Rabu, 27 Maret 2013

Cinta “Ber-Karakter” Refleksi Al Mahabbah Wa Tadhiyyah

Bismillahirrahmanirrahim.

Setiap hari setelah menikah ada tawaran keajaiban berlimpah. Saat memiliki kekuatan berkat karunia Allah yang membuat kita senang melihat senyumannya, mendengar suaranya. Dia pula memiliki kekuatan sama untuk mengenyahkan kesepian mengubah sesuatu yang awalnya biasa-biasa saja dalam hidup kita menjadi rasa-rasa istimewa. Sungguh, kehadiran suami bagi seorang istri adalah pintu kita menuju surga, di sini, di dunia.


Ada seseorang yang kini membersamai kita siang dan malam, wujud nyata dari sesosok yang telah memilih kita untuk menjaga kehormatan diri dan agama dengan menikahi kita. Ya, menikahi kita, sosok lain yang menginginkan hal serupa.

Adalah saya juga merasakannya sebagai karunia tersyukuri di setiap langkah. Setiap bangun pagi melafalkan kesyukuran atas setiap kesempatan yang masih Allah berikan berjumpa dan menunjukkan cinta dan kasih sayang pada kasih kekasihnya. Kini ada yang setia ber-muroja’ah bersama, atau saat-saat melafalkan dzikir al-ma’tsurat dia yang hadir kini menjadi teman setia menemani dalam ketaatan.

Tak terasa, sepertinya baru kemarin dia mengucapkan janji setia dalam ikatan yang kokoh mitsaqon gholizon. Mengawali amanah baru menjadi seorang istri atau suami sungguh tidaklah mudah.


Saat harus geleng-geleng kepala karena tingkahnya, atau juga mengucap tasbih, cemberut, tertawa, gembira subhanallah inilah yang menumbuhkan cinta, kasih sayang dan ketenangan dalam jiwa… bukankah justru dengannya Allah memandang dengan pandangan penuh rahmah?
Penuh kesyukuran mengembangkan senyum-senyum penuh kebahagiaan.


Sepekan setelah pernikahan, aktivitas masih sama tidak ada yang berubah kecuali status sudah menikah. Masing-masing sibuk dengan aktivitasnya. Kadang kala tak jarang juga ada yang meledek.
“Loh mbak masih bawa motor sendiri emang suaminya ke mana?” katanya. Paling saya hanya jawab. Itu suami saya ada di sebelah (karena kami bawa motor sendiri-sendiri).

Kini pertanyaannya, adakah kebahagiaan yang tengah kita rasakan yang membuat diri kita lebih “bernilai” setelah menikah? Sudahkah setiap tawa dan rona senyuman yang terkembang merekah membuat kita lebih “bertaqwa”? Sudahkah di setiap keriangan kita terhadap pasangan kita melahirkan keberkahan dariNya?


Kalau ini bahagia dan kebahagiaan, dimana letak barokah itu?
3 pekan berlalu dari tepian yang membuat nyaman. Ada pertanyaan yang kemudian muncul dalam benak. Bukankah wajar di awal pernikahan merasakan romantisme dan indahnya “cinta”? Tentu jawabannya ya. Dalam sekejap saja seperti terkena “sihir” oleh kekasih yang dicinta. Tapi kemudian teringatkan lagi terutama saat banyak agenda dan harus berpisah sementara.
Sungguh kalau dirimu terlalu sibuk dan larut dalam rumahtangga banyak kesempatan dakwah yang terbuang. Cobalah bertanya saat setelah menikah apakah dirimu masih sensitif terhadap permintaan, respon, perintah, dan panggilan dari Allah oleh banyak agenda-agenda “dakwah”? Jangan sampai ada kata penyesalan menikahi seorang aktivis dakwah.


Berkorban untuk benar-benar istiqamah memang harus bersabar dengan kesabaran luar biasa. Saya pun merasakan kok setelah menikah jadi cepat capek, ngantuk, dll-nya yah?
Ada kalimat yang membuat saya kembali mengevaluasi setelah beberapa pekan terlewati bersama kehadirannya “banyak alasan kita untuk bisa menghindari dari dakwah setelah menikah, tapi seharusnya seorang mukmin dengan loyalitas yang tinggi dengan segala kesibukannya sebelum menikah tidak membuat hilang kecintaannya terhadap dakwah.” Inilah cinta ber-karakter yang membuat saya terus belajar merefleksikan arti dari al-mahabbah wa tadhiyyah.


Rabbana maafkan atas banyak kekhilafan dan kelalaian sebab kami masih berproses memaknai hakikat pernikahan sebagai bukti ketaatan kami pada-Mu

Ditulis dari seorang yang sedang menempuh perjalanan menyusuri taman-taman perayaan “cinta” dari sebuah mitsaqon gholizon…


terpublis disini :
http://www.dakwatuna.com/2012/01/17630/cinta-ber-karakter-refleksi-al-mahabbah-wa-tadhiyyah/
Bismillahirrahmanirrahim.

Setiap hari setelah menikah ada tawaran keajaiban berlimpah. Saat memiliki kekuatan berkat karunia Allah yang membuat kita senang melihat senyumannya, mendengar suaranya. Dia pula memiliki kekuatan sama untuk mengenyahkan kesepian mengubah sesuatu yang awalnya biasa-biasa saja dalam hidup kita menjadi rasa-rasa istimewa. Sungguh, kehadiran suami bagi seorang istri adalah pintu kita menuju surga, di sini, di dunia.


Ada seseorang yang kini membersamai kita siang dan malam, wujud nyata dari sesosok yang telah memilih kita untuk menjaga kehormatan diri dan agama dengan menikahi kita. Ya, menikahi kita, sosok lain yang menginginkan hal serupa.

Adalah saya juga merasakannya sebagai karunia tersyukuri di setiap langkah. Setiap bangun pagi melafalkan kesyukuran atas setiap kesempatan yang masih Allah berikan berjumpa dan menunjukkan cinta dan kasih sayang pada kasih kekasihnya. Kini ada yang setia ber-muroja’ah bersama, atau saat-saat melafalkan dzikir al-ma’tsurat dia yang hadir kini menjadi teman setia menemani dalam ketaatan.

Tak terasa, sepertinya baru kemarin dia mengucapkan janji setia dalam ikatan yang kokoh mitsaqon gholizon. Mengawali amanah baru menjadi seorang istri atau suami sungguh tidaklah mudah.


Saat harus geleng-geleng kepala karena tingkahnya, atau juga mengucap tasbih, cemberut, tertawa, gembira subhanallah inilah yang menumbuhkan cinta, kasih sayang dan ketenangan dalam jiwa… bukankah justru dengannya Allah memandang dengan pandangan penuh rahmah?
Penuh kesyukuran mengembangkan senyum-senyum penuh kebahagiaan.


Sepekan setelah pernikahan, aktivitas masih sama tidak ada yang berubah kecuali status sudah menikah. Masing-masing sibuk dengan aktivitasnya. Kadang kala tak jarang juga ada yang meledek.
“Loh mbak masih bawa motor sendiri emang suaminya ke mana?” katanya. Paling saya hanya jawab. Itu suami saya ada di sebelah (karena kami bawa motor sendiri-sendiri).

Kini pertanyaannya, adakah kebahagiaan yang tengah kita rasakan yang membuat diri kita lebih “bernilai” setelah menikah? Sudahkah setiap tawa dan rona senyuman yang terkembang merekah membuat kita lebih “bertaqwa”? Sudahkah di setiap keriangan kita terhadap pasangan kita melahirkan keberkahan dariNya?


Kalau ini bahagia dan kebahagiaan, dimana letak barokah itu?
3 pekan berlalu dari tepian yang membuat nyaman. Ada pertanyaan yang kemudian muncul dalam benak. Bukankah wajar di awal pernikahan merasakan romantisme dan indahnya “cinta”? Tentu jawabannya ya. Dalam sekejap saja seperti terkena “sihir” oleh kekasih yang dicinta. Tapi kemudian teringatkan lagi terutama saat banyak agenda dan harus berpisah sementara.
Sungguh kalau dirimu terlalu sibuk dan larut dalam rumahtangga banyak kesempatan dakwah yang terbuang. Cobalah bertanya saat setelah menikah apakah dirimu masih sensitif terhadap permintaan, respon, perintah, dan panggilan dari Allah oleh banyak agenda-agenda “dakwah”? Jangan sampai ada kata penyesalan menikahi seorang aktivis dakwah.


Berkorban untuk benar-benar istiqamah memang harus bersabar dengan kesabaran luar biasa. Saya pun merasakan kok setelah menikah jadi cepat capek, ngantuk, dll-nya yah?
Ada kalimat yang membuat saya kembali mengevaluasi setelah beberapa pekan terlewati bersama kehadirannya “banyak alasan kita untuk bisa menghindari dari dakwah setelah menikah, tapi seharusnya seorang mukmin dengan loyalitas yang tinggi dengan segala kesibukannya sebelum menikah tidak membuat hilang kecintaannya terhadap dakwah.” Inilah cinta ber-karakter yang membuat saya terus belajar merefleksikan arti dari al-mahabbah wa tadhiyyah.


Rabbana maafkan atas banyak kekhilafan dan kelalaian sebab kami masih berproses memaknai hakikat pernikahan sebagai bukti ketaatan kami pada-Mu

Ditulis dari seorang yang sedang menempuh perjalanan menyusuri taman-taman perayaan “cinta” dari sebuah mitsaqon gholizon…


terpublis disini :
http://www.dakwatuna.com/2012/01/17630/cinta-ber-karakter-refleksi-al-mahabbah-wa-tadhiyyah/

Jumat, 20 Mei 2011

Tegarlah Agar Kau DicintaiNya

terpublish disini : http://www.dakwatuna.com/2011/09/12108/tegarlah-agar-kau-dicintainya/


Bismillahirrahmanirrahiim,,


Bagi para akhwat, menjalani kehidupan sebagai istri dan ibu adalah berarti menjalankan sebuah peran besar dengan segala tuntutannya. Ketika ia memutuskan untuk menikah, saat itu pula segala kesenangan serta kesusahan ditanggung bersama. Masa-masa indah di awal pernikahan mungkin belum mendatangkan berbagai cobaan yang sebenarnya akan menguatkan ikatan cinta dan keimanan mereka. 
Namun, adapula mereka yang sejak awal harus melewati sekian rintangan demi mengukuhkan tekad menggenapkan setengah dien.Tak sedikit saya mendapati cerita-cerita seputar suka-duka berumahtangga. Bagi sebagian yang lain mungkin cerita seputar lika-liku rumah tangga bisa jadi mengakibatkan ketakutan bagi mereka yang belum menikah. Takut akan mengalami kesulitan yang di alami oleh fulanah, khawatir tak akan sanggup menghadapi cobaan seperti yang dihadapi fulanah yang lain. 


Dan, akhirnya berhari-hari mengukur diri, kapankah saat yang tepat menyatakan diri SIAP untuk MENIKAH? selanjutkan mereka-reka kesanggupan bila harus mengalami peristiwa ini-itu yang dialami oleh mereka yang telah bercerita banyak.

Hampir setiap saat ummi selalu membawa cerita hikmah dari setiap aktivitasnya. Tentu saja cerita hikmah yang disampaikan seputar biduk rumahtangga. Kadang saya berpikir kenapa harus di sampaikan pada saya cerita itu? Ternyata memang harus disampaikan agar saya dan untuk anak-anaknya yang belum menikah mengambil hikmah lewat cerita tersebut. Itupula yang disampaikan ummi pada saya.

Malam itu, sambil mempersiapkan bahan untuk materi yang akan ummi ajarkan esok hari pada anak didiknya. saya pun masih sibuk membuat tulisan yang akan di persiapkan untuk aktivitas esok. Mulailah ummi mengawali ceritanya.

Teman ummi, Sebut saja namanya Ika seorang akhwat muda yang berani mengambil keputusan menggenapkan dien di tahun pertama kuliahnya. Memiliki suami yang juga masih kuliah. Kalau dipikir-pikir berapa penghasilan yang dihasilkan dari seorang mahasiswa? Mungkin memang tak cukup untuk memenuhi segala kebutuhan mereka berdua. Padahal kebutuhan sehari-hari harus dipenuhi. Adakalanya seorang istri harus menghadapi kenyataan sulitnya mengatasi masalah keuangan keluarga. Disatu sisi ada kebutuhan mereka berdua yang harus dipenuhi, di sisi lain suami pun masih punya kewajiban menafkahi orang tua dan saudara kandung yang masih harus ditanggung.
“Kalau kamu menghadapi kondisi seperti itu bagaimana? Tanya ummi.

Saya kemudian terdiam sejenak sambil berhenti menulis. Belum sampai saya mengeluarkan kata-kata sedikitpun, ummi lantas melanjutkan pembicaraannya.
“Sebenarnya setiap perjalanan hidup berumah-tangga pastilah terdapat banyak hal yang sebenarnya akan menguji setiap jenak kesadaran kita untuk memperjuangkan ikatan suci ini, baik itu berupa kesenangan dan kemudahan yang Allah berikan.

Misalnya suami harus lebih “ekstra” mencari nafkah, sedangkan istri harus lebih “ekstra” mengatur keuangan rumahtangga. Jadi menteri keuangan yang diamanahi oleh suami memang tak mudah. mulailah dari situ Ika berpikir keras bagaimana bisa uang yang ada bisa memenuhi kebutuhannya. Ya, paling tidak cukup makan, cukup untuk bayar kontrakan, cukup untuk biaya kuliah suami, cukup yang lainnya. Ada tuntutan tersendiri ketika ia harus terburu-buru pulang dari kampus untuk sampai kerumah karena belum masak yang harus terhidangkan untuk suaminya, pekerjaan rumah belum selesai, belum lagi kewajiban sebagai guru “Les” yang juga harus ia tunaikan. Untung Ika memiliki suami yang sangat sayang padanya, paham dengannya. Hingga urusan pekerjaan rumah, masak, mencuci suami ikut membantunya.

Bagaimana pun, dalam keadaan apapun, sepelik apapun ujian itu, senyum manis serta kasih sayang itu haruslah selalu tercurahkan untuk mereka yang di cintai : Suami misalnya. Disadari ataupun tidak Istri dan Ibu merupakan sumber kekuatan cinta yang akan menambah energi bagi mereka. Memang tidaklah bisa memaksakan akhwat menjadi superwoman dan menjalani segala sesuatunya dengan sempurna.

Seperti Khodijah yang setia mendampingi Rosulullah tercinta saat kapan pun, saat suka maupun duka. Ialah yang pertama kali memberikan rengkuhan kekuatan baginya kala dibutuhkan. Ialah sokongan bagi setiap celah jihad suami. Ialah yang pantas untuk paling dicintai, dan namanya pun terukir mengalahkan bidadari. ” Ucap Ummi.

Terdiam cukup lama, berusaha meresapi dan memaknai dari setiap ucapan ummi. Ingin berkomentar sesuatu, tapi saya urungkan. Lagi..dan lagi…selalu ada pelajaran berharga dari setiap cerita “hikmah” yang ummi sampaikan pada saya. Sepertinya tak perlu jauh-jauh dan repot-repot membeli buku serta mencari teori tentang hal ini.

Rupanya hikmah itu kalau mau kita sadari sangat dekat dengan keseharian kita. Pertanyaannya sudahkah kita enggeh kalau ternyata hikmah itu banyak bertebaran di sekeliling kita? Hingga menjadikan racikan bumbu kehidupan itu bertambah sedap rasanya.

Semoga Allah karuniakan kepada kita keluarga yang selalu melakukan dan mempersembahkan yang terbaik bagi dirinya, keluarga, serta Rabb-nya.
Yang dapat bangkit kembali, setelah lelah-letihnya, yang tak menghentikan ikhtiar dan do’a dan meyakini bahwa Allah akan menetapkan sesuatu yang terbaik bagi Hamba-hambaNya sepelik apapun ujian hidupnya.


Terima Kasih Ummi…..melalui dirimu ada sesuatu yang bisa kupelajari….
Melalui ceritamu…..ada sesuatu yang harus kupahami……
Ternyata menjadi Isteri, Ibu memang tak mudah Ia harus tetap tegar, disaat semangatnya tetap di butuhkan.



Markaz Pribadi, Jatipadang
Mei 2011
Ditujukan untuk kalian yang sedang mempersiapkan diri untuk menjadi Isteri dan Ibu, semoga bermanfaat…

terpublish disini : http://www.dakwatuna.com/2011/09/12108/tegarlah-agar-kau-dicintainya/


Bismillahirrahmanirrahiim,,


Bagi para akhwat, menjalani kehidupan sebagai istri dan ibu adalah berarti menjalankan sebuah peran besar dengan segala tuntutannya. Ketika ia memutuskan untuk menikah, saat itu pula segala kesenangan serta kesusahan ditanggung bersama. Masa-masa indah di awal pernikahan mungkin belum mendatangkan berbagai cobaan yang sebenarnya akan menguatkan ikatan cinta dan keimanan mereka. 
Namun, adapula mereka yang sejak awal harus melewati sekian rintangan demi mengukuhkan tekad menggenapkan setengah dien.Tak sedikit saya mendapati cerita-cerita seputar suka-duka berumahtangga. Bagi sebagian yang lain mungkin cerita seputar lika-liku rumah tangga bisa jadi mengakibatkan ketakutan bagi mereka yang belum menikah. Takut akan mengalami kesulitan yang di alami oleh fulanah, khawatir tak akan sanggup menghadapi cobaan seperti yang dihadapi fulanah yang lain. 


Dan, akhirnya berhari-hari mengukur diri, kapankah saat yang tepat menyatakan diri SIAP untuk MENIKAH? selanjutkan mereka-reka kesanggupan bila harus mengalami peristiwa ini-itu yang dialami oleh mereka yang telah bercerita banyak.

Hampir setiap saat ummi selalu membawa cerita hikmah dari setiap aktivitasnya. Tentu saja cerita hikmah yang disampaikan seputar biduk rumahtangga. Kadang saya berpikir kenapa harus di sampaikan pada saya cerita itu? Ternyata memang harus disampaikan agar saya dan untuk anak-anaknya yang belum menikah mengambil hikmah lewat cerita tersebut. Itupula yang disampaikan ummi pada saya.

Malam itu, sambil mempersiapkan bahan untuk materi yang akan ummi ajarkan esok hari pada anak didiknya. saya pun masih sibuk membuat tulisan yang akan di persiapkan untuk aktivitas esok. Mulailah ummi mengawali ceritanya.

Teman ummi, Sebut saja namanya Ika seorang akhwat muda yang berani mengambil keputusan menggenapkan dien di tahun pertama kuliahnya. Memiliki suami yang juga masih kuliah. Kalau dipikir-pikir berapa penghasilan yang dihasilkan dari seorang mahasiswa? Mungkin memang tak cukup untuk memenuhi segala kebutuhan mereka berdua. Padahal kebutuhan sehari-hari harus dipenuhi. Adakalanya seorang istri harus menghadapi kenyataan sulitnya mengatasi masalah keuangan keluarga. Disatu sisi ada kebutuhan mereka berdua yang harus dipenuhi, di sisi lain suami pun masih punya kewajiban menafkahi orang tua dan saudara kandung yang masih harus ditanggung.
“Kalau kamu menghadapi kondisi seperti itu bagaimana? Tanya ummi.

Saya kemudian terdiam sejenak sambil berhenti menulis. Belum sampai saya mengeluarkan kata-kata sedikitpun, ummi lantas melanjutkan pembicaraannya.
“Sebenarnya setiap perjalanan hidup berumah-tangga pastilah terdapat banyak hal yang sebenarnya akan menguji setiap jenak kesadaran kita untuk memperjuangkan ikatan suci ini, baik itu berupa kesenangan dan kemudahan yang Allah berikan.

Misalnya suami harus lebih “ekstra” mencari nafkah, sedangkan istri harus lebih “ekstra” mengatur keuangan rumahtangga. Jadi menteri keuangan yang diamanahi oleh suami memang tak mudah. mulailah dari situ Ika berpikir keras bagaimana bisa uang yang ada bisa memenuhi kebutuhannya. Ya, paling tidak cukup makan, cukup untuk bayar kontrakan, cukup untuk biaya kuliah suami, cukup yang lainnya. Ada tuntutan tersendiri ketika ia harus terburu-buru pulang dari kampus untuk sampai kerumah karena belum masak yang harus terhidangkan untuk suaminya, pekerjaan rumah belum selesai, belum lagi kewajiban sebagai guru “Les” yang juga harus ia tunaikan. Untung Ika memiliki suami yang sangat sayang padanya, paham dengannya. Hingga urusan pekerjaan rumah, masak, mencuci suami ikut membantunya.

Bagaimana pun, dalam keadaan apapun, sepelik apapun ujian itu, senyum manis serta kasih sayang itu haruslah selalu tercurahkan untuk mereka yang di cintai : Suami misalnya. Disadari ataupun tidak Istri dan Ibu merupakan sumber kekuatan cinta yang akan menambah energi bagi mereka. Memang tidaklah bisa memaksakan akhwat menjadi superwoman dan menjalani segala sesuatunya dengan sempurna.

Seperti Khodijah yang setia mendampingi Rosulullah tercinta saat kapan pun, saat suka maupun duka. Ialah yang pertama kali memberikan rengkuhan kekuatan baginya kala dibutuhkan. Ialah sokongan bagi setiap celah jihad suami. Ialah yang pantas untuk paling dicintai, dan namanya pun terukir mengalahkan bidadari. ” Ucap Ummi.

Terdiam cukup lama, berusaha meresapi dan memaknai dari setiap ucapan ummi. Ingin berkomentar sesuatu, tapi saya urungkan. Lagi..dan lagi…selalu ada pelajaran berharga dari setiap cerita “hikmah” yang ummi sampaikan pada saya. Sepertinya tak perlu jauh-jauh dan repot-repot membeli buku serta mencari teori tentang hal ini.

Rupanya hikmah itu kalau mau kita sadari sangat dekat dengan keseharian kita. Pertanyaannya sudahkah kita enggeh kalau ternyata hikmah itu banyak bertebaran di sekeliling kita? Hingga menjadikan racikan bumbu kehidupan itu bertambah sedap rasanya.

Semoga Allah karuniakan kepada kita keluarga yang selalu melakukan dan mempersembahkan yang terbaik bagi dirinya, keluarga, serta Rabb-nya.
Yang dapat bangkit kembali, setelah lelah-letihnya, yang tak menghentikan ikhtiar dan do’a dan meyakini bahwa Allah akan menetapkan sesuatu yang terbaik bagi Hamba-hambaNya sepelik apapun ujian hidupnya.


Terima Kasih Ummi…..melalui dirimu ada sesuatu yang bisa kupelajari….
Melalui ceritamu…..ada sesuatu yang harus kupahami……
Ternyata menjadi Isteri, Ibu memang tak mudah Ia harus tetap tegar, disaat semangatnya tetap di butuhkan.



Markaz Pribadi, Jatipadang
Mei 2011
Ditujukan untuk kalian yang sedang mempersiapkan diri untuk menjadi Isteri dan Ibu, semoga bermanfaat…

Jalan Meraih Mimpi, Biarkan Cara Allah Bekerja

 Coba hitung sudah berapa banyak buku tentang mimpi yang pernah kita baca? Mulai dari mimpi abal-abal dari negeri dongeng cinderella atau putri salju sampai mimpi dengan kisah heroik macam Bill Gates ataupun Stave Jobs atau bahkan mimpi seperti cerita dalam Laskar Pelangi itu? Sudah pernahkah kalian bermimpi? Seberapa besar hal yang kalian impikan dan kalian yakin bahwa mimpi itu will come true? Pernah dari kalian yakin bahwa suatu saat mimpi itu akan terwujud?

Saya pernah membaca tulisan tentang sejarah cita-cita dan kesuksesan. Seorang yang sukses pasti mempunyai sejarah dan pembentuk mental suksesnya. Misalnya saja, seorang Kholid Bin Walid. kalian tau siapa dia? Pahlawan perang Yarmuk dan panglima perang termasyhur dalam sejarah islam ternyata menjadi orang paling sukses.

Kesuksesan Kholid membawa panji-panji kemenangan Islam bukan datang secara tiba-tiba. Kemenangan dalam perang Yarmuk, boleh jadi sebuah puncak dari kegemarannya bermain perang-perangan saat masa kanak-kanan dan remaja di lembah Yarmuk. Luar biasa bukan? Masih ada lagi kisah kesukesan lain, kalian tau Afganistan? Ya, Afganistan kita kenal sebagai satu-satunya negara yang tidak pernah tertundukkan meskipun tetap diperangi oleh berbagai bangsa mulai dari Jengis Khan, Soviet dan kini Amerika. Kalian tau rahasianya kenapa Afganistan tidak pernah tertundukkan? Karena konon kabarnya rakyat Afganistan adalah anak turunan dari Kholid Bin Walid.

Begitupun mimpi dan cita-cita yang ingin dikisahkan dalam cerita berikut.

Malam itu hujan begitu deras halilintar bersahutan rumah mungil fatih yang berjendela kawat tak mampu membendung derasnya angin kencang yang membawa butiran-butiran air hujan untuk turut masuk tanpa dipersilakan. Wanita paling cantik sedunia yang duduk manis dihadapannya bercerita padanya tentang kemegahan Ibu Kota Jakarta.

Wanita paling cantik sedunia itu menceritakan padanya tentang bangunan megah tinggi menjulang diantara gedung-gedung megah Jakarta. Dia bercerita tentang indahnya monas merasakan betapa sejuknya semilir angin yang berhembus di puncak monas dan pemandangan menakjubkan yang terlihat dari puncak monas. Hujan deras masih mengiring jalannya cerita seru dari wantia paling cantik sedunia.

Belum selesai wanita itu bercerita, Fatih kecil memotong pembicaraannya dengan penuh semangat ia pun berkata, “Umiiii..kalau udah gede aku juga pengen naek monas sama kaya umiii.” Wanita paling cantik sedunia hanya tersenyum mendengar suara mungil dari anaknya, namun senyum kecilnya itu begitu berarti untuk Fatih kecil.

Cita-citanya simple, sederhana, mimpinya pun sederhana hanya ingin menginjakkan kaki ke monas. Banyak diantara teman-teman fatih menertawakannya, bagi mereka mustahil seorang anak petani dari Magetan-Jawa Timur yang tinggal di pelosok desa bisa menginjakkan kaki ke Jakarta. Dan ternyata apa yang terjadi? Sebelas tahun setelahnya. Setelah malam penuh cinta yang ditemani hujan deras dan halilintar yang saling bersahutan setelah malam penuh mimpi sederhana dari seorang anak yang sederhana kini mimpinya menjadi kenyataan ia sudah berada di puncak monas. Mimpi-mimpi itu tidak berhenti hanya di ujung monas. Ditahun yang sama saat ia bermimpi ingin mengikuti lomba tahfiz al-qur’an dan menjadi salah satu peserta terbaik lagi-lagi ia bisa mendapatkannya. Menjadi peserta terbaik tingkat kabupaten. Ia berdiri dihadapan ratusan orang untuk menaiki podium dan meraih piala kebanggaannya. Subhanallah, lebih luar biasa lagi bukan?

Itu hanyalah sedikit kisah tentang seorang anak kecil yang tinggal di pelosok desa jauh dari keramaian dan asing dari pengetahuan memiliki cita-cita yang sederhana. Tidak sedikit diantara kita pasti mempunyai impian dan cita-cita, bukan? Memiliki impian dan cita-cita yang besar bukan sekedar ingin menginjakkan kaki di monas seperti Fatih kecil bisa jadi cita dan mimpi kalian lebih besar dari itu. Nah, bagaimana masih tidak yakin dengan kekuatan mimpi? Masih adakah diantara kita yang meragukannya?

Sekarang, ambillah secarik kertas kosong dan tulis dalam kertas itu berisi list mimpi dan cita-cita kalian mulai dari mimpi-mimpi kecil hingga mimpi-mimpi besar. Tuliskan saja, setelah itu tempelkan pada kaca, pintu lemari, tembok kamar agar mudah kalian jumpai dan mudah mengingatnya. Dan yakinlah suatu saat nanti kalian bisa merealisasikan mimpi-mimpi yang kalian tuang dalam secarik kertas itu.

Ketika ada kesempatan walaupun sekecil apapun kesempatan untuk merealisasikan mimpi itu maka ambilah kesempatan itu. Kita tidak pernah tau bagaimana takdir Allah bekerja terhadap perubahan diri kita. Sebagaimana Allah juga ngingetin kita dalam sebuah ayat-Nya

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (Qs. Ar-Ra’d:11)

Kadangkala kita hanya diberi pilihan untuk mengambil kesempatan itu dan mengikhtiarkannya atau pilihan lain adalah melewatkan kesempatan itu berlalu bersama waktu.

Jika pilihan itu jatuh kepada pilihan mengambil kesempatan adalah pilihan yang tepat, sekarang saatnya kita berjuang dengan maksimal tidak perlu terobsesi pada hasilnya biarkan takdir Allah yang bekerja menurut kadar dan ukurannya. Bermimpilah setinggi-tinggi dan sebanyak mungkin jangan lupa diiringi dengan usaha yang gigih dan pantang menyerah, merubah diri kepada hal-hal yang baik dan positif dan terakhir jangan lupa berdo’a minta pada Allah agar Dia membantu kita untuk merealisasikan mimpi dan cita-cita kita tersebut selanjutnya lihatlah beberapa minggu, bulan, tahun-tahun kedepan adakah dari list mimpi-mimpi kita yang tidak pernah berjawab? Jika tidak yakin? Cobalah! Karena anda sendiri yang bisa merasakannya!


Markaz Pribadi, 17 Mei 2011
Jatipadang - Perjalanan meraih mimpi bersamanya Insya Allah pasti!

terpublish disini :
http://www.dakwatuna.com/2013/02/27757/jalan-meraih-mimpi-biarkan-cara-allah-bekerja/

 Coba hitung sudah berapa banyak buku tentang mimpi yang pernah kita baca? Mulai dari mimpi abal-abal dari negeri dongeng cinderella atau putri salju sampai mimpi dengan kisah heroik macam Bill Gates ataupun Stave Jobs atau bahkan mimpi seperti cerita dalam Laskar Pelangi itu? Sudah pernahkah kalian bermimpi? Seberapa besar hal yang kalian impikan dan kalian yakin bahwa mimpi itu will come true? Pernah dari kalian yakin bahwa suatu saat mimpi itu akan terwujud?

Saya pernah membaca tulisan tentang sejarah cita-cita dan kesuksesan. Seorang yang sukses pasti mempunyai sejarah dan pembentuk mental suksesnya. Misalnya saja, seorang Kholid Bin Walid. kalian tau siapa dia? Pahlawan perang Yarmuk dan panglima perang termasyhur dalam sejarah islam ternyata menjadi orang paling sukses.

Kesuksesan Kholid membawa panji-panji kemenangan Islam bukan datang secara tiba-tiba. Kemenangan dalam perang Yarmuk, boleh jadi sebuah puncak dari kegemarannya bermain perang-perangan saat masa kanak-kanan dan remaja di lembah Yarmuk. Luar biasa bukan? Masih ada lagi kisah kesukesan lain, kalian tau Afganistan? Ya, Afganistan kita kenal sebagai satu-satunya negara yang tidak pernah tertundukkan meskipun tetap diperangi oleh berbagai bangsa mulai dari Jengis Khan, Soviet dan kini Amerika. Kalian tau rahasianya kenapa Afganistan tidak pernah tertundukkan? Karena konon kabarnya rakyat Afganistan adalah anak turunan dari Kholid Bin Walid.

Begitupun mimpi dan cita-cita yang ingin dikisahkan dalam cerita berikut.

Malam itu hujan begitu deras halilintar bersahutan rumah mungil fatih yang berjendela kawat tak mampu membendung derasnya angin kencang yang membawa butiran-butiran air hujan untuk turut masuk tanpa dipersilakan. Wanita paling cantik sedunia yang duduk manis dihadapannya bercerita padanya tentang kemegahan Ibu Kota Jakarta.

Wanita paling cantik sedunia itu menceritakan padanya tentang bangunan megah tinggi menjulang diantara gedung-gedung megah Jakarta. Dia bercerita tentang indahnya monas merasakan betapa sejuknya semilir angin yang berhembus di puncak monas dan pemandangan menakjubkan yang terlihat dari puncak monas. Hujan deras masih mengiring jalannya cerita seru dari wantia paling cantik sedunia.

Belum selesai wanita itu bercerita, Fatih kecil memotong pembicaraannya dengan penuh semangat ia pun berkata, “Umiiii..kalau udah gede aku juga pengen naek monas sama kaya umiii.” Wanita paling cantik sedunia hanya tersenyum mendengar suara mungil dari anaknya, namun senyum kecilnya itu begitu berarti untuk Fatih kecil.

Cita-citanya simple, sederhana, mimpinya pun sederhana hanya ingin menginjakkan kaki ke monas. Banyak diantara teman-teman fatih menertawakannya, bagi mereka mustahil seorang anak petani dari Magetan-Jawa Timur yang tinggal di pelosok desa bisa menginjakkan kaki ke Jakarta. Dan ternyata apa yang terjadi? Sebelas tahun setelahnya. Setelah malam penuh cinta yang ditemani hujan deras dan halilintar yang saling bersahutan setelah malam penuh mimpi sederhana dari seorang anak yang sederhana kini mimpinya menjadi kenyataan ia sudah berada di puncak monas. Mimpi-mimpi itu tidak berhenti hanya di ujung monas. Ditahun yang sama saat ia bermimpi ingin mengikuti lomba tahfiz al-qur’an dan menjadi salah satu peserta terbaik lagi-lagi ia bisa mendapatkannya. Menjadi peserta terbaik tingkat kabupaten. Ia berdiri dihadapan ratusan orang untuk menaiki podium dan meraih piala kebanggaannya. Subhanallah, lebih luar biasa lagi bukan?

Itu hanyalah sedikit kisah tentang seorang anak kecil yang tinggal di pelosok desa jauh dari keramaian dan asing dari pengetahuan memiliki cita-cita yang sederhana. Tidak sedikit diantara kita pasti mempunyai impian dan cita-cita, bukan? Memiliki impian dan cita-cita yang besar bukan sekedar ingin menginjakkan kaki di monas seperti Fatih kecil bisa jadi cita dan mimpi kalian lebih besar dari itu. Nah, bagaimana masih tidak yakin dengan kekuatan mimpi? Masih adakah diantara kita yang meragukannya?

Sekarang, ambillah secarik kertas kosong dan tulis dalam kertas itu berisi list mimpi dan cita-cita kalian mulai dari mimpi-mimpi kecil hingga mimpi-mimpi besar. Tuliskan saja, setelah itu tempelkan pada kaca, pintu lemari, tembok kamar agar mudah kalian jumpai dan mudah mengingatnya. Dan yakinlah suatu saat nanti kalian bisa merealisasikan mimpi-mimpi yang kalian tuang dalam secarik kertas itu.

Ketika ada kesempatan walaupun sekecil apapun kesempatan untuk merealisasikan mimpi itu maka ambilah kesempatan itu. Kita tidak pernah tau bagaimana takdir Allah bekerja terhadap perubahan diri kita. Sebagaimana Allah juga ngingetin kita dalam sebuah ayat-Nya

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (Qs. Ar-Ra’d:11)

Kadangkala kita hanya diberi pilihan untuk mengambil kesempatan itu dan mengikhtiarkannya atau pilihan lain adalah melewatkan kesempatan itu berlalu bersama waktu.

Jika pilihan itu jatuh kepada pilihan mengambil kesempatan adalah pilihan yang tepat, sekarang saatnya kita berjuang dengan maksimal tidak perlu terobsesi pada hasilnya biarkan takdir Allah yang bekerja menurut kadar dan ukurannya. Bermimpilah setinggi-tinggi dan sebanyak mungkin jangan lupa diiringi dengan usaha yang gigih dan pantang menyerah, merubah diri kepada hal-hal yang baik dan positif dan terakhir jangan lupa berdo’a minta pada Allah agar Dia membantu kita untuk merealisasikan mimpi dan cita-cita kita tersebut selanjutnya lihatlah beberapa minggu, bulan, tahun-tahun kedepan adakah dari list mimpi-mimpi kita yang tidak pernah berjawab? Jika tidak yakin? Cobalah! Karena anda sendiri yang bisa merasakannya!


Markaz Pribadi, 17 Mei 2011
Jatipadang - Perjalanan meraih mimpi bersamanya Insya Allah pasti!

terpublish disini :
http://www.dakwatuna.com/2013/02/27757/jalan-meraih-mimpi-biarkan-cara-allah-bekerja/

Senin, 02 Mei 2011

Penjaga Ayat-Ayat CintaNya

Saya masih ingat betul pertemuan pertama dengannya disebuah literasi pena berkumpulnya para sahabat pena. Persaudaraan kami berlanjut, bahkan bukan sekedar pertemanan lebih dari itu persaudaraan yang berubah kasih sayang dan kedekatan. Saya sudah menganggapnya seperti mba, karena memang saya tidak punya mba “kakak” sekandung. Kalau kakak tak sekandung banyak.


Jakarta, tepatnya Jatipadang city saat ia menyapa seluruh tubuh masih dibalut selimut tebal meringsut di kamar. Pagi ini terasa dingin sekali setelah semalaman suntuk mengerjakan tugas-tugas yang belum rampung. Mata terasa kantuk berat.


“Pagi cinta, bagaimana kabar imanmu hari ini? Sehatkah ia? Bagaimana kabar hafalanmu hari ini? Bertambahkah ia?


Glek! Saya terdiam cukup lama antara sadar dan remang-remang menatap. Kata-katanya memang biasa tapi penuh makna. Selalu bersahabat, sapaannya terasa begitu dekat padahal kami sudah jarang bertemu dan bertegur sapa hampir setengah tahun lamanya. Tiba-tiba ia menyapa kembali memberi motivasi yang sangat berarti.


Saya masih teringat jelas saat kami pernah membicarakan tentang mimpi dan harapan kami tahun-tahun kedepan. Ya, impian yang ingin sekali saya wujudkan bersama mereka “Penjaga Ayat-Ayat CintaNya”. Entah sejak kapan saya ingin sekali merasakan menjadi bagian dari orang-orang yang Allah pilihkan untuk menjaga ayat-ayat cintaNya. Yang pasti saya selalu merindukan saat-saat itu tiba.



“Cinta…”katanya. Sudah sebulan ini aku di Jogja, rasanya kangen denganmu lama tak bersua. Aku di Jogja menggapai mimpi yang dulu sempat tertunda. Kau masih ingat itu, cinta? Mimpi kita bersama…”.

“Menggapai mimpi di Jogja? Melanjutkan studi S2 kah? Tanya saya
“Bukan. Berada di taman penjaga ayat-ayat cintaNya. Mondok disana.”
“Hah?! Trus kerja dan kuliah S2 nya bagaimana? Tanya saya semakin penasaran
“Ya, begitu deh adanya. Tak apa. Cinta ada yang membuatku selalu cemburu padamu. Kau tau apa? Karena dalam banyak hal dirimu selalu lebih baik dariku. Maka, ingin kutanya sudah berapa juz hafalanmu yang bertambah? Ungkapnya

Lagi-lagi terdiam tanpa kata. Merenungi waktu yang sudah terlewati. Ya Allah kenapa lambat sekali perkembangannya, sedang diluar sana mereka pun berlomba-lomba dalam menjagaNya.

“Belum banyak dan tidak cukup baik perkembangannya.”
“Alhamdulillah masih Allah jaga semangatnya. Sama juga aku hanya setoran saja. Kadang malah tidak setoran karena banyakan muroja’ahnya untuk hafalannya jadi ndak nambah-nambah”



Saya masih penasaran dengan keputusannya fokus menjadi bagian penjaga ayat-ayat cintaNya. Yang saya tahu posisi karier di kantornya cukup baik bahkan ia sedang menempuh master di Universitas bergengsi. Lantas kenapa ia tinggalkan semua itu begitu saja? Apakah hanya sekedar menggapai mimpi yang tertunda, mimpi menjadi para penghafal qur’an semua hal yang ia telah raih selama ini hilang begitu saja? Aahhh! Rasanya mustahil ada muslimah yang ikhlas mengambil pilihan seperti itu.



Ia melanjutkan pembicaraan. Di sini ada target yang harus dicapai, kami dikasih waktu 2-3 hari untuk menambah hafalan minimal 1 Juz. Awalnya bisa tapi lama-lama keteteran juga. Kualahan. Alhamdulillah ada keringanan dari ustadzah kami dikasih waktu satu pekan per juz. Benar saja katamu cinta… tidak pernah kurasakan kenikmatan melebihi kenikmatan menghafal qur’an.


Berkali-kali saya berucap syukur atas kenikmatan yang Allah berikan dengan dipertemukannya saudari yang sholih yang selalu mengingatkan dalam kebaikan, memberi motivasi, saling menguatkan dalam ketaatan. Begitu juga ketika jalan takdir membawa saya tentu atas izin Allah disatukan kembali bersama mereka “para penjaga ayat-ayat cintaNya” itu adalah karunia nikmat yang mahalnya tiada terkira.



Kenikmatan tatkala ruh dalam jasad ini semakin hidup karena Alqur’an. Lafaz-lafaz dasyat itulah yang mampu melampaui amukan gelombang tsunami, lafaz dasyat itulah yang kelembutannya melebihi jiwa yang senantiasa bertaut dengan akhirat. Mengkajinya lebih segar dan lebih lezat dibandingkan semangkuk es buah segar bagi orang yang sangat kehausan, bahkan lebih lembut dari angin yang bertiup sepoi-sepoi. Ia adalah cahaya yang bersinar di jalan kehidupan orang-orang mukmin agar mereka sampai pada hamparan ketenangan.



Dulu saya tak yakin dengan mimpi yang ingin saya wujudkan bersamanya. Tapi kini saya semakin mantap meneruskannya. Walau banyak yang bilang menghafal alqur’an itu susah dan berat. Ya, memang betul terutama berat dan susah untuk istiqomah menjaganya. Apalagi bagi mereka yang belum pernah menghafalnya kemudian nekat menghafal tanpa terlebih dahulu melihat kemampuan bacaan alqurannya. Meski mereka memiliki semangat dan motivasi yang tinggi. Semua itu benar. Itupun yang saya rasakan di awal-awal kenekatan saya memilih meraih mimpi-mimpi ini bersamanya walau ditempat yang berbeda.

Di sudut-sudut masjid sehamparan mata memandang mereka para huffaz melantunkan hafalannya dengan nada dan irama yang begitu indah nan mempesona. Disetiap tiang-tiang masjid bahkan selalu saja ada hafizh yang sedang mengulang hafalannya. Tidak siang dan malam. Ada diantara mereka da yang sedang muroja’ah hafalannya mereka mencari tempat yang agak sepi dan jauh dari keramaian oranglain atau jama’ah lainnya. Demi merasakan kenikmatan dan berkonsentrasi membaca dan menghafal qur’an. Ada cinta disana… ada rasa yang lain dari biasanya… ditengah hiruk-pikuk kesibukkan duniawi terlebih kesibukan dan padatnya aktivitas anak Jakarta. Kini masjid itu jadi saksi keseriusan dan tekad mereka yang tengah merengkuk menjadi para penghafal ayat-ayat cintaNya.



Hari demi hari silih berganti. Waktupun mengiringi setiap detik. Tak terasa sebulan lebih sudah halaman demi halaman semakin bertambah. Walau ada saja hambatan dan ujian yang menghadang tidak menjadi penghalang yang berarti bagi mereka yang sudah mantap dan menancap kuat dalam hatinya. Siapa sangka bila kemudian justru itu bagian dari skenario kemudahan yang Allah karuniakan jika pada akhirnya segala kesulitan, kegagalan, hambatan akan menjadi bumbu-bumbu indah cerita para penjaga ayat-ayat cintaNya. Ia bisa menempuhnya di tengah kepadatan jadwalnya




Satu atap dengan para huffaz adalah karunia dan rizki yang tak terhingga. Membuat hati semakin rindu berjumpa pada malam-malam yang syahdu untuk sekedar melantunkan ayat-ayat cintaNya. Semoga kita pun menjadi bagian dari mereka PARA PENJAGA AYAT-AYAT CINTANYA…




Jatipadang, 1 Mei 2011
Markaz Pribadi
Saya masih ingat betul pertemuan pertama dengannya disebuah literasi pena berkumpulnya para sahabat pena. Persaudaraan kami berlanjut, bahkan bukan sekedar pertemanan lebih dari itu persaudaraan yang berubah kasih sayang dan kedekatan. Saya sudah menganggapnya seperti mba, karena memang saya tidak punya mba “kakak” sekandung. Kalau kakak tak sekandung banyak.


Jakarta, tepatnya Jatipadang city saat ia menyapa seluruh tubuh masih dibalut selimut tebal meringsut di kamar. Pagi ini terasa dingin sekali setelah semalaman suntuk mengerjakan tugas-tugas yang belum rampung. Mata terasa kantuk berat.


“Pagi cinta, bagaimana kabar imanmu hari ini? Sehatkah ia? Bagaimana kabar hafalanmu hari ini? Bertambahkah ia?


Glek! Saya terdiam cukup lama antara sadar dan remang-remang menatap. Kata-katanya memang biasa tapi penuh makna. Selalu bersahabat, sapaannya terasa begitu dekat padahal kami sudah jarang bertemu dan bertegur sapa hampir setengah tahun lamanya. Tiba-tiba ia menyapa kembali memberi motivasi yang sangat berarti.


Saya masih teringat jelas saat kami pernah membicarakan tentang mimpi dan harapan kami tahun-tahun kedepan. Ya, impian yang ingin sekali saya wujudkan bersama mereka “Penjaga Ayat-Ayat CintaNya”. Entah sejak kapan saya ingin sekali merasakan menjadi bagian dari orang-orang yang Allah pilihkan untuk menjaga ayat-ayat cintaNya. Yang pasti saya selalu merindukan saat-saat itu tiba.



“Cinta…”katanya. Sudah sebulan ini aku di Jogja, rasanya kangen denganmu lama tak bersua. Aku di Jogja menggapai mimpi yang dulu sempat tertunda. Kau masih ingat itu, cinta? Mimpi kita bersama…”.

“Menggapai mimpi di Jogja? Melanjutkan studi S2 kah? Tanya saya
“Bukan. Berada di taman penjaga ayat-ayat cintaNya. Mondok disana.”
“Hah?! Trus kerja dan kuliah S2 nya bagaimana? Tanya saya semakin penasaran
“Ya, begitu deh adanya. Tak apa. Cinta ada yang membuatku selalu cemburu padamu. Kau tau apa? Karena dalam banyak hal dirimu selalu lebih baik dariku. Maka, ingin kutanya sudah berapa juz hafalanmu yang bertambah? Ungkapnya

Lagi-lagi terdiam tanpa kata. Merenungi waktu yang sudah terlewati. Ya Allah kenapa lambat sekali perkembangannya, sedang diluar sana mereka pun berlomba-lomba dalam menjagaNya.

“Belum banyak dan tidak cukup baik perkembangannya.”
“Alhamdulillah masih Allah jaga semangatnya. Sama juga aku hanya setoran saja. Kadang malah tidak setoran karena banyakan muroja’ahnya untuk hafalannya jadi ndak nambah-nambah”



Saya masih penasaran dengan keputusannya fokus menjadi bagian penjaga ayat-ayat cintaNya. Yang saya tahu posisi karier di kantornya cukup baik bahkan ia sedang menempuh master di Universitas bergengsi. Lantas kenapa ia tinggalkan semua itu begitu saja? Apakah hanya sekedar menggapai mimpi yang tertunda, mimpi menjadi para penghafal qur’an semua hal yang ia telah raih selama ini hilang begitu saja? Aahhh! Rasanya mustahil ada muslimah yang ikhlas mengambil pilihan seperti itu.



Ia melanjutkan pembicaraan. Di sini ada target yang harus dicapai, kami dikasih waktu 2-3 hari untuk menambah hafalan minimal 1 Juz. Awalnya bisa tapi lama-lama keteteran juga. Kualahan. Alhamdulillah ada keringanan dari ustadzah kami dikasih waktu satu pekan per juz. Benar saja katamu cinta… tidak pernah kurasakan kenikmatan melebihi kenikmatan menghafal qur’an.


Berkali-kali saya berucap syukur atas kenikmatan yang Allah berikan dengan dipertemukannya saudari yang sholih yang selalu mengingatkan dalam kebaikan, memberi motivasi, saling menguatkan dalam ketaatan. Begitu juga ketika jalan takdir membawa saya tentu atas izin Allah disatukan kembali bersama mereka “para penjaga ayat-ayat cintaNya” itu adalah karunia nikmat yang mahalnya tiada terkira.



Kenikmatan tatkala ruh dalam jasad ini semakin hidup karena Alqur’an. Lafaz-lafaz dasyat itulah yang mampu melampaui amukan gelombang tsunami, lafaz dasyat itulah yang kelembutannya melebihi jiwa yang senantiasa bertaut dengan akhirat. Mengkajinya lebih segar dan lebih lezat dibandingkan semangkuk es buah segar bagi orang yang sangat kehausan, bahkan lebih lembut dari angin yang bertiup sepoi-sepoi. Ia adalah cahaya yang bersinar di jalan kehidupan orang-orang mukmin agar mereka sampai pada hamparan ketenangan.



Dulu saya tak yakin dengan mimpi yang ingin saya wujudkan bersamanya. Tapi kini saya semakin mantap meneruskannya. Walau banyak yang bilang menghafal alqur’an itu susah dan berat. Ya, memang betul terutama berat dan susah untuk istiqomah menjaganya. Apalagi bagi mereka yang belum pernah menghafalnya kemudian nekat menghafal tanpa terlebih dahulu melihat kemampuan bacaan alqurannya. Meski mereka memiliki semangat dan motivasi yang tinggi. Semua itu benar. Itupun yang saya rasakan di awal-awal kenekatan saya memilih meraih mimpi-mimpi ini bersamanya walau ditempat yang berbeda.

Di sudut-sudut masjid sehamparan mata memandang mereka para huffaz melantunkan hafalannya dengan nada dan irama yang begitu indah nan mempesona. Disetiap tiang-tiang masjid bahkan selalu saja ada hafizh yang sedang mengulang hafalannya. Tidak siang dan malam. Ada diantara mereka da yang sedang muroja’ah hafalannya mereka mencari tempat yang agak sepi dan jauh dari keramaian oranglain atau jama’ah lainnya. Demi merasakan kenikmatan dan berkonsentrasi membaca dan menghafal qur’an. Ada cinta disana… ada rasa yang lain dari biasanya… ditengah hiruk-pikuk kesibukkan duniawi terlebih kesibukan dan padatnya aktivitas anak Jakarta. Kini masjid itu jadi saksi keseriusan dan tekad mereka yang tengah merengkuk menjadi para penghafal ayat-ayat cintaNya.



Hari demi hari silih berganti. Waktupun mengiringi setiap detik. Tak terasa sebulan lebih sudah halaman demi halaman semakin bertambah. Walau ada saja hambatan dan ujian yang menghadang tidak menjadi penghalang yang berarti bagi mereka yang sudah mantap dan menancap kuat dalam hatinya. Siapa sangka bila kemudian justru itu bagian dari skenario kemudahan yang Allah karuniakan jika pada akhirnya segala kesulitan, kegagalan, hambatan akan menjadi bumbu-bumbu indah cerita para penjaga ayat-ayat cintaNya. Ia bisa menempuhnya di tengah kepadatan jadwalnya




Satu atap dengan para huffaz adalah karunia dan rizki yang tak terhingga. Membuat hati semakin rindu berjumpa pada malam-malam yang syahdu untuk sekedar melantunkan ayat-ayat cintaNya. Semoga kita pun menjadi bagian dari mereka PARA PENJAGA AYAT-AYAT CINTANYA…




Jatipadang, 1 Mei 2011
Markaz Pribadi

Selasa, 12 April 2011

Keindahana itu bernama, P.E.N.A.N.T.I.A.N


Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan

[Q.S, As-Sajdah:17]



Penantian adalah sebuah keindahan. Bukankah tidak semua hal yang diinginkan pun terkadang membuat seseorang menunggu hasilnya. Dan Allah sebagai Maha Pemberi pastinya mengetahui kapan waktu hasil tersebut mesti diberikan kepada hambanya. Dan Allah pun Maha Melihat dari tiap usaha hambanya. Penantian dari sebuah usaha agar mendapatkan hasil yang paripurna.





Sebuah ucapan indah seorang Ibnu Jauzi soal penantian,
“Aku ingin beribadah dengan doa dan aku juga yakin suatu saat, doaku pasti dikabulkan. Hanya saja, mungkin tidak sekarang dikabulkan, demi kemaslahatanku yang akan datang pada waktunya nanti. Dan jika tidak dikabulkan pun, aku sudah beruntung bisa beribadah dan menyerahkan diri kepada Allah.”


Subhanallah......begitulah penantian, selalu ada saja hikmah yang mengiringinya. Bisa jadi apabila tidak menanti, kita mendapatkan hasil yang ternyata lebih banyak madharatnya.


Nikmatilah penantian jangan tergesa memaksakan tanpa perkiraan.



Indahnya sebuah penantian berakhir doa yang menjanjikan. Bukankah memang kita hidup hanya penuh dengan penantian sebagai sebuah jawaban pasti dari usaha yang tiap detak gerik dilakukan.


Begitulah penantian. Tidak mesti selamanya menjenuhkan dan membosankan. Selagi upaya telah berjalan, maka biarkanlah penantian mengisi selang jawaban untuk mengakhiri hasilnya pada tabung keputusan. Ada kala tabung itu berisi sangat pelan, namun pasti akan penuh sekalipun waktunya berlama jalan. Bisa pula cepat terisi dengan sangat seiring tekanan yang kuat dari aliran hulunya menuju hilir tanpa sumbatan. Penantian, mengajarkan kita untuk lebih banyak sadar memupuk kesabaran.



Penantian indah ialah saat mengerjakan apa yang dapat dilakukan dan terdekat dengan momentum termudah untuk dikejar, sebagaimana Ibnu Umar berkata disaat beliau usai mengucapkan hadits Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam, “Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau bahkan seperti orang yang sekedar lewat (musafir).” (HR. Al-Bukhari no. 6416), “Bila engkau berada di sore hati maka janganlah engkau menanti datangnya pagi. Sebaliknya bila engkau berada di pagi hari, janganlah menanti datangnya sore hari. Gunakanlah waktu sehatmu (untuk beramal ketaatan) sebelum datang sakitmu. Dan gunakan hidupmu (untuk beramal shalih) sebelum kematian menjemputmu.”



Maka janganlah bermurung durja dalam menanti, sebab demikian menyumbat hasil atas jawaban yang diingini. Akan tetapi hiasi momentum penantian dengan manfaat yang menyisakan penantian berikutnya. Agar ketika satu penantian terjawab memuaskan, maka telah ada usaha yang terserahkan untuk dinanti jawaban berikutnya. Berputar mengisi tanpa henti aliran deras penuh tekanan bernama ketawakalan.


Percayalah pada takdir Allah dan bersabarlah. Mungkin Allah belum mengabulkan doa-doamu karena belum kau panjatkan dengan segenap kepasrahan, belum kau lepas keangkuhanmu karena kau berusaha menerjang ketetapanNya yang berlaku bagimu. Mungkin juga kau belum tinggalkan segala perkara yang mendekati kemaksiatan. Itulah yang menjauhkan terkabulnya doa-doa kita.....


saya menanti untuk LULUS KULIAH tahun depan... tak perlu ragu... walau menanti itu makin ditunggu makin lama ya?!kalo merasa dinanti tapi gak menanti gimana?pasti indah yaa..... W.I.S.U.D.A.Ku....Insya Allah segera terlaksana..!


Berharap setiap diri menjadi yang dinantikan syurga, dirindukan Alloh, subhanallah indah bukan...??

Sebab itulah P.E.N.A.N.T.I.A.N



Wallahu ‘Alam bi Shawwab

Semoga Allah memberikan yang terbaik bagi antum semua. Amin




Markaz Pribadi,
13 April 2011/ 3: 18 a.m
Setelah kabar mengejutkan itu....

Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan

[Q.S, As-Sajdah:17]



Penantian adalah sebuah keindahan. Bukankah tidak semua hal yang diinginkan pun terkadang membuat seseorang menunggu hasilnya. Dan Allah sebagai Maha Pemberi pastinya mengetahui kapan waktu hasil tersebut mesti diberikan kepada hambanya. Dan Allah pun Maha Melihat dari tiap usaha hambanya. Penantian dari sebuah usaha agar mendapatkan hasil yang paripurna.





Sebuah ucapan indah seorang Ibnu Jauzi soal penantian,
“Aku ingin beribadah dengan doa dan aku juga yakin suatu saat, doaku pasti dikabulkan. Hanya saja, mungkin tidak sekarang dikabulkan, demi kemaslahatanku yang akan datang pada waktunya nanti. Dan jika tidak dikabulkan pun, aku sudah beruntung bisa beribadah dan menyerahkan diri kepada Allah.”


Subhanallah......begitulah penantian, selalu ada saja hikmah yang mengiringinya. Bisa jadi apabila tidak menanti, kita mendapatkan hasil yang ternyata lebih banyak madharatnya.


Nikmatilah penantian jangan tergesa memaksakan tanpa perkiraan.



Indahnya sebuah penantian berakhir doa yang menjanjikan. Bukankah memang kita hidup hanya penuh dengan penantian sebagai sebuah jawaban pasti dari usaha yang tiap detak gerik dilakukan.


Begitulah penantian. Tidak mesti selamanya menjenuhkan dan membosankan. Selagi upaya telah berjalan, maka biarkanlah penantian mengisi selang jawaban untuk mengakhiri hasilnya pada tabung keputusan. Ada kala tabung itu berisi sangat pelan, namun pasti akan penuh sekalipun waktunya berlama jalan. Bisa pula cepat terisi dengan sangat seiring tekanan yang kuat dari aliran hulunya menuju hilir tanpa sumbatan. Penantian, mengajarkan kita untuk lebih banyak sadar memupuk kesabaran.



Penantian indah ialah saat mengerjakan apa yang dapat dilakukan dan terdekat dengan momentum termudah untuk dikejar, sebagaimana Ibnu Umar berkata disaat beliau usai mengucapkan hadits Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam, “Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau bahkan seperti orang yang sekedar lewat (musafir).” (HR. Al-Bukhari no. 6416), “Bila engkau berada di sore hati maka janganlah engkau menanti datangnya pagi. Sebaliknya bila engkau berada di pagi hari, janganlah menanti datangnya sore hari. Gunakanlah waktu sehatmu (untuk beramal ketaatan) sebelum datang sakitmu. Dan gunakan hidupmu (untuk beramal shalih) sebelum kematian menjemputmu.”



Maka janganlah bermurung durja dalam menanti, sebab demikian menyumbat hasil atas jawaban yang diingini. Akan tetapi hiasi momentum penantian dengan manfaat yang menyisakan penantian berikutnya. Agar ketika satu penantian terjawab memuaskan, maka telah ada usaha yang terserahkan untuk dinanti jawaban berikutnya. Berputar mengisi tanpa henti aliran deras penuh tekanan bernama ketawakalan.


Percayalah pada takdir Allah dan bersabarlah. Mungkin Allah belum mengabulkan doa-doamu karena belum kau panjatkan dengan segenap kepasrahan, belum kau lepas keangkuhanmu karena kau berusaha menerjang ketetapanNya yang berlaku bagimu. Mungkin juga kau belum tinggalkan segala perkara yang mendekati kemaksiatan. Itulah yang menjauhkan terkabulnya doa-doa kita.....


saya menanti untuk LULUS KULIAH tahun depan... tak perlu ragu... walau menanti itu makin ditunggu makin lama ya?!kalo merasa dinanti tapi gak menanti gimana?pasti indah yaa..... W.I.S.U.D.A.Ku....Insya Allah segera terlaksana..!


Berharap setiap diri menjadi yang dinantikan syurga, dirindukan Alloh, subhanallah indah bukan...??

Sebab itulah P.E.N.A.N.T.I.A.N



Wallahu ‘Alam bi Shawwab

Semoga Allah memberikan yang terbaik bagi antum semua. Amin




Markaz Pribadi,
13 April 2011/ 3: 18 a.m
Setelah kabar mengejutkan itu....

Selasa, 02 November 2010

Kenangan : Cambuk Motivasi, Kristal Kebaikan

Detik terus berlalu menjelma menjadi menit, jam, hari, bulan dan tahun, terus berputar. Beragam peristiwa silih berganti menghiasi sembaran sejarah kehidupan ini, mulai dari yang semanis gula sampai yang sepahit empedu. Ada tawa dan senyum, kejayaan dan kegagalan,harapan dan ketakutan, sedih dan gelisah yang menghiasi.

Kenangan. Ya, setiap orang pasti mempunyai kenangan. Segala sesuatu yang berlalu dari sebuah perjalanan panjang pengembaraan manusia yang berupa apa saja dan dimana saja. Bila diingat-ingat kadang menciptakan tawa atau senyum, atau mungkin sedih atau kecewa. Ada kenangan yang terekam kuat dalam memori sehingga kita tidak dapat melupakannya atau peristiwa yang hanya sekedar lewat sehingga tidak berbuah kenangan.


Kenangan semenjak panggilan manja ”nak” oleh Bunda atau Ayah tercinta kemudian berubah menjadi ”kakak/abang” oleh adik sampai pada penggilan mesra ” kanda” oleh istri dan mungkin nanti ” ayah” oleh anak-anak kita. Saat panggilan ibu menyuruh pergi mengaji. Suara sang guru memberi pengajaran. Canda-tawa teman-teman saat bermain. Tegur ramah tetangga yang menyentuh kalbu. Lembaran itu bagai tertiup sepoi-sepoi angin. Tak tersadar layar otak sarat dengan puing-puing memori.



Kenangan dapat menjadi cemeti pelecut untuk dapat berbuat lebih baik dan untuk menggapai kesuksesan masa depan. Ia dapat menembus rintangan dinding beton dan kawat berduri yang berdiri kokoh.

Oleh karena itu kenanglah semua kesuksesan masa lalu kita, mulai dari yang kecil sampai yang besar. Waktu kecil kita berhasil menghafal satu surat Al Quran, puasa Ramadhan satu bulan penuh, juara kelas, lulus kuliah, atau mendapatkan pekerjaan.

Sebaliknya kenangan dapat menjadi bayang-bayang kelam masa depan, menjadi tembok penghalang kesuksesan kita. Kegagalan-kegagalan masa lalu kadang membuat kita menjadi pesimistis, merasa rendah diri, atau merasa tidak mampu melakukan sesuatu, sehingga malas untuk berkarya.

Oleh karena itu putarlah memori otak - tepatnya otak tengah/sistem limbik yang di dalamnya terdapat amigdala yang merupakan bank memori otak, tempat menyimpan semua kenangan untuk mendapatkan kenangan-kenangan terbaik yang menjadi cemeti pelecut untuk kesuksesan kita dan kuburlah dalam-dalam kenangan-kenangan yang dapat menjadi tembok penghalang kesuksesan.

Dalam lingkup yang lebih luas, tak heran kita mulai SD sudah belajar sejarah. Termasuk juga kejayaan masa lalu, majapahit, sriwijaya, dan tentunya kejayaan Islam masa-masa awal kenabian. Itu semua adalah untuk membangkitkan motivasi kita untuk berbuat lebih baik, tentunya.

Maka jadilah pahlawan pembela negara atau mujahid Palestina yang meluluhlantakkan tank-tank Zionis Yahudi atau seorang dermawan yang setiap saat menyedekahkan hartanya atau apapun namanya sehingga ketiadaan kita dicari dan keberadaan kita diharapkan dan dibutuhkan.

Setelah meninggal orang akan mengenang kebaikan kita dan berharap akan muncul generasi seperti kita. Lebih dari itu semua, ada sebuah gelar mulia yang dilahirkan dari sebuah kenangan yang patut dimiliki oleh semua kita. Mardhatillah. Who abaut u? 

disudut kota tanggerang

3 November 2010

-BersamaMu dalam segala keadaan-

Detik terus berlalu menjelma menjadi menit, jam, hari, bulan dan tahun, terus berputar. Beragam peristiwa silih berganti menghiasi sembaran sejarah kehidupan ini, mulai dari yang semanis gula sampai yang sepahit empedu. Ada tawa dan senyum, kejayaan dan kegagalan,harapan dan ketakutan, sedih dan gelisah yang menghiasi.

Kenangan. Ya, setiap orang pasti mempunyai kenangan. Segala sesuatu yang berlalu dari sebuah perjalanan panjang pengembaraan manusia yang berupa apa saja dan dimana saja. Bila diingat-ingat kadang menciptakan tawa atau senyum, atau mungkin sedih atau kecewa. Ada kenangan yang terekam kuat dalam memori sehingga kita tidak dapat melupakannya atau peristiwa yang hanya sekedar lewat sehingga tidak berbuah kenangan.


Kenangan semenjak panggilan manja ”nak” oleh Bunda atau Ayah tercinta kemudian berubah menjadi ”kakak/abang” oleh adik sampai pada penggilan mesra ” kanda” oleh istri dan mungkin nanti ” ayah” oleh anak-anak kita. Saat panggilan ibu menyuruh pergi mengaji. Suara sang guru memberi pengajaran. Canda-tawa teman-teman saat bermain. Tegur ramah tetangga yang menyentuh kalbu. Lembaran itu bagai tertiup sepoi-sepoi angin. Tak tersadar layar otak sarat dengan puing-puing memori.



Kenangan dapat menjadi cemeti pelecut untuk dapat berbuat lebih baik dan untuk menggapai kesuksesan masa depan. Ia dapat menembus rintangan dinding beton dan kawat berduri yang berdiri kokoh.

Oleh karena itu kenanglah semua kesuksesan masa lalu kita, mulai dari yang kecil sampai yang besar. Waktu kecil kita berhasil menghafal satu surat Al Quran, puasa Ramadhan satu bulan penuh, juara kelas, lulus kuliah, atau mendapatkan pekerjaan.

Sebaliknya kenangan dapat menjadi bayang-bayang kelam masa depan, menjadi tembok penghalang kesuksesan kita. Kegagalan-kegagalan masa lalu kadang membuat kita menjadi pesimistis, merasa rendah diri, atau merasa tidak mampu melakukan sesuatu, sehingga malas untuk berkarya.

Oleh karena itu putarlah memori otak - tepatnya otak tengah/sistem limbik yang di dalamnya terdapat amigdala yang merupakan bank memori otak, tempat menyimpan semua kenangan untuk mendapatkan kenangan-kenangan terbaik yang menjadi cemeti pelecut untuk kesuksesan kita dan kuburlah dalam-dalam kenangan-kenangan yang dapat menjadi tembok penghalang kesuksesan.

Dalam lingkup yang lebih luas, tak heran kita mulai SD sudah belajar sejarah. Termasuk juga kejayaan masa lalu, majapahit, sriwijaya, dan tentunya kejayaan Islam masa-masa awal kenabian. Itu semua adalah untuk membangkitkan motivasi kita untuk berbuat lebih baik, tentunya.

Maka jadilah pahlawan pembela negara atau mujahid Palestina yang meluluhlantakkan tank-tank Zionis Yahudi atau seorang dermawan yang setiap saat menyedekahkan hartanya atau apapun namanya sehingga ketiadaan kita dicari dan keberadaan kita diharapkan dan dibutuhkan.

Setelah meninggal orang akan mengenang kebaikan kita dan berharap akan muncul generasi seperti kita. Lebih dari itu semua, ada sebuah gelar mulia yang dilahirkan dari sebuah kenangan yang patut dimiliki oleh semua kita. Mardhatillah. Who abaut u? 

disudut kota tanggerang

3 November 2010

-BersamaMu dalam segala keadaan-

Senin, 01 November 2010

Ruh Para Pejuang Dakwah

Setelah pertemuan ahad, ada semangat yang terus bergemuruh, untuk mengisi setiap kepingan episode estafet dengan persembahan terbaik. Bukan karena akan berakhirnya masa ‘jabatan’, bahkan rindu jika bisa berlamalama bersama thoriqudda’wah.



Dedicated to saudara/i saya di FARIS8, Semoga tulisan ini bisa saling mengingatkan

(Kepada Jundullah)
Saat genderang perjuangan bertalu
Musuh tegak dihadapan
Teguhkan hatimu usahlah kau ragu
Wahai orang-orang beriman
Berdzikirlah sebanyak engkau mampu
Agar kemenangan jadi milikmu


Taatilah Allah dan Rasul-Nya
Qiyadah penghulu perjuangan
Tetap bersabar dalam barisan
Buang segala ego nan hina
Hindarkanlah berbantahan
Yang kan membuat hatimu gentar
Dan menghilangkan kekuatan
Karna Jundullah…
karna Jundullah....
Pantang terpencar !!



Jangan silau dengan jumlahmu
Yang angkuhkan hatimu
Riya dihadapan manusia
Kau halangi insan di jalan-Nya
Padahal Allah tahu…
Apa yang… Kau kerjakan !!



Kelengahan menambah penyesalan, kelengahan menghilangkan kenikmatan, kelengahan menghalangi penghambaan, kelengahan menambah kedengkian dan kelengahan menambah cela dan kekecewaan. Akankah kita berlama-lama dengannya ?!



Sudah menjadi fithrah manusia memiliki semangat dan kejenuhan. Hal yang berlaku sama bagi seluruh kondisi unsur penyusunnya. Ruh, akal dan jasad mengalami keduanya. Ada kalanya cemerlang dengan segenap energi diri menghasilkan prestasi - prestasi besar.


Adakalanya pudar , rapuh dan terkungkung dalam ketidakberdayaan. Ketika kesadaran tetap menemani keduanya maka yang demikian adalah lebih dekat kepada kebaikan. Akan tetapi ketika semuanya tercerai dari kesadaran, maka kebinasaan mengintainya setiap saat.


Menjaga diri agar senantiasa berada dalam kesadaran menjadi satu-satunya pilihan sikap. Kelengahan yang menghampiri terkadang bersahabat dengan setan, menampakkan pembenaran-pembenaran dalam jiwa. Semakin pudarlah hati, hambarlah amal dan hilanglah semangat kebaikan. Dalam keadaan seperti ini maka ia memberi andil terhadap pembentukan lingkungan da'wah dan kehidupan yang buruk. Keberadaannya menjadi sebab lesunya kerja da'wah. Menjadi promotor berkembangnya kelalaian dalam masyarakat. Dan yang lebih berbahaya adalah melahirkan keberanian yang salah dalam diri, berani terhadap ketentuan Allah SWT.


Sadar dalam kelemahan akan membimbing diri ke arah perbaikan. Kelemahan dipandang sekedar sebagai saat beristirahat, berhenti sejenak, untuk menorehkan karya bakti yang lebih besar dan bernilai di hadapan Allah SWT. Kesadaran akan menyebabkan lahirnya perasaan yang enggan berlama-lama dengan kelemahan.

Kesadaran yang menjaga pemahaman bahwa sesungguhnya perjuangan dalam Islam adalah untuk mewujudkan kepribadian yang direfleksikan dalam aqidah dan akhlak. Dengan pemahaman itu senantiasa mengetahui hakikat perjuangan, bahwa setiap tetes keringat kita di jalan da'wah adalah upaya keras dalam rangka memuliakan diri sendiri dihadapan Sang Khaliq, bukan orang lain !


Tibalah saatnya bagi setiap ruh pejuang untuk bangkit dari kelemahan. Berdiri tegar menentang cakrawala peradaban yang penuh kesia-siaan. Selamat tinggal kesedihan, selamat tinggal kebodohan, selamat tinggal ketidakberdayaan karena kini saatnya menyongsong kemenangan ...!


Berlarut-larut dalam kelemahan dan kelengahan hanya akan menggolongkan diri ke dalam Firman Allah :
" kami berikan kepadanya sebagian keuntungan dunia itu dan tidaklah ada baginya suatu bagian di akhirat. Yaitu dicabut dari hatinya cinta kepada akhirat. ( QS. Asy-Syura: 20 )





Jalan dakwah panjang terbentang jauh ke depan
Duri dan batu terjal selalu mengganjal, lurah dan bukit menghadang
Ujungnya bukan di usia, bukan pula di dunia
Tetapi Cahaya Maha Cahaya,
Syurga dan Redha Allah

Cinta adalah sumbernya,
hati dan jiwa adalah rumahnya
Nikmati perjalanannya, berdiskusilah dengan bahasa bijaksana
Dan jika seseorang mendapat hidayah karenamu Itu lebih baik dari dunia dan segala isinya…




@Tanggerang/ 1November2010
Setelah pertemuan ahad, ada semangat yang terus bergemuruh, untuk mengisi setiap kepingan episode estafet dengan persembahan terbaik. Bukan karena akan berakhirnya masa ‘jabatan’, bahkan rindu jika bisa berlamalama bersama thoriqudda’wah.



Dedicated to saudara/i saya di FARIS8, Semoga tulisan ini bisa saling mengingatkan

(Kepada Jundullah)
Saat genderang perjuangan bertalu
Musuh tegak dihadapan
Teguhkan hatimu usahlah kau ragu
Wahai orang-orang beriman
Berdzikirlah sebanyak engkau mampu
Agar kemenangan jadi milikmu


Taatilah Allah dan Rasul-Nya
Qiyadah penghulu perjuangan
Tetap bersabar dalam barisan
Buang segala ego nan hina
Hindarkanlah berbantahan
Yang kan membuat hatimu gentar
Dan menghilangkan kekuatan
Karna Jundullah…
karna Jundullah....
Pantang terpencar !!



Jangan silau dengan jumlahmu
Yang angkuhkan hatimu
Riya dihadapan manusia
Kau halangi insan di jalan-Nya
Padahal Allah tahu…
Apa yang… Kau kerjakan !!



Kelengahan menambah penyesalan, kelengahan menghilangkan kenikmatan, kelengahan menghalangi penghambaan, kelengahan menambah kedengkian dan kelengahan menambah cela dan kekecewaan. Akankah kita berlama-lama dengannya ?!



Sudah menjadi fithrah manusia memiliki semangat dan kejenuhan. Hal yang berlaku sama bagi seluruh kondisi unsur penyusunnya. Ruh, akal dan jasad mengalami keduanya. Ada kalanya cemerlang dengan segenap energi diri menghasilkan prestasi - prestasi besar.


Adakalanya pudar , rapuh dan terkungkung dalam ketidakberdayaan. Ketika kesadaran tetap menemani keduanya maka yang demikian adalah lebih dekat kepada kebaikan. Akan tetapi ketika semuanya tercerai dari kesadaran, maka kebinasaan mengintainya setiap saat.


Menjaga diri agar senantiasa berada dalam kesadaran menjadi satu-satunya pilihan sikap. Kelengahan yang menghampiri terkadang bersahabat dengan setan, menampakkan pembenaran-pembenaran dalam jiwa. Semakin pudarlah hati, hambarlah amal dan hilanglah semangat kebaikan. Dalam keadaan seperti ini maka ia memberi andil terhadap pembentukan lingkungan da'wah dan kehidupan yang buruk. Keberadaannya menjadi sebab lesunya kerja da'wah. Menjadi promotor berkembangnya kelalaian dalam masyarakat. Dan yang lebih berbahaya adalah melahirkan keberanian yang salah dalam diri, berani terhadap ketentuan Allah SWT.


Sadar dalam kelemahan akan membimbing diri ke arah perbaikan. Kelemahan dipandang sekedar sebagai saat beristirahat, berhenti sejenak, untuk menorehkan karya bakti yang lebih besar dan bernilai di hadapan Allah SWT. Kesadaran akan menyebabkan lahirnya perasaan yang enggan berlama-lama dengan kelemahan.

Kesadaran yang menjaga pemahaman bahwa sesungguhnya perjuangan dalam Islam adalah untuk mewujudkan kepribadian yang direfleksikan dalam aqidah dan akhlak. Dengan pemahaman itu senantiasa mengetahui hakikat perjuangan, bahwa setiap tetes keringat kita di jalan da'wah adalah upaya keras dalam rangka memuliakan diri sendiri dihadapan Sang Khaliq, bukan orang lain !


Tibalah saatnya bagi setiap ruh pejuang untuk bangkit dari kelemahan. Berdiri tegar menentang cakrawala peradaban yang penuh kesia-siaan. Selamat tinggal kesedihan, selamat tinggal kebodohan, selamat tinggal ketidakberdayaan karena kini saatnya menyongsong kemenangan ...!


Berlarut-larut dalam kelemahan dan kelengahan hanya akan menggolongkan diri ke dalam Firman Allah :
" kami berikan kepadanya sebagian keuntungan dunia itu dan tidaklah ada baginya suatu bagian di akhirat. Yaitu dicabut dari hatinya cinta kepada akhirat. ( QS. Asy-Syura: 20 )





Jalan dakwah panjang terbentang jauh ke depan
Duri dan batu terjal selalu mengganjal, lurah dan bukit menghadang
Ujungnya bukan di usia, bukan pula di dunia
Tetapi Cahaya Maha Cahaya,
Syurga dan Redha Allah

Cinta adalah sumbernya,
hati dan jiwa adalah rumahnya
Nikmati perjalanannya, berdiskusilah dengan bahasa bijaksana
Dan jika seseorang mendapat hidayah karenamu Itu lebih baik dari dunia dan segala isinya…




@Tanggerang/ 1November2010

Senin, 25 Oktober 2010

Bertemu Dalam Restu

Pagi itu, langit jakarta tampak begitu cerah tapi tidak dengan cuaca di sudut negara lain, Emirat Arabi tepatnya.. saat itu adalah musim semi..

"izinkan aku berbagi denganmu, ukhti" begitu katanya yang tiba-tiba mengawali pembicaraan.

Entah darimana sapaan itu bermula... tapi aku dapat merasa, buliran airmata yang jatuh tak mampu tertahan... hati yang begitu ringkih untuk menyampaikan..

"Silahkan ukhti...bila itu jauh membuat hatimu tenang. Sampaikan saja" Jawabku sambil menunggu respon darinya.

"Ukhti....berusaha menerima dan bersyukur atas ketetepanNya ternyata tidak mudah.

Tidak semudah yang ku bayangkan, tidak semudah saat ku menulisnya, munguatkan azzam untuk selalu Ridho dengan Garisnya.

saat kita harus menghadapinya dan mencoba menerimanya salahkah kita kalau masih saja ada tangis dan sakit di hati...apakah itu salah satu tanda karena sebenarnya hati ini blm ikhlas akan ketetapanNya?." tanyanya dengan nada sendu.


Aku masih menerka-nerka, apa yang telah terjadi dengan saudariku... berusaha menerima dan bersyukur atas ketetapanNya? tentang apa?


Perempuan itu,ukh....

sudah seminggu ini hilang rasa makannya, begitu banyak air mata yang ia keluarkan..seharusnya ia bersyukur karena Rabbnya telah mengabulkan doanya, menjawab sebuah doa dan kegelisahan hatinya, sebuah doa yang ia pinta selama ini..tapi lihatlah perempuan itu masih terseok seeeok untuk mencoba menerima ini semua

Entah semenjak kapan rasa itu tiba hadir dalam hati ini,perhatian dan sapaanya yang sering hadir menorehkan sebuah harapan di hati,sejumput doa tlah ku pinta ke Rabbku, kalau memang dia pemilik tulang rusuk ini smoga Allah memberikan kemudahan dan cara sesuai dengan peraturannya. kalau memang dia bukan orangnya, ku pinta smoga Ia segera memberikan jawabnya, sungguh tidak enak memendam ini semua.

Hingga pagi itu Allah tlah memberikan jawabnya, saat ku tahu ia akan datang menghitbah seseorang..kecewa dan sakit ini mungkin tidak akan separah ini.andai ku tahu dari awal Engkau tahu ukhti siapa akhwat yang akan ia khitbah itu?adikku ukh ia akan mengkhitbah adikku..

Sudah semenjak lama memang selalu ku bilang kepada adek, dan orang tua, kalau adek mau menikah duluan monggo tidak apa2.kalau orang tua masih susah menerima ini aku akan membantu memberikan pengertian ke orang tua

Dan sekarang ku harus berusaha tersenyum dan bahagia di hadapan mereka, mendorong mereka untuk terus maju, mencoba mengasih pengertian ke orang tua untuk bisa menirima niat baik mereka, sementara di sisi hatiku yang lain ku terluka ....dan ternyata tidak mudah ukh, ku mohon doanya.


Aku terdiam, dalam penghayatan yang dalam... sungguh bisa merasakan apa yang Ia rasakan tentang harapannya, penantiannya, perasaan terdalamnya. Jika kau berada diposisi ukhti itu apa yang akan kau lakukan?


Lamat-lamat bukan sekedar menahan haru dalam tangis kecil untuk kisah yang terurai. Tapi aku, bisa apa? cukup menjadi pendengar yang baik saat ia membutuhkan teman untuk sekedar meluapkan apa yang dirasa, menghilangkan getir-getir kelu dalam jiwa adalah lebih tepat.


Masih dalam diam yang panjang. Belum ada kata yang mampu kusampaikan padanya. apakah kata itu berisi penyemangat, atau malah sebaliknya?


(sambil mendengar nasyid Nur Kasih-Inteam sepertinya pas)

Bagaikan permata di celahan kaca

Kerdipnya sulit tuk dibedakan

Kepada Mu Tuhan ku pasrah harapan

Moga tak tersalah pilihan

Nur kasih Mu mendamai di kalbu

Jernih setulus tadahan doaku

Rahmati daku dan permintaanku

Untuk bertemu di dalam restu

Karuniakan daku serikandi

Penyejuk di mata penawar di hati

Di dunia dialah penyeri Di syurga menanti dia bidadari

Kekasih sejati teman yang berbudi

Kasihnya bukan keterpaksaan

Bukan jua karena keduniaan/( dunia )

Mekar hidup disiram nur kasih

Ya Allah kurniakanlah kami isteri

Dan anak yang soleh

Sebagai penyejuk mata......

(Mekar hidup ini disirami nur kasih)

Di tangan-Mu Tuhanku sandar impian

Penentu jodoh pertemuan

Seandai dirinya tercipta untukku

Rela ku menjadi miliknya

(Mekar disiram nur kasih)


Setelah sujud terakhir shalat malam yang panjang, tunduk. Ada tetesan tak berbunyi bergulir di atas pipi. Kesunyian itu tiba-tiba datang lagi tanpa meminta izin lebih dahulu.

Rindu dia pada yang belum diketahui namanya. Dia yang akan menggenapkan setengah dien bersama-sama. Dia yang akan dihormati, senyumi, cemberuti, dan dilembuti. Dia yang sepanjang perjalanannya akan kau temani. Hatinya menjerit pelan.."Di mana engkau pangeranku?"


Allah, aku tahu betapa ridho dirinya tunduk pada perintahMU, perintah menundukkan pandangan, perintah mengulurkan jilbab, perintah terus memperbaiki diri dari hari ke hari. Menanti janjiMu ádalah aliran air tersegar yang tak akan putus.

"...Dan wanita2 yang baik ádalah untuk laki2 yang baik dan laki2 yang baik ádalah untuk wanita2 yang baik pula"

(An Nuur:26)


Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. Al Baqarah 2:216)


Aku merasakan kata-kata mutiara itu meluncur deras dari bibirnya. Tak ada kesedihan ataupun kekecewaan di sana, melainkan ketegaran!. Setiap keinginan dan perbuatannya hanya dilandasi untuk mengharap keridhaan Allah, begitu pula dalam menghadapi setiap persoalan,kini ia tak banyak berkeluh kesah melainkan senantiasa tabah dan berusaha menemukan rahasia dibalik cobaan Allah!


Saudariku yang dicintai Allah...

Jangan pernah lelah muliakan dirimu. Bukan untuk dia. Juga bukan untuk dirimu sendiri. Tapi semata hanya untuk Rabb-Mu. Sungguh, itu bagian dari tarbiyah dengan cara yang berbeda. Dan Mahabenar Allah, lelaki mulia itu akan datang atas nama kemuliaan pernikahan. Tanpa kau perlu teriaki, dia telah mendengar dengan kesediaan tertinggi akan seruan lembut Tuhan-Nya, yang disampaikan kepada hamba terkasih dan utusan-Nya..




(Dedicated to Ukhti Fillah di bumi para Nabi, semoga jihadmu mendapat pahala tertinggi di sisiNya..)


Di bumi kota Tanggerang

26 Oktober 2010

diantara tumpukan kertas dan kerjaan yang masih berserakan

semoga sedikit ini terselip hikmah untuk kalian semua yang membaca...

Pagi itu, langit jakarta tampak begitu cerah tapi tidak dengan cuaca di sudut negara lain, Emirat Arabi tepatnya.. saat itu adalah musim semi..

"izinkan aku berbagi denganmu, ukhti" begitu katanya yang tiba-tiba mengawali pembicaraan.

Entah darimana sapaan itu bermula... tapi aku dapat merasa, buliran airmata yang jatuh tak mampu tertahan... hati yang begitu ringkih untuk menyampaikan..

"Silahkan ukhti...bila itu jauh membuat hatimu tenang. Sampaikan saja" Jawabku sambil menunggu respon darinya.

"Ukhti....berusaha menerima dan bersyukur atas ketetepanNya ternyata tidak mudah.

Tidak semudah yang ku bayangkan, tidak semudah saat ku menulisnya, munguatkan azzam untuk selalu Ridho dengan Garisnya.

saat kita harus menghadapinya dan mencoba menerimanya salahkah kita kalau masih saja ada tangis dan sakit di hati...apakah itu salah satu tanda karena sebenarnya hati ini blm ikhlas akan ketetapanNya?." tanyanya dengan nada sendu.


Aku masih menerka-nerka, apa yang telah terjadi dengan saudariku... berusaha menerima dan bersyukur atas ketetapanNya? tentang apa?


Perempuan itu,ukh....

sudah seminggu ini hilang rasa makannya, begitu banyak air mata yang ia keluarkan..seharusnya ia bersyukur karena Rabbnya telah mengabulkan doanya, menjawab sebuah doa dan kegelisahan hatinya, sebuah doa yang ia pinta selama ini..tapi lihatlah perempuan itu masih terseok seeeok untuk mencoba menerima ini semua

Entah semenjak kapan rasa itu tiba hadir dalam hati ini,perhatian dan sapaanya yang sering hadir menorehkan sebuah harapan di hati,sejumput doa tlah ku pinta ke Rabbku, kalau memang dia pemilik tulang rusuk ini smoga Allah memberikan kemudahan dan cara sesuai dengan peraturannya. kalau memang dia bukan orangnya, ku pinta smoga Ia segera memberikan jawabnya, sungguh tidak enak memendam ini semua.

Hingga pagi itu Allah tlah memberikan jawabnya, saat ku tahu ia akan datang menghitbah seseorang..kecewa dan sakit ini mungkin tidak akan separah ini.andai ku tahu dari awal Engkau tahu ukhti siapa akhwat yang akan ia khitbah itu?adikku ukh ia akan mengkhitbah adikku..

Sudah semenjak lama memang selalu ku bilang kepada adek, dan orang tua, kalau adek mau menikah duluan monggo tidak apa2.kalau orang tua masih susah menerima ini aku akan membantu memberikan pengertian ke orang tua

Dan sekarang ku harus berusaha tersenyum dan bahagia di hadapan mereka, mendorong mereka untuk terus maju, mencoba mengasih pengertian ke orang tua untuk bisa menirima niat baik mereka, sementara di sisi hatiku yang lain ku terluka ....dan ternyata tidak mudah ukh, ku mohon doanya.


Aku terdiam, dalam penghayatan yang dalam... sungguh bisa merasakan apa yang Ia rasakan tentang harapannya, penantiannya, perasaan terdalamnya. Jika kau berada diposisi ukhti itu apa yang akan kau lakukan?


Lamat-lamat bukan sekedar menahan haru dalam tangis kecil untuk kisah yang terurai. Tapi aku, bisa apa? cukup menjadi pendengar yang baik saat ia membutuhkan teman untuk sekedar meluapkan apa yang dirasa, menghilangkan getir-getir kelu dalam jiwa adalah lebih tepat.


Masih dalam diam yang panjang. Belum ada kata yang mampu kusampaikan padanya. apakah kata itu berisi penyemangat, atau malah sebaliknya?


(sambil mendengar nasyid Nur Kasih-Inteam sepertinya pas)

Bagaikan permata di celahan kaca

Kerdipnya sulit tuk dibedakan

Kepada Mu Tuhan ku pasrah harapan

Moga tak tersalah pilihan

Nur kasih Mu mendamai di kalbu

Jernih setulus tadahan doaku

Rahmati daku dan permintaanku

Untuk bertemu di dalam restu

Karuniakan daku serikandi

Penyejuk di mata penawar di hati

Di dunia dialah penyeri Di syurga menanti dia bidadari

Kekasih sejati teman yang berbudi

Kasihnya bukan keterpaksaan

Bukan jua karena keduniaan/( dunia )

Mekar hidup disiram nur kasih

Ya Allah kurniakanlah kami isteri

Dan anak yang soleh

Sebagai penyejuk mata......

(Mekar hidup ini disirami nur kasih)

Di tangan-Mu Tuhanku sandar impian

Penentu jodoh pertemuan

Seandai dirinya tercipta untukku

Rela ku menjadi miliknya

(Mekar disiram nur kasih)


Setelah sujud terakhir shalat malam yang panjang, tunduk. Ada tetesan tak berbunyi bergulir di atas pipi. Kesunyian itu tiba-tiba datang lagi tanpa meminta izin lebih dahulu.

Rindu dia pada yang belum diketahui namanya. Dia yang akan menggenapkan setengah dien bersama-sama. Dia yang akan dihormati, senyumi, cemberuti, dan dilembuti. Dia yang sepanjang perjalanannya akan kau temani. Hatinya menjerit pelan.."Di mana engkau pangeranku?"


Allah, aku tahu betapa ridho dirinya tunduk pada perintahMU, perintah menundukkan pandangan, perintah mengulurkan jilbab, perintah terus memperbaiki diri dari hari ke hari. Menanti janjiMu ádalah aliran air tersegar yang tak akan putus.

"...Dan wanita2 yang baik ádalah untuk laki2 yang baik dan laki2 yang baik ádalah untuk wanita2 yang baik pula"

(An Nuur:26)


Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. Al Baqarah 2:216)


Aku merasakan kata-kata mutiara itu meluncur deras dari bibirnya. Tak ada kesedihan ataupun kekecewaan di sana, melainkan ketegaran!. Setiap keinginan dan perbuatannya hanya dilandasi untuk mengharap keridhaan Allah, begitu pula dalam menghadapi setiap persoalan,kini ia tak banyak berkeluh kesah melainkan senantiasa tabah dan berusaha menemukan rahasia dibalik cobaan Allah!


Saudariku yang dicintai Allah...

Jangan pernah lelah muliakan dirimu. Bukan untuk dia. Juga bukan untuk dirimu sendiri. Tapi semata hanya untuk Rabb-Mu. Sungguh, itu bagian dari tarbiyah dengan cara yang berbeda. Dan Mahabenar Allah, lelaki mulia itu akan datang atas nama kemuliaan pernikahan. Tanpa kau perlu teriaki, dia telah mendengar dengan kesediaan tertinggi akan seruan lembut Tuhan-Nya, yang disampaikan kepada hamba terkasih dan utusan-Nya..




(Dedicated to Ukhti Fillah di bumi para Nabi, semoga jihadmu mendapat pahala tertinggi di sisiNya..)


Di bumi kota Tanggerang

26 Oktober 2010

diantara tumpukan kertas dan kerjaan yang masih berserakan

semoga sedikit ini terselip hikmah untuk kalian semua yang membaca...

Kamis, 21 Oktober 2010

Jangan Mau Jadi Muslimah 'Pengeluh'

Pernahkah kita menghitung berapa kali kita mengeluh dalam satu hari, mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi. Kalau dibuat daftarnya bisa jadi sepanjang hari kita lebih banyak mengeluh mulai dari hal-hal sepele di rumah sampai hal-hal yang berat di tempat kerja atau dilingkungan.

Adalah hal yang wajar jika sesekali kita mengeluh, karena sudah fitrahnya manusia itu suka berkeluh kesah teringat pada penggalan arti dalam Surat Al-Ma'arij : 19-21

"Sesungguhnya manusia itu diciptakan dengan sifat suka mengeluh. Apabila ditimpa musibah dia mengeluh dan apabila ditimpa kesenangan berupa harta ia jadi kikir."

Jalanan macet kita ngeluh.. di Jakarta mana ada sih yang nggak macet? Tugas di kantor bertambah, kita mengeluh, belum lagi hal-hal lain yang sebenarnya sepele kita keluhkan juga. Seolah semua hal jadi bahan keluhan.

Semua hal yang kita keluhkan hanyalah sebatas urusan dunia, karena ketidakpuasan kita terhadap hal-hal yang bersifat dunia. Kita memang sudah terbiasa banyak mengeluh, hingga terlupa bahwa mensyukuri nikmatNya yang tidak terhitung jauh lebih penting daripada mengeluhkan hal-hal yang luput dan sudah terlewati dari perjalanan hidup kita.

Sejenak saya merasakan muhasabah yang panjang diakhir malam, ternyata sujud panjang dan mengucap syukur jauh lebih nikmat daripada mengeluhkan apa yang kurang dalam diri kita.

Jika ada kegundahan hati.. coba sampaikan pada si Pemilik hati, karena hanya Dia-lah Yang Maha Mengetahui segala sesuatu yang ada dalam hati kita, termasuk kegundahan dalam jiwa kita.

"Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya," (QS Yusuf;86).

Sudah berapa lama kita lewati malam-malam panjang bersamaNya untuk mengeluhkan semua kesusahan dan kesedihan hati kita? Mungkin tidak lebih lama saat kita mengeluhkannya bersama manusia... Astaghfirullah hal adzim..

Dan hari ini Allah menegur saya dengan cara yang indah... lewat sentuhan dan kiriman hadiah nasihat dari saudari saya

"Barang siapa yang bangun di pagi hari dan hanya dunia yang dipikirkannya. sehingga seolah-lah ia tak melihat hak Allah dalam dirinya maka Allah akan menanamkan 4 penyakit :

1. Kebingungan yang tiada putus-putusnya

2. Kesibukan yang tiada pernah ada ujungnya

3. Kebutuhan yang tidak pernah terpenuhi

4. Khayalan yang tidak berujung.

(HR. Imam Thabrani)

From : Ukhti Fillah di Klaten

-Hanya sedikit teguran untuk diri, semoga bisa saling mengingatkan-

Pernahkah kita menghitung berapa kali kita mengeluh dalam satu hari, mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi. Kalau dibuat daftarnya bisa jadi sepanjang hari kita lebih banyak mengeluh mulai dari hal-hal sepele di rumah sampai hal-hal yang berat di tempat kerja atau dilingkungan.

Adalah hal yang wajar jika sesekali kita mengeluh, karena sudah fitrahnya manusia itu suka berkeluh kesah teringat pada penggalan arti dalam Surat Al-Ma'arij : 19-21

"Sesungguhnya manusia itu diciptakan dengan sifat suka mengeluh. Apabila ditimpa musibah dia mengeluh dan apabila ditimpa kesenangan berupa harta ia jadi kikir."

Jalanan macet kita ngeluh.. di Jakarta mana ada sih yang nggak macet? Tugas di kantor bertambah, kita mengeluh, belum lagi hal-hal lain yang sebenarnya sepele kita keluhkan juga. Seolah semua hal jadi bahan keluhan.

Semua hal yang kita keluhkan hanyalah sebatas urusan dunia, karena ketidakpuasan kita terhadap hal-hal yang bersifat dunia. Kita memang sudah terbiasa banyak mengeluh, hingga terlupa bahwa mensyukuri nikmatNya yang tidak terhitung jauh lebih penting daripada mengeluhkan hal-hal yang luput dan sudah terlewati dari perjalanan hidup kita.

Sejenak saya merasakan muhasabah yang panjang diakhir malam, ternyata sujud panjang dan mengucap syukur jauh lebih nikmat daripada mengeluhkan apa yang kurang dalam diri kita.

Jika ada kegundahan hati.. coba sampaikan pada si Pemilik hati, karena hanya Dia-lah Yang Maha Mengetahui segala sesuatu yang ada dalam hati kita, termasuk kegundahan dalam jiwa kita.

"Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya," (QS Yusuf;86).

Sudah berapa lama kita lewati malam-malam panjang bersamaNya untuk mengeluhkan semua kesusahan dan kesedihan hati kita? Mungkin tidak lebih lama saat kita mengeluhkannya bersama manusia... Astaghfirullah hal adzim..

Dan hari ini Allah menegur saya dengan cara yang indah... lewat sentuhan dan kiriman hadiah nasihat dari saudari saya

"Barang siapa yang bangun di pagi hari dan hanya dunia yang dipikirkannya. sehingga seolah-lah ia tak melihat hak Allah dalam dirinya maka Allah akan menanamkan 4 penyakit :

1. Kebingungan yang tiada putus-putusnya

2. Kesibukan yang tiada pernah ada ujungnya

3. Kebutuhan yang tidak pernah terpenuhi

4. Khayalan yang tidak berujung.

(HR. Imam Thabrani)

From : Ukhti Fillah di Klaten

-Hanya sedikit teguran untuk diri, semoga bisa saling mengingatkan-

Jumat, 08 Oktober 2010

Dalam Mihrab Cinta [Sebuah Resensi Karya]

Sukses dengan film Ketika Cinta Bertasbih (KCB) 1 & 2, Sinemart kembali filmkan novel karya Habiburrahman El Shirazy, Dalam Mihrab Cinta. Buat temen2 yang belum punya dan baca bukunya, saya buatkan resensinya. Semoga bermanfaat untuk menambah khasanah sastra kita!


Tema cerita cinta penggugah jiwa kembali diangkat oleh Habiburrahman El Shirazy. Novelet “Dalam Mihrab Cinta” (DMC) ini menambah deretan panjang novel “pembangun jiwa” yang telah ditulisnya yaitu ''"Ayat-ayat Cinta, Pudarnya Pesona Cleopatra, dan Ketika Cinta Bertasbih (1)''''. Karya-karya lainnya yang berupa kisah-kisah islami berjudul “''Ketika Cinta Berbuah Surga dan Di Atas Sajadah Cinta''''.


Novel Ayat-Ayat Cinta berhasil melambungkan namanya sebagai icon penulis novel-novel islami paling digemari. Dari novelnya ini, penulis yang dikenal dengan panggilan Kang Abik berhasil mendapatkan berbagai penghargaan bergengsi seperti, Pena Award 2005, The Most Favorite Book and Writer 2005, dan IBF Award 6. Novel Ketika Cinta Bertasbih (1) kembali menyajarkan beliau sebagai penulis buku-buku best seller. Belum genap sebulan novel ini beredar telah terjual 30.000 eksemplar. Akankah kumpulan novelet ini mendulang sukses juga?

Seperti disebutkan dalam pengantarnya, buku DMC ini sebenarnya siap diluncurkan bersamaan dengan Dwilogi Ketika Cinta Bertasbih (1). Namun karena pertimbangan tertentu (marketing) Republika merilis novelet ini pada bulan Juni 2001 (cetakan pertama) atau beberapa bulan setelah novel Ketika Cinta Bertasbih (1) meluncur di pasaran.

Buku ini pada dasarnya berisi 3 novelet dengan judul, tokoh dan setting yang berbeda. Ketiga novelet ini ialah : “Takbir Cinta Zahrana”, “Dalam Mihrab Cinta” dan “Mahkota Cinta”. Novelet pertama mengisahkan pergulatan Zahrana, seorang dosen universitas swasta di Semarang, dalam menemukan pasangan hidupnya. Zahrana digambarkan mewakili perempuan yang telat menikah karena lebih mementingkan karir akademiknya. Keteguhan dan ketegarannya diuji, walaupun usia sudah tidak muda lagi, namun Ia tidak serta merta menerima pinangan atasannya yang kaya, punya jabatan, namun buruk akhlaknya. Penolakan ini membawa terror demi terror bagi Zahrana dan mencapai puncaknya ketika calon suaminya Rahmad terbunuh satu hari sebelum pernikahannya berlangsung. Disinilah keteguhan iman Zahrana diuji bahwa Allah Maha Mengetahui takdir jodohnya, sehingga ia dipertemukan dengan jodoh yang tidak diduga-duga sebelumnya.



Novelet kedua “Dalam Mihrab Cinta” adalah ringkasan atau petikan dari roman “Dalam Mihrab Cinta” yang akan diterbitkan kemudian. Kang Abik ingin memperkenalkan sekilas tentang tokoh dan setting Roman Dalam Mihrab Cinta dalam bentuk novelet. Meskipun demikian, novelet ini tetap menyajikan cerita utuh yaitu tentang perjalanan seorang santri Syamsul yang difitnah, dikeluarkan dari pondok pesantren Al Furqon. Sisi kelam kehidupan Syamsul mendominasi awal-awal cerita, buah dari rasa dizalimi oleh sahabat yang semula dipercayainya, ditambah hukuman dari pesantren dan tekanan dari keluarganya. Syamsul yang bercita-cita ingin menjadi da’i akhirnya berhasil bangkit dan menjalani hidup sebagai seorang guru ngaji. Keinginan untuk kembali ke jalan yang lurus, sebersit keinginan membalas ke-zaliman bekas sahabatnya, menumbuhkan tekad untuk bangkit dan semangat pembuktian diri luar biasa, sehingga ia bisa menemukan kembali jalan kesholehan dan menjadi da’i yang terkenal.


Novelet ketiga berjudul “Mahkota Cinta”, diangkat dari hasil riset kecil tentang kehidupan mahasiswa pasca sarjana Indonesia yang menempuh studi di Malaysia, khususnya di Universiti Malaya. Jika dua novelet pertama mengambil tempat di kota-kota Indonesia, novelet ini mengambarkan perjalanan anak muda “Zul” yang merantau di Kualalumpur Malaysia. Kehidupan TKW dan mahasiswa Indonesia dengan menarik disajikan oleh Kang Abik. Kita seolah-olah diajak bertamasya ke luar negeri, melihat kehidupan kualalumpur dan Universiti Malaya melalui novel ini. Cerita yang ketiga ini merupakan yang terpanjang dinarasikan oleh Kang Abik. Lebih dari separuh tebal buku, diperuntukkan untuk mengupas tuntas kehidupan dan perjuangan Ahmad Zul menjadi mahasiswa sambil bekerja di Malaysia. Jika ada hal yang mengganggu adalah detail umur tokoh utama dalam cerita yaitu Zul dan Mbak Mari yang pada awalnya digambarkan sebagai adik dan kakak (umur Zul ditaksir 22 tahun oleh Mbak Mari, sedangkan Mbak Mari masuk 27 tahun atau ditaksir berumur di atas 30-an lebih oleh Zul), namun pada akhir cerita berbalik ternyata umur Mbak Mari yang mempunyai nama lain Agustina Siti Mariana Maulida, 28 tahun sedangkan Zul berumur 30 tahun.


Tema cinta dan dakwah tetap menjadi ruh dari tiga novelet di atas. Dengan apik Kang Abik mengajak pembaca menikmati gejolak rasa masing-masing tokoh, sambil digugah untuk selalu menjadikan Islam sebagai tuntunan hidup dalam mencari pasangan dan kehidupan yang lebih luasa.


Berbeda dengan tokoh di Ayat-Ayat Cinta yang digambarkan sangat sempurna

dan matang secara ghirah dan ilmu agama, tokoh-tokoh dalam novelet-novelet di atas digambarkan sebagai “orang biasa” yang mengalami pasang-surut iman dan akhirnya menemukan jatidirinya kembali sebagai seorang muslim yang taat.


Namun demikian, dari sisi “ending” ada satu kesamaan dari novel-novel Kang Abik. Dia tidak ingin membuat pembaca kecewa, sehingga setelah pergulatan yang berat, sang tokoh akhirnya menemukan cintanya dan berakhir bahagia.


Bagi penggemar novel-novel Islami, buku ini layak baca dan perlu dibaca. Selamat menikmati. (Shita)

Sukses dengan film Ketika Cinta Bertasbih (KCB) 1 & 2, Sinemart kembali filmkan novel karya Habiburrahman El Shirazy, Dalam Mihrab Cinta. Buat temen2 yang belum punya dan baca bukunya, saya buatkan resensinya. Semoga bermanfaat untuk menambah khasanah sastra kita!


Tema cerita cinta penggugah jiwa kembali diangkat oleh Habiburrahman El Shirazy. Novelet “Dalam Mihrab Cinta” (DMC) ini menambah deretan panjang novel “pembangun jiwa” yang telah ditulisnya yaitu ''"Ayat-ayat Cinta, Pudarnya Pesona Cleopatra, dan Ketika Cinta Bertasbih (1)''''. Karya-karya lainnya yang berupa kisah-kisah islami berjudul “''Ketika Cinta Berbuah Surga dan Di Atas Sajadah Cinta''''.


Novel Ayat-Ayat Cinta berhasil melambungkan namanya sebagai icon penulis novel-novel islami paling digemari. Dari novelnya ini, penulis yang dikenal dengan panggilan Kang Abik berhasil mendapatkan berbagai penghargaan bergengsi seperti, Pena Award 2005, The Most Favorite Book and Writer 2005, dan IBF Award 6. Novel Ketika Cinta Bertasbih (1) kembali menyajarkan beliau sebagai penulis buku-buku best seller. Belum genap sebulan novel ini beredar telah terjual 30.000 eksemplar. Akankah kumpulan novelet ini mendulang sukses juga?

Seperti disebutkan dalam pengantarnya, buku DMC ini sebenarnya siap diluncurkan bersamaan dengan Dwilogi Ketika Cinta Bertasbih (1). Namun karena pertimbangan tertentu (marketing) Republika merilis novelet ini pada bulan Juni 2001 (cetakan pertama) atau beberapa bulan setelah novel Ketika Cinta Bertasbih (1) meluncur di pasaran.

Buku ini pada dasarnya berisi 3 novelet dengan judul, tokoh dan setting yang berbeda. Ketiga novelet ini ialah : “Takbir Cinta Zahrana”, “Dalam Mihrab Cinta” dan “Mahkota Cinta”. Novelet pertama mengisahkan pergulatan Zahrana, seorang dosen universitas swasta di Semarang, dalam menemukan pasangan hidupnya. Zahrana digambarkan mewakili perempuan yang telat menikah karena lebih mementingkan karir akademiknya. Keteguhan dan ketegarannya diuji, walaupun usia sudah tidak muda lagi, namun Ia tidak serta merta menerima pinangan atasannya yang kaya, punya jabatan, namun buruk akhlaknya. Penolakan ini membawa terror demi terror bagi Zahrana dan mencapai puncaknya ketika calon suaminya Rahmad terbunuh satu hari sebelum pernikahannya berlangsung. Disinilah keteguhan iman Zahrana diuji bahwa Allah Maha Mengetahui takdir jodohnya, sehingga ia dipertemukan dengan jodoh yang tidak diduga-duga sebelumnya.



Novelet kedua “Dalam Mihrab Cinta” adalah ringkasan atau petikan dari roman “Dalam Mihrab Cinta” yang akan diterbitkan kemudian. Kang Abik ingin memperkenalkan sekilas tentang tokoh dan setting Roman Dalam Mihrab Cinta dalam bentuk novelet. Meskipun demikian, novelet ini tetap menyajikan cerita utuh yaitu tentang perjalanan seorang santri Syamsul yang difitnah, dikeluarkan dari pondok pesantren Al Furqon. Sisi kelam kehidupan Syamsul mendominasi awal-awal cerita, buah dari rasa dizalimi oleh sahabat yang semula dipercayainya, ditambah hukuman dari pesantren dan tekanan dari keluarganya. Syamsul yang bercita-cita ingin menjadi da’i akhirnya berhasil bangkit dan menjalani hidup sebagai seorang guru ngaji. Keinginan untuk kembali ke jalan yang lurus, sebersit keinginan membalas ke-zaliman bekas sahabatnya, menumbuhkan tekad untuk bangkit dan semangat pembuktian diri luar biasa, sehingga ia bisa menemukan kembali jalan kesholehan dan menjadi da’i yang terkenal.


Novelet ketiga berjudul “Mahkota Cinta”, diangkat dari hasil riset kecil tentang kehidupan mahasiswa pasca sarjana Indonesia yang menempuh studi di Malaysia, khususnya di Universiti Malaya. Jika dua novelet pertama mengambil tempat di kota-kota Indonesia, novelet ini mengambarkan perjalanan anak muda “Zul” yang merantau di Kualalumpur Malaysia. Kehidupan TKW dan mahasiswa Indonesia dengan menarik disajikan oleh Kang Abik. Kita seolah-olah diajak bertamasya ke luar negeri, melihat kehidupan kualalumpur dan Universiti Malaya melalui novel ini. Cerita yang ketiga ini merupakan yang terpanjang dinarasikan oleh Kang Abik. Lebih dari separuh tebal buku, diperuntukkan untuk mengupas tuntas kehidupan dan perjuangan Ahmad Zul menjadi mahasiswa sambil bekerja di Malaysia. Jika ada hal yang mengganggu adalah detail umur tokoh utama dalam cerita yaitu Zul dan Mbak Mari yang pada awalnya digambarkan sebagai adik dan kakak (umur Zul ditaksir 22 tahun oleh Mbak Mari, sedangkan Mbak Mari masuk 27 tahun atau ditaksir berumur di atas 30-an lebih oleh Zul), namun pada akhir cerita berbalik ternyata umur Mbak Mari yang mempunyai nama lain Agustina Siti Mariana Maulida, 28 tahun sedangkan Zul berumur 30 tahun.


Tema cinta dan dakwah tetap menjadi ruh dari tiga novelet di atas. Dengan apik Kang Abik mengajak pembaca menikmati gejolak rasa masing-masing tokoh, sambil digugah untuk selalu menjadikan Islam sebagai tuntunan hidup dalam mencari pasangan dan kehidupan yang lebih luasa.


Berbeda dengan tokoh di Ayat-Ayat Cinta yang digambarkan sangat sempurna

dan matang secara ghirah dan ilmu agama, tokoh-tokoh dalam novelet-novelet di atas digambarkan sebagai “orang biasa” yang mengalami pasang-surut iman dan akhirnya menemukan jatidirinya kembali sebagai seorang muslim yang taat.


Namun demikian, dari sisi “ending” ada satu kesamaan dari novel-novel Kang Abik. Dia tidak ingin membuat pembaca kecewa, sehingga setelah pergulatan yang berat, sang tokoh akhirnya menemukan cintanya dan berakhir bahagia.


Bagi penggemar novel-novel Islami, buku ini layak baca dan perlu dibaca. Selamat menikmati. (Shita)

Sedikit Diantara Banyaknya Peran Ayah Dalam Keluarga

Sebuah survei di Amerika menyebut, kini peran ayah dalam keluarga meningkat. Berbagai kajian para psikolog menyatakan, ayah kini mengambil peranan sangat besar dalam aktivitas rumah tangga maupun dalam proses mendidik anak. Para pria juga mengambil cuti saat “menjadi ayah” karena ingin memberikan waktu lebih besar bagi bayinya.


Peran ayah dalam keluarga yang dimaksud di sini adalah aktif dalam membentuk perkembangan emosi anak, menanamkan nilai-nilai hidup, dan kepercayaan dalam keluarga.


Berbagai riset tentang perkembangan anak menunjukkan, pengaruh seorang ayah dimulai sejak usia yang sangat dini. Misalnya ditemukan, bayi laki-laki berusia lima bulan yang banyak menghabiskan waktu dengan ayahnya, menjadi jauh lebih nyaman berada di antara orang-orang asing dewasa. Bayi ini lebih banyak mengoceh dan menunjukkan kerelaan untuk digendong dibandingkan dengan bayi yang ayahnya kurang terlibat.


Terlepas dari itu, di sini peranan ibu tetaplah penting. Namun dalam riset ini juga ditemukan, kualitas hubungan dengan ibu bukan merupakan peramal yang sama kuat mengenai keberhasilan atau kegagalan anak dibanding dengan kualitas hubungan anak dengan para ayah. Kedekatan seorang ayah setelah kelahiran bayinya juga biasanya berkelanjutan hingga masa kanak-kanak, remaja dan dewasa. Dari pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa peran aktif ayah dalam mendidik anak ternyata menimbulkan perbedaan yang besar bagi anak-anak dan bisa menentukan masa depan mereka.


Sebagaimana diketahui, tantangan pergaulan remaja sekarang jauh berbeda dengan dulu. Narkoba, tawuran, gang motor yang kriminal, pornografi dan pornoaksi adalah bentuk kenakalan remaja yang sudah menunggu di pintu sekolah anak-anak. Bahkan mungkin sudah berada di dalam rumah. Levant (dalam Adelia, 2006) menyatakan bahwa pria punya kemampuan mengenali dan menanggapi emosi anak-anaknya secara konstruktif dibanding wanita. Sehingga, dengan besarnya tantangan kenakalan yang akan dihadapi anak atau remaja nanti, maka tidak bisa tidak, peranan ayah dalam mendidik anak mutlak dilaksanakan.


Di Indonesia, memang begitu banyak buku maupun artikel dari majalah bertemakan “ayah” diminati pasangan muda, terutama prianya. Namun, sejauh mana perkembangan peranan para ayah ini, belum diketahui karena minimnya penelitian tentang keayahan di Indonesia. Sebaliknya, banyak orang tua, terutama Ayah yang hanya menuntut prestasi pada remajanya, tanpa mempedulikan permasalahan-permasalahan yang dihadapi para remajanya dalam mewujudkan keinginan orang tuanya.


Banyak Ayah yang memukul, memarahi dan melakukan kekerasan pada anak nya karena mendapat nilai jelek. Orang tua berpikir bahwa dengan dimarahi maka remajanya akan menjadi baik. Sayangnya orang tua yang suka marah dan apalagi memukul, justru akan membuat para remajanya tidak betah di rumah. Santrock (1995) memberikan penjelasan, ketika remaja tidak betah dengan kondisi rumah (sikap orang tua yang selalu mencelah bukan memotivasi) maka selanjutnya remaja akan mencari kelompok di luar rumah yang dapat menerima dirinya. Dari kelompok tersebut kemudian sering muncul perilaku-perilaku yang melanggar aturan (kenakalan remaja), seperti berkelahi, mencuri, membolos dan perilaku-perilaku negatif lainnya.


Bagaimana menurutmu???



Sebuah survei di Amerika menyebut, kini peran ayah dalam keluarga meningkat. Berbagai kajian para psikolog menyatakan, ayah kini mengambil peranan sangat besar dalam aktivitas rumah tangga maupun dalam proses mendidik anak. Para pria juga mengambil cuti saat “menjadi ayah” karena ingin memberikan waktu lebih besar bagi bayinya.


Peran ayah dalam keluarga yang dimaksud di sini adalah aktif dalam membentuk perkembangan emosi anak, menanamkan nilai-nilai hidup, dan kepercayaan dalam keluarga.


Berbagai riset tentang perkembangan anak menunjukkan, pengaruh seorang ayah dimulai sejak usia yang sangat dini. Misalnya ditemukan, bayi laki-laki berusia lima bulan yang banyak menghabiskan waktu dengan ayahnya, menjadi jauh lebih nyaman berada di antara orang-orang asing dewasa. Bayi ini lebih banyak mengoceh dan menunjukkan kerelaan untuk digendong dibandingkan dengan bayi yang ayahnya kurang terlibat.


Terlepas dari itu, di sini peranan ibu tetaplah penting. Namun dalam riset ini juga ditemukan, kualitas hubungan dengan ibu bukan merupakan peramal yang sama kuat mengenai keberhasilan atau kegagalan anak dibanding dengan kualitas hubungan anak dengan para ayah. Kedekatan seorang ayah setelah kelahiran bayinya juga biasanya berkelanjutan hingga masa kanak-kanak, remaja dan dewasa. Dari pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa peran aktif ayah dalam mendidik anak ternyata menimbulkan perbedaan yang besar bagi anak-anak dan bisa menentukan masa depan mereka.


Sebagaimana diketahui, tantangan pergaulan remaja sekarang jauh berbeda dengan dulu. Narkoba, tawuran, gang motor yang kriminal, pornografi dan pornoaksi adalah bentuk kenakalan remaja yang sudah menunggu di pintu sekolah anak-anak. Bahkan mungkin sudah berada di dalam rumah. Levant (dalam Adelia, 2006) menyatakan bahwa pria punya kemampuan mengenali dan menanggapi emosi anak-anaknya secara konstruktif dibanding wanita. Sehingga, dengan besarnya tantangan kenakalan yang akan dihadapi anak atau remaja nanti, maka tidak bisa tidak, peranan ayah dalam mendidik anak mutlak dilaksanakan.


Di Indonesia, memang begitu banyak buku maupun artikel dari majalah bertemakan “ayah” diminati pasangan muda, terutama prianya. Namun, sejauh mana perkembangan peranan para ayah ini, belum diketahui karena minimnya penelitian tentang keayahan di Indonesia. Sebaliknya, banyak orang tua, terutama Ayah yang hanya menuntut prestasi pada remajanya, tanpa mempedulikan permasalahan-permasalahan yang dihadapi para remajanya dalam mewujudkan keinginan orang tuanya.


Banyak Ayah yang memukul, memarahi dan melakukan kekerasan pada anak nya karena mendapat nilai jelek. Orang tua berpikir bahwa dengan dimarahi maka remajanya akan menjadi baik. Sayangnya orang tua yang suka marah dan apalagi memukul, justru akan membuat para remajanya tidak betah di rumah. Santrock (1995) memberikan penjelasan, ketika remaja tidak betah dengan kondisi rumah (sikap orang tua yang selalu mencelah bukan memotivasi) maka selanjutnya remaja akan mencari kelompok di luar rumah yang dapat menerima dirinya. Dari kelompok tersebut kemudian sering muncul perilaku-perilaku yang melanggar aturan (kenakalan remaja), seperti berkelahi, mencuri, membolos dan perilaku-perilaku negatif lainnya.


Bagaimana menurutmu???



Calon Bintang Penghafal Qur'an

Bermula dari pengumuman yang tertera di sudut masjid yang membuka kesempatan program tahsin-tahfiz for kids, saya pun tertarik untuk ikut mendaftarkan adik bungsu saya my lovely litle sis Habibah Ummi Asykary

"Kamu mau jadi seperti ustazah qonita, De? Si penghafal qur'an itu? (hhehe, teringat film KCB dimana pemeran Ustazah Qonita dalam cerita sebagai Hafizoh, biasanya anak-anak lebih senang melihat contoh konkretnya)

"Jadi aku ngafalin qur'an gitu, Ka? Tanyanya polos

"Iya, menghafal qur'an tapi sebelum menghafal kamu belajar dulu.."

"Oooh, kan tiap hari aku udah belajar qur'an di bimbel, Ka. Trus di sekolah juga di suruh hapalin surat-surat pendek." Ucapnya kemudian

"Hmm, iya benar sayang.. tapi belajar tahsin-tahfiz ini beda..gimana mau ndak? Kalau mau coba tanya sama kakak di bimbel untuk Les tahsin-tahfiz buka hari apa aja, trus bayar berapa. nanti kakak daftarin deh.. Okeh??" ajakku sedikit memaksa

Beberapa hari kemudian setelah perbincangan itu, usai pulang kantor

"Tadi aku sudah tanya tentang les taksin itu, ka.. (bibah bilang tahsin malah taksin.hehee)

"Oh, iya... terus gimana? apa kata kakaknya? "

Setelah bibah menjelaskan hari apa aja dia harus les tahsin, lengkap dengan uang pembayarannya.

"Kalau waktunya bentrok dengan les di bimbel lebih baik kamu fokus les tahsin aja, Bah. Jadi gimana kamu mau ndak?

"Aku mau jadi calon aja deh, Ka!", ungkapnya

"Hah?! Calon? Maksudnya calon apa, bah?" tanyaku makin penasaran dengan jawabannya

"Iya, kalau ustadzah qonita itu kan udah hafizoh ya, ka? nah aku calon hafizoh aja deh. jadi aku gapapa dong kalau engga ikut les tahsin-tahfiz. hahahaaa", jawabnya sambil tertawa lepas

"Gleeeekkkkk! sambil ikut tersenyum lepas

Awalnya saya agak bingung dengan jawaban Bibah. Tapi rupanya saya paham maksudnya.

Hohoooo..., ternyata maksud dia itu intinya kalau dia sebenarnya belum ingin untuk ikut les tahsin-tahfiz jadi jawaban itu hanya sebagai celetukan kecil aja. Ternyata oh ternyata cara jitu saya kurang ampuh biar si bungsu familiar dengan alqur'an.

Saudara/iku adakah yang ingin berbagi cerita atau sharing pengalaman bagaimana cara jitu yg sering kalian gunakan biar si "kecil" familiar dengan alqur'an, mau belajar alqur'an apalagi sampai tahap senang menghafal alqur'an. ^_^




Bermula dari pengumuman yang tertera di sudut masjid yang membuka kesempatan program tahsin-tahfiz for kids, saya pun tertarik untuk ikut mendaftarkan adik bungsu saya my lovely litle sis Habibah Ummi Asykary

"Kamu mau jadi seperti ustazah qonita, De? Si penghafal qur'an itu? (hhehe, teringat film KCB dimana pemeran Ustazah Qonita dalam cerita sebagai Hafizoh, biasanya anak-anak lebih senang melihat contoh konkretnya)

"Jadi aku ngafalin qur'an gitu, Ka? Tanyanya polos

"Iya, menghafal qur'an tapi sebelum menghafal kamu belajar dulu.."

"Oooh, kan tiap hari aku udah belajar qur'an di bimbel, Ka. Trus di sekolah juga di suruh hapalin surat-surat pendek." Ucapnya kemudian

"Hmm, iya benar sayang.. tapi belajar tahsin-tahfiz ini beda..gimana mau ndak? Kalau mau coba tanya sama kakak di bimbel untuk Les tahsin-tahfiz buka hari apa aja, trus bayar berapa. nanti kakak daftarin deh.. Okeh??" ajakku sedikit memaksa

Beberapa hari kemudian setelah perbincangan itu, usai pulang kantor

"Tadi aku sudah tanya tentang les taksin itu, ka.. (bibah bilang tahsin malah taksin.hehee)

"Oh, iya... terus gimana? apa kata kakaknya? "

Setelah bibah menjelaskan hari apa aja dia harus les tahsin, lengkap dengan uang pembayarannya.

"Kalau waktunya bentrok dengan les di bimbel lebih baik kamu fokus les tahsin aja, Bah. Jadi gimana kamu mau ndak?

"Aku mau jadi calon aja deh, Ka!", ungkapnya

"Hah?! Calon? Maksudnya calon apa, bah?" tanyaku makin penasaran dengan jawabannya

"Iya, kalau ustadzah qonita itu kan udah hafizoh ya, ka? nah aku calon hafizoh aja deh. jadi aku gapapa dong kalau engga ikut les tahsin-tahfiz. hahahaaa", jawabnya sambil tertawa lepas

"Gleeeekkkkk! sambil ikut tersenyum lepas

Awalnya saya agak bingung dengan jawaban Bibah. Tapi rupanya saya paham maksudnya.

Hohoooo..., ternyata maksud dia itu intinya kalau dia sebenarnya belum ingin untuk ikut les tahsin-tahfiz jadi jawaban itu hanya sebagai celetukan kecil aja. Ternyata oh ternyata cara jitu saya kurang ampuh biar si bungsu familiar dengan alqur'an.

Saudara/iku adakah yang ingin berbagi cerita atau sharing pengalaman bagaimana cara jitu yg sering kalian gunakan biar si "kecil" familiar dengan alqur'an, mau belajar alqur'an apalagi sampai tahap senang menghafal alqur'an. ^_^




Rabu, 06 Oktober 2010

Aku Ingin Berjalan Diatas RencanaMu


Jika kita menanam sesuatu, tentunya kita harus merawatnya dan memanjakan tanaman kita dengan menyiraminya,tentunya dalam menyiram tanaman itu ada metodenya,kita tidak bisa menyiram tanaman dengan terus-menerus tanpa memperdulikan kadar airnya,tentunya tanaman itu akan mati,karena unsur-unsur penting ditanah akan hanyut terbawa air dan tanaman itu tidak bisa mendapatkan makanan yang baik bagi pertumbuhannya.


Begitu juga dengan Allah dalam mengabulkan do’a Kita,Dia punya metode tersendiri,memang benar setiap pengabulan doa merupakan penyubur keimanan kita,tapi jika setiap do’a selalu dikabulkan tanpa memerdulikan kadar keimanan seseorang ,tentu ada hamba yang hatinya akan mati,kenapa? karena dia akan berfikir tanpa iman saja Allah akan mengabulkan Do’a kita,maka buat apa dia beriman dan melakukan perintah Allah.


Begitulah manusia kalau setiap permohonanya atau keinginan manusia dapat dengan muda terwujud,justru itu bisa mematikan hatinya.karena hatinya akan terlena lalu lupa bahwa Allahlah yang mengabulkan keinginannyan itu.Padahal ada keinginan yang tidak terpenuhi bisa mengingatkan kita bahwa Allahlah yang maha berkuasa atas segala kehendakNYA dan Maha berkehendak atas segala kekuasaaNYA.


Dengan demikian, kita kan selalu mengingat dosa kita memohon ampunaNYA,dan berdo’a mengharap kebahagiaNYA.inilah unsur-unsur penting bagi keimanan kita.


Tentu Allah TIDAK AKAN PERNAH INGKAR JANJI, bagi orang-orang yang sabar dalam berdo’a ,dengan tetap meyakini bahwa rencana Allah pasti sangat indah dan keindahan itu tidak bisa disamai dengan keindahan rencana buatan manusia yang bisa benar dan juga salah.



Yaa Allah aku memohon cintaMU,dan Cinta Orang yang mencintaiMu,dan cinta terhadap amalan yang akan mendekatkanku Ke CintaMU.




Dusun Jatipadang, Jakarta
Sudut Ibukota, Penuh Harapan....

Oktober, 2010




Jika kita menanam sesuatu, tentunya kita harus merawatnya dan memanjakan tanaman kita dengan menyiraminya,tentunya dalam menyiram tanaman itu ada metodenya,kita tidak bisa menyiram tanaman dengan terus-menerus tanpa memperdulikan kadar airnya,tentunya tanaman itu akan mati,karena unsur-unsur penting ditanah akan hanyut terbawa air dan tanaman itu tidak bisa mendapatkan makanan yang baik bagi pertumbuhannya.


Begitu juga dengan Allah dalam mengabulkan do’a Kita,Dia punya metode tersendiri,memang benar setiap pengabulan doa merupakan penyubur keimanan kita,tapi jika setiap do’a selalu dikabulkan tanpa memerdulikan kadar keimanan seseorang ,tentu ada hamba yang hatinya akan mati,kenapa? karena dia akan berfikir tanpa iman saja Allah akan mengabulkan Do’a kita,maka buat apa dia beriman dan melakukan perintah Allah.


Begitulah manusia kalau setiap permohonanya atau keinginan manusia dapat dengan muda terwujud,justru itu bisa mematikan hatinya.karena hatinya akan terlena lalu lupa bahwa Allahlah yang mengabulkan keinginannyan itu.Padahal ada keinginan yang tidak terpenuhi bisa mengingatkan kita bahwa Allahlah yang maha berkuasa atas segala kehendakNYA dan Maha berkehendak atas segala kekuasaaNYA.


Dengan demikian, kita kan selalu mengingat dosa kita memohon ampunaNYA,dan berdo’a mengharap kebahagiaNYA.inilah unsur-unsur penting bagi keimanan kita.


Tentu Allah TIDAK AKAN PERNAH INGKAR JANJI, bagi orang-orang yang sabar dalam berdo’a ,dengan tetap meyakini bahwa rencana Allah pasti sangat indah dan keindahan itu tidak bisa disamai dengan keindahan rencana buatan manusia yang bisa benar dan juga salah.



Yaa Allah aku memohon cintaMU,dan Cinta Orang yang mencintaiMu,dan cinta terhadap amalan yang akan mendekatkanku Ke CintaMU.




Dusun Jatipadang, Jakarta
Sudut Ibukota, Penuh Harapan....

Oktober, 2010



Prasangka-Prasangka..., Aah Positif Saja!


Perjalanan hidup saya tidak mulus. Bahkan sangat berliku. Mungkin kalian pernah merasakan hal seperti itu bukan? Bahkan saya takjub sendiri dengan berbagai persoalan yang menghimpit, saya masih bisa bertahan hingga sekarang.


Persoalan bukan saya menyangkut diri sendiri, tapi dari berbagai hal lainnya, mulai dari persoalan pekerjaan, persoalan keluarga, hingga persoalan remeh temeh yang datang tak diundang. Jika saya berhasil mencatatkan seluruh persoalan hidup saya, mungkin tidak cukup dengan novel setebal 500 halaman. So complicated!


Bersyukur, atas setiap persoalan yang saya alami, saya tidak pernah fokus pada persoalan itu, saya selalu fokus pada solusi memecahkan persoalan. Ya, sebagai manusia saya juga merasa berat dengan berbagai persoalan itu, bahkan tak jarang saya menangis. Tapi, setelah itu saya kembali tegar berdiri dan kembali pada PRASANGKA POSITIF.


Saya menyakini prasangka positif akan membantu saya untuk menjemput apa yang saya prasangkakan. Ketika saya sedang berada pada sebuah tekanan atasan, prasangka positif saya adalah saat itu atasan sedang memiliki masalah pribadi dan semuanya akan baik?baik saja. Ketika dengan sengaja ada yang menghina saya, maka prasangka positif saya adalah bahwa mungkin dia sedang marah, sehingga tidak tahu bahwa yang dia katakan menyakiti saya. Ketika saya menemukan keganjilan pada orang lain, maka prasangka positif saya adalah setiap orang memiliki keunikan tersendiri. Ketika keluarga kami ditimpa badai kesulitan, maka prasangka positif saya adalah keadaan ini tidak akan bertahan lama karena kami selalu mengusahakan untuk hidup yang lebih baik.


Sejujurnya, pernah juga saya menyadari bahwa prasangka negatif begitu kuatnya dalam pikiran, misalnya ketika saya sedang dipojokkan, saya diadudombakan, dan berbagai hal lainnya yang membuat prasangka positif saya dikalahkan oleh rasa sakit hati. Saya juga syukuri hal itu, ketika prasangka buruk datang maka artinya saya harus belajar sekuat tenaga untuk mengalihkannya pada prasangka positif, dan ini bukan persoalan gampang. Tapi, saya tidak mau kalah pada prasangka negatif karena bisa prasangka negatif ternyata hanya membuat diri semakin sakit dan tertekan.


Kembali, saya mengingat pada berbagai kemenangan yang saya peroleh karena prasangka positif. Prasangka positif mengantarkan kita pada kenyataan terbaik yang kita inginkan. Lantas, bagaimana mengolah prasangka negatif menjadi prasangka positif?

1. Jangan biarkan diri Anda tersiksa Semua orang ingin bahagia dan sumber kebahagiaan itu ternyata dari diri Anda sendiri. Jangan biarkan Anda tidak bahagia hanya karena kerikil?kerikil di depan Anda, jika Anda terlalu berprasangka buruk pada setiap hal sudah pasti Anda tidak akan bahagia. Banyak keluhan yang akhirnya keluar dari mulut Anda, dan sudah bisa dibayangkan betapa tersiksanya hati Anda. Apakah itu yang Anda inginkan? Tentu tidak bukan? Kalau begitu mulailah berprasangka positif pada setiap hal karena artinya Anda melepaskan diri dari siksaan hati.

2. Kuatkan keyakinan diri, Kuatkan keyakinan diri Anda bahwa hidup Anda, langkah Anda, dan siapapun Anda berguna. Anda memiliki kewajiban untuk menghargai setiap inci tubuh Anda, menghargai setiap pemikiran diri, dan menghargai setiap argumentasi yang diberikan pada Anda dengan penuh keyakinan bahwa itulah yang terbaik. Ketika Anda mendapatkan hentakan yang menyurutkan semangat, kembalilah melangkah dengan keyakinan diri. Dengan kekuatan keyakinan diri maka prasangka positif akan berjalan beriringan. Ketika ada yang menghina Anda maka prasangka positif Anda adalah dia tidak tahu siapa Anda.

3. Tingkatkan percaya diri, Kerapkali prasangka negatif hadir karena Anda kurang percaya diri. Misalnya, Anda kurang percaya diri dengan salah satu bagian tubuh Anda, ketika ada yang memperhatikan Anda, Anda langsung berprasangka negatif bahwa orang itu sedang melecehkan bagian tubuh Anda dan tentu ini akan mengusik Anda. Padahal? Jika prasangka positif Anda yang muncul Anda bisa menyimpulkan bahwa tidak ada masalah dengan Anda, bahkan mungkin orang itu merasa Anda istimewa dan dengan prasangka positif Anda tetap merasa nyaman.

4. Teruslah Belajar, Jangan berhenti belajar mengasah prasangka. Mulailah menata rasangka?prasangka negative menjadi prasangka?prasangka positif yang membuat hidup Anda lebih baik.



Manfaat Prasangka Positif

1. Berserinya wajah Anda, Orang yang memiliki prasangka positif akan selalu tampil dengan senyum. Wajahnya selalu memikat siapa saja. Mungkin saja dia tidak cantik atau tampan tapi wajahnya yang berseri sungguh sedap dipandang.

2. Nyamannya Hati Anda, Kalau prasangka positif sudah sedemikian kentalnya dalam pikiran Anda maka bisa dipastikan kenyamanan hidup jadi milik Anda. Anda tidak akan terganggu dengan remeh temeh persoalan dalam hidup Anda, Anda sangat menikmati hidup Anda apapun adanya. Sungguh nyaman hati Anda!

3. Memperluas Shilaturahmi, Prasangka?prasangka positif menghadirkan banyak sahabat di samping Anda, mereka nyaman berada di dekat Anda, bahkan mereka akan terkontaminasi aura positif Anda. Kenyamanan orang di dekat Anda akan menarik mereka untuk setia pada Anda bahkan mereka tidak canggung mengenalkan Anda pada sahabat mereka. Sudah pasti, shilaturahmi Anda akan sedemikian luasnya.

4. Tercapainya keinginan Anda, Prasangka positif akan membawa Anda pada kenyataan yang Anda inginkan. Allah akan mengabulkan setiap prasangka umatNya, jika prasangka Anda buruk maka buruk pula hasilnya, jika prasangka Anda baik, maka kebaikan yang dicapai.


Nah, selamat berprasangka positif dan dapatkan hasil yang luar biasa untuk Anda yang luar biasa!



Ciputat, Tanggerang
Oktober 2010

Perjalanan hidup saya tidak mulus. Bahkan sangat berliku. Mungkin kalian pernah merasakan hal seperti itu bukan? Bahkan saya takjub sendiri dengan berbagai persoalan yang menghimpit, saya masih bisa bertahan hingga sekarang.


Persoalan bukan saya menyangkut diri sendiri, tapi dari berbagai hal lainnya, mulai dari persoalan pekerjaan, persoalan keluarga, hingga persoalan remeh temeh yang datang tak diundang. Jika saya berhasil mencatatkan seluruh persoalan hidup saya, mungkin tidak cukup dengan novel setebal 500 halaman. So complicated!


Bersyukur, atas setiap persoalan yang saya alami, saya tidak pernah fokus pada persoalan itu, saya selalu fokus pada solusi memecahkan persoalan. Ya, sebagai manusia saya juga merasa berat dengan berbagai persoalan itu, bahkan tak jarang saya menangis. Tapi, setelah itu saya kembali tegar berdiri dan kembali pada PRASANGKA POSITIF.


Saya menyakini prasangka positif akan membantu saya untuk menjemput apa yang saya prasangkakan. Ketika saya sedang berada pada sebuah tekanan atasan, prasangka positif saya adalah saat itu atasan sedang memiliki masalah pribadi dan semuanya akan baik?baik saja. Ketika dengan sengaja ada yang menghina saya, maka prasangka positif saya adalah bahwa mungkin dia sedang marah, sehingga tidak tahu bahwa yang dia katakan menyakiti saya. Ketika saya menemukan keganjilan pada orang lain, maka prasangka positif saya adalah setiap orang memiliki keunikan tersendiri. Ketika keluarga kami ditimpa badai kesulitan, maka prasangka positif saya adalah keadaan ini tidak akan bertahan lama karena kami selalu mengusahakan untuk hidup yang lebih baik.


Sejujurnya, pernah juga saya menyadari bahwa prasangka negatif begitu kuatnya dalam pikiran, misalnya ketika saya sedang dipojokkan, saya diadudombakan, dan berbagai hal lainnya yang membuat prasangka positif saya dikalahkan oleh rasa sakit hati. Saya juga syukuri hal itu, ketika prasangka buruk datang maka artinya saya harus belajar sekuat tenaga untuk mengalihkannya pada prasangka positif, dan ini bukan persoalan gampang. Tapi, saya tidak mau kalah pada prasangka negatif karena bisa prasangka negatif ternyata hanya membuat diri semakin sakit dan tertekan.


Kembali, saya mengingat pada berbagai kemenangan yang saya peroleh karena prasangka positif. Prasangka positif mengantarkan kita pada kenyataan terbaik yang kita inginkan. Lantas, bagaimana mengolah prasangka negatif menjadi prasangka positif?

1. Jangan biarkan diri Anda tersiksa Semua orang ingin bahagia dan sumber kebahagiaan itu ternyata dari diri Anda sendiri. Jangan biarkan Anda tidak bahagia hanya karena kerikil?kerikil di depan Anda, jika Anda terlalu berprasangka buruk pada setiap hal sudah pasti Anda tidak akan bahagia. Banyak keluhan yang akhirnya keluar dari mulut Anda, dan sudah bisa dibayangkan betapa tersiksanya hati Anda. Apakah itu yang Anda inginkan? Tentu tidak bukan? Kalau begitu mulailah berprasangka positif pada setiap hal karena artinya Anda melepaskan diri dari siksaan hati.

2. Kuatkan keyakinan diri, Kuatkan keyakinan diri Anda bahwa hidup Anda, langkah Anda, dan siapapun Anda berguna. Anda memiliki kewajiban untuk menghargai setiap inci tubuh Anda, menghargai setiap pemikiran diri, dan menghargai setiap argumentasi yang diberikan pada Anda dengan penuh keyakinan bahwa itulah yang terbaik. Ketika Anda mendapatkan hentakan yang menyurutkan semangat, kembalilah melangkah dengan keyakinan diri. Dengan kekuatan keyakinan diri maka prasangka positif akan berjalan beriringan. Ketika ada yang menghina Anda maka prasangka positif Anda adalah dia tidak tahu siapa Anda.

3. Tingkatkan percaya diri, Kerapkali prasangka negatif hadir karena Anda kurang percaya diri. Misalnya, Anda kurang percaya diri dengan salah satu bagian tubuh Anda, ketika ada yang memperhatikan Anda, Anda langsung berprasangka negatif bahwa orang itu sedang melecehkan bagian tubuh Anda dan tentu ini akan mengusik Anda. Padahal? Jika prasangka positif Anda yang muncul Anda bisa menyimpulkan bahwa tidak ada masalah dengan Anda, bahkan mungkin orang itu merasa Anda istimewa dan dengan prasangka positif Anda tetap merasa nyaman.

4. Teruslah Belajar, Jangan berhenti belajar mengasah prasangka. Mulailah menata rasangka?prasangka negative menjadi prasangka?prasangka positif yang membuat hidup Anda lebih baik.



Manfaat Prasangka Positif

1. Berserinya wajah Anda, Orang yang memiliki prasangka positif akan selalu tampil dengan senyum. Wajahnya selalu memikat siapa saja. Mungkin saja dia tidak cantik atau tampan tapi wajahnya yang berseri sungguh sedap dipandang.

2. Nyamannya Hati Anda, Kalau prasangka positif sudah sedemikian kentalnya dalam pikiran Anda maka bisa dipastikan kenyamanan hidup jadi milik Anda. Anda tidak akan terganggu dengan remeh temeh persoalan dalam hidup Anda, Anda sangat menikmati hidup Anda apapun adanya. Sungguh nyaman hati Anda!

3. Memperluas Shilaturahmi, Prasangka?prasangka positif menghadirkan banyak sahabat di samping Anda, mereka nyaman berada di dekat Anda, bahkan mereka akan terkontaminasi aura positif Anda. Kenyamanan orang di dekat Anda akan menarik mereka untuk setia pada Anda bahkan mereka tidak canggung mengenalkan Anda pada sahabat mereka. Sudah pasti, shilaturahmi Anda akan sedemikian luasnya.

4. Tercapainya keinginan Anda, Prasangka positif akan membawa Anda pada kenyataan yang Anda inginkan. Allah akan mengabulkan setiap prasangka umatNya, jika prasangka Anda buruk maka buruk pula hasilnya, jika prasangka Anda baik, maka kebaikan yang dicapai.


Nah, selamat berprasangka positif dan dapatkan hasil yang luar biasa untuk Anda yang luar biasa!



Ciputat, Tanggerang
Oktober 2010

Followers

Republika Online

dakwatuna.com

 
Catatan Bunda Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template