sudah selesai mengerjakan pekerjaan rumah, alhamdulillah akhirnya rencana i'tikaf kali ini diberi kemudahan.


Banyak hal yang harus saya persiapkan untuk i'tikaf kali ini, mulai dari peralatan sholat, alqur'an, sampai dengan makanan untuk berbuka dan sahur yang sudah saya olah sebelumnya plus dengan perlengkapan khusus kewanitaan.hee.. ya, walau nggak sampai bawa peralatan makeup karena memang saya tidak punya itu tapi yang pasti handuk, sikat gigi,dkk-nya lengkap tersedia dalam tas saya. semua harus prepare nih, niatnya harus pool, biar mantep ngejalanin i'tikafnya. hee



Mengenai tempat, memang banyak sekali pilihan mulai dari masjid dekat rumah yang strategis tempatnya, sampai tempat yang jauh. Nah, disini ada beberapa yang menjadi pertimbangan untuk memilih tempat yang ideal untuk seorang akhwat yang hendak i'tikaf di masjid.


Sebetulnya masjid dekat rumah ada yang memfasilitasi tapi karena satu dan lain hal setelah dipertimbangkan akhirnya saya memilih untuk beri'tikaf di masjid al-hikmah bangka, mampang prapatan Jakarta Selatan. Kenapa saya memilih tempat itu? salah satunya karena pada saat tarawih membaca 1 Juz alqur'an, tidak hanya itu tempatnya aman, nyaman dan kondusif untuk akhwat, tidak jauh juga dari tempat tinggal saya.


Bersama deru fisabilillah saya melaju kencang menerobos kawasan mampang, sore itu sekitar pukul lima tidak begitu macet alhamdulillah saya bisa mengejar waktu agar sampai lebih awal.

sampai disana anak-anak sudah menunggu, setelah absen siapa saja yang sudah datang dan akan datang. waktu menunjukkan pukul setengah enam sore. Saya tanyakan pada mereka apakah mereka sudah membawa bekal untuk berbuka puasa? jika tidak mereka bisa makan bersama saya, atau kalau memang mau mereka bisa membeli lauk untuk berbuka lebih awal karena biasanya warteg, atau warung padang itu penuh dibanjiri orang-orang atau warga sekitar yang hendak berbuka, alamat bisa ndak kehabisan lauk, dan harus mengantri.


Tunggu lanjutan ceritanya yah...! heee



@Jatipadang, 25 Ramadhan 1431H
Merindukan i'tikaf..

Dari Ummul Mukminin, Aisyah ra., menceritakan tentang kondisi Nabi SAW ketika memasuki sepuluh hari terakhir Ramadhan: “Jika memasuki sepuluh hari terakhir Ramadhan, Beliau mengencangkan ikat pinggang, menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya.”





Sabtu 4 September 2010 bertepatan dengan malam ke dua puluh empat Ramadhan untuk seorang mukmin berlomba-lomba meraih malam lailatul qodar salah satunya dengan i'tikaf, tidak terkecuali dengan saya. Saya kemudian merencanakan i'tikaf bersama ukhti fillah, seperti biasa ditahun-tahun sebelumnya jika banyak diantara saudara/i saya yang sedang sibuk membeli baju baru, membuat kue pada malam sepuluh hari terakhir saya lebih memilih untuk i'tikaf itu pun jika orangtua mengizinkan.


Alhamdulillah sabtu pagi setelah meminta izin akhirnya saya diizinkan untuk i'tikaf tapi dengan syarat baru bisa berangkat i'tikaf setelah menyelesaikan pekerjaan rumah antaralain membuatkan makanan untuk anggota sekeluarga yang sedang berpuasa. Ba'da Asyar tepatnya saya sudah selesai mengerjakan pekerjaan rumah, alhamdulillah akhirnya rencana i'tikaf kali ini diberi kemudahan.


Banyak hal yang harus saya persiapkan untuk i'tikaf kali ini, mulai dari peralatan sholat, alqur'an, sampai dengan makanan untuk berbuka dan sahur yang sudah saya olah sebelumnya plus dengan perlengkapan khusus kewanitaan.hee.. ya, walau nggak sampai bawa peralatan makeup karena memang saya tidak punya itu tapi yang pasti handuk, sikat gigi,dkk-nya lengkap tersedia dalam tas saya. semua harus prepare nih, niatnya harus pool, biar mantep ngejalanin i'tikafnya. hee



Mengenai tempat, memang banyak sekali pilihan mulai dari masjid dekat rumah yang strategis tempatnya, sampai tempat yang jauh. Nah, disini ada beberapa yang menjadi pertimbangan untuk memilih tempat yang ideal untuk seorang akhwat yang hendak i'tikaf di masjid.


Sebetulnya masjid dekat rumah ada yang memfasilitasi tapi karena satu dan lain hal setelah dipertimbangkan akhirnya saya memilih untuk beri'tikaf di masjid al-hikmah bangka, mampang prapatan Jakarta Selatan. Kenapa saya memilih tempat itu? salah satunya karena pada saat tarawih membaca 1 Juz alqur'an, tidak hanya itu tempatnya aman, nyaman dan kondusif untuk akhwat, tidak jauh juga dari tempat tinggal saya.


Bersama deru fisabilillah saya melaju kencang menerobos kawasan mampang, sore itu sekitar pukul lima tidak begitu macet alhamdulillah saya bisa mengejar waktu agar sampai lebih awal.

sampai disana anak-anak sudah menunggu, setelah absen siapa saja yang sudah datang dan akan datang. waktu menunjukkan pukul setengah enam sore. Saya tanyakan pada mereka apakah mereka sudah membawa bekal untuk berbuka puasa? jika tidak mereka bisa makan bersama saya, atau kalau memang mau mereka bisa membeli lauk untuk berbuka lebih awal karena biasanya warteg, atau warung padang itu penuh dibanjiri orang-orang atau warga sekitar yang hendak berbuka, alamat bisa ndak kehabisan lauk, dan harus mengantri.


Tunggu lanjutan ceritanya yah...! heee



@Jatipadang, 25 Ramadhan 1431H
Merindukan i'tikaf..

Kamis, 02 September 2010

Ramadhan Perayaan Terbesar di Dunia!

Muslim men and women across the world are currently observing Ramadan, a month long celebration of self-purification and restraint. During Ramadan, the Muslim community fast, abstaining from food, drink, smoking and sex between sunrise and sunset. Muslims break their fast after sunset with an evening meal called Iftar, where a date is the first thing eaten followed by a traditional meal. During this time, Muslims are also encouraged to read the entire Quran, to give freely to those in need, and strengthen their ties to God through prayer. The goal of the fast is to teach humility, patience and sacrifice, and to ask forgiveness, practice self-restraint, and pray for guidance in the future. This year, Ramadan will continue until Thursday, September 9th. [Editor's note: This year, I invite you to submit your own Ramadan 2010 photos] (45 photos total)


In Indonesia

laki-laki Muslim dan perempuan di seluruh dunia sedang mengamati Ramadhan, sebuah perayaan panjang bulan pemurnian diri dan menahan diri. Selama Ramadhan, puasa komunitas Muslim, berpantang dari makanan, minuman, merokok dan seks antara matahari terbit dan terbenam. Muslim berbuka setelah matahari terbenam mereka dengan makan malam yang disebut Iftar, di mana kencan adalah hal pertama yang dimakan diikuti dengan makan tradisional. Selama waktu ini, umat Islam juga dianjurkan untuk membaca seluruh Quran, untuk memberikan bebas untuk mereka yang membutuhkan, dan mempererat hubungan mereka kepada Tuhan melalui doa. Tujuan puasa adalah untuk mengajarkan kerendahan hati, kesabaran dan pengorbanan, dan meminta pengampunan, latihan menahan diri, dan berdoa untuk bimbingan di masa mendatang. Tahun ini, Ramadhan akan terus sampai Kamis, 9 September. [Catatan Editor: Tahun ini, saya mengundang Anda untuk mengirimkan sendiri Ramadhan 2010 foto] (45 total foto)

Link dari sini


With the Dome of the Rock Mosque seen in the background, a Palestinian Muslim worshiper prays during the third Friday prayers of the Muslim holy month of Ramadan, in the Al-Aqsa Mosque compound in Jerusalem's Old City on Friday, Aug. 27, 2010. (AP Photo/Muhammed Muheisen)

A Bahraini man points skyward at dusk Tuesday, Aug. 10, 2010, in Hamad Town, Bahrain, towards where a slim crescent moon should be visible to indicate the start of the Islamic holy month of Ramadan, a time of prayer, fasting and charitable giving. Clouds hampered skywatchers in the Persian Gulf island nation. (AP Photo/Hasan Jamali) #

A Musaharati, dawn awakener, strikes his drum to wake observant Muslims for their overnight 'sahur', last meal, before the day's fast in Sidon's Old City in southern Lebanon just before dawn August 11, 2010. (REUTERS/Ali Hashisho) #

Kashmiri Muslims pray on a street on the third Friday of Ramadan, in Srinagar, India, Friday, Aug. 27, 2010. (AP Photo/Altaf Qadri) #

An Indian Muslim vendor prepares food at a roadside stall in preparation for Muslims breaking their fast at sundown in Mumbai, India on August 19, 2010. (SAJJAD HUSSAIN/AFP/Getty Images) #

A Palestinian Muslim man decorates an alley of Jerusalem's old city with festive lights in preparation for Ramadan on Tuesday, Aug. 10 2010. (AP Photo/Muhammed Muheisen) #

The crescent moon is seen near mosques in old Cairo on the fifth day of the Muslim holy month of Ramadan on August 15, 2010. (REUTERS/Asmaa Waguih) #

A young Palestinian Muslim girl walks in an alley of Jerusalem's old city holding a traditional Ramadan lantern while celebrating with other children the announcing of the holy month of Ramadan on Tuesday, Aug. 10 2010. (AP Photo/Muhammed Muheisen) #

A Pakistani volunteer pours milk into glasses for devotees to break their fast during Muslims' holy fasting month of Ramadan in Lahore, Pakistan on Friday, Aug. 20, 2010. (AP Photo/K.M.Chaudary) #

Muslim girls offer prayers before having their Iftar (fast-breaking) meal during the holy month of Ramadan at a madrasa on the outskirts of Jammu on August 21, 2010. (REUTERS/Mukesh Gupta) #

Egyptians buy fruits at a shop in downtown Cairo on August 20, 2010 during Islam's holy fasting month of Ramadan. Egyptians have been complaining from shortages of basic services during Ramadan, which began the first week of August amid sweltering summer temperatures. (KHALED DESOUKI/AFP/Getty Images) #

A member of Fairfax County Fire and Rescue, lower left, participates in an Iftar, the evening meal when Muslim break their fast during Ramadan, August 17, 2010 at Dar Al-Hijrah Islamic Center in Falls Church, Virginia. The Islamic center invited frontline responders for Ramadan dinner to show appreciation and foster increased understanding. (Alex Wong/Getty Images) #

A Muslim man performs ablution before prayer during the Muslim holy month of Ramadan at the London Muslim Centre on August 18, 2010 in London, England. (Dan Kitwood/Getty Images) #

A man prays during Ramadan Jummah prayer at the Islamic Center in Washington, D.C. on August 13, 2010. (JIM WATSON/AFP/Getty Images) #


Indonesian chefs make miniature chocolate mosques for sale during the fasting month of Ramadan, at a chocolate shop in Jakarta, Indonesia, Friday, Aug. 20, 2010. (AP Photo/Tatan Syuflana) #

Muslim pilgrims pray inside the Grand Mosque, with the Mecca Clock in the background, on the second day of the fasting month of Ramadan in Mecca August 12, 2010. The giant clock on a skyscraper in Islam's holiest city Mecca began ticking on Wednesday at the start of the fasting month of Ramadan, amid hopes by Saudi Arabia that it will become the Muslim world's official timekeeper. (REUTERS/Hassan Ali) #

Thousands of Muslims gather in the Grand Mosque, in Islam's holiest city of Mecca and home to the Kaaba (center), as they take part in dawn (fajir) prayers on August 29, 2010, to start their day-long fast during the holy month or Ramadan. (AMER HILABI/AFP/Getty Images) #

Thousands of Muslims circle the Kaaba inside the Grand Mosque in Islam's holiest city of Mecca, taking part in dawn (fajir) prayers on August 29, 2010. (AMER HILABI/AFP/Getty Images) #

A Palestinian vendor displays traditional pastries in his shop in the West Bank city of Nablus on the second day of the holy month of Ramadan August 12, 2010. (REUTERS/Abed Omar Qusini) #

Jim Otun of Fairfield, New Jersey uses his iPad to read a dua in the Quran at Zinnur Books in Paterson, New Jersey. (AP Photo/Rich Schultz) #

A Palestinian boy plays with a homemade sparkler after breaking his fast during Ramadan, in the West Bank city of Ramallah, Monday, Aug. 16, 2010. (AP Photo/Muhammed Muheisen) #

Flood-affected people break their fast on the first day of the Muslim holy fasting month of Ramadan in a camp in Nowshera, Pakistan on Thursday, Aug. 12, 2010. Pakistani flood survivors, already short on food and water, began the fasting month of Ramadan on Thursday, a normally festive, social time marked this year by misery and fears of an uncertain future. (AP Photo/Mohammad Sajjad) #

A Muslim man places a chart which marks the times to pray on a wall during the first day of Ramadan at a mosque in the southern Spanish town of Estepona, near Malaga August 11, 2010. (REUTERS/Jon Nazca) #

A Sudanese man reads the Koran on the first Friday of Ramadan in a mosque at Umdowan Ban village outside Khartoum, Sudan on August 13, 2010. (REUTERS/Mohamed Nureldin Abdallah) #

Indian Muslims take a break as birds fly around Firoz Shah Kotla Masjid after prayers on the first Friday of Ramadan in New Delhi on August 13, 2010. (PEDRO UGARTE/AFP/Getty Images) #

A mahya reading "Hold the fast. find good health" hangs between the minarets of the Ottoman-era Eminonu New Mosque in Istanbul August 12, 2010. Mahya, where dangling lights suspended between minarets spell out devotional messages in huge letters, are intended to reward and inspire the faithful who have spent the daylight hours fasting. Today just a handful of Istanbul's mosques use Mahya, the phrases dictated by Turkey's directorate of religious affairs. (REUTERS/Murad Sezer) #

Some 200 Muslims, inmates of the Quezon city jail in suburban Manila, are seen through a fence praying at the prison courtyard on August 13, 2010. The large Muslim minority in the Philippines - a country home to 75 million Catholics - is observing Ramadan, the holy fasting month of Islam. (JAY DIRECTO/AFP/Getty Images) #

An Indian worker dries Seviiyan - thin vermicelli - which is used for the preparation of "sheerkhorma", a traditional sweet dish prepared by the Muslim community during the holy month of Ramadan at a food factory in Hyderabad on August 16, 2010. (NOAH SEELAM/AFP/Getty Images) #

An Indian Muslim vendor separates the seeds of a pomegranate at a roadside stall in preparation for Muslims breaking their fast at sundown in Mumbai, India on August 19, 2010. (SAJJAD HUSSAIN/AFP/Getty Images) #

A Palestinian woman's shadow is seen on a wall as she waits while attempting to cross the Kalandia checkpoint in order to go pray at the Al Aqsa Mosque on the third Friday of the Muslim holy month of Ramadan, between Jerusalem and the West Bank city of Ramallah on Friday, Aug. 27, 2010. Israel loosened some restrictions on Palestinian movement between the West Bank and Israel during the Muslim fasting month of Ramadan. (AP Photo/Tara Todras-Whitehill) #

Palestinian women walk past a barrier at an Israeli-controlled checkpoint on their way to pray at the Al Aqsa Mosque in Jerusalem, on the third Friday of the Muslim holy month of Ramadan, in the West Bank town of Bethlehem, Friday, Aug. 27, 2010. (AP Photo/Nasser Shiyoukhi) #

An Afghan confectioner holds a traditional sweet for Iftar, the evening meal during the Muslim holy month of Ramadan on August 16, 2010 in Kabul, Afghanistan. (Majid Saeedi/Getty Images) #

Muslim men pray before Iftar, the evening meal in the Muslim holy month of Ramadan at the London Muslim Centre on August 18, 2010 in London, England. (Dan Kitwood/Getty Images) #

The shadow of a Palestinian Muslim praying at "fajr" or early morning prayer is cast on a pole, during the month of Ramadan at a mosque in the West Bank city of Ramallah on Tuesday, Aug. 17, 2010. (AP Photo/Muhammed Muheisen) #

Palestinians struggle at an access point as food rations are given out by an Islamic charity on the second day of the month of Ramadan, in the West Bank city of Hebron on Thursday, Aug. 12, 2010. (AP Photo/Bernat Armangue) #

A child sits with a plate of food that was distributed as part of the holy month of Ramadan, at a refugee camp in Kabul, Afghanistan, on Saturday, Aug. 14, 2010. (AP Photo/Mustafa Quraishi) #

Indonesian women pray during the first night of Ramadan in Jakarta on August 10, 2010. (ADEK BERRY/AFP/Getty Images) #

A Palestinian Muslim man reads from the Quran, Islam's holy book, on "fajr" or early morning prayer, during Ramadan at a mosque in the West Bank city of Ramallah on Tuesday, Aug. 17, 2010. (AP Photo/Muhammed Muheisen) #

An Indian Muslim perfumer selects a bottle of ather (non-alcoholic perfume) for customers at his shop in Hyderabad on August 17, 2010. Muslims apply ather to their clothes as a traditional custom before going for daily prayers during the Holy month of Ramadan. Hyderabad is a well known place for selling Ather some 157 varieties of perfume available on the market. (NOAH SEELAM/AFP/Getty Images) #

Children run around inside the premises of Jama mosque after Friday afternoon prayers in New Delhi, India, Friday, Aug. 20, 2010. (AP Photo/Saurabh Das) #

A Palestinian Muslim worshiper walks in an alley of Jerusalem's Old City, on her way to pray at the Al Aqsa Mosque on the third Friday of Ramadan on Aug. 27, 2010. (AP Photo/Bernat Armangue) #

A rainbow is seen as a Palestinian sprays water on Muslim worshipers leaving the Al-Aqsa Mosque compound to cool them off as the temperature rises, following the second Friday prayers of Ramadan, in Jerusalem's Old City, Friday, Aug. 20, 2010. (AP Photo/Muhammed Muheisen) #

Her hands decorated with henna, an Afghan Muslim woman takes part in evening prayers during the Muslim holy month of Ramadan on August 13, 2010 in Kabul, Afghanistan. (Majid Saeedi/Getty Images) #

Shop owner Boualem Bensalem (left) prays in his flat with family and friends before for Iftar meal in Geneva, Switzerland on August 23, 2010. Switzerland is home to some 311,000 Muslims (4.3% of the population). (REUTERS/Denis Balibouse) #

A Syrian Muslim girl stands at the top of Mount Qassioun, which overlooks Damascus city, during sunset and prays before eating her Iftar meal on August 22, 2010. (REUTERS/Khaled al-Hariri) #
Muslim men and women across the world are currently observing Ramadan, a month long celebration of self-purification and restraint. During Ramadan, the Muslim community fast, abstaining from food, drink, smoking and sex between sunrise and sunset. Muslims break their fast after sunset with an evening meal called Iftar, where a date is the first thing eaten followed by a traditional meal. During this time, Muslims are also encouraged to read the entire Quran, to give freely to those in need, and strengthen their ties to God through prayer. The goal of the fast is to teach humility, patience and sacrifice, and to ask forgiveness, practice self-restraint, and pray for guidance in the future. This year, Ramadan will continue until Thursday, September 9th. [Editor's note: This year, I invite you to submit your own Ramadan 2010 photos] (45 photos total)


In Indonesia

laki-laki Muslim dan perempuan di seluruh dunia sedang mengamati Ramadhan, sebuah perayaan panjang bulan pemurnian diri dan menahan diri. Selama Ramadhan, puasa komunitas Muslim, berpantang dari makanan, minuman, merokok dan seks antara matahari terbit dan terbenam. Muslim berbuka setelah matahari terbenam mereka dengan makan malam yang disebut Iftar, di mana kencan adalah hal pertama yang dimakan diikuti dengan makan tradisional. Selama waktu ini, umat Islam juga dianjurkan untuk membaca seluruh Quran, untuk memberikan bebas untuk mereka yang membutuhkan, dan mempererat hubungan mereka kepada Tuhan melalui doa. Tujuan puasa adalah untuk mengajarkan kerendahan hati, kesabaran dan pengorbanan, dan meminta pengampunan, latihan menahan diri, dan berdoa untuk bimbingan di masa mendatang. Tahun ini, Ramadhan akan terus sampai Kamis, 9 September. [Catatan Editor: Tahun ini, saya mengundang Anda untuk mengirimkan sendiri Ramadhan 2010 foto] (45 total foto)

Link dari sini


With the Dome of the Rock Mosque seen in the background, a Palestinian Muslim worshiper prays during the third Friday prayers of the Muslim holy month of Ramadan, in the Al-Aqsa Mosque compound in Jerusalem's Old City on Friday, Aug. 27, 2010. (AP Photo/Muhammed Muheisen)

A Bahraini man points skyward at dusk Tuesday, Aug. 10, 2010, in Hamad Town, Bahrain, towards where a slim crescent moon should be visible to indicate the start of the Islamic holy month of Ramadan, a time of prayer, fasting and charitable giving. Clouds hampered skywatchers in the Persian Gulf island nation. (AP Photo/Hasan Jamali) #

A Musaharati, dawn awakener, strikes his drum to wake observant Muslims for their overnight 'sahur', last meal, before the day's fast in Sidon's Old City in southern Lebanon just before dawn August 11, 2010. (REUTERS/Ali Hashisho) #

Kashmiri Muslims pray on a street on the third Friday of Ramadan, in Srinagar, India, Friday, Aug. 27, 2010. (AP Photo/Altaf Qadri) #

An Indian Muslim vendor prepares food at a roadside stall in preparation for Muslims breaking their fast at sundown in Mumbai, India on August 19, 2010. (SAJJAD HUSSAIN/AFP/Getty Images) #

A Palestinian Muslim man decorates an alley of Jerusalem's old city with festive lights in preparation for Ramadan on Tuesday, Aug. 10 2010. (AP Photo/Muhammed Muheisen) #

The crescent moon is seen near mosques in old Cairo on the fifth day of the Muslim holy month of Ramadan on August 15, 2010. (REUTERS/Asmaa Waguih) #

A young Palestinian Muslim girl walks in an alley of Jerusalem's old city holding a traditional Ramadan lantern while celebrating with other children the announcing of the holy month of Ramadan on Tuesday, Aug. 10 2010. (AP Photo/Muhammed Muheisen) #

A Pakistani volunteer pours milk into glasses for devotees to break their fast during Muslims' holy fasting month of Ramadan in Lahore, Pakistan on Friday, Aug. 20, 2010. (AP Photo/K.M.Chaudary) #

Muslim girls offer prayers before having their Iftar (fast-breaking) meal during the holy month of Ramadan at a madrasa on the outskirts of Jammu on August 21, 2010. (REUTERS/Mukesh Gupta) #

Egyptians buy fruits at a shop in downtown Cairo on August 20, 2010 during Islam's holy fasting month of Ramadan. Egyptians have been complaining from shortages of basic services during Ramadan, which began the first week of August amid sweltering summer temperatures. (KHALED DESOUKI/AFP/Getty Images) #

A member of Fairfax County Fire and Rescue, lower left, participates in an Iftar, the evening meal when Muslim break their fast during Ramadan, August 17, 2010 at Dar Al-Hijrah Islamic Center in Falls Church, Virginia. The Islamic center invited frontline responders for Ramadan dinner to show appreciation and foster increased understanding. (Alex Wong/Getty Images) #

A Muslim man performs ablution before prayer during the Muslim holy month of Ramadan at the London Muslim Centre on August 18, 2010 in London, England. (Dan Kitwood/Getty Images) #

A man prays during Ramadan Jummah prayer at the Islamic Center in Washington, D.C. on August 13, 2010. (JIM WATSON/AFP/Getty Images) #


Indonesian chefs make miniature chocolate mosques for sale during the fasting month of Ramadan, at a chocolate shop in Jakarta, Indonesia, Friday, Aug. 20, 2010. (AP Photo/Tatan Syuflana) #

Muslim pilgrims pray inside the Grand Mosque, with the Mecca Clock in the background, on the second day of the fasting month of Ramadan in Mecca August 12, 2010. The giant clock on a skyscraper in Islam's holiest city Mecca began ticking on Wednesday at the start of the fasting month of Ramadan, amid hopes by Saudi Arabia that it will become the Muslim world's official timekeeper. (REUTERS/Hassan Ali) #

Thousands of Muslims gather in the Grand Mosque, in Islam's holiest city of Mecca and home to the Kaaba (center), as they take part in dawn (fajir) prayers on August 29, 2010, to start their day-long fast during the holy month or Ramadan. (AMER HILABI/AFP/Getty Images) #

Thousands of Muslims circle the Kaaba inside the Grand Mosque in Islam's holiest city of Mecca, taking part in dawn (fajir) prayers on August 29, 2010. (AMER HILABI/AFP/Getty Images) #

A Palestinian vendor displays traditional pastries in his shop in the West Bank city of Nablus on the second day of the holy month of Ramadan August 12, 2010. (REUTERS/Abed Omar Qusini) #

Jim Otun of Fairfield, New Jersey uses his iPad to read a dua in the Quran at Zinnur Books in Paterson, New Jersey. (AP Photo/Rich Schultz) #

A Palestinian boy plays with a homemade sparkler after breaking his fast during Ramadan, in the West Bank city of Ramallah, Monday, Aug. 16, 2010. (AP Photo/Muhammed Muheisen) #

Flood-affected people break their fast on the first day of the Muslim holy fasting month of Ramadan in a camp in Nowshera, Pakistan on Thursday, Aug. 12, 2010. Pakistani flood survivors, already short on food and water, began the fasting month of Ramadan on Thursday, a normally festive, social time marked this year by misery and fears of an uncertain future. (AP Photo/Mohammad Sajjad) #

A Muslim man places a chart which marks the times to pray on a wall during the first day of Ramadan at a mosque in the southern Spanish town of Estepona, near Malaga August 11, 2010. (REUTERS/Jon Nazca) #

A Sudanese man reads the Koran on the first Friday of Ramadan in a mosque at Umdowan Ban village outside Khartoum, Sudan on August 13, 2010. (REUTERS/Mohamed Nureldin Abdallah) #

Indian Muslims take a break as birds fly around Firoz Shah Kotla Masjid after prayers on the first Friday of Ramadan in New Delhi on August 13, 2010. (PEDRO UGARTE/AFP/Getty Images) #

A mahya reading "Hold the fast. find good health" hangs between the minarets of the Ottoman-era Eminonu New Mosque in Istanbul August 12, 2010. Mahya, where dangling lights suspended between minarets spell out devotional messages in huge letters, are intended to reward and inspire the faithful who have spent the daylight hours fasting. Today just a handful of Istanbul's mosques use Mahya, the phrases dictated by Turkey's directorate of religious affairs. (REUTERS/Murad Sezer) #

Some 200 Muslims, inmates of the Quezon city jail in suburban Manila, are seen through a fence praying at the prison courtyard on August 13, 2010. The large Muslim minority in the Philippines - a country home to 75 million Catholics - is observing Ramadan, the holy fasting month of Islam. (JAY DIRECTO/AFP/Getty Images) #

An Indian worker dries Seviiyan - thin vermicelli - which is used for the preparation of "sheerkhorma", a traditional sweet dish prepared by the Muslim community during the holy month of Ramadan at a food factory in Hyderabad on August 16, 2010. (NOAH SEELAM/AFP/Getty Images) #

An Indian Muslim vendor separates the seeds of a pomegranate at a roadside stall in preparation for Muslims breaking their fast at sundown in Mumbai, India on August 19, 2010. (SAJJAD HUSSAIN/AFP/Getty Images) #

A Palestinian woman's shadow is seen on a wall as she waits while attempting to cross the Kalandia checkpoint in order to go pray at the Al Aqsa Mosque on the third Friday of the Muslim holy month of Ramadan, between Jerusalem and the West Bank city of Ramallah on Friday, Aug. 27, 2010. Israel loosened some restrictions on Palestinian movement between the West Bank and Israel during the Muslim fasting month of Ramadan. (AP Photo/Tara Todras-Whitehill) #

Palestinian women walk past a barrier at an Israeli-controlled checkpoint on their way to pray at the Al Aqsa Mosque in Jerusalem, on the third Friday of the Muslim holy month of Ramadan, in the West Bank town of Bethlehem, Friday, Aug. 27, 2010. (AP Photo/Nasser Shiyoukhi) #

An Afghan confectioner holds a traditional sweet for Iftar, the evening meal during the Muslim holy month of Ramadan on August 16, 2010 in Kabul, Afghanistan. (Majid Saeedi/Getty Images) #

Muslim men pray before Iftar, the evening meal in the Muslim holy month of Ramadan at the London Muslim Centre on August 18, 2010 in London, England. (Dan Kitwood/Getty Images) #

The shadow of a Palestinian Muslim praying at "fajr" or early morning prayer is cast on a pole, during the month of Ramadan at a mosque in the West Bank city of Ramallah on Tuesday, Aug. 17, 2010. (AP Photo/Muhammed Muheisen) #

Palestinians struggle at an access point as food rations are given out by an Islamic charity on the second day of the month of Ramadan, in the West Bank city of Hebron on Thursday, Aug. 12, 2010. (AP Photo/Bernat Armangue) #

A child sits with a plate of food that was distributed as part of the holy month of Ramadan, at a refugee camp in Kabul, Afghanistan, on Saturday, Aug. 14, 2010. (AP Photo/Mustafa Quraishi) #

Indonesian women pray during the first night of Ramadan in Jakarta on August 10, 2010. (ADEK BERRY/AFP/Getty Images) #

A Palestinian Muslim man reads from the Quran, Islam's holy book, on "fajr" or early morning prayer, during Ramadan at a mosque in the West Bank city of Ramallah on Tuesday, Aug. 17, 2010. (AP Photo/Muhammed Muheisen) #

An Indian Muslim perfumer selects a bottle of ather (non-alcoholic perfume) for customers at his shop in Hyderabad on August 17, 2010. Muslims apply ather to their clothes as a traditional custom before going for daily prayers during the Holy month of Ramadan. Hyderabad is a well known place for selling Ather some 157 varieties of perfume available on the market. (NOAH SEELAM/AFP/Getty Images) #

Children run around inside the premises of Jama mosque after Friday afternoon prayers in New Delhi, India, Friday, Aug. 20, 2010. (AP Photo/Saurabh Das) #

A Palestinian Muslim worshiper walks in an alley of Jerusalem's Old City, on her way to pray at the Al Aqsa Mosque on the third Friday of Ramadan on Aug. 27, 2010. (AP Photo/Bernat Armangue) #

A rainbow is seen as a Palestinian sprays water on Muslim worshipers leaving the Al-Aqsa Mosque compound to cool them off as the temperature rises, following the second Friday prayers of Ramadan, in Jerusalem's Old City, Friday, Aug. 20, 2010. (AP Photo/Muhammed Muheisen) #

Her hands decorated with henna, an Afghan Muslim woman takes part in evening prayers during the Muslim holy month of Ramadan on August 13, 2010 in Kabul, Afghanistan. (Majid Saeedi/Getty Images) #

Shop owner Boualem Bensalem (left) prays in his flat with family and friends before for Iftar meal in Geneva, Switzerland on August 23, 2010. Switzerland is home to some 311,000 Muslims (4.3% of the population). (REUTERS/Denis Balibouse) #

A Syrian Muslim girl stands at the top of Mount Qassioun, which overlooks Damascus city, during sunset and prays before eating her Iftar meal on August 22, 2010. (REUTERS/Khaled al-Hariri) #

Followers

Republika Online

dakwatuna.com

 
Catatan Bunda Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template