Rabu, 17 Februari 2016
Eksekusi Brownies Kukus Choco with Cheese ala Magicom by Umikembar
TIPS MEMBACA ARTI CORETAN ( DOODLES ) ANAK ANDA

• Sediakan alat-alat dan media gambar yang ada yang dimiliki
• Biarkan anak memilih warna dan mewarnai sesuai pilihannya
2. Berapa banyakkah ruang dalam kertas yang digunakan?
Bila pada usia 5 tahun seorang anak masih berganti ganti tangan dalam menulis dan mampu melakukannya dengan cukup baik baik dengan tangan kanan maupun tangan kiri,dan anda tidak yakin bila ia adalah pengguna tangan kanan atau tangan kiri,maka ada kemungkinan bahwa anak tersebut adalah termasuk kedalam 5 persen populasi yang ambidextrous atau sangat handal.
Kebanyakan anak diusia awal sekolah umumnya memiliki tulisan yang besar,canggung dan menurun. Anda tidak perlu khawatir karena diusia ini selain anak-anak sedang berlatih dan mematangkan otot-otot tangannya yang memang belum berkembang secara sempurna membuat mereka lebih cepat merasa letih dalam menulis apalagi tulisan yang banyak/panjang,namun anda akan melihat kemajuan yang bertahap pada anak-anak anda seiring usia mereka.
( 12 - 18 tahun )
laksmira.bayuardi@gmail.com

• Sediakan alat-alat dan media gambar yang ada yang dimiliki
• Biarkan anak memilih warna dan mewarnai sesuai pilihannya
2. Berapa banyakkah ruang dalam kertas yang digunakan?
Bila pada usia 5 tahun seorang anak masih berganti ganti tangan dalam menulis dan mampu melakukannya dengan cukup baik baik dengan tangan kanan maupun tangan kiri,dan anda tidak yakin bila ia adalah pengguna tangan kanan atau tangan kiri,maka ada kemungkinan bahwa anak tersebut adalah termasuk kedalam 5 persen populasi yang ambidextrous atau sangat handal.
Kebanyakan anak diusia awal sekolah umumnya memiliki tulisan yang besar,canggung dan menurun. Anda tidak perlu khawatir karena diusia ini selain anak-anak sedang berlatih dan mematangkan otot-otot tangannya yang memang belum berkembang secara sempurna membuat mereka lebih cepat merasa letih dalam menulis apalagi tulisan yang banyak/panjang,namun anda akan melihat kemajuan yang bertahap pada anak-anak anda seiring usia mereka.
( 12 - 18 tahun )
laksmira.bayuardi@gmail.com
Listrik Naik? Tips Hemat Listrik 1.300 watt Ala Umi Kembar
2. Penggunaan Lampu LED
Lagi-lagi LED! hehe itu karena ayah dan suami sering berinteraksi dengan para produsen dan supplier lampu LED merk tertentu. So, tiap hari seperti dicekokin promosi beralih ke lampu LED. Ya, akhirnya kemakan iklan deh. Nah, sedikit share pengalaman pakai lampu LED.
Sebelumnya kami masih menggunakan lampu non LED dalam 3 bulan boros sering ganti setelah beralih ke LED 5 ruangan semua pakai lampu LED jadi lebih hemat hampir setahun lebih ini belum diganti dari kami tinggal di Cipayung Depok sampai kami menempati rumah sendiri di Bogor. Lampu Led ini kami boyong lagi. terhitung November 2014 sampai Februari 2016.
Penggunaan lampu LED ini juga dikhususkan pada tempat-tempat yang paling lama hidupnya, misalnya kami gunakan untuk lampu luar rumah yang menyala sampai pagi, lampu LED lebih hemat karena dalam penggunaannya jarang di matikan. awetnya jadi lebih terasa. Juga lampu untuk kamar mandi hampir setiap hari jarang dimatikan.
3. Dispenser
konsumsi daya menyala 250 watt, standbay 6 watt. kami mengurangi jumlah pemakaian menyala dan standbay dengan masak air pake panci kemudian kami simpan dalam termos ukuran 2 Liter.
4. Magicom
hanya standbay dari jam 13.00 sampai jam 20.00 saja selebihnya tidak digunakan.
Catatan :
ada beberapa peralatan listrik yang tidak kami gunakan misalnya oven solusinya kami ganti dengan penggunaan kompor (dikukus/magicjar). anggaran untuk beli gas dalam sebulan cuma 20 ribu rupiah. atau misalnya penggunaan kipas angin saat kami perlukan maka alat listrik yang lain atau lampu kami matikan. begitu juga penggunaan mesin air.
Sedikit saya ilustrasikan asumi biaya listrik kami dan alhamdulillah pas..
Oke, moms... demikian tips dari saya. silakan diasumsikan sendiri ya biaya pemakaian listriknya. semoga membantu para momy yang ingin menghemat. oya, hemat bukan berarti pelit ya efisiensi terhadap biaya yang tidak diperlukan. hehe
2. Penggunaan Lampu LED
Lagi-lagi LED! hehe itu karena ayah dan suami sering berinteraksi dengan para produsen dan supplier lampu LED merk tertentu. So, tiap hari seperti dicekokin promosi beralih ke lampu LED. Ya, akhirnya kemakan iklan deh. Nah, sedikit share pengalaman pakai lampu LED.
Sebelumnya kami masih menggunakan lampu non LED dalam 3 bulan boros sering ganti setelah beralih ke LED 5 ruangan semua pakai lampu LED jadi lebih hemat hampir setahun lebih ini belum diganti dari kami tinggal di Cipayung Depok sampai kami menempati rumah sendiri di Bogor. Lampu Led ini kami boyong lagi. terhitung November 2014 sampai Februari 2016.
Penggunaan lampu LED ini juga dikhususkan pada tempat-tempat yang paling lama hidupnya, misalnya kami gunakan untuk lampu luar rumah yang menyala sampai pagi, lampu LED lebih hemat karena dalam penggunaannya jarang di matikan. awetnya jadi lebih terasa. Juga lampu untuk kamar mandi hampir setiap hari jarang dimatikan.
3. Dispenser
konsumsi daya menyala 250 watt, standbay 6 watt. kami mengurangi jumlah pemakaian menyala dan standbay dengan masak air pake panci kemudian kami simpan dalam termos ukuran 2 Liter.
4. Magicom
hanya standbay dari jam 13.00 sampai jam 20.00 saja selebihnya tidak digunakan.
Catatan :
ada beberapa peralatan listrik yang tidak kami gunakan misalnya oven solusinya kami ganti dengan penggunaan kompor (dikukus/magicjar). anggaran untuk beli gas dalam sebulan cuma 20 ribu rupiah. atau misalnya penggunaan kipas angin saat kami perlukan maka alat listrik yang lain atau lampu kami matikan. begitu juga penggunaan mesin air.
Sedikit saya ilustrasikan asumi biaya listrik kami dan alhamdulillah pas..
Oke, moms... demikian tips dari saya. silakan diasumsikan sendiri ya biaya pemakaian listriknya. semoga membantu para momy yang ingin menghemat. oya, hemat bukan berarti pelit ya efisiensi terhadap biaya yang tidak diperlukan. hehe
Selasa, 16 Februari 2016
Logika & Romantisme Kata
Aku paham. cintalah yang membuatmu dengan cepat memahami pasanganmu tanpa banyak berkata-kata,"
di Rumah kecil kita dari sinilah istana peradaban itu akan kita bangun bersama... Insya Allah
Aku paham. cintalah yang membuatmu dengan cepat memahami pasanganmu tanpa banyak berkata-kata,"
di Rumah kecil kita dari sinilah istana peradaban itu akan kita bangun bersama... Insya Allah
Jumat, 19 Juli 2013
Welcome Ramadhan, Happy Mubarrok
Kamis, 18 Juli 2013
Tanpa definisi kata, Ikhtiarkan Saja! ^_^
Dipenghujung waktu sedikitpun memang tak ada ragu untuk 'deadline' waktu yang diberikan. Saat berazzam untuk menyegerakan tak banyak penundaan, sampai kiraNya Allah yang menentukan atas segala ikhtiar yang telah dilakukan. Berharap Allah berikan segala kemudahan."Karena dakwah segalanya Allah pertemukan...Insya Allah azzam mu akan terlaksana. Maka jangan kau umpat rasa untuk menghindari sesama nanti akan banyak agenda dakwah menanti kontribusi tanpa kejelasan aksi. Oke sayang, kalau begitu semoga Allah mempermudah segalanya..." Ucapnya sore itu.
Saya hanya terdiam. Lama. Tak jelas apa yang saya rasa saat pertama kali mengetahuinya. Sambil memegang juz pocket antara murojaah dan menerawang teringat orang tercinta di rumah. Ya Allah, akankah mereka pun ridho sebagaimana caramu lah yang mempertemukan ikhtiar ini.... lagi dan lagi saya hendak bertanya. memanggil hati yang begitu jernih..
Maka beginilah Ingin kuceritakan tentang cinta, karena cinta yang tak pernah terdefinisikan oleh kata, sebab cinta tak perlu banyak berkata-kata. karena resah, akhirnya banyak merangkai kata maafkan saja yah. hehheee
Cinta....
Sepanjang apa perjalanan yang jauh terbentang?
Duri dan batu terjal yang selalu saja mengganjal...
Kadang tak jarang harus melalui tebing dan bukit yang menghadang di depan.
Kutau Cinta, ujungnya bukanlah pada usia bukan pula dunia.
Cinta, kini ia menyapa lebih dekat...
mengharuskan memahami lebih dalam dari segala sesuatu yang tersirat.
Cinta, kini ia menyapa lebih lembut..
"Pergilah ke hati-hati manusia ajaklah ke jalan Rabbmu, nikmati perjalanannya.. berdiskusilah dengan bahasa bijaksana. Sebab jika cinta menyerumu dan seseorang mendapat hidayah karenamu itu lebih baik dari segala dunia dan isinya." Adakah yang tersungkur, lemah tak berdaya saat cinta menyapa bergelayut lembut padamu cinta?
Jika engkau cinta, maka Ia adalah paham...
Jika engkau cinta, maka ia adalah ikhlas...
menghiasi hati, semakin termotivasi untuk lebih banyak memberi.
Kau tau, cinta...
gunung itu, akan selalu tinggi dengan atau tanpa kau daki...
hutan itu, akan selalu lebat dengan atau tanpa kau jajaki...
lautan itu, akan selalu luas dengan atau tanpa kau arungi...
dan belukar itu, akan terus bersemak mengikuti tabiatnya yang sejati...
begitupun dengan cinta! tanpamu, tanpaku, tanpa siapapun ini akan tetap berjalan
Kemarilah, dengarlah cinta yang mulai berbisik dengan lembut ia kembali berkata
"Pergilah ke hati-hati manusia ajaklah ke jalan Rabbmu, nikmati perjalanannya.. berdiskusilah dengan bahasa bijaksana. Sebab jika cinta menyerumu dan seseorang mendapat hidayah karenamu itu lebih baik dari segala dunia dan isinya."
Ya ALLAH, pemilik segala kekuatan..
Engkau tiupkan ruh HAMASAH dan MILITANSI kepada siapapun yang Engkau kehendaki.
Engkau pula yang mencabut dan mengambilnya kembali dari siapapun yang Engkau kehendaki.
Jika hanya ada 1 kebaikan dalam hidup kami yang Engkau terima, maka DEMI kebaikan itu ya Alloh, JANGAN USIR kami dari JALAN DA'WAH ini, apapun yang terjadi.
Jangan biarkan kami gugur untuk kemudian Kau ganti dengan generasi lain yang lebih baik lagi. Sungguh Ya Alloh, betapa inginnya kami menjadi generasi itu. Izinkan kami bergabung dan masuk ke dalam barisannya, barisan mulia yang Kau cintai dan merekapun mencintaiMu,
Ya AllAh, kuatkanlah.....kuatkanlah....
Kaulah satu-satunya sumber kekuatan. teguhkan kepalan yang menyimpan cita cita perjuangan menuju mahligai keridhoanMu. tanpaMu, kami bukan siapa-siapa. tanpaMu,
kami tak berarti apa-apa. laa hawla wa laa quwwata illa billlaah....
Maka beginilah kuceritakan tentang cinta, yang tak terdefinisikan ribuan kata.
Karena cinta adalah dakwah, segalanya akan kuupayakan..
Terkejutnya tiada tara saat mendapat kabar "itu"
April 2011
Jatipadang homosweetku ^^,
Dipenghujung waktu sedikitpun memang tak ada ragu untuk 'deadline' waktu yang diberikan. Saat berazzam untuk menyegerakan tak banyak penundaan, sampai kiraNya Allah yang menentukan atas segala ikhtiar yang telah dilakukan. Berharap Allah berikan segala kemudahan."Karena dakwah segalanya Allah pertemukan...Insya Allah azzam mu akan terlaksana. Maka jangan kau umpat rasa untuk menghindari sesama nanti akan banyak agenda dakwah menanti kontribusi tanpa kejelasan aksi. Oke sayang, kalau begitu semoga Allah mempermudah segalanya..." Ucapnya sore itu.
Saya hanya terdiam. Lama. Tak jelas apa yang saya rasa saat pertama kali mengetahuinya. Sambil memegang juz pocket antara murojaah dan menerawang teringat orang tercinta di rumah. Ya Allah, akankah mereka pun ridho sebagaimana caramu lah yang mempertemukan ikhtiar ini.... lagi dan lagi saya hendak bertanya. memanggil hati yang begitu jernih..
Maka beginilah Ingin kuceritakan tentang cinta, karena cinta yang tak pernah terdefinisikan oleh kata, sebab cinta tak perlu banyak berkata-kata. karena resah, akhirnya banyak merangkai kata maafkan saja yah. hehheee
Cinta....
Sepanjang apa perjalanan yang jauh terbentang?
Duri dan batu terjal yang selalu saja mengganjal...
Kadang tak jarang harus melalui tebing dan bukit yang menghadang di depan.
Kutau Cinta, ujungnya bukanlah pada usia bukan pula dunia.
Cinta, kini ia menyapa lebih dekat...
mengharuskan memahami lebih dalam dari segala sesuatu yang tersirat.
Cinta, kini ia menyapa lebih lembut..
"Pergilah ke hati-hati manusia ajaklah ke jalan Rabbmu, nikmati perjalanannya.. berdiskusilah dengan bahasa bijaksana. Sebab jika cinta menyerumu dan seseorang mendapat hidayah karenamu itu lebih baik dari segala dunia dan isinya." Adakah yang tersungkur, lemah tak berdaya saat cinta menyapa bergelayut lembut padamu cinta?
Jika engkau cinta, maka Ia adalah paham...
Jika engkau cinta, maka ia adalah ikhlas...
menghiasi hati, semakin termotivasi untuk lebih banyak memberi.
Kau tau, cinta...
gunung itu, akan selalu tinggi dengan atau tanpa kau daki...
hutan itu, akan selalu lebat dengan atau tanpa kau jajaki...
lautan itu, akan selalu luas dengan atau tanpa kau arungi...
dan belukar itu, akan terus bersemak mengikuti tabiatnya yang sejati...
begitupun dengan cinta! tanpamu, tanpaku, tanpa siapapun ini akan tetap berjalan
Kemarilah, dengarlah cinta yang mulai berbisik dengan lembut ia kembali berkata
"Pergilah ke hati-hati manusia ajaklah ke jalan Rabbmu, nikmati perjalanannya.. berdiskusilah dengan bahasa bijaksana. Sebab jika cinta menyerumu dan seseorang mendapat hidayah karenamu itu lebih baik dari segala dunia dan isinya."
Ya ALLAH, pemilik segala kekuatan..
Engkau tiupkan ruh HAMASAH dan MILITANSI kepada siapapun yang Engkau kehendaki.
Engkau pula yang mencabut dan mengambilnya kembali dari siapapun yang Engkau kehendaki.
Jika hanya ada 1 kebaikan dalam hidup kami yang Engkau terima, maka DEMI kebaikan itu ya Alloh, JANGAN USIR kami dari JALAN DA'WAH ini, apapun yang terjadi.
Jangan biarkan kami gugur untuk kemudian Kau ganti dengan generasi lain yang lebih baik lagi. Sungguh Ya Alloh, betapa inginnya kami menjadi generasi itu. Izinkan kami bergabung dan masuk ke dalam barisannya, barisan mulia yang Kau cintai dan merekapun mencintaiMu,
Ya AllAh, kuatkanlah.....kuatkanlah....
Kaulah satu-satunya sumber kekuatan. teguhkan kepalan yang menyimpan cita cita perjuangan menuju mahligai keridhoanMu. tanpaMu, kami bukan siapa-siapa. tanpaMu,
kami tak berarti apa-apa. laa hawla wa laa quwwata illa billlaah....
Maka beginilah kuceritakan tentang cinta, yang tak terdefinisikan ribuan kata.
Karena cinta adalah dakwah, segalanya akan kuupayakan..
Terkejutnya tiada tara saat mendapat kabar "itu"
April 2011
Jatipadang homosweetku ^^,
Rabu, 27 Maret 2013
Cinta “Ber-Karakter” Refleksi Al Mahabbah Wa Tadhiyyah
Setiap hari setelah menikah ada tawaran keajaiban berlimpah. Saat memiliki kekuatan berkat karunia Allah yang membuat kita senang melihat senyumannya, mendengar suaranya. Dia pula memiliki kekuatan sama untuk mengenyahkan kesepian mengubah sesuatu yang awalnya biasa-biasa saja dalam hidup kita menjadi rasa-rasa istimewa. Sungguh, kehadiran suami bagi seorang istri adalah pintu kita menuju surga, di sini, di dunia.
Ada seseorang yang kini
membersamai kita siang dan malam, wujud nyata dari sesosok yang telah
memilih kita untuk menjaga kehormatan diri dan agama dengan menikahi
kita. Ya, menikahi kita, sosok lain yang menginginkan hal serupa.Adalah saya juga merasakannya sebagai karunia tersyukuri di setiap langkah. Setiap bangun pagi melafalkan kesyukuran atas setiap kesempatan yang masih Allah berikan berjumpa dan menunjukkan cinta dan kasih sayang pada kasih kekasihnya. Kini ada yang setia ber-muroja’ah bersama, atau saat-saat melafalkan dzikir al-ma’tsurat dia yang hadir kini menjadi teman setia menemani dalam ketaatan.
Tak terasa, sepertinya baru kemarin dia mengucapkan janji setia dalam ikatan yang kokoh mitsaqon gholizon. Mengawali amanah baru menjadi seorang istri atau suami sungguh tidaklah mudah.
Saat harus geleng-geleng kepala karena tingkahnya, atau juga mengucap tasbih, cemberut, tertawa, gembira subhanallah inilah yang menumbuhkan cinta, kasih sayang dan ketenangan dalam jiwa… bukankah justru dengannya Allah memandang dengan pandangan penuh rahmah?
Penuh kesyukuran mengembangkan senyum-senyum penuh kebahagiaan.
Sepekan setelah pernikahan, aktivitas masih sama tidak ada yang berubah kecuali status sudah menikah. Masing-masing sibuk dengan aktivitasnya. Kadang kala tak jarang juga ada yang meledek.
“Loh mbak masih bawa motor sendiri emang suaminya ke mana?” katanya. Paling saya hanya jawab. Itu suami saya ada di sebelah (karena kami bawa motor sendiri-sendiri).
Kini pertanyaannya, adakah kebahagiaan yang tengah kita rasakan yang membuat diri kita lebih “bernilai” setelah menikah? Sudahkah setiap tawa dan rona senyuman yang terkembang merekah membuat kita lebih “bertaqwa”? Sudahkah di setiap keriangan kita terhadap pasangan kita melahirkan keberkahan dariNya?
Kalau ini bahagia dan kebahagiaan, dimana letak barokah itu?
3 pekan berlalu dari tepian yang membuat nyaman. Ada pertanyaan yang kemudian muncul dalam benak. Bukankah wajar di awal pernikahan merasakan romantisme dan indahnya “cinta”? Tentu jawabannya ya. Dalam sekejap saja seperti terkena “sihir” oleh kekasih yang dicinta. Tapi kemudian teringatkan lagi terutama saat banyak agenda dan harus berpisah sementara.
Sungguh kalau dirimu terlalu sibuk dan larut dalam rumahtangga banyak kesempatan dakwah yang terbuang. Cobalah bertanya saat setelah menikah apakah dirimu masih sensitif terhadap permintaan, respon, perintah, dan panggilan dari Allah oleh banyak agenda-agenda “dakwah”? Jangan sampai ada kata penyesalan menikahi seorang aktivis dakwah.
Berkorban untuk benar-benar istiqamah memang harus bersabar dengan kesabaran luar biasa. Saya pun merasakan kok setelah menikah jadi cepat capek, ngantuk, dll-nya yah?
Ada kalimat yang membuat saya kembali mengevaluasi setelah beberapa pekan terlewati bersama kehadirannya “banyak alasan kita untuk bisa menghindari dari dakwah setelah menikah, tapi seharusnya seorang mukmin dengan loyalitas yang tinggi dengan segala kesibukannya sebelum menikah tidak membuat hilang kecintaannya terhadap dakwah.” Inilah cinta ber-karakter yang membuat saya terus belajar merefleksikan arti dari al-mahabbah wa tadhiyyah.
Rabbana maafkan atas banyak kekhilafan dan kelalaian sebab kami masih berproses memaknai hakikat pernikahan sebagai bukti ketaatan kami pada-Mu
—
Ditulis dari seorang yang sedang menempuh perjalanan menyusuri taman-taman perayaan “cinta” dari sebuah mitsaqon gholizon…
terpublis disini :
http://www.dakwatuna.com/2012/01/17630/cinta-ber-karakter-refleksi-al-mahabbah-wa-tadhiyyah/
Setiap hari setelah menikah ada tawaran keajaiban berlimpah. Saat memiliki kekuatan berkat karunia Allah yang membuat kita senang melihat senyumannya, mendengar suaranya. Dia pula memiliki kekuatan sama untuk mengenyahkan kesepian mengubah sesuatu yang awalnya biasa-biasa saja dalam hidup kita menjadi rasa-rasa istimewa. Sungguh, kehadiran suami bagi seorang istri adalah pintu kita menuju surga, di sini, di dunia.
Ada seseorang yang kini
membersamai kita siang dan malam, wujud nyata dari sesosok yang telah
memilih kita untuk menjaga kehormatan diri dan agama dengan menikahi
kita. Ya, menikahi kita, sosok lain yang menginginkan hal serupa.Adalah saya juga merasakannya sebagai karunia tersyukuri di setiap langkah. Setiap bangun pagi melafalkan kesyukuran atas setiap kesempatan yang masih Allah berikan berjumpa dan menunjukkan cinta dan kasih sayang pada kasih kekasihnya. Kini ada yang setia ber-muroja’ah bersama, atau saat-saat melafalkan dzikir al-ma’tsurat dia yang hadir kini menjadi teman setia menemani dalam ketaatan.
Tak terasa, sepertinya baru kemarin dia mengucapkan janji setia dalam ikatan yang kokoh mitsaqon gholizon. Mengawali amanah baru menjadi seorang istri atau suami sungguh tidaklah mudah.
Saat harus geleng-geleng kepala karena tingkahnya, atau juga mengucap tasbih, cemberut, tertawa, gembira subhanallah inilah yang menumbuhkan cinta, kasih sayang dan ketenangan dalam jiwa… bukankah justru dengannya Allah memandang dengan pandangan penuh rahmah?
Penuh kesyukuran mengembangkan senyum-senyum penuh kebahagiaan.
Sepekan setelah pernikahan, aktivitas masih sama tidak ada yang berubah kecuali status sudah menikah. Masing-masing sibuk dengan aktivitasnya. Kadang kala tak jarang juga ada yang meledek.
“Loh mbak masih bawa motor sendiri emang suaminya ke mana?” katanya. Paling saya hanya jawab. Itu suami saya ada di sebelah (karena kami bawa motor sendiri-sendiri).
Kini pertanyaannya, adakah kebahagiaan yang tengah kita rasakan yang membuat diri kita lebih “bernilai” setelah menikah? Sudahkah setiap tawa dan rona senyuman yang terkembang merekah membuat kita lebih “bertaqwa”? Sudahkah di setiap keriangan kita terhadap pasangan kita melahirkan keberkahan dariNya?
Kalau ini bahagia dan kebahagiaan, dimana letak barokah itu?
3 pekan berlalu dari tepian yang membuat nyaman. Ada pertanyaan yang kemudian muncul dalam benak. Bukankah wajar di awal pernikahan merasakan romantisme dan indahnya “cinta”? Tentu jawabannya ya. Dalam sekejap saja seperti terkena “sihir” oleh kekasih yang dicinta. Tapi kemudian teringatkan lagi terutama saat banyak agenda dan harus berpisah sementara.
Sungguh kalau dirimu terlalu sibuk dan larut dalam rumahtangga banyak kesempatan dakwah yang terbuang. Cobalah bertanya saat setelah menikah apakah dirimu masih sensitif terhadap permintaan, respon, perintah, dan panggilan dari Allah oleh banyak agenda-agenda “dakwah”? Jangan sampai ada kata penyesalan menikahi seorang aktivis dakwah.
Berkorban untuk benar-benar istiqamah memang harus bersabar dengan kesabaran luar biasa. Saya pun merasakan kok setelah menikah jadi cepat capek, ngantuk, dll-nya yah?
Ada kalimat yang membuat saya kembali mengevaluasi setelah beberapa pekan terlewati bersama kehadirannya “banyak alasan kita untuk bisa menghindari dari dakwah setelah menikah, tapi seharusnya seorang mukmin dengan loyalitas yang tinggi dengan segala kesibukannya sebelum menikah tidak membuat hilang kecintaannya terhadap dakwah.” Inilah cinta ber-karakter yang membuat saya terus belajar merefleksikan arti dari al-mahabbah wa tadhiyyah.
Rabbana maafkan atas banyak kekhilafan dan kelalaian sebab kami masih berproses memaknai hakikat pernikahan sebagai bukti ketaatan kami pada-Mu
—
Ditulis dari seorang yang sedang menempuh perjalanan menyusuri taman-taman perayaan “cinta” dari sebuah mitsaqon gholizon…
terpublis disini :
http://www.dakwatuna.com/2012/01/17630/cinta-ber-karakter-refleksi-al-mahabbah-wa-tadhiyyah/
Jumat, 20 Mei 2011
Tegarlah Agar Kau DicintaiNya
Namun, adapula mereka yang sejak awal
harus melewati sekian rintangan demi mengukuhkan tekad menggenapkan
setengah dien.Tak sedikit saya mendapati cerita-cerita seputar
suka-duka berumahtangga. Bagi sebagian yang lain mungkin cerita
seputar lika-liku rumah tangga bisa jadi mengakibatkan ketakutan bagi
mereka yang belum menikah. Takut akan mengalami kesulitan yang di
alami oleh fulanah, khawatir tak akan sanggup menghadapi cobaan
seperti yang dihadapi fulanah yang lain. Dan, akhirnya berhari-hari mengukur diri, kapankah saat yang tepat menyatakan diri SIAP untuk MENIKAH? selanjutkan mereka-reka kesanggupan bila harus mengalami peristiwa ini-itu yang dialami oleh mereka yang telah bercerita banyak.
Saya kemudian terdiam sejenak sambil berhenti menulis. Belum sampai saya mengeluarkan kata-kata sedikitpun, ummi lantas melanjutkan pembicaraannya.
Yang dapat bangkit kembali, setelah lelah-letihnya, yang tak menghentikan ikhtiar dan do’a dan meyakini bahwa Allah akan menetapkan sesuatu yang terbaik bagi Hamba-hambaNya sepelik apapun ujian hidupnya.
Melalui ceritamu…..ada sesuatu yang harus kupahami……
Ternyata menjadi Isteri, Ibu memang tak mudah Ia harus tetap tegar, disaat semangatnya tetap di butuhkan.
Namun, adapula mereka yang sejak awal
harus melewati sekian rintangan demi mengukuhkan tekad menggenapkan
setengah dien.Tak sedikit saya mendapati cerita-cerita seputar
suka-duka berumahtangga. Bagi sebagian yang lain mungkin cerita
seputar lika-liku rumah tangga bisa jadi mengakibatkan ketakutan bagi
mereka yang belum menikah. Takut akan mengalami kesulitan yang di
alami oleh fulanah, khawatir tak akan sanggup menghadapi cobaan
seperti yang dihadapi fulanah yang lain. Dan, akhirnya berhari-hari mengukur diri, kapankah saat yang tepat menyatakan diri SIAP untuk MENIKAH? selanjutkan mereka-reka kesanggupan bila harus mengalami peristiwa ini-itu yang dialami oleh mereka yang telah bercerita banyak.
Saya kemudian terdiam sejenak sambil berhenti menulis. Belum sampai saya mengeluarkan kata-kata sedikitpun, ummi lantas melanjutkan pembicaraannya.
Yang dapat bangkit kembali, setelah lelah-letihnya, yang tak menghentikan ikhtiar dan do’a dan meyakini bahwa Allah akan menetapkan sesuatu yang terbaik bagi Hamba-hambaNya sepelik apapun ujian hidupnya.
Melalui ceritamu…..ada sesuatu yang harus kupahami……
Ternyata menjadi Isteri, Ibu memang tak mudah Ia harus tetap tegar, disaat semangatnya tetap di butuhkan.
Jalan Meraih Mimpi, Biarkan Cara Allah Bekerja
Coba hitung sudah berapa banyak buku tentang mimpi yang pernah kita baca? Mulai dari mimpi abal-abal dari negeri dongeng cinderella atau putri salju sampai mimpi dengan kisah heroik macam Bill Gates ataupun Stave Jobs atau bahkan mimpi seperti cerita dalam Laskar Pelangi itu? Sudah pernahkah kalian bermimpi? Seberapa besar hal yang kalian impikan dan kalian yakin bahwa mimpi itu will come true? Pernah dari kalian yakin bahwa suatu saat mimpi itu akan terwujud?Saya pernah membaca tulisan tentang sejarah cita-cita dan kesuksesan. Seorang yang sukses pasti mempunyai sejarah dan pembentuk mental suksesnya. Misalnya saja, seorang Kholid Bin Walid. kalian tau siapa dia? Pahlawan perang Yarmuk dan panglima perang termasyhur dalam sejarah islam ternyata menjadi orang paling sukses.
Kesuksesan Kholid membawa panji-panji kemenangan Islam bukan datang secara tiba-tiba. Kemenangan dalam perang Yarmuk, boleh jadi sebuah puncak dari kegemarannya bermain perang-perangan saat masa kanak-kanan dan remaja di lembah Yarmuk. Luar biasa bukan? Masih ada lagi kisah kesukesan lain, kalian tau Afganistan? Ya, Afganistan kita kenal sebagai satu-satunya negara yang tidak pernah tertundukkan meskipun tetap diperangi oleh berbagai bangsa mulai dari Jengis Khan, Soviet dan kini Amerika. Kalian tau rahasianya kenapa Afganistan tidak pernah tertundukkan? Karena konon kabarnya rakyat Afganistan adalah anak turunan dari Kholid Bin Walid.
Begitupun mimpi dan cita-cita yang ingin dikisahkan dalam cerita berikut.
Malam itu hujan begitu deras halilintar bersahutan rumah mungil fatih yang berjendela kawat tak mampu membendung derasnya angin kencang yang membawa butiran-butiran air hujan untuk turut masuk tanpa dipersilakan. Wanita paling cantik sedunia yang duduk manis dihadapannya bercerita padanya tentang kemegahan Ibu Kota Jakarta.
Wanita paling cantik sedunia itu menceritakan padanya tentang bangunan megah tinggi menjulang diantara gedung-gedung megah Jakarta. Dia bercerita tentang indahnya monas merasakan betapa sejuknya semilir angin yang berhembus di puncak monas dan pemandangan menakjubkan yang terlihat dari puncak monas. Hujan deras masih mengiring jalannya cerita seru dari wantia paling cantik sedunia.
Belum selesai wanita itu bercerita, Fatih kecil memotong pembicaraannya dengan penuh semangat ia pun berkata, “Umiiii..kalau udah gede aku juga pengen naek monas sama kaya umiii.” Wanita paling cantik sedunia hanya tersenyum mendengar suara mungil dari anaknya, namun senyum kecilnya itu begitu berarti untuk Fatih kecil.
Cita-citanya simple, sederhana, mimpinya pun sederhana hanya ingin menginjakkan kaki ke monas. Banyak diantara teman-teman fatih menertawakannya, bagi mereka mustahil seorang anak petani dari Magetan-Jawa Timur yang tinggal di pelosok desa bisa menginjakkan kaki ke Jakarta. Dan ternyata apa yang terjadi? Sebelas tahun setelahnya. Setelah malam penuh cinta yang ditemani hujan deras dan halilintar yang saling bersahutan setelah malam penuh mimpi sederhana dari seorang anak yang sederhana kini mimpinya menjadi kenyataan ia sudah berada di puncak monas. Mimpi-mimpi itu tidak berhenti hanya di ujung monas. Ditahun yang sama saat ia bermimpi ingin mengikuti lomba tahfiz al-qur’an dan menjadi salah satu peserta terbaik lagi-lagi ia bisa mendapatkannya. Menjadi peserta terbaik tingkat kabupaten. Ia berdiri dihadapan ratusan orang untuk menaiki podium dan meraih piala kebanggaannya. Subhanallah, lebih luar biasa lagi bukan?
Itu hanyalah sedikit kisah tentang seorang anak kecil yang tinggal di pelosok desa jauh dari keramaian dan asing dari pengetahuan memiliki cita-cita yang sederhana. Tidak sedikit diantara kita pasti mempunyai impian dan cita-cita, bukan? Memiliki impian dan cita-cita yang besar bukan sekedar ingin menginjakkan kaki di monas seperti Fatih kecil bisa jadi cita dan mimpi kalian lebih besar dari itu. Nah, bagaimana masih tidak yakin dengan kekuatan mimpi? Masih adakah diantara kita yang meragukannya?
Sekarang, ambillah secarik kertas kosong dan tulis dalam kertas itu berisi list mimpi dan cita-cita kalian mulai dari mimpi-mimpi kecil hingga mimpi-mimpi besar. Tuliskan saja, setelah itu tempelkan pada kaca, pintu lemari, tembok kamar agar mudah kalian jumpai dan mudah mengingatnya. Dan yakinlah suatu saat nanti kalian bisa merealisasikan mimpi-mimpi yang kalian tuang dalam secarik kertas itu.
Ketika ada kesempatan walaupun sekecil apapun kesempatan untuk merealisasikan mimpi itu maka ambilah kesempatan itu. Kita tidak pernah tau bagaimana takdir Allah bekerja terhadap perubahan diri kita. Sebagaimana Allah juga ngingetin kita dalam sebuah ayat-Nya
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (Qs. Ar-Ra’d:11)
Kadangkala kita hanya diberi pilihan untuk mengambil kesempatan itu dan mengikhtiarkannya atau pilihan lain adalah melewatkan kesempatan itu berlalu bersama waktu.
Jika pilihan itu jatuh kepada pilihan mengambil kesempatan adalah pilihan yang tepat, sekarang saatnya kita berjuang dengan maksimal tidak perlu terobsesi pada hasilnya biarkan takdir Allah yang bekerja menurut kadar dan ukurannya. Bermimpilah setinggi-tinggi dan sebanyak mungkin jangan lupa diiringi dengan usaha yang gigih dan pantang menyerah, merubah diri kepada hal-hal yang baik dan positif dan terakhir jangan lupa berdo’a minta pada Allah agar Dia membantu kita untuk merealisasikan mimpi dan cita-cita kita tersebut selanjutnya lihatlah beberapa minggu, bulan, tahun-tahun kedepan adakah dari list mimpi-mimpi kita yang tidak pernah berjawab? Jika tidak yakin? Cobalah! Karena anda sendiri yang bisa merasakannya!
Markaz Pribadi, 17 Mei 2011
Jatipadang - Perjalanan meraih mimpi bersamanya Insya Allah pasti!
terpublish disini :
http://www.dakwatuna.com/2013/02/27757/jalan-meraih-mimpi-biarkan-cara-allah-bekerja/
Coba hitung sudah berapa banyak buku tentang mimpi yang pernah kita baca? Mulai dari mimpi abal-abal dari negeri dongeng cinderella atau putri salju sampai mimpi dengan kisah heroik macam Bill Gates ataupun Stave Jobs atau bahkan mimpi seperti cerita dalam Laskar Pelangi itu? Sudah pernahkah kalian bermimpi? Seberapa besar hal yang kalian impikan dan kalian yakin bahwa mimpi itu will come true? Pernah dari kalian yakin bahwa suatu saat mimpi itu akan terwujud?Saya pernah membaca tulisan tentang sejarah cita-cita dan kesuksesan. Seorang yang sukses pasti mempunyai sejarah dan pembentuk mental suksesnya. Misalnya saja, seorang Kholid Bin Walid. kalian tau siapa dia? Pahlawan perang Yarmuk dan panglima perang termasyhur dalam sejarah islam ternyata menjadi orang paling sukses.
Kesuksesan Kholid membawa panji-panji kemenangan Islam bukan datang secara tiba-tiba. Kemenangan dalam perang Yarmuk, boleh jadi sebuah puncak dari kegemarannya bermain perang-perangan saat masa kanak-kanan dan remaja di lembah Yarmuk. Luar biasa bukan? Masih ada lagi kisah kesukesan lain, kalian tau Afganistan? Ya, Afganistan kita kenal sebagai satu-satunya negara yang tidak pernah tertundukkan meskipun tetap diperangi oleh berbagai bangsa mulai dari Jengis Khan, Soviet dan kini Amerika. Kalian tau rahasianya kenapa Afganistan tidak pernah tertundukkan? Karena konon kabarnya rakyat Afganistan adalah anak turunan dari Kholid Bin Walid.
Begitupun mimpi dan cita-cita yang ingin dikisahkan dalam cerita berikut.
Malam itu hujan begitu deras halilintar bersahutan rumah mungil fatih yang berjendela kawat tak mampu membendung derasnya angin kencang yang membawa butiran-butiran air hujan untuk turut masuk tanpa dipersilakan. Wanita paling cantik sedunia yang duduk manis dihadapannya bercerita padanya tentang kemegahan Ibu Kota Jakarta.
Wanita paling cantik sedunia itu menceritakan padanya tentang bangunan megah tinggi menjulang diantara gedung-gedung megah Jakarta. Dia bercerita tentang indahnya monas merasakan betapa sejuknya semilir angin yang berhembus di puncak monas dan pemandangan menakjubkan yang terlihat dari puncak monas. Hujan deras masih mengiring jalannya cerita seru dari wantia paling cantik sedunia.
Belum selesai wanita itu bercerita, Fatih kecil memotong pembicaraannya dengan penuh semangat ia pun berkata, “Umiiii..kalau udah gede aku juga pengen naek monas sama kaya umiii.” Wanita paling cantik sedunia hanya tersenyum mendengar suara mungil dari anaknya, namun senyum kecilnya itu begitu berarti untuk Fatih kecil.
Cita-citanya simple, sederhana, mimpinya pun sederhana hanya ingin menginjakkan kaki ke monas. Banyak diantara teman-teman fatih menertawakannya, bagi mereka mustahil seorang anak petani dari Magetan-Jawa Timur yang tinggal di pelosok desa bisa menginjakkan kaki ke Jakarta. Dan ternyata apa yang terjadi? Sebelas tahun setelahnya. Setelah malam penuh cinta yang ditemani hujan deras dan halilintar yang saling bersahutan setelah malam penuh mimpi sederhana dari seorang anak yang sederhana kini mimpinya menjadi kenyataan ia sudah berada di puncak monas. Mimpi-mimpi itu tidak berhenti hanya di ujung monas. Ditahun yang sama saat ia bermimpi ingin mengikuti lomba tahfiz al-qur’an dan menjadi salah satu peserta terbaik lagi-lagi ia bisa mendapatkannya. Menjadi peserta terbaik tingkat kabupaten. Ia berdiri dihadapan ratusan orang untuk menaiki podium dan meraih piala kebanggaannya. Subhanallah, lebih luar biasa lagi bukan?
Itu hanyalah sedikit kisah tentang seorang anak kecil yang tinggal di pelosok desa jauh dari keramaian dan asing dari pengetahuan memiliki cita-cita yang sederhana. Tidak sedikit diantara kita pasti mempunyai impian dan cita-cita, bukan? Memiliki impian dan cita-cita yang besar bukan sekedar ingin menginjakkan kaki di monas seperti Fatih kecil bisa jadi cita dan mimpi kalian lebih besar dari itu. Nah, bagaimana masih tidak yakin dengan kekuatan mimpi? Masih adakah diantara kita yang meragukannya?
Sekarang, ambillah secarik kertas kosong dan tulis dalam kertas itu berisi list mimpi dan cita-cita kalian mulai dari mimpi-mimpi kecil hingga mimpi-mimpi besar. Tuliskan saja, setelah itu tempelkan pada kaca, pintu lemari, tembok kamar agar mudah kalian jumpai dan mudah mengingatnya. Dan yakinlah suatu saat nanti kalian bisa merealisasikan mimpi-mimpi yang kalian tuang dalam secarik kertas itu.
Ketika ada kesempatan walaupun sekecil apapun kesempatan untuk merealisasikan mimpi itu maka ambilah kesempatan itu. Kita tidak pernah tau bagaimana takdir Allah bekerja terhadap perubahan diri kita. Sebagaimana Allah juga ngingetin kita dalam sebuah ayat-Nya
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (Qs. Ar-Ra’d:11)
Kadangkala kita hanya diberi pilihan untuk mengambil kesempatan itu dan mengikhtiarkannya atau pilihan lain adalah melewatkan kesempatan itu berlalu bersama waktu.
Jika pilihan itu jatuh kepada pilihan mengambil kesempatan adalah pilihan yang tepat, sekarang saatnya kita berjuang dengan maksimal tidak perlu terobsesi pada hasilnya biarkan takdir Allah yang bekerja menurut kadar dan ukurannya. Bermimpilah setinggi-tinggi dan sebanyak mungkin jangan lupa diiringi dengan usaha yang gigih dan pantang menyerah, merubah diri kepada hal-hal yang baik dan positif dan terakhir jangan lupa berdo’a minta pada Allah agar Dia membantu kita untuk merealisasikan mimpi dan cita-cita kita tersebut selanjutnya lihatlah beberapa minggu, bulan, tahun-tahun kedepan adakah dari list mimpi-mimpi kita yang tidak pernah berjawab? Jika tidak yakin? Cobalah! Karena anda sendiri yang bisa merasakannya!
Markaz Pribadi, 17 Mei 2011
Jatipadang - Perjalanan meraih mimpi bersamanya Insya Allah pasti!
terpublish disini :
http://www.dakwatuna.com/2013/02/27757/jalan-meraih-mimpi-biarkan-cara-allah-bekerja/
Senin, 02 Mei 2011
Penjaga Ayat-Ayat CintaNya
Jakarta, tepatnya Jatipadang city saat ia menyapa seluruh tubuh masih dibalut selimut tebal meringsut di kamar. Pagi ini terasa dingin sekali setelah semalaman suntuk mengerjakan tugas-tugas yang belum rampung. Mata terasa kantuk berat.
“Pagi cinta, bagaimana kabar imanmu hari ini? Sehatkah ia? Bagaimana kabar hafalanmu hari ini? Bertambahkah ia?Glek! Saya terdiam cukup lama antara sadar dan remang-remang menatap. Kata-katanya memang biasa tapi penuh makna. Selalu bersahabat, sapaannya terasa begitu dekat padahal kami sudah jarang bertemu dan bertegur sapa hampir setengah tahun lamanya. Tiba-tiba ia menyapa kembali memberi motivasi yang sangat berarti.
Saya masih teringat jelas saat kami pernah membicarakan tentang mimpi dan harapan kami tahun-tahun kedepan. Ya, impian yang ingin sekali saya wujudkan bersama mereka “Penjaga Ayat-Ayat CintaNya”. Entah sejak kapan saya ingin sekali merasakan menjadi bagian dari orang-orang yang Allah pilihkan untuk menjaga ayat-ayat cintaNya. Yang pasti saya selalu merindukan saat-saat itu tiba.
“Cinta…”katanya. Sudah sebulan ini aku di Jogja, rasanya kangen denganmu lama tak bersua. Aku di Jogja menggapai mimpi yang dulu sempat tertunda. Kau masih ingat itu, cinta? Mimpi kita bersama…”.
“Menggapai mimpi di Jogja? Melanjutkan studi S2 kah? Tanya saya
“Bukan. Berada di taman penjaga ayat-ayat cintaNya. Mondok disana.”
“Hah?! Trus kerja dan kuliah S2 nya bagaimana? Tanya saya semakin penasaran
“Ya, begitu deh adanya. Tak apa. Cinta ada yang membuatku selalu cemburu padamu. Kau tau apa? Karena dalam banyak hal dirimu selalu lebih baik dariku. Maka, ingin kutanya sudah berapa juz hafalanmu yang bertambah? Ungkapnya
Lagi-lagi terdiam tanpa kata. Merenungi waktu yang sudah terlewati. Ya Allah kenapa lambat sekali perkembangannya, sedang diluar sana mereka pun berlomba-lomba dalam menjagaNya.
“Belum banyak dan tidak cukup baik perkembangannya.”
“Alhamdulillah masih Allah jaga semangatnya. Sama juga aku hanya setoran saja. Kadang malah tidak setoran karena banyakan muroja’ahnya untuk hafalannya jadi ndak nambah-nambah”
Saya masih penasaran dengan keputusannya fokus menjadi bagian penjaga ayat-ayat cintaNya. Yang saya tahu posisi karier di kantornya cukup baik bahkan ia sedang menempuh master di Universitas bergengsi. Lantas kenapa ia tinggalkan semua itu begitu saja? Apakah hanya sekedar menggapai mimpi yang tertunda, mimpi menjadi para penghafal qur’an semua hal yang ia telah raih selama ini hilang begitu saja? Aahhh! Rasanya mustahil ada muslimah yang ikhlas mengambil pilihan seperti itu.
Ia melanjutkan pembicaraan. Di sini ada target yang harus dicapai, kami dikasih waktu 2-3 hari untuk menambah hafalan minimal 1 Juz. Awalnya bisa tapi lama-lama keteteran juga. Kualahan. Alhamdulillah ada keringanan dari ustadzah kami dikasih waktu satu pekan per juz. Benar saja katamu cinta… tidak pernah kurasakan kenikmatan melebihi kenikmatan menghafal qur’an.
Berkali-kali saya berucap syukur atas kenikmatan yang Allah berikan dengan dipertemukannya saudari yang sholih yang selalu mengingatkan dalam kebaikan, memberi motivasi, saling menguatkan dalam ketaatan. Begitu juga ketika jalan takdir membawa saya tentu atas izin Allah disatukan kembali bersama mereka “para penjaga ayat-ayat cintaNya” itu adalah karunia nikmat yang mahalnya tiada terkira.
Kenikmatan tatkala ruh dalam jasad ini semakin hidup karena Alqur’an. Lafaz-lafaz dasyat itulah yang mampu melampaui amukan gelombang tsunami, lafaz dasyat itulah yang kelembutannya melebihi jiwa yang senantiasa bertaut dengan akhirat. Mengkajinya lebih segar dan lebih lezat dibandingkan semangkuk es buah segar bagi orang yang sangat kehausan, bahkan lebih lembut dari angin yang bertiup sepoi-sepoi. Ia adalah cahaya yang bersinar di jalan kehidupan orang-orang mukmin agar mereka sampai pada hamparan ketenangan.
Dulu saya tak yakin dengan mimpi yang ingin saya wujudkan bersamanya. Tapi kini saya semakin mantap meneruskannya. Walau banyak yang bilang menghafal alqur’an itu susah dan berat. Ya, memang betul terutama berat dan susah untuk istiqomah menjaganya. Apalagi bagi mereka yang belum pernah menghafalnya kemudian nekat menghafal tanpa terlebih dahulu melihat kemampuan bacaan alqurannya. Meski mereka memiliki semangat dan motivasi yang tinggi. Semua itu benar. Itupun yang saya rasakan di awal-awal kenekatan saya memilih meraih mimpi-mimpi ini bersamanya walau ditempat yang berbeda.
Di sudut-sudut masjid sehamparan mata memandang mereka para huffaz melantunkan hafalannya dengan nada dan irama yang begitu indah nan mempesona. Disetiap tiang-tiang masjid bahkan selalu saja ada hafizh yang sedang mengulang hafalannya. Tidak siang dan malam. Ada diantara mereka da yang sedang muroja’ah hafalannya mereka mencari tempat yang agak sepi dan jauh dari keramaian oranglain atau jama’ah lainnya. Demi merasakan kenikmatan dan berkonsentrasi membaca dan menghafal qur’an. Ada cinta disana… ada rasa yang lain dari biasanya… ditengah hiruk-pikuk kesibukkan duniawi terlebih kesibukan dan padatnya aktivitas anak Jakarta. Kini masjid itu jadi saksi keseriusan dan tekad mereka yang tengah merengkuk menjadi para penghafal ayat-ayat cintaNya.
Hari demi hari silih berganti. Waktupun mengiringi setiap detik. Tak terasa sebulan lebih sudah halaman demi halaman semakin bertambah. Walau ada saja hambatan dan ujian yang menghadang tidak menjadi penghalang yang berarti bagi mereka yang sudah mantap dan menancap kuat dalam hatinya. Siapa sangka bila kemudian justru itu bagian dari skenario kemudahan yang Allah karuniakan jika pada akhirnya segala kesulitan, kegagalan, hambatan akan menjadi bumbu-bumbu indah cerita para penjaga ayat-ayat cintaNya. Ia bisa menempuhnya di tengah kepadatan jadwalnya
Satu atap dengan para huffaz adalah karunia dan rizki yang tak terhingga. Membuat hati semakin rindu berjumpa pada malam-malam yang syahdu untuk sekedar melantunkan ayat-ayat cintaNya. Semoga kita pun menjadi bagian dari mereka PARA PENJAGA AYAT-AYAT CINTANYA…
Jatipadang, 1 Mei 2011
Markaz Pribadi
Jakarta, tepatnya Jatipadang city saat ia menyapa seluruh tubuh masih dibalut selimut tebal meringsut di kamar. Pagi ini terasa dingin sekali setelah semalaman suntuk mengerjakan tugas-tugas yang belum rampung. Mata terasa kantuk berat.
“Pagi cinta, bagaimana kabar imanmu hari ini? Sehatkah ia? Bagaimana kabar hafalanmu hari ini? Bertambahkah ia?Glek! Saya terdiam cukup lama antara sadar dan remang-remang menatap. Kata-katanya memang biasa tapi penuh makna. Selalu bersahabat, sapaannya terasa begitu dekat padahal kami sudah jarang bertemu dan bertegur sapa hampir setengah tahun lamanya. Tiba-tiba ia menyapa kembali memberi motivasi yang sangat berarti.
Saya masih teringat jelas saat kami pernah membicarakan tentang mimpi dan harapan kami tahun-tahun kedepan. Ya, impian yang ingin sekali saya wujudkan bersama mereka “Penjaga Ayat-Ayat CintaNya”. Entah sejak kapan saya ingin sekali merasakan menjadi bagian dari orang-orang yang Allah pilihkan untuk menjaga ayat-ayat cintaNya. Yang pasti saya selalu merindukan saat-saat itu tiba.
“Cinta…”katanya. Sudah sebulan ini aku di Jogja, rasanya kangen denganmu lama tak bersua. Aku di Jogja menggapai mimpi yang dulu sempat tertunda. Kau masih ingat itu, cinta? Mimpi kita bersama…”.
“Menggapai mimpi di Jogja? Melanjutkan studi S2 kah? Tanya saya
“Bukan. Berada di taman penjaga ayat-ayat cintaNya. Mondok disana.”
“Hah?! Trus kerja dan kuliah S2 nya bagaimana? Tanya saya semakin penasaran
“Ya, begitu deh adanya. Tak apa. Cinta ada yang membuatku selalu cemburu padamu. Kau tau apa? Karena dalam banyak hal dirimu selalu lebih baik dariku. Maka, ingin kutanya sudah berapa juz hafalanmu yang bertambah? Ungkapnya
Lagi-lagi terdiam tanpa kata. Merenungi waktu yang sudah terlewati. Ya Allah kenapa lambat sekali perkembangannya, sedang diluar sana mereka pun berlomba-lomba dalam menjagaNya.
“Belum banyak dan tidak cukup baik perkembangannya.”
“Alhamdulillah masih Allah jaga semangatnya. Sama juga aku hanya setoran saja. Kadang malah tidak setoran karena banyakan muroja’ahnya untuk hafalannya jadi ndak nambah-nambah”
Saya masih penasaran dengan keputusannya fokus menjadi bagian penjaga ayat-ayat cintaNya. Yang saya tahu posisi karier di kantornya cukup baik bahkan ia sedang menempuh master di Universitas bergengsi. Lantas kenapa ia tinggalkan semua itu begitu saja? Apakah hanya sekedar menggapai mimpi yang tertunda, mimpi menjadi para penghafal qur’an semua hal yang ia telah raih selama ini hilang begitu saja? Aahhh! Rasanya mustahil ada muslimah yang ikhlas mengambil pilihan seperti itu.
Ia melanjutkan pembicaraan. Di sini ada target yang harus dicapai, kami dikasih waktu 2-3 hari untuk menambah hafalan minimal 1 Juz. Awalnya bisa tapi lama-lama keteteran juga. Kualahan. Alhamdulillah ada keringanan dari ustadzah kami dikasih waktu satu pekan per juz. Benar saja katamu cinta… tidak pernah kurasakan kenikmatan melebihi kenikmatan menghafal qur’an.
Berkali-kali saya berucap syukur atas kenikmatan yang Allah berikan dengan dipertemukannya saudari yang sholih yang selalu mengingatkan dalam kebaikan, memberi motivasi, saling menguatkan dalam ketaatan. Begitu juga ketika jalan takdir membawa saya tentu atas izin Allah disatukan kembali bersama mereka “para penjaga ayat-ayat cintaNya” itu adalah karunia nikmat yang mahalnya tiada terkira.
Kenikmatan tatkala ruh dalam jasad ini semakin hidup karena Alqur’an. Lafaz-lafaz dasyat itulah yang mampu melampaui amukan gelombang tsunami, lafaz dasyat itulah yang kelembutannya melebihi jiwa yang senantiasa bertaut dengan akhirat. Mengkajinya lebih segar dan lebih lezat dibandingkan semangkuk es buah segar bagi orang yang sangat kehausan, bahkan lebih lembut dari angin yang bertiup sepoi-sepoi. Ia adalah cahaya yang bersinar di jalan kehidupan orang-orang mukmin agar mereka sampai pada hamparan ketenangan.
Dulu saya tak yakin dengan mimpi yang ingin saya wujudkan bersamanya. Tapi kini saya semakin mantap meneruskannya. Walau banyak yang bilang menghafal alqur’an itu susah dan berat. Ya, memang betul terutama berat dan susah untuk istiqomah menjaganya. Apalagi bagi mereka yang belum pernah menghafalnya kemudian nekat menghafal tanpa terlebih dahulu melihat kemampuan bacaan alqurannya. Meski mereka memiliki semangat dan motivasi yang tinggi. Semua itu benar. Itupun yang saya rasakan di awal-awal kenekatan saya memilih meraih mimpi-mimpi ini bersamanya walau ditempat yang berbeda.
Di sudut-sudut masjid sehamparan mata memandang mereka para huffaz melantunkan hafalannya dengan nada dan irama yang begitu indah nan mempesona. Disetiap tiang-tiang masjid bahkan selalu saja ada hafizh yang sedang mengulang hafalannya. Tidak siang dan malam. Ada diantara mereka da yang sedang muroja’ah hafalannya mereka mencari tempat yang agak sepi dan jauh dari keramaian oranglain atau jama’ah lainnya. Demi merasakan kenikmatan dan berkonsentrasi membaca dan menghafal qur’an. Ada cinta disana… ada rasa yang lain dari biasanya… ditengah hiruk-pikuk kesibukkan duniawi terlebih kesibukan dan padatnya aktivitas anak Jakarta. Kini masjid itu jadi saksi keseriusan dan tekad mereka yang tengah merengkuk menjadi para penghafal ayat-ayat cintaNya.
Hari demi hari silih berganti. Waktupun mengiringi setiap detik. Tak terasa sebulan lebih sudah halaman demi halaman semakin bertambah. Walau ada saja hambatan dan ujian yang menghadang tidak menjadi penghalang yang berarti bagi mereka yang sudah mantap dan menancap kuat dalam hatinya. Siapa sangka bila kemudian justru itu bagian dari skenario kemudahan yang Allah karuniakan jika pada akhirnya segala kesulitan, kegagalan, hambatan akan menjadi bumbu-bumbu indah cerita para penjaga ayat-ayat cintaNya. Ia bisa menempuhnya di tengah kepadatan jadwalnya
Satu atap dengan para huffaz adalah karunia dan rizki yang tak terhingga. Membuat hati semakin rindu berjumpa pada malam-malam yang syahdu untuk sekedar melantunkan ayat-ayat cintaNya. Semoga kita pun menjadi bagian dari mereka PARA PENJAGA AYAT-AYAT CINTANYA…
Jatipadang, 1 Mei 2011
Markaz Pribadi
Selasa, 12 April 2011
Keindahana itu bernama, P.E.N.A.N.T.I.A.N

[Q.S, As-Sajdah:17]
Sebuah ucapan indah seorang Ibnu Jauzi soal penantian,
“Aku ingin beribadah dengan doa dan aku juga yakin suatu saat, doaku pasti dikabulkan. Hanya saja, mungkin tidak sekarang dikabulkan, demi kemaslahatanku yang akan datang pada waktunya nanti. Dan jika tidak dikabulkan pun, aku sudah beruntung bisa beribadah dan menyerahkan diri kepada Allah.”
Subhanallah......begitulah penantian, selalu ada saja hikmah yang mengiringinya. Bisa jadi apabila tidak menanti, kita mendapatkan hasil yang ternyata lebih banyak madharatnya.
Nikmatilah penantian jangan tergesa memaksakan tanpa perkiraan.
Indahnya sebuah penantian berakhir doa yang menjanjikan. Bukankah memang kita hidup hanya penuh dengan penantian sebagai sebuah jawaban pasti dari usaha yang tiap detak gerik dilakukan.
Begitulah penantian. Tidak mesti selamanya menjenuhkan dan membosankan. Selagi upaya telah berjalan, maka biarkanlah penantian mengisi selang jawaban untuk mengakhiri hasilnya pada tabung keputusan. Ada kala tabung itu berisi sangat pelan, namun pasti akan penuh sekalipun waktunya berlama jalan. Bisa pula cepat terisi dengan sangat seiring tekanan yang kuat dari aliran hulunya menuju hilir tanpa sumbatan. Penantian, mengajarkan kita untuk lebih banyak sadar memupuk kesabaran.
Penantian indah ialah saat mengerjakan apa yang dapat dilakukan dan terdekat dengan momentum termudah untuk dikejar, sebagaimana Ibnu Umar berkata disaat beliau usai mengucapkan hadits Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam, “Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau bahkan seperti orang yang sekedar lewat (musafir).” (HR. Al-Bukhari no. 6416), “Bila engkau berada di sore hati maka janganlah engkau menanti datangnya pagi. Sebaliknya bila engkau berada di pagi hari, janganlah menanti datangnya sore hari. Gunakanlah waktu sehatmu (untuk beramal ketaatan) sebelum datang sakitmu. Dan gunakan hidupmu (untuk beramal shalih) sebelum kematian menjemputmu.”
Maka janganlah bermurung durja dalam menanti, sebab demikian menyumbat hasil atas jawaban yang diingini. Akan tetapi hiasi momentum penantian dengan manfaat yang menyisakan penantian berikutnya. Agar ketika satu penantian terjawab memuaskan, maka telah ada usaha yang terserahkan untuk dinanti jawaban berikutnya. Berputar mengisi tanpa henti aliran deras penuh tekanan bernama ketawakalan.
Percayalah pada takdir Allah dan bersabarlah. Mungkin Allah belum mengabulkan doa-doamu karena belum kau panjatkan dengan segenap kepasrahan, belum kau lepas keangkuhanmu karena kau berusaha menerjang ketetapanNya yang berlaku bagimu. Mungkin juga kau belum tinggalkan segala perkara yang mendekati kemaksiatan. Itulah yang menjauhkan terkabulnya doa-doa kita.....
saya menanti untuk LULUS KULIAH tahun depan... tak perlu ragu... walau menanti itu makin ditunggu makin lama ya?!kalo merasa dinanti tapi gak menanti gimana?pasti indah yaa..... W.I.S.U.D.A.Ku....Insya Allah segera terlaksana..!
Berharap setiap diri menjadi yang dinantikan syurga, dirindukan Alloh, subhanallah indah bukan...??
Sebab itulah P.E.N.A.N.T.I.A.N
Wallahu ‘Alam bi Shawwab
Semoga Allah memberikan yang terbaik bagi antum semua. Amin
Markaz Pribadi,
13 April 2011/ 3: 18 a.m
Setelah kabar mengejutkan itu....

[Q.S, As-Sajdah:17]
Sebuah ucapan indah seorang Ibnu Jauzi soal penantian,
“Aku ingin beribadah dengan doa dan aku juga yakin suatu saat, doaku pasti dikabulkan. Hanya saja, mungkin tidak sekarang dikabulkan, demi kemaslahatanku yang akan datang pada waktunya nanti. Dan jika tidak dikabulkan pun, aku sudah beruntung bisa beribadah dan menyerahkan diri kepada Allah.”
Subhanallah......begitulah penantian, selalu ada saja hikmah yang mengiringinya. Bisa jadi apabila tidak menanti, kita mendapatkan hasil yang ternyata lebih banyak madharatnya.
Nikmatilah penantian jangan tergesa memaksakan tanpa perkiraan.
Indahnya sebuah penantian berakhir doa yang menjanjikan. Bukankah memang kita hidup hanya penuh dengan penantian sebagai sebuah jawaban pasti dari usaha yang tiap detak gerik dilakukan.
Begitulah penantian. Tidak mesti selamanya menjenuhkan dan membosankan. Selagi upaya telah berjalan, maka biarkanlah penantian mengisi selang jawaban untuk mengakhiri hasilnya pada tabung keputusan. Ada kala tabung itu berisi sangat pelan, namun pasti akan penuh sekalipun waktunya berlama jalan. Bisa pula cepat terisi dengan sangat seiring tekanan yang kuat dari aliran hulunya menuju hilir tanpa sumbatan. Penantian, mengajarkan kita untuk lebih banyak sadar memupuk kesabaran.
Penantian indah ialah saat mengerjakan apa yang dapat dilakukan dan terdekat dengan momentum termudah untuk dikejar, sebagaimana Ibnu Umar berkata disaat beliau usai mengucapkan hadits Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam, “Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau bahkan seperti orang yang sekedar lewat (musafir).” (HR. Al-Bukhari no. 6416), “Bila engkau berada di sore hati maka janganlah engkau menanti datangnya pagi. Sebaliknya bila engkau berada di pagi hari, janganlah menanti datangnya sore hari. Gunakanlah waktu sehatmu (untuk beramal ketaatan) sebelum datang sakitmu. Dan gunakan hidupmu (untuk beramal shalih) sebelum kematian menjemputmu.”
Maka janganlah bermurung durja dalam menanti, sebab demikian menyumbat hasil atas jawaban yang diingini. Akan tetapi hiasi momentum penantian dengan manfaat yang menyisakan penantian berikutnya. Agar ketika satu penantian terjawab memuaskan, maka telah ada usaha yang terserahkan untuk dinanti jawaban berikutnya. Berputar mengisi tanpa henti aliran deras penuh tekanan bernama ketawakalan.
Percayalah pada takdir Allah dan bersabarlah. Mungkin Allah belum mengabulkan doa-doamu karena belum kau panjatkan dengan segenap kepasrahan, belum kau lepas keangkuhanmu karena kau berusaha menerjang ketetapanNya yang berlaku bagimu. Mungkin juga kau belum tinggalkan segala perkara yang mendekati kemaksiatan. Itulah yang menjauhkan terkabulnya doa-doa kita.....
saya menanti untuk LULUS KULIAH tahun depan... tak perlu ragu... walau menanti itu makin ditunggu makin lama ya?!kalo merasa dinanti tapi gak menanti gimana?pasti indah yaa..... W.I.S.U.D.A.Ku....Insya Allah segera terlaksana..!
Berharap setiap diri menjadi yang dinantikan syurga, dirindukan Alloh, subhanallah indah bukan...??
Sebab itulah P.E.N.A.N.T.I.A.N
Wallahu ‘Alam bi Shawwab
Semoga Allah memberikan yang terbaik bagi antum semua. Amin
Markaz Pribadi,
13 April 2011/ 3: 18 a.m
Setelah kabar mengejutkan itu....
Selasa, 02 November 2010
Kenangan : Cambuk Motivasi, Kristal Kebaikan
Detik terus berlalu menjelma menjadi menit, jam, hari, bulan dan tahun, terus berputar. Beragam peristiwa silih berganti menghiasi sembaran sejarah kehidupan ini, mulai dari yang semanis gula sampai yang sepahit empedu. Ada tawa dan senyum, kejayaan dan kegagalan,harapan dan ketakutan, sedih dan gelisah yang menghiasi.
Kenangan. Ya, setiap orang pasti mempunyai kenangan. Segala sesuatu yang berlalu dari sebuah perjalanan panjang pengembaraan manusia yang berupa apa saja dan dimana saja. Bila diingat-ingat kadang menciptakan tawa atau senyum, atau mungkin sedih atau kecewa. Ada kenangan yang terekam kuat dalam memori sehingga kita tidak dapat melupakannya atau peristiwa yang hanya sekedar lewat sehingga tidak berbuah kenangan.
Kenangan semenjak panggilan manja ”nak” oleh Bunda atau Ayah tercinta kemudian berubah menjadi ”kakak/abang” oleh adik sampai pada penggilan mesra ” kanda” oleh istri dan mungkin nanti ” ayah” oleh anak-anak kita. Saat panggilan ibu menyuruh pergi mengaji. Suara sang guru memberi pengajaran. Canda-tawa teman-teman saat bermain. Tegur ramah tetangga yang menyentuh kalbu. Lembaran itu bagai tertiup sepoi-sepoi angin. Tak tersadar layar otak sarat dengan puing-puing memori.
Kenangan dapat menjadi cemeti pelecut untuk dapat berbuat lebih baik dan untuk menggapai kesuksesan masa depan. Ia dapat menembus rintangan dinding beton dan kawat berduri yang berdiri kokoh.
Oleh karena itu kenanglah semua kesuksesan masa lalu kita, mulai dari yang kecil sampai yang besar. Waktu kecil kita berhasil menghafal satu surat Al Quran, puasa Ramadhan satu bulan penuh, juara kelas, lulus kuliah, atau mendapatkan pekerjaan.
Sebaliknya kenangan dapat menjadi bayang-bayang kelam masa depan, menjadi tembok penghalang kesuksesan kita. Kegagalan-kegagalan masa lalu kadang membuat kita menjadi pesimistis, merasa rendah diri, atau merasa tidak mampu melakukan sesuatu, sehingga malas untuk berkarya.
Oleh karena itu putarlah memori otak - tepatnya otak tengah/sistem limbik yang di dalamnya terdapat amigdala yang merupakan bank memori otak, tempat menyimpan semua kenangan untuk mendapatkan kenangan-kenangan terbaik yang menjadi cemeti pelecut untuk kesuksesan kita dan kuburlah dalam-dalam kenangan-kenangan yang dapat menjadi tembok penghalang kesuksesan.
Dalam lingkup yang lebih luas, tak heran kita mulai SD sudah belajar sejarah. Termasuk juga kejayaan masa lalu, majapahit, sriwijaya, dan tentunya kejayaan Islam masa-masa awal kenabian. Itu semua adalah untuk membangkitkan motivasi kita untuk berbuat lebih baik, tentunya.
Maka jadilah pahlawan pembela negara atau mujahid Palestina yang meluluhlantakkan tank-tank Zionis Yahudi atau seorang dermawan yang setiap saat menyedekahkan hartanya atau apapun namanya sehingga ketiadaan kita dicari dan keberadaan kita diharapkan dan dibutuhkan.
Setelah meninggal orang akan mengenang kebaikan kita dan berharap akan muncul generasi seperti kita. Lebih dari itu semua, ada sebuah gelar mulia yang dilahirkan dari sebuah kenangan yang patut dimiliki oleh semua kita. Mardhatillah. Who abaut u?
disudut kota tanggerang
3 November 2010
-BersamaMu dalam segala keadaan-
Detik terus berlalu menjelma menjadi menit, jam, hari, bulan dan tahun, terus berputar. Beragam peristiwa silih berganti menghiasi sembaran sejarah kehidupan ini, mulai dari yang semanis gula sampai yang sepahit empedu. Ada tawa dan senyum, kejayaan dan kegagalan,harapan dan ketakutan, sedih dan gelisah yang menghiasi.
Kenangan. Ya, setiap orang pasti mempunyai kenangan. Segala sesuatu yang berlalu dari sebuah perjalanan panjang pengembaraan manusia yang berupa apa saja dan dimana saja. Bila diingat-ingat kadang menciptakan tawa atau senyum, atau mungkin sedih atau kecewa. Ada kenangan yang terekam kuat dalam memori sehingga kita tidak dapat melupakannya atau peristiwa yang hanya sekedar lewat sehingga tidak berbuah kenangan.
Kenangan semenjak panggilan manja ”nak” oleh Bunda atau Ayah tercinta kemudian berubah menjadi ”kakak/abang” oleh adik sampai pada penggilan mesra ” kanda” oleh istri dan mungkin nanti ” ayah” oleh anak-anak kita. Saat panggilan ibu menyuruh pergi mengaji. Suara sang guru memberi pengajaran. Canda-tawa teman-teman saat bermain. Tegur ramah tetangga yang menyentuh kalbu. Lembaran itu bagai tertiup sepoi-sepoi angin. Tak tersadar layar otak sarat dengan puing-puing memori.
Kenangan dapat menjadi cemeti pelecut untuk dapat berbuat lebih baik dan untuk menggapai kesuksesan masa depan. Ia dapat menembus rintangan dinding beton dan kawat berduri yang berdiri kokoh.
Oleh karena itu kenanglah semua kesuksesan masa lalu kita, mulai dari yang kecil sampai yang besar. Waktu kecil kita berhasil menghafal satu surat Al Quran, puasa Ramadhan satu bulan penuh, juara kelas, lulus kuliah, atau mendapatkan pekerjaan.
Sebaliknya kenangan dapat menjadi bayang-bayang kelam masa depan, menjadi tembok penghalang kesuksesan kita. Kegagalan-kegagalan masa lalu kadang membuat kita menjadi pesimistis, merasa rendah diri, atau merasa tidak mampu melakukan sesuatu, sehingga malas untuk berkarya.
Oleh karena itu putarlah memori otak - tepatnya otak tengah/sistem limbik yang di dalamnya terdapat amigdala yang merupakan bank memori otak, tempat menyimpan semua kenangan untuk mendapatkan kenangan-kenangan terbaik yang menjadi cemeti pelecut untuk kesuksesan kita dan kuburlah dalam-dalam kenangan-kenangan yang dapat menjadi tembok penghalang kesuksesan.
Dalam lingkup yang lebih luas, tak heran kita mulai SD sudah belajar sejarah. Termasuk juga kejayaan masa lalu, majapahit, sriwijaya, dan tentunya kejayaan Islam masa-masa awal kenabian. Itu semua adalah untuk membangkitkan motivasi kita untuk berbuat lebih baik, tentunya.
Maka jadilah pahlawan pembela negara atau mujahid Palestina yang meluluhlantakkan tank-tank Zionis Yahudi atau seorang dermawan yang setiap saat menyedekahkan hartanya atau apapun namanya sehingga ketiadaan kita dicari dan keberadaan kita diharapkan dan dibutuhkan.
Setelah meninggal orang akan mengenang kebaikan kita dan berharap akan muncul generasi seperti kita. Lebih dari itu semua, ada sebuah gelar mulia yang dilahirkan dari sebuah kenangan yang patut dimiliki oleh semua kita. Mardhatillah. Who abaut u?
disudut kota tanggerang
3 November 2010
-BersamaMu dalam segala keadaan-
Senin, 01 November 2010
Ruh Para Pejuang Dakwah
Setelah pertemuan ahad, ada semangat yang terus bergemuruh, untuk mengisi setiap kepingan episode estafet dengan persembahan terbaik. Bukan karena akan berakhirnya masa ‘jabatan’, bahkan rindu jika bisa berlamalama bersama thoriqudda’wah.Dedicated to saudara/i saya di FARIS8, Semoga tulisan ini bisa saling mengingatkan
(Kepada Jundullah)
Saat genderang perjuangan bertalu
Musuh tegak dihadapan
Teguhkan hatimu usahlah kau ragu
Wahai orang-orang beriman
Berdzikirlah sebanyak engkau mampu
Agar kemenangan jadi milikmu
Taatilah Allah dan Rasul-Nya
Qiyadah penghulu perjuangan
Tetap bersabar dalam barisan
Buang segala ego nan hina
Hindarkanlah berbantahan
Yang kan membuat hatimu gentar
Dan menghilangkan kekuatan
Karna Jundullah…
karna Jundullah....
Pantang terpencar !!
Jangan silau dengan jumlahmu
Yang angkuhkan hatimu
Riya dihadapan manusia
Kau halangi insan di jalan-Nya
Padahal Allah tahu…
Apa yang… Kau kerjakan !!
Kelengahan menambah penyesalan, kelengahan menghilangkan kenikmatan, kelengahan menghalangi penghambaan, kelengahan menambah kedengkian dan kelengahan menambah cela dan kekecewaan. Akankah kita berlama-lama dengannya ?!
Sudah menjadi fithrah manusia memiliki semangat dan kejenuhan. Hal yang berlaku sama bagi seluruh kondisi unsur penyusunnya. Ruh, akal dan jasad mengalami keduanya. Ada kalanya cemerlang dengan segenap energi diri menghasilkan prestasi - prestasi besar.
Adakalanya pudar , rapuh dan terkungkung dalam ketidakberdayaan. Ketika kesadaran tetap menemani keduanya maka yang demikian adalah lebih dekat kepada kebaikan. Akan tetapi ketika semuanya tercerai dari kesadaran, maka kebinasaan mengintainya setiap saat.
Menjaga diri agar senantiasa berada dalam kesadaran menjadi satu-satunya pilihan sikap. Kelengahan yang menghampiri terkadang bersahabat dengan setan, menampakkan pembenaran-pembenaran dalam jiwa. Semakin pudarlah hati, hambarlah amal dan hilanglah semangat kebaikan. Dalam keadaan seperti ini maka ia memberi andil terhadap pembentukan lingkungan da'wah dan kehidupan yang buruk. Keberadaannya menjadi sebab lesunya kerja da'wah. Menjadi promotor berkembangnya kelalaian dalam masyarakat. Dan yang lebih berbahaya adalah melahirkan keberanian yang salah dalam diri, berani terhadap ketentuan Allah SWT.
Sadar dalam kelemahan akan membimbing diri ke arah perbaikan. Kelemahan dipandang sekedar sebagai saat beristirahat, berhenti sejenak, untuk menorehkan karya bakti yang lebih besar dan bernilai di hadapan Allah SWT. Kesadaran akan menyebabkan lahirnya perasaan yang enggan berlama-lama dengan kelemahan.
Kesadaran yang menjaga pemahaman bahwa sesungguhnya perjuangan dalam Islam adalah untuk mewujudkan kepribadian yang direfleksikan dalam aqidah dan akhlak. Dengan pemahaman itu senantiasa mengetahui hakikat perjuangan, bahwa setiap tetes keringat kita di jalan da'wah adalah upaya keras dalam rangka memuliakan diri sendiri dihadapan Sang Khaliq, bukan orang lain !
Tibalah saatnya bagi setiap ruh pejuang untuk bangkit dari kelemahan. Berdiri tegar menentang cakrawala peradaban yang penuh kesia-siaan. Selamat tinggal kesedihan, selamat tinggal kebodohan, selamat tinggal ketidakberdayaan karena kini saatnya menyongsong kemenangan ...!
" kami berikan kepadanya sebagian keuntungan dunia itu dan tidaklah ada baginya suatu bagian di akhirat. Yaitu dicabut dari hatinya cinta kepada akhirat. ( QS. Asy-Syura: 20 )
Jalan dakwah panjang terbentang jauh ke depan
Duri dan batu terjal selalu mengganjal, lurah dan bukit menghadang
Ujungnya bukan di usia, bukan pula di dunia
Tetapi Cahaya Maha Cahaya,
Syurga dan Redha Allah
Cinta adalah sumbernya,
hati dan jiwa adalah rumahnya
Nikmati perjalanannya, berdiskusilah dengan bahasa bijaksana
Dan jika seseorang mendapat hidayah karenamu Itu lebih baik dari dunia dan segala isinya…
@Tanggerang/ 1November2010
Setelah pertemuan ahad, ada semangat yang terus bergemuruh, untuk mengisi setiap kepingan episode estafet dengan persembahan terbaik. Bukan karena akan berakhirnya masa ‘jabatan’, bahkan rindu jika bisa berlamalama bersama thoriqudda’wah.Dedicated to saudara/i saya di FARIS8, Semoga tulisan ini bisa saling mengingatkan
(Kepada Jundullah)
Saat genderang perjuangan bertalu
Musuh tegak dihadapan
Teguhkan hatimu usahlah kau ragu
Wahai orang-orang beriman
Berdzikirlah sebanyak engkau mampu
Agar kemenangan jadi milikmu
Taatilah Allah dan Rasul-Nya
Qiyadah penghulu perjuangan
Tetap bersabar dalam barisan
Buang segala ego nan hina
Hindarkanlah berbantahan
Yang kan membuat hatimu gentar
Dan menghilangkan kekuatan
Karna Jundullah…
karna Jundullah....
Pantang terpencar !!
Jangan silau dengan jumlahmu
Yang angkuhkan hatimu
Riya dihadapan manusia
Kau halangi insan di jalan-Nya
Padahal Allah tahu…
Apa yang… Kau kerjakan !!
Kelengahan menambah penyesalan, kelengahan menghilangkan kenikmatan, kelengahan menghalangi penghambaan, kelengahan menambah kedengkian dan kelengahan menambah cela dan kekecewaan. Akankah kita berlama-lama dengannya ?!
Sudah menjadi fithrah manusia memiliki semangat dan kejenuhan. Hal yang berlaku sama bagi seluruh kondisi unsur penyusunnya. Ruh, akal dan jasad mengalami keduanya. Ada kalanya cemerlang dengan segenap energi diri menghasilkan prestasi - prestasi besar.
Adakalanya pudar , rapuh dan terkungkung dalam ketidakberdayaan. Ketika kesadaran tetap menemani keduanya maka yang demikian adalah lebih dekat kepada kebaikan. Akan tetapi ketika semuanya tercerai dari kesadaran, maka kebinasaan mengintainya setiap saat.
Menjaga diri agar senantiasa berada dalam kesadaran menjadi satu-satunya pilihan sikap. Kelengahan yang menghampiri terkadang bersahabat dengan setan, menampakkan pembenaran-pembenaran dalam jiwa. Semakin pudarlah hati, hambarlah amal dan hilanglah semangat kebaikan. Dalam keadaan seperti ini maka ia memberi andil terhadap pembentukan lingkungan da'wah dan kehidupan yang buruk. Keberadaannya menjadi sebab lesunya kerja da'wah. Menjadi promotor berkembangnya kelalaian dalam masyarakat. Dan yang lebih berbahaya adalah melahirkan keberanian yang salah dalam diri, berani terhadap ketentuan Allah SWT.
Sadar dalam kelemahan akan membimbing diri ke arah perbaikan. Kelemahan dipandang sekedar sebagai saat beristirahat, berhenti sejenak, untuk menorehkan karya bakti yang lebih besar dan bernilai di hadapan Allah SWT. Kesadaran akan menyebabkan lahirnya perasaan yang enggan berlama-lama dengan kelemahan.
Kesadaran yang menjaga pemahaman bahwa sesungguhnya perjuangan dalam Islam adalah untuk mewujudkan kepribadian yang direfleksikan dalam aqidah dan akhlak. Dengan pemahaman itu senantiasa mengetahui hakikat perjuangan, bahwa setiap tetes keringat kita di jalan da'wah adalah upaya keras dalam rangka memuliakan diri sendiri dihadapan Sang Khaliq, bukan orang lain !
Tibalah saatnya bagi setiap ruh pejuang untuk bangkit dari kelemahan. Berdiri tegar menentang cakrawala peradaban yang penuh kesia-siaan. Selamat tinggal kesedihan, selamat tinggal kebodohan, selamat tinggal ketidakberdayaan karena kini saatnya menyongsong kemenangan ...!
" kami berikan kepadanya sebagian keuntungan dunia itu dan tidaklah ada baginya suatu bagian di akhirat. Yaitu dicabut dari hatinya cinta kepada akhirat. ( QS. Asy-Syura: 20 )
Jalan dakwah panjang terbentang jauh ke depan
Duri dan batu terjal selalu mengganjal, lurah dan bukit menghadang
Ujungnya bukan di usia, bukan pula di dunia
Tetapi Cahaya Maha Cahaya,
Syurga dan Redha Allah
Cinta adalah sumbernya,
hati dan jiwa adalah rumahnya
Nikmati perjalanannya, berdiskusilah dengan bahasa bijaksana
Dan jika seseorang mendapat hidayah karenamu Itu lebih baik dari dunia dan segala isinya…
@Tanggerang/ 1November2010




